Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 28

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 28

"Semua kekayaan saya kumpulkan dan akan saya gunakan untuk memerangi raja," kata Ki Banaspati pula.

Ginggi termangu-mangu mendengar penjelasan Ki Banaspati. Benarkah murid Ki Darma ini berjuang demikian hebat untuk kepentingan rakyat semata? "Kalau kau percaya kepada tindakan saya, kau boleh ikut bergabung. Tapi kalau menyangsikannya, kau boleh pergi meninggalkan saya berjuang sendirian. Hanya saja kau harus pandai-pandai memberikan alasan kepada Ki Guru," tutur Ki Banaspati.

Ginggi mendengar ucapan murid Ki Darma ini seperti memaklumi kesangsian dirinya. "Baiklah, saya ikut kau. Tapi kalau ternyata cara kerjamu tidak dianggap cocok, saya akan kerja sendirian saja, atau saya akan cari murid-murid Ki Darma yang lainnya!" kata Ginggi.

Ki Banaspati tersenyum tipis. "Terserah apa maumu. Yang penting kau bekerja untuk sisi yang dibebankan Ki Guru. Tapi bila kau memilih ikut saya, kau harus menaati ketentuan-ketentuan yang saya atur," kata Ki Banaspati menatap tajam.

"Coba katakan."

"Pertama, kau harus sopan pada saya. Ingat, saya di sini pejabat terkemuka. Semua orang hormat pada saya, tidak terkecuali pejabat Kandagalante. Saya maklumi karena kau baru turun gunung. Tapi sesudah kau banyak bergaul dengan kehidupan umum, kau harus menaati etika yang berlaku," kata Ki Banaspati.

Ini adalah omongan yang kesekian kalinya didengar pemuda itu. Sudah beberapa orang yang mengatai-ngatai dia bahwa dirinya manusia tak punya aturan hidup, bila bicara semaunya dan tidak punya sopan-santun. Bertemu dan melihat orang-orang berhubungan sepertinya punya tata cara yang sudah diatur. Anak-anak bicara hormat kepada ibu-bapaknya dan orang muda berkata halus kepada yang lebih tua. Dan yang jelas dia saksikan, bahwa seorang yang punya kedudukan rendah harus merunduk-runduk dan mengikuti serta tunduk kepada perkataan dan kehendak orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Ki Ogel dan Ki Banen mentaati perkataan Ki Kuwu Suntara dan Rama Dongdo, pemuda Seta dan Madi juga tunduk kepada Suji Angkara. Sepertinya ini sudah hukum alam, bahwa yang punya kedudukan tinggi kerjanya memerintah dan sebaliknya yang rendah hanya mentaati perintah.

Sekarang, setujukah Ginggi terhadap hukum yang berlaku dalam kehidupan ini? Entahlah, sebetulnya dia tak kerasan dengan berbagai basa-basi ini. Peraturan etika hidup ini sepertinya hanya mengikat dan membelit kebebasannya dalam bergerak dan berkata-kata. Etika sopan-santun bahkan dia saksikan hanya sebagai kedok atau hiasan yang tidak menggambarkan keadaan hati yang sebenarnya. Ginggi mengambil contoh dari beberapa sikap anggota rombongan seba yang dipimpin Suji Angkara. Di hadapan pemimpinnya, mereka berkata sopan dan taat akan segala perintah. Tapi di belakangnya mereka mengomel panjang-pendek.

Ginggi tak senang dengan keadaan ini. Yang dia sukai adalah seperti sikap Ki Darma yang kemudian menurun kepadanya. Bahwa apa yang ada di mulut dan di wajah, itulah yang ada di hatinya. Dia tak ingin ada orang pura-pura menangis padahal hatinya tertawa, atau sebaliknya ada orang pura-pura tertawa padahal hatinya menangis.

"Rakyat Pajajaran sekarang banyak yang memaksakan diri untuk tertawa hanya karena menyegani rajanya, padahal hatinya menangis karena prihatin. Karena tradisi harus hormat kepada raja, banyak rakyat tidak memperlihatkan isi hati yang sebenarnya," kata Ki Darma tempo hari. Sekarang memang zaman kepalsuan. Haruskah dia pun terjun ke kancah kepalsuan itu?

Tapi, rupanya sekarang ini memang saya harus melibatkan diri dalam basa-basi ini, pikir Ginggi. Bukan karena dia ingin menyesuaikan kepada kepalsuan itu. Tapi untuk melancarkan misi yang diembannya. Dia tak boleh banyak mendapatkan rintangan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Untuk apa memperlihatkan sikap tak sopan bila hanya akan mendatangkan keributan saja? "Baiklah, saya akan menaati perintah dan persyaratanmu," kata pemuda itu pada akhirnya.

"Nah, begitu lebih baik. Kau kelak akan menjadi anak buahku yang amat kuandalkan," kata Ki Banaspati ceria.

Malam itu juga Ginggi dibawa ke bale gede, yaitu tempat musyawarah antara Kandagalante dan para aparatnya. Selama Ginggi melangkah, dia berharap Suji Angkara sudah pergi menjauh dari wilayah Kandagalante ini, sebab kalau dia ketahuan ikut dengan Ki Banaspati suasana akan berabe. Dan pemuda itu amat lega. Sebab ketika dia tiba di ruangan bale gede, ada beberapa jagabaya yang mengabarkan kepada Ki Sunda Sembawa bahwa empat orang tangan kanan Suji Angkara telah meninggalkan tempat mereka menginap dengan diam-diam.

Namun rasa lega Ginggi bertolak belakang dengan apa yang dikandung Ki Banaspati serta Ki Sunda Sembawa. Pemuda itu selintas bisa melihat mimik kedua orang itu nampak tak senang mendengarnya. "Mengapa mereka pergi tanpa pamit?" tanya Ki Sunda Sembawa mengernyitkan alis. Hanya Ginggi yang menduga apa yang dipikirkan kedua orang itu. Baik Ki Banaspati maupun Ki Sunda Sembawa pasti menduga bahwa anak buah Suji Angkara sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap pemimpinnya.

"Coba cari Ki Joglo dan suruh menghadap ke sini!" perintah Ki Banaspati. Dua orang jagabaya pergi mengemban perintah itu. Di ruangan besar itu tinggallah mereka bertiga, Ginggi, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa.

"Siapa anak muda ini?" tanya Ki Sunda Sembawa. Ginggi ingat akan basa-basi etika, maka dia segera menyembah takzim.

"Dia masih kerabat dekat saya. Dan kelak anak muda ini akan jadi pembantu kita yang bisa diandalkan. Namanya Ginggi," jawab Ki Banaspati.

Ki Sunda Sembawa meneliti wajah Ginggi, "Serasa saya pernah melihat wajahmu, anak muda." "Benar Juragan (tuan), sebab tadi senja saya ikut rombongan Raden Suji Angkara," jawab Ginggi hormat. Ki Sunda Sembawa menyipitkan pandangan matanya dan jidatnya sedikit berkerut.

"Jangan khawatir, anak muda ini bukan anak buah Si Suji. Dia hanya kebetulan bergabung di tengah perjalanan," kata Ki Banaspati.

"Engkau tahu peristiwa di hutan jati, anak muda?" tanya Kandagalante penuh selidik. Ginggi mengangguk. Dan dahi pejabat wilayah Sagaraherang kembali berkerut. "Jangan khawatir, sudah saya ungkapkan segalanya dan dia mengerti perjuangan kita," kata Ki Banaspati menimpali.

"Kau memang harus mengerti perjuangan kami sebab bila tidak, saya tak mau memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang tak sepaham," gumam Ki Sunda Sembawa.

Sementara itu dari luar datang beberapa jagabaya. Dua orang membawa obor dan dua orang lagi mengusung cikrak (tandu). Ketika cikrak diturunkan isinya, nampak tubuh seorang lelaki. "Ki Joglo?" "Betul Juragan?" "Mati?" "Mati Juragan. Dia ditemukan di tepi kolam dengan leher hampir putus!" kata si pelapor.

Ginggi terkejut sebab yang disebut Ki Joglo ini ternyata pemimpin perampok di hutan jati yang tadi dia lumpuhkan. "Bawa dan kuburkan malam ini juga. Saya tidak senang melihat darah anak buahku," kata Ki Sunda Sembawa yang juga dianggukkan oleh Ki Banaspati. Mayat Ki Joglo diusung kembali tanpa dilihat untuk kedua kalinya oleh Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati, sepertinya ini sebuah kematian tak berarti.

"Siapa yang membunuh dia?" Gumam Ki Banaspati. Hanya Ginggi yang bisa mengira-ngira siapa yang bertindak kejam ini. Kurang ajar, Si Suji sebetulnya tidak perlu membunuh orang tak berdaya, kata Ginggi dalam hati. Ya, kalau benar pembunuhnya adalah Suji Angkara, dia pun ikut terlibat. Sekurang-kurangnya membantu meringankan tugas anak muda itu untuk menggorok leher Ki Joglo.

"Juragan, mungkinkah pembunuhnya para anak buah Raden Suji? Kalau begitu, kita balas mereka sebab ada belasan anak buahnya yang lagi tidur karena mabuk tuak. Mereka tidak sempat dibangunkan!" kata seorang jagabaya. "Betul! Kita bunuh mereka!" kata yang lain.

"Jangan dibunuh, mereka tidak berdosa!" Ginggi berdiri dan mencegah. "Kau siapa?" tanya jagabaya. "Dia anggota rombongan seba itu. Pasti sekongkol dengan kaki tangan Raden Suji!" teriak yang lainnya mengamang-amang obor.

Ginggi membalik ke arah Ki Banaspati, "Juragan sebaiknya orang-orang itu tidak dibunuh. Mereka hanya tukang pikul biasa saja dan tidak ada kaitannya dengan Raden Suji. Membunuh orang tidak berarti hanya membuat sibuk pekerjaan saja," kata Ginggi, memohon tapi bernada pasti.

"Bebaskan orang-orang itu dan suruh kembali ke dusunnya masing-masing. Beri pula mereka bekal dan katakan tugasnya sudah selesai," kata Ki Banaspati memutuskan dan disetujui Ki Sunda Sembawa. Ginggi merasa lega mendengarnya. Dengan demikian, korban sia-sia tidak perlu terjadi lagi.

Para jagabaya dibubarkan. Sebagian pergi melaksanakan tugur (ronda), sebagian mempersiapkan upah dan bekal bagi bekas anak buah Suji Angkara yang akan disuruh kembali ke Desa Cae. Malam sudah kian larut dan cahaya bulan pudar mengambang di langit sebelah timur. Namun kendati begitu, Ginggi belum disuruh beristirahat. Dia malah dipanggil kembali untuk menghadap di bale gede.

"Ini peringatan pertama bagimu," kata Ki Banaspati. Ginggi tidak mengerti atas perkataan ini. "Di hadapan saya dan Ki Sunda Sembawa, tidak diperkenankan siapa pun mengeluarkan pendapat tanpa diminta. Kau paham maksudku?"

"Kalau saya tidak mengeluarkan pendapat, apakah orang-orang tadi tidak akan dibunuh?" tanya Ginggi.

"Saya lebih tahu dari kau dan kau tidak perlu memberi nasihat soal itu," kata Ki Banaspati. Ginggi diam menunduk.

"Ya, sudah kau pergi. Jagabaya sudah mempersiapkan tempat menginap untukmu," kata Ki Banaspati lagi. Ginggi menyembah hormat dan mengundurkan diri. Namun sebelum jauh benar, pemuda ini meloncat ke atas atap sirap dan menguping pembicaraan kedua orang itu.

"Saya belum percaya benar terhadap kepatuhan pemuda itu," terdengar suara Ki Sunda Sembawa.

"Jangan khawatir. Dia bukan orang yang membahayakan gerakan kita. Tapi harap dimaklumi kalau perangainya begitu. Anak itu datang dari gunung terpencil dan tidak mengenal tata cara pergaulan kota. Kita akan coba mendidik etika padanya sebab di kemudian hari kita akan amat membutuhkan tenaganya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment