Chapter 27
Dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu keluar.
Namun belum lagi ia melangkah, dari arah luar masuk seseorang.
Suji Angkara!
Nampak oleh Ginggi dari sela-sela lapisan atap sirap, betapa ketiga orang itu terkejut setengah mati.
"Kau anak muda?" desis Ki Banaspati.
"Akhirnya aku tahu apa yang berlangsung di sini!" kata Suji Angkara dingin, mencoba menahan kemarahan.
Ucapan itu tidak dijawab dengan perkataan, melainkan gerakan menyerang dari Ki Banaspati.
Serangan itu cepat dan keras serta tidak memberikan peringatan terlebih dahulu.
Serangan itu pun terlihat ganas dan langsung mengarah ke ubun-ubun Suji Angkara.
Ginggi terkejut melihat serangan ini.
Ki Banaspati menyerang dengan tangan kiri serta dua jari mengarah tajam hendak menyerang ubun-ubun.
Bagaimana Ginggi tidak terkejut sebab itulah gerakan maut yang biasa dilatihnya dengan Ki Darma.
Hanya bedanya, bila Ginggi melakukan serangan dengan menggunakan tangan kanan terbuka lebar, adalah sebaliknya dengan Ki Banaspati.
Ia mendahulukan serangan dengan dua jari maut tangan kiri.
Suji Angkara amat terkejut menerima serangan ini.
Secepat kilat ia merunduk sambil menangkis tusukan dua jari itu.
Namun begitu dua tangan beradu, anak muda itu menjerit ngeri dan seperti menderita kesakitan di bagian pergelangan tangan.
Belum lagi habis rasa kagetnya, sebuah serangan tangan kanan dengan jari-jari mengembang lebar segera mendorong jidatnya.
Plak!
Tubuh Suji terlontar ke belakang karena jidatnya terdorong oleh tenaga kuat dari telapak tangan Ki Banaspati.
Suji Angkara terjengkang ke belakang dan tak mampu bangun lagi.
"Tenggelamkan dia ke kolam, agar seolah-olah ia mati karena mabuk dan terbenam di sana," kata Ki Banaspati.
Anak buahnya yang baru dimarahi itu segera menyeret pemuda pingsan tersebut.
Dibawanya jauh dari tempat itu.
Ginggi secepat kilat turun dari atap sirap.
Dengan gerakan napak-sancang, yaitu ilmu berlari cepat tanpa mengeluarkan bunyi, pemuda itu menguntit orang yang memanggul tubuh Suji Angkara secara diam-diam dan tanpa kakinya mengeluarkan bunyi sedikit pun.
Orang itu ternyata memanggul tubuh itu ke kolam lain, jauh dari bale kambang.
Namun sebelum tubuh Suji Angkara dicemplungkan ke kolam, Ginggi segera mengambil tindakan cepat.
Dengan pukulan telak di tengkuk, orang itu tersuruk jatuh tanpa bersuara dan tak bisa bangun lagi.
Pukulan itu tepat mengarah jalan darah di tengkuk.
Sesudah melumpuhkan orang itu, Ginggi mengurut-urut leher Suji Angkara, sehingga tak berapa lama kemudian pemuda itu menggerak-gerakkan tubuhnya.
Ginggi memencet kulit tenggorokannya dan berbicara, "Cepat ajak semua temanmu untuk meninggalkan tempat ini!" katanya.
Sesudah itu Ginggi pergi dengan cepat.
Ia berlari menuju bangunan besar di mana barusan terjadi peristiwa yang membuat dirinya terkejut.
Ketika ia tiba, Ki Banaspati baru saja akan meninggalkan tempat itu bersama Ki Sunda Sembawa.
Ginggi yakin, Ki Banaspati adalah murid Ki Darma, terbukti dari jurus berkelahi yang ia tampilkan ketika menyerang Suji Angkara.
Pemuda itu harus meyakinkan dirinya bahwa ia punya hubungan dengan Ki Darma.
Maka, empat depa sebelum tiba di depan Ki Banaspati, ia segera melompat menotol tanah.
Dua jari tangan kiri menusuk dan telapak tangan kanan mengembang.
Nyata sekali ada rasa terkejut di wajah Ki Banaspati.
Mungkin bukan terkejut karena itu sebuah serangan maut, tetapi terkejut karena bentuk gerakan serangan itu.
Sambil wajah menampakkan keheranan, dengan mudah saja Ki Banaspati melayang ke atas sehingga kedudukannya berada tepat di atas tubuh Ginggi.
Pemuda itu juga tahu, inilah cara menangkis serangan walet notol yang biasa dilatihkan Ki Darma kepadanya.
Dan seharusnya, sesudah melayang ke atas untuk memunahkan serangan jurus walet notol, tubuh harus bersalto.
Ketika bagian kepala ada di bawah, Ki Banaspati harus melancarkan serangan balasan dari atas.
Yang jadi sasaran serangan mestinya punggung atau bagian belakang tubuh Ginggi.
Namun pemuda itu merasakan, Ki Banaspati tidak berniat membalas serangan.
Ia hanya melayang begitu saja dan kembali turun ke atas tanah dengan lembutnya.
Kini Ginggi mengubah serangan dengan jurus baru.
Tubuhnya mendekam seperti harimau.
Sepasang tangannya menahan tanah dengan hanya menggunakan semua kuku-kukunya.
Sesudah mengeluarkan gerengan dahsyat, sepasang tangan itu menotol bumi berlari cepat satu sampai dua tindak.
Setelah itu dengan loncatan yang ringan tapi secepat gerakan harimau, Ginggi menerkam tubuh Ki Banaspati.
"Maung luncat muru mencek (Harimau Memburu Menjangan)?" desis Ki Banaspati mengenali jurus ini sambil tubuh doyong ke belakang dan terus ke belakang hingga akhirnya punggung Ki Banaspati rata merapat di permukaan tanah.
Menurut teori yang dibebankan oleh Ki Darma, seharusnya bila menerima serangan ini, Ki Banaspati bukan hanya menghindar dengan mentelentangkan tubuh saja, tapi harus terus berguling seperti trenggiling sambil membalas serangan dengan tangan dan kaki.
Namun Ginggi tahu, Ki Banaspati tak mau melakukan serangan balasan.
Rupanya ia hanya ingin mengenal lebih dekat saja gerakan-gerakan ini.
Pemuda itu akan segera melakukan serangan susulan, tapi sebelum Ginggi membentuk pasangan kuda-kuda baru, Ki Banaspati sudah meloncat pergi.
"Ki Sunda, kau tunggu saja aku di bale gede," kata Ki Banaspati.
Ia segera menghilang di kegelapan tapi sengaja memperlambat larinya supaya diikuti Ginggi.
Ginggi mengerti maksud Ki Banaspati.
Ia pun segera menyusul ke kegelapan malam.
Dan Ki Banaspati memang bukan melarikan diri.
Sebab di sebuah lapangan terbuka ia telah menunggu kehadiran Ginggi.
Keduanya sudah saling berhadapan.
Ki Banaspati menatap di keremangan sambil bertolak pinggang.
"Kau siapa?" tanyanya.
"Aku suruhan dari Ki Darma!" jawab Ginggi.
Ki Banaspati melirik ke kiri dan kanan.
"Di muka umum kau jangan sebut nama itu!" kata Ki Banaspati.
"Mengapa?" tanya Ginggi heran.
Kini giliran Ki Banaspati yang nampak heran.
"Kau mengaku suruhan Ki Guru tapi tidak tahu perihal dirinya!" "Aku hanya kenal dia telah merawatku selama sepuluh tahun.
Suka menyendiri dan tegas dalam berbicara.
Lain dari itu aku tak kenal dia," kata Ginggi pula.
"Biarlah kalau kau tak tahu.
Tapi satu hal harus kau ingatkan, amat berbahaya di dunia luar membawa-bawa nama Ki Guru.
Begitu bila kau ingin selamat," kata Ki Banaspati.
"Sekarang, coba kau sebutkan siapa namamu dan apa keperluanmu menemuiku," kata pula Ki Banaspati.
Ginggi terdiam sejenak.
Ki Banaspati ini murid Ki Darma.
Sedikitnya orang ini harus merasa punya hubungan dekat dengan Ginggi.
Namun pemuda itu heran, tak sedikit pun ada sambutan hangat kepadanya.
Ki Banaspati bahkan seperti penuh curiga dalam menyambut kehadiran dirinya.
Tidakkah ini karena Ki Banaspati merasa punya satu pekerjaan yang orang lain tak boleh tahu, misalnya seperti apa yang telah membuat kemarahan Suji Angkara? "Aku diutus turun gunung oleh Ki Darma dan ditugaskan mengawasi perkembangan bumi Pajajaran, terutama yang menyangkut nasib rakyat, seperti apa yang Ki Darma tugaskan kepada keempat muridnya.
Dan untuk bisa menjalankan tugas ini, aku harus meminta petunjuk dan pengarahan dari keempat murid Ki Darma.
Salah satu di antaranya, engkaulah," kata Ginggi menatap wajah Ki Banaspati yang nampak mengangguk-angguk tapi entah apa maksudnya.
"Ya, betul!
Aku punya misi menjalankan perintah guru.
Juga ketiga saudara perguruanku yang sampai saat ini aku tak tahu berada di mana," gumam Ki Banaspati.
"Kalau begitu aku minta petunjukmu, asal kau tidak beri aku tugas merampok!" kata Ginggi tak berbasa-basi.
Mendengar ucapan ini, Ki Banaspati mundur selangkah.
Secara tak sadar ia memegang hulu gagang senjata yang diselipkan di pinggangnya.
"Kau?" "Aku tahu ada perampokan di hutan jati sebab aku ikut rombongan Suji Angkara!" kata Ginggi.
"Kau anak buahnya?" "Bukan, hanya kebetulan saja melakukan perjalanan bersama.
Tapi apa betul perampok itu di bawah kendalimu?" tanya Ginggi masih tak mengerti keadaan.
Ia bingung menyimak sikap Ki Banaspati ini.
Menurut bayangannya, Ki Banaspati ini pembela rakyat seperti apa yang diperintah Ki Darma.
Namun kenyataannya, ia malah jadi muhara kerajaan yang bertugas menghimpun pajak dari rakyat.
Sekurang-kurangnya begitu yang dikatakan oleh Ki Banen tempo hari.
Tapi belakangan, Ki Banaspati juga bertindak sebagai orang jahat.
Sekurang-kurangnya begitu yang ia saksikan dalam percakapan antara Ki Banaspati dengan anak buahnya yang ia lumpuhkan tadi.
Jadi, siapa sebenarnya Ki Banaspati yang begitu erat dengan petugas negara seperti Kandagalante Sunda Sembawa namun juga bertindak sebagai "kepala perampok" itu? Ginggi bingung memikirkannya.
Baru turun gunung kurang dari seminggu, ia sudah mendapat hal-hal yang misterius.
Ada penjahat pemerkosa yang entah siapa, ada Suji Angkara dan sekarang Ki Banaspati, yang kesemuanya masih menyimpan kabut misteri.
Terdengar Ki Banaspati terkekeh.
Ia membalikkan badan dan berdiri membelakangi pemuda itu.
"Itulah pengorbanan bagi seorang pejuang," katanya dengan suara seperti memendam kepedihan menyayat.
"Untuk membela rakyat, aku harus pura-pura mengabdi kepada raja.
Juga untuk membela rakyat, aku pun harus pura-pura dan menghinakan diriku menjadi rampok." "Aku tak mengerti sikapmu," kata Ginggi.
Ki Banaspati kembali berbalik dan menatap wajah pemuda itu.
"Kau tahu, aku bertugas sebagai muhara, bekerja mengumpulkan pajak.
Tapi, apakah kau tahu pula dikemanakan hasil pajak itu aku bawa? Tidak!
Aku tidak menyetorkan ke Pakuan tapi aku himpun sendiri.
Sebagian aku kembalikan kepada rakyat dan sebagian kukumpulkan dan bila menjadi besar akan kugunakan untuk melawan raja!" kata Ki Banaspati.
Ginggi masih menunggu ucapan Ki Banaspati lebih lanjut.
"Kau pun tahu, aku memimpin perampok.
Tapi apakah kau tahu pula, siapa yang aku rampok?" "Apakah kau merampok rakyat juga?" tanya Ginggi.
"Tidak, yang aku rampok adalah kaum bangsawan, pejabat negara dan para tuan tanah yang suka memeras kehidupan rakyat."