Chapter 26
"Bisa juga begitu. Dan supaya namaku buruk, mereka memfitnah seolah-olah perampokan itu dilakukan di bawah perintahku. Begitu, kan, Ki Kandagalante?" kata Ki Banaspati kepada Ki Sunda Sembawa.
"Kalau begitu adanya, saya bersyukur. Dengan demikian, tugas yang saya berikan ini tidak percuma," kata Suji Angkara menatap tajam Ki Banaspati.
Yang ditatap balas menatap. Untuk beberapa lama mereka saling tatap. Ki Banaspati yang lebih dulu memalingkan muka. Dia berpaling sambil tersenyum tipis penuh arti.
Mereka berbincang-bincang beberapa waktu lamanya, sampai akhirnya semua orang disuguhi makanan. Sudah barang tentu seluruh anggota rombongan, terutama yang bertugas memikul dongdang, amat sukacita dengan rencana acara makan ini. Menurut seseorang yang pernah datang ke Kandagalante Sagaraherang, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa memang menyukai makanan yang enak. Dan benar saja dugaannya.
Mereka dibawa ke ruangan khusus, yaitu sebuah bale kambang—bangunan terbuka yang tampak mengambang di tengah kolam—yang amat benderang karena penerangan api yang dipasang di sana-sini. Yang menggembirakan mereka bukan karena benderangnya suasana bale kambang, melainkan karena meja panjang yang digelar di sana.
Meja panjang itu sarat dengan berbagai penganan. Ada nasi putih beberapa bakul dengan kepulan asapnya yang memikat selera. Ada macam-macam daging, mulai dari panggang ayam, kambing, sampai panggang ikan mas. Ada pula buah-buahan mulai dari duku, rambutan, durian, hingga buah pisang yang ranum-ranum.
"Ayo, semua makanan ini untuk kalian!" seru Ki Banaspati yang disambut oleh teriakan gembira dari semua anggota rombongan.
Ginggi juga termasuk yang berteriak keras saking gembiranya. Betapa tidak, selama ini dia hanya mengonsumsi jenis makanan yang sederhana saja. Ketika dijamu Kuwu Wado memang ada makanan enak, tetapi tidak semewah yang disediakan di sini.
"Ha, ini minuman apa?" Ginggi menjemput sebuah kendi kecil yang berbau harum.
"Hus! Jangan dulu ambil minuman itu!" kata Ki Ogel menarik tangan Ginggi dan menyuruhnya menyimpan kembali minuman tersebut.
"Mengapa jangan diminum? Aku haus sekali," kata Ginggi.
"Itu tuak, kau bisa mabuk dibuatnya."
"Tuak?"
"Tuak adalah jenis minuman keras. Yang tidak biasa minum akan mabuk dan bicara mengacau karena tidak sadarkan diri," kata Ki Ogel.
"Kalau membuat orang tidak sadar, mengapa disiapkan untuk diminum?"
"Aaaah! Bawel kamu. Dasar anak tolol! Sudah, yang penting kamu makan ini!" kata Ki Ogel sambil membenamkan paha ayam ke mulut Ginggi yang masih melongo.
Ginggi kelabakan dan membuat orang yang menyaksikan tertawa karenanya. Semua orang makan sepuasnya. Kegembiraan kian bertambah sesudah hadir beberapa wanita muda dengan paras yang elok. Kata pelayan pria yang ada di sana, wanita-wanita muda ini pun ditugaskan untuk melayani mereka.
"Apa pun yang kalian minta dari gadis-gadis cantik ini, pasti diberikan," kata seorang lelaki bertubuh gempal.
Mendengar penjelasan ini, semua orang bersorak riang. Ginggi sibuk dengan berbagai makanan di mulutnya dan tidak begitu memperhatikan para gadis cantik berkebaya dengan bentuk tubuh yang menantang itu. Namun, ketika perutnya mulai kenyang, dia mulai melihat sekeliling.
Teman-temannya sudah berhenti makan dan sekarang beralih kepada minuman di kendi-kendi kecil itu. Mereka minum banyak-banyak. Semakin banyak meminum, semakin kasar dan tidak tahu malu kelakuan mereka. Beberapa dari mereka bahkan tidak canggung memeluk gadis-gadis cantik itu. Beberapa orang bahkan berani mencium pipi sang gadis, membuat Ginggi malu melihatnya. Namun anehnya, gadis-gadis itu tidak tersinggung sedikit pun. Bahkan beberapa di antaranya tersenyum genit.
Para anggota rombongan pengirim seba kebanyakan berusia muda, jadi wajar bila mereka begitu bergairah berdekatan dengan gadis-gadis cantik. Akan tetapi, Ginggi memuji pendirian pemuda Seta. Dia tidak tertarik terhadap suasana romantis ini. Ketika dia dihampiri seorang wanita muda yang duduk merapat di sisinya, Seta malah menggeser duduknya dan berusaha melepaskan diri.
"Ih, sombong betul. Apakah saya kurang cantik, Kakang?" Wanita muda itu mendelik, tetapi senyumnya masih tampak.
"Maaf Nyai, saya sudah punya tunangan. Tunangan saya malah sedang sakit. Tidak baik jika di tempat jauh saya berlaku tidak setia kepadanya," kata Seta serius, membuat Ginggi kagum sekaligus malu.
Si Seta ini sehari-harinya angkuh, tetapi ternyata dia memiliki kesetiaan terhadap sesuatu yang bernama ikatan jodoh.
"Ih, kuno! Lelaki kuno!" teriak wanita muda itu sambil meloyor pergi.
"Ke mana dia pergi? Ah, seperti ke arah sini. Bahaya aku!" gumam Ginggi berjingkat meninggalkan keriuhan ini.
Gadis-gadis di sini tampaknya lebih berani dan terbuka, tidak seperti Nyi Santimi misalnya yang selalu tampak pemalu dan penuh ragu. Akan tetapi bagi Ginggi, baik gadis-gadis pemberani ini maupun gadis pemalu seperti Nyi Santimi, jika dilayani akan berakhir sama: menciptakan banyak urusan baginya. Itulah sebabnya, pemuda itu lebih baik meloyor pergi, menjauhkan diri dari gejala-gejala tidak baik ini.
Ginggi keluar dari tempat romantis di tengah kolam tersebut. Di luar udaranya agak segar, tidak sepanas di bale kambang. Dia duduk di sebuah bangku tepi kolam dan hanya menyaksikan tingkah polah teman-temannya yang kian menggila bersama para wanita muda genit itu. Matanya meneliti, ternyata yang ramai-ramai bergembira di tempat itu hanya teman-temannya saja. Dia baru menyadari bahwa Suji Angkara tidak ada di sana. Begitu pun Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa.
Ginggi mengingat-ingat, memang saat pertama kali dia dan teman-temannya memasuki bale kambang, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa tidak ikut bersama. Namun Suji Angkara sempat duduk dan makan-makan. Mungkin ketika selesai makan, di saat acara beralih kepada minuman keras, Suji Angkara meninggalkan tempat itu. Tetapi ke mana dia?
Ginggi berdiri dari duduknya. Menghilangnya pemuda itu memberinya ide. Entah ke mana Suji Angkara pergi, yang jelas dia pun harus pergi. Entah apa yang tengah dikerjakan Suji Angkara, tetapi Ginggi harus melakukan sesuatu di sini. Tujuan utama mengikuti rombongan seba ini adalah karena dia ingin menelusuri keberadaan keempat murid Ki Darma. Sekarang, salah seorang di antaranya diduga sudah bisa dia temukan, walaupun masih ada keraguan dalam dirinya.
Betulkah Ki Banaspati yang dimaksud Ki Darma adalah Ki Banaspati yang berada di tempat ini? Ginggi belum mendapatkan keterangan yang jelas kendati sudah bertemu dengan orang itu. Untuk mendapatkan keyakinan, dia harus menyelidikinya. Teringat sampai di situ, maka sambil menoleh ke kiri dan kanan, pemuda itu segera berlalu setelah yakin bahwa tidak ada orang lain yang memperhatikan dirinya.
Ginggi meneliti kompleks rumah milik Kandagalante Ki Sunda Sembawa yang demikian megah dan besar. Bangunan tempat dia tinggal merupakan bangunan utama. Seluruhnya terbuat dari bahan kayu terpilih yang mengkilap karena halus. Atapnya terbuat dari sirap, tersusun rapi bagaikan bulu burung garuda dan berwarna legam. Bangunan utama itu dikelilingi oleh beberapa bangunan lainnya.
Ginggi meneliti bangunan-bangunan lain yang ukurannya lebih kecil. Ada sebuah bangunan beratap rumbia berupa panggung yang amat jangkung. Bangunan besar itu disangga balok-balok kayu besar dan kokoh. Ginggi meloncat ke atas atap dengan mengerahkan tolakan kaki dan ilmu kapas ngapung, semacam ilmu untuk membuat tubuh menjadi ringan.
Sesudah tubuhnya mendarat tanpa bunyi di atap, dia mencoba membuka lapisan rumbia sedikit. Ternyata di dalam gelap gulita, namun tercium bau dedak padi. Tidak ada orang di sana sebab bangunan ini adalah lumbung padi. Ginggi kembali meloncat turun dan meneliti bangunan-bangunan lain.
Sampai pada suatu saat dia tiba di sebuah bangunan yang amat kokoh. Berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya, bangunan ini tidak berbentuk panggung sebab keempat dindingnya langsung menyambung dengan tanah. Dari celah-celah dinding kayu, Ginggi yakin di dalam ada penerangan, walaupun hanya remang-remang. Lebih yakin dari itu, Ginggi mendapati bahwa di ruangan itu ada orang sedang berbincang-bincang. Atau lebih tepatnya lagi, seseorang tengah memarahi orang lain.
Siapakah dia? Ginggi perlu melihat lebih jelas. Untuk itu dia segera meloncat kembali ke atas atap dan mencoba membuat lubang kecil pada lapisan atas sirap. Begitu pandangannya melihat ke bawah, pemuda itu terkejut karena Ki Banaspati dan Kandagalante Sunda Sembawa tengah memarahi seseorang.
Ginggi tidak akan seterkejut itu bila dia tidak mengenal siapa orang yang dimarahi tersebut. Orang itu ternyata pimpinan perampok yang tempo hari mencegat rombongan Suji Angkara. Pemuda itu hafal betul, sebab di pipi kiri orang itu ada goresan luka bekas serangan Suji Angkara.
"Sialan! Dasar kau brengsek! Bodoh! Tolol! Kau membahayakan gerakan kita!" kata Ki Banaspati.
Plak, plak, plak!
Orang itu tersungkur mencium lantai tanah. Ketika bangun, wajahnya sudah berlumuran darah.
"Ampun, Gusti. Hamba tidak tahu bahwa itu rombongan seba yang dikawal anak muda itu. Hamba hanya mengira mereka rombongan saudagar yang akan mengirim barang-barang dagangan ke Sumedanglarang!" kata orang itu terbata-bata.
"Dasar manusia dungu! Harusnya kau berpikir, tidak mungkin saudagar mengambil jalan sunyi. Kalau mereka semua mati olehmu dan barang-barangnya dapat kau rebut, itu tidak mengapa. Tapi celakanya, mereka selamat dan mengalahkan kamu. Kalau mereka tahu akan hal ini dan melapor ke Pakuan, kau bisa apa?" kata Ki Sunda Sembawa.
"Ampunkan hamba, Gusti..." kata orang itu sambil tubuhnya masih merunduk hingga hampir rata dengan tanah.
"Satu kali lagi kamu membuat kesalahan serupa, nyawa tidak berhargamu akan kucabut!" kata Ki Banaspati dengan suara dingin.
Orang itu membentur-benturkan jidatnya ke tanah tanda mengerti ancaman ini.
"Ayo sudah! Keluar kamu!" kata Ki Banaspati sambil menendang bokong orang itu.