Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 29

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 29

"Tadi aku menjajal kemampuannya dan ilmu pemuda itu tidak terlalu jauh di bawah kemampuanku," kata Ki Banaspati.

"Kalau kita dapat memengaruhinya, dia akan menjadi salah satu pembantu utama kita," sambungnya.

Pembicaraan berhenti sebentar dan terdengar mereka meneguk minuman.

"Bagaimana dengan Suji Angkara?" terdengar suara Ki Sunda Sembawa.

"Itulah yang aku pikirkan. Kita perlu memastikan apakah Ki Joglo berhasil membunuhnya di kolam. Tapi kalau tidak berhasil, kita cukup berbahaya menghadapinya," kata Ki Banaspati.

"Saya khawatir Ki Joglo bukan membunuhnya, tetapi malah dia yang dibunuh seperti terbukti tadi," kata Ki Sunda Sembawa.

"Aku juga berpikir begitu. Sebab, dari mana pikiran anak buahnya timbul untuk melarikan diri kalau bukan dikabari si Suji?" kata Ki Banaspati.

"Mari kita periksa kolam tempat rencana pembunuhan terhadap pemuda itu akan dilakukan," ajak Ki Sunda Sembawa.

Dari atas atap sirap, Ginggi melihat dua orang itu keluar dari bale gede dan akan menuju kolam di mana tadi Ki Joglo memanggul tubuh Suji Angkara yang masih pingsan. Sudah barang tentu, Ginggi tahu pasti bahwa Ki Joglo belum sempat membenamkan Suji Angkara di kolam itu karena orang malang itu sudah lebih dahulu dia lumpuhkan.

Sudah hampir sebulan Ginggi mengabdi kepada Ki Banaspati. Selama sebulan itu, pemuda ini sudah mulai mengenal orang yang oleh Ki Darma disebut-sebut sebagai orang yang harus dia ikuti. Memang benar seperti apa yang diakui oleh Ki Banaspati, bahwa dirinya bukan orang sembarangan.

Ginggi pun mulai mengenal siapa Ki Sunda Sembawa. Menurut obrolan para jagabaya yang secara diam-diam ditampung olehnya untuk sekadar pengetahuan, Kandagalante Sunda Sembawa ini kekuasaannya sudah semakin luas. Dia membawahi beberapa cutak (setingkat camat) dan belasan kuwu (kepala desa).

Jumlah penduduk Sagaraherang waktu itu lebih dari 1.200 orang dan kebanyakan masih memegang kepercayaan lama. Masih memegang erat agama lama merupakan satu pilihan yang berani sebab Sagaraherang sudah amat dekat ke daerah utara yang dikuasai Cirebon. Kata beberapa jagabaya, bentrokan-bentrokan kecil dengan prajurit Cirebon yang sudah memiliki agama baru kerap kali terjadi. Bentrokan itu biasanya terjadi bila sudah mempermasalahkan seba.

Kandagalante Sunda Sembawa membuat kebijakan bahwa seluruh desa yang ada di bawah kekuasaannya harus mengumpulkan sebagian kekayaan desa untuk kepentingan seba ke Pakuan. Seba atau pajak hasil bumi desa ditampung oleh cutak dan cutak harus mengirimkannya ke kandagalante.

Namun, kebijakan Ki Banaspati lebih hebat lagi. Dia bahkan berani mengutip seba ke wilayah-wilayah yang sebetulnya sudah menginduk ke pusat pemerintahan agama baru. Banyak desa yang ada di bawah kekuasaan Karatuan Sumedanglarang, asalkan desa itu jauh dari jangkauan pengawasan pusat pemerintahannya, hasil buminya dikutip anak buah Ki Banaspati. Demikian juga beberapa wilayah yang berada di bawah kekuasaan Karatuan Talaga, Ki Banaspati tidak membiarkannya. Asalkan wilayah itu terasa susah dijangkau pemerintahan pusat, pasukannya rajin sekali mengutip hasil bumi wilayah tersebut.

Ki Banaspati juga pandai memanfaatkan situasi. Dia tahu Sumedanglarang dan Talaga belum utuh sebagai kerajaan yang memiliki kesatuan dalam memilih agama baru. Banyak juga di antara wilayah kandagalante, atau bahkan hanya setingkat wilayah cutak dan desa yang secara diam-diam masih setia terhadap agama lama. Bila masih terjadi hal demikian, mudah diduga mereka masih setia juga terhadap Pakuan. Wilayah-wilayah seperti inilah yang menjadi santapan Ki Banaspati.

Kandagalante Sunda Sembawa setuju saja dengan kebijakan ini. Ki Banaspati adalah aparat muhara (petugas penarik pajak) yang katanya berurusan dengan keputusan pusat. Artinya, kedudukan Kandagalante Sunda Sembawa masih lebih rendah ketimbang utusan pusat. Selain itu, kebijakan Ki Banaspati yang berani mengutip seba sampai jauh ke wilayah timur hanya berarti menambah wibawa saja bagi keberadaan Kandagalante Sunda Sembawa. Wilayah Sagaraherang disegani oleh lawan dari utara dan mereka tidak berani sembarangan menyerang ke pusat kekuasaan. Jadi, kalaupun terjadi penyerangan, itu dilakukan pasukan agama baru terhadap rombongan seba dari timur yang akan memasuki wilayah Sagaraherang saja.

Soal adanya penyerangan terhadap rombongan seba sebetulnya masih simpang siur dan diragukan kebenarannya. Siapa yang melakukannya, apakah benar dari pasukan agama baru, atau kaum perampok semata? Beberapa jagabaya Sagaraherang kerap kali mengabarkan perihal adanya macam-macam perampok.

"Sekarang ini zaman kacau. Di daerah-daerah di mana pengaruh Pakuan amat lemah dan pengaruh kekuasaan kerajaan agama baru belum begitu kuat, terdapat kekuatan-kekuatan baru yang tidak jelas tujuannya. Mereka tidak setia lagi kepada Pakuan, tetapi juga tidak menyukai kehadiran kekuasaan pemerintahan agama baru. Maka jadilah mereka pasukan-pasukan tak bertuan. Untuk mempertahankan keberadaannya, mereka menjarah kampung atau juga mencegat rombongan seba yang sekiranya kurang mendapat pengawalan kuat," tutur seorang jagabaya yang berusia tua.

"Apakah kekuatan tak bertuan itu termasuk juga yang mencegat rombongan seba di bawah pimpinan Raden Suji Angkara, Paman?" tanya Ginggi di suatu senja.

"Mungkin juga," tutur jagabaya tua ini.

Mendengar penjelasan ini, Ginggi termenung. Tapi bagaimana dengan pengakuan Ki Banaspati sendiri yang memang mengaku merampok rombongan tersebut? Mendengar bunyi jawaban jagabaya tua ini, timbul kesan bahwa tidak seluruh gerakan Ki Banaspati diketahui seisi wilayah Sagaraherang. Kalau tidak begitu, tidak mungkin pertanyaan pancingan Ginggi dijawab seperti itu. Sampai di situ, terpaksa pemuda ini harus berpikir keras.

Ki Banaspati benar-benar misterius. Tempo hari dia mengaku secara gelap menghimpun kekuatan untuk merampok pejabat Pajajaran yang korup dan menindas rakyat. Namun di lain pihak, dia menjadi pejabat utama muhara langsung dari pusat guna menarik pajak. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkinkah selama ini dia memiliki dua wajah dan tidak pernah tercium baunya oleh pemerintahan di Pakuan?

"Aku tetap setia terhadap amanat Ki Guru, bahwa aku harus menolong rakyat Pajajaran dari penindasan raja yang tidak tahu diuntung itu!" kata Ki Banaspati kepada Ginggi tempo hari.

Kata Ki Banaspati, dia memang merampok pejabat korup dan mencegat rombongan pembawa hasil bumi atau kekayaan lainnya dari para saudagar yang bekerja tidak halal. Hasil-hasil jarahannya sebagian dia berikan kembali kepada rakyat dan sebagian dihimpun untuk menciptakan kekuatan baru. Bila dia sudah memiliki kekuatan, akan dia pergunakan untuk menyerang Pakuan dan merebut kekuasaan.

"Ratu Sakti harus disingkirkan karena dia tidak becus mempertahankan kebesaran Pajajaran. Kemudian, akulah kelak yang akan memegang tampuk pemerintahan di Pakuan. Akan kukembalikan kebesaran Pajajaran seperti ketika dipimpin oleh Kanjeng Prabu Sri Baduga Maharaja!" kata Ki Banaspati pula.

Ginggi merenung keras. Begitukah cara melaksanakan amanat Ki Guru Darma dalam upaya membela rakyat? Cukup pantaskah Ki Banaspati mencuatkan dirinya untuk menjadi raja menggantikan Ratu Sakti? Sejauh mana keberadaan seseorang untuk diakui sebagai raja yang kelak harus mampu memayungi nasib sejumlah besar manusia di sebuah wilayah bernama negara? pikir Ginggi.

Ginggi memang mengetahui bahwa Ki Banaspati orangnya tegas, suaranya berwibawa, perintahnya tidak pernah diabaikan, dan selalu melihat darah mengalir tanpa memengaruhi perasaannya. Bagi Ki Banaspati, darah dan kematian sepertinya sesuatu hal yang biasa.

Ginggi masih teringat peristiwa sebulan lalu. Ki Banaspati dengan enteng saja memerintahkan anak buahnya membunuh Suji Angkara dengan cara dibenamkan ke kolam. Ki Banaspati juga tidak peduli ketika mendengar Ki Joglo tewas dengan leher hampir putus, padahal orang itu adalah anak buah yang amat dipercayainya dan kematian orang itu karena berupaya melaksanakan perintahnya.

"Betulkah seorang calon raja yang bercita-cita ingin membela rakyat dan ingin mengembalikan kejayaan Pajajaran harus memiliki watak keras dan tega melihat kematian?" pikir Ginggi lagi.

Lantas pemuda ini menerawang ke arah Prabu Ratu Sakti, Raja Pajajaran yang tengah berkuasa sekarang. Kabarnya raja ini selalu menyinggung perasaan rakyat karena tindakan-tindakannya yang keras, kurang bijaksana, dan selalu doyan perempuan. Bila Ki Banaspati punya cita-cita ingin meruntuhkan kekuasaan Sang Prabu Ratu Sakti dan menggantikannya sebagai raja, apakah Ki Banaspati sudah merasa bahwa dirinya jauh lebih baik dari raja sekarang?

Ginggi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras seolah-olah dia hendak mengusir rasa penting yang membebani benaknya. Banyak orang mengatakan bahwa Prabu Ratu Sakti memerintah dengan sewenang-wenang. Tapi sudah hampir tujuh tahun dia memimpin negara tanpa tergoyahkan. Menurut Ki Darma, selama dia memerintah, kekacauan terjadi di mana-mana dan berbagai pemberontakan pun banyak meletus. Akan tetapi, raja ini tetap sanggup bertahan duduk di atas singgasananya.

Sanggup bertahan dari serangan pemberontak, bahkan berani memadamkannya, hanya punya arti bahwa raja ini memiliki kekuatan dan banyak dilindungi oleh pembantu-pembantu pandai. Kalau dia masih dikelilingi orang-orang pandai, itu hanya menandakan bahwa dia berwibawa dan dipercaya aparatnya. Perlukah orang yang masih mendapatkan kepercayaan diusir pergi dari percaturan kekuasaan?

Sekarang pikiran pemuda itu beralih kembali kepada keberadaan Ki Banaspati. Orang ini keras kepala dan tinggi hati, serta perintahnya mesti selalu ditaati. Selama Ginggi tinggal di pusat pemerintahan Sagaraherang ini, dia melihat orang-orang patuh terhadap Ki Banaspati. Mereka sepertinya tidak pernah punya rasa sakit hati atau sejenisnya. Yang ada bahkan sebaliknya; banyak anak buah pasukan atau petugas jagabaya tinggal di Sagaraherang dengan sukacita.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment