Chapter 30
Semakin dekat hubungan orang-orang dengan Ki Banaspati atau Kandagalante Sunda Sembawa, semakin tampak orang-orang itu ceria. Di kompleks pusat pemerintahan Kandagalante ini, hampir setiap malam selalu ada kegembiraan. Di kedai-kedai tuak, para jagabaya yang tidak sedang bertugas mencari hiburan. Setiap malam selalu saja ada tawa ceria dari kaum perempuan dengan mulut terbuka lebar, suara genit, dan tindak-tanduk yang mengundang birahi.
Di wilayah Kandagalante Sunda Sembawa ini, sepertinya semua orang memiliki kesenangan yang sama. Ki Banaspati memiliki istri lebih dari satu, begitu pula dengan Kandagalante Sunda Sembawa. Kebanyakan pria di Sagaraherang ini juga memilih peran sebagai suami yang memiliki istri lebih dari satu. Orang-orang yang tinggal di pusat pemerintahan Kandagalante ini sanggup menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kesenangan sempurna. Tidak ada kejahatan yang terjadi di sana.
Orang-orang yang tinggal di seputar pusat pemerintahan Kandagalante semuanya mengabdi kepada Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati. Semua menjadi jagabaya atau punggawa. Tugas mereka hanyalah menjaga keamanan wilayah Sagaraherang atau mengawal perjalanan seba yang banyak dikirim dari desa-desa di sekitarnya.
Sagaraherang, sebagai daerah Kandagalante, memang sanggup menampilkan kehidupan rakyat yang makmur, jauh dari gambaran rakyat yang tertindas karena kekeliruan raja. Ini memang sungguh ajaib. Bagaimana mungkin di tengah-tengah suasana penderitaan banyak orang, masyarakat Sagaraherang bisa menampilkan sosok yang sejahtera?
"Ini berkat kepemimpinan Kandagalante Sunda Sembawa yang dibimbing oleh Ki Banaspati," tutur seorang punggawa setia. Menurutnya, kendati pemimpin mereka berwatak keras, namun beliau tahu akan keperluan orang lain. Baik Ki Banaspati maupun Ki Sunda Sembawa sehari-harinya menjalani kehidupan yang royal. Mereka selalu menyantap makanan enak dan menyukai berbagai macam hiburan. Hal yang sama juga diberikan kepada semua orang. Artinya, jika para pemimpinnya mampu mendapatkan kegembiraan, maka para anak buahnya pun harus bisa mendapatkannya.
"Dari hasil mengabdi kepada kedua pemimpin ini, selain mendapatkan jatah hasil bumi, kami juga mendapatkan penghargaan bulanan berupa uang logam," kata para jagabaya.
Belakangan Ginggi baru menyadari bahwa benda-benda kepingan logam yang dia simpan di buntalan kain pemberian Kuwu Wado adalah logam bernama uang. Benda itu bisa ditukarkan dengan barang-barang keperluan di kedai atau di pasar, mulai dari tuak hingga beras, mulai dari ikat kepala hingga baju dan terompah. Bagaimana cara menakar dan membandingkannya, Ginggi tidak tahu. Barang apa saja yang bisa ditukarkan dengan uang logam yang dimilikinya pun pemuda itu tidak pernah tahu sebab tidak pernah menggunakannya.
Selama sebulan hidup di Sagaraherang, makan dan pakaian sudah disediakan oleh Kandagalante Sunda Sembawa atas perintah Ki Banaspati. Yang pemuda itu tahu hanyalah uang logam miliknya berasal dari Negeri Campa, seperti yang dikatakan pemberinya, yaitu Ki Kuwu Wado. Barangkali inilah kiat-kiat tokoh Sagaraherang; agar kewibawaannya tetap diakui, ia harus mampu memperhatikan kesenangan dan keperluan hidup para pendukungnya.
Barangkali kiat Sang Ratu Sakti pun tidak berbeda dengan itu. Bahwa untuk mempertahankan keberadaannya, dia harus bisa menyenangkan para pembantu dekatnya. Perkara raja itu tidak berhasil menyejahterakan rakyat banyak adalah urusan lain.
Ketika Ginggi sedang mengobrol dengan beberapa jagabaya, dia mendapat kabar dari seorang jagabaya lain bahwa dirinya dipanggil oleh Kandagalante Sunda Sembawa. Sudah hampir dua minggu Ki Banaspati meninggalkan Sagaraherang. Kata orang-orang terdekatnya, Ki Banaspati memang sering bepergian. Semua kepergiannya semata-mata karena tugas sebagai utusan muara, yaitu mengurus pajak. Bahkan menurut mereka, Sagaraherang sebenarnya hanyalah kampung halamannya, sedangkan tempatnya "berkantor" adalah Pakuan.
"Barangkali Ki Banaspati selama dua minggu ini sedang berada di Pakuan. Biasanya berselang dua sampai tiga bulan beliau baru kembali ke Sagaraherang," kata orang-orang terdekatnya. Katanya, diperlukan perjalanan empat hari dari Sagaraherang menuju Pakuan.
Kandagalante Sunda Sembawa tampak sudah menunggu di bale gede, duduk bersila sambil makan sirih. Seperti biasa, Kandagalante Sunda Sembawa berpakaian rapi, mewah, dan gagah bila tengah berada di bale gede. Dia memakai bendo cetak kain batik dengan ornamen emas murni di depannya. Bajunya model bedahan dengan enam kancing logam mengkilap di sisinya. Dia juga berkain batik corak turuk-ata dan memakai celana komprang beludru hitam dengan hiasan ornamen emas pula.
"Kau masuklah, Ginggi!" perintah Kandagalante.
Ginggi menanggalkan terompahnya, berjalan dengan menggunakan lutut, lalu bersila dan menyembah takzim.
"Adakah suatu keperluan yang membuat hamba dipanggil ke sini, Juragan?" tanya Ginggi yang sudah mulai bisa berbasa-basi dengan bahasa yang halus.
Kandagalante manggut-manggut, merasa gembira melihat pemuda itu sudah mulai memiliki peradaban seperti layaknya masyarakat umum.
"Sudah kulihat penampilanmu selama ini dan itu membuat hatiku senang," kata Sunda Sembawa.
"Hamba juga gembira mendengar Juragan selalu memperhatikan hamba," sahut Ginggi.
"Memang selama ini aku memperhatikanmu. Ternyata kau orang baik. Tidak pernah membuat keributan, padahal aku dengar kau sering digoda orang. Kau juga tidak pernah memperlihatkan kepandaianmu kepada sembarang orang, padahal menurut Ki Banaspati kepandaianmu tidak terpaut jauh di bawahnya. Ini menandakan bahwa kau bukan orang sombong, kendati orang yang tidak berani sombong bisa juga seorang pengecut," tutur Kandagalante Sunda Sembawa sambil tetap mengunyah sirih.
Sejenak Ginggi menatap tajam Sunda Sembawa. Namun kemudian dia teringat bahwa tidak baik menatap pejabat dengan kepala tegak dan mata tajam menyorot. Ginggi kembali menundukkan muka dan menatap lantai kayu.
"Aku berkata begitu sebab orang yang tidak sombong kendati memiliki kepandaian, terkadang hanya berarti takut menghadapi segala macam tantangan. Kepandaian tanpa diperlihatkan dengan kesombongan juga bisa menandakan orang itu menjauhkan diri dari ambisi dan keinginan untuk maju. Padahal sekarang ini di dunia banyak tantangan hidup. Hanya mereka yang berani memperlihatkan kepandaian yang akan dihargai dan ditakuti. Sedangkan bagi yang selalu menyembunyikannya, sepandai apa pun dia, akan tetap dicemooh dan direndahkan orang," kata Ki Sunda Sembawa lagi.
Percakapan terhenti karena ada seorang wanita yang beringsut menyodorkan penganan. Wanita itu berpakaian sederhana, mungkin hanya petugas dapur. Namun Ginggi melihat wanita itu berparas cukup cantik. Kandagalante ini pandai memilih wanita cantik. Kendati hanya untuk pembantu di dapur, dia memilih yang berparas cantik juga, pikir Ginggi.
"Hampir sebulan kau bekerja di sini, belum ada jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu. Oleh jagabaya kau disuruh membelah kayu, padahal kemampuanmu lebih dari itu. Aku juga lihat kau disuruh mencuci pakaian di kali atau mengambil air dengan pikulan, padahal kau bukan pekerja kasar," kata Sunda Sembawa.
"Hamba tidak pernah memilih-milih pekerjaan, Juragan. Asal jenis pekerjaan itu bermanfaat, akan selalu hamba kerjakan," kata Ginggi.
Sunda Sembawa mengangguk-angguk. "Bagus kalau begitu," katanya sambil tersenyum. "Ki Banaspati dalam dua minggu ini sedang bertugas di Pakuan. Pertama, dia mengurus perkara pajak, dan kedua mengenai penyelidikan. Kau disuruh ke Pakuan untuk membantunya. Ini surat darinya untukmu!"
Ki Sunda menyodorkan seikat daun nipah yang berisi tulisan Pallawa. Dengan hati-hati Ginggi menerima lembaran nipah yang diikat benang kapas itu. Ditatapnya lama-lama, dan benaknya langsung teringat pada Ki Darma.
"Kau harus belajar membaca sebab kelak kepandaian membaca akan sangat diperlukan. Tapi hati-hati, jangan perlihatkan kepandaian membacamu itu. Pada saat-saat tertentu, siasat kepura-puraan akan sangat diperlukan," kata Ki Darma saat melatih pemuda itu membaca.
"Hamba tidak pernah belajar membaca, Juragan," kata Ginggi pada akhirnya.
Sunda Sembawa segera mengambil daun nipah tersebut dan membacanya. Tidak keras, namun bisa didengar. "Ginggi, kau cari Suji Angkara di Pakuan. Kau bunuh dia!" demikian isi tulisan tersebut.
Ginggi sendiri sebenarnya sudah terkejut dengan isi surat itu sejak tadi. Namun, baru setelah Sunda Sembawa selesai membacanya, dia memperlihatkan mimik terkejutnya.
"Mengapa hamba harus membunuh pemuda itu, Juragan?"
"Orang itu misterius. Dia mengaku anak Kuwu Suntara dari Desa Cae, tapi nampaknya terlalu dekat berhubungan dengan Pakuan. Entahlah, dengan siapa pemuda itu mengadakan hubungan. Yang jelas, kalau dia membocorkan kegiatan kita, itu bisa merugikan perjuangan kita semua," kata Sunda Sembawa.
"Ketika Suji Angkara meninggalkan tempat ini secara diam-diam bersama empat orang pembantunya, sudah ada petugas kita yang mencari jejak keesokan harinya. Petugas kita menemukan keterangan bahwa mereka tidak kembali ke Cae, melainkan pergi ke arah barat. Kami khawatir mereka melanjutkan perjalanan ke Pakuan dan melaporkan apa yang terjadi di sini," lanjut Sunda Sembawa.
"Begitu berbahayakah kegiatan di sini bagi Pakuan, Juragan?" tanya Ginggi mencoba meneliti sikap Sunda Sembawa.
"Hm... ini hanya kau yang boleh tahu. Bahwa kekuatan pasukan di Sagaraherang dibelah dua."