Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 31

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 31

Satu bertindak seolah-olah sebagai pasukan Kandagalante Sagaraherang yang legal dan diketahui oleh pihak Pakuan. Namun, satunya lagi merupakan pasukan khusus yang melakukan tugas-tugas khusus. Tugas-tugas ini banyak macam ragamnya, termasuk di antaranya menyamar sebagai perampok dan menjarah harta pejabat atau saudagar yang mencari kekayaan tidak melalui cara-cara yang benar.

"Kami jarah hartanya, kami himpun untuk membangun kekuatan. Dan kelak, bila kekuatan itu telah datang, Pakuan akan kurebut dan takhta kerajaan akan kududuki. Ginggi, kau yang paling dahulu mendengarnya. Akulah kelak yang akan menjadi raja di sana! Hahaha!" Sunda Sembawa terbahak-bahak.

"Dan kedudukan Ki Banaspati di mana kelak?" tanya Ginggi dengan penuh minat.

"Dialah yang paling berjasa memberi semangat padaku untuk berjuang mencari keadilan. Maka bila perjuanganku berhasil, dia akan menjadi penasihat utamaku di Pajajaran. Hahaha!" Pemuda itu pun ikut tertawa, namun dengan perasaan lain di hatinya.

Ternyata benar seperti apa kata Ki Darma tempo dulu. Pajajaran sekarang telah tercerai-berai. Kalaupun masih terdapat bentuk kesatuan, hanyalah kesatuan semu. Tidak terkecuali yang terjadi di sini, di Sagaraherang. Siapa yang menyangka, persekutuan kuat antara Ki Banaspati dengan Ki Sunda Sembawa sebetulnya pada akhirnya hanya untuk mencoba membuka jalan masing-masing. Entahlah, siapa di sini yang paling berperan; apakah Sunda Sembawa yang mengendalikan Ki Banaspati, atau Ki Banaspati sendiri yang memanfaatkan keberadaan Sunda Sembawa.

Entahlah siapa di sini yang memanfaatkan siapa. Yang jelas, dari mulut kedua orang ini telah keluar ucapan yang sama dan kesemuanya disampaikan kepada Ginggi, bahwa masing-masing mengaku sebagai calon raja yang berjuang menggantikan penguasa yang sekarang.

Pikiran Ginggi terus berputar menerka-nerka sambil mimik wajah tetap tersenyum manis sebagai tanda gembira melihat khayalan Sunda Sembawa. Namun, tawa pemuda itu dibarengi kerutan dahi ketika dilihatnya ada lelehan air mata di pipi lelaki gagah itu.

"Aku sedih dengan peristiwa ini. Aku sedih! Aku sedih!" kata Sunda Sembawa menutupi wajah dengan kedua belah tangannya.

Sandiwarakah ini, pikir Ginggi.

"Ginggi, engkau harus tahu! Kendati tinggal jauh dari Pakuan, sebenarnya aku paling mencintai Pakuan, sebab itu adalah negeri ayahandaku. Engkau pasti tahu Sang Prabu Ratu Dewata. Dialah ayahandaku. Dan aku pulalah yang seharusnya paling berhak mewarisi takhta kerajaan. Hanya karena persekongkolan jahat saja yang menyebabkan aku terlempar ke sini." Sunda Sembawa menyumpah-nyumpah marah, tapi kemudian merunduk sedih.

Kulit putih di wajah bulat telurnya tampak pucat. Kesedihan ini sungguh tak sesuai dengan kumis hitam tebal yang ada di bawah hidungnya yang mancung itu. Ki Sunda Sembawa menerawang ke arah beranda, menatap senja yang tengah menarik matahari menyuruk bumi. Langit merah dibayangi rimbunan pohon nun jauh di sana. Ada ribuan kalong melintas di atasnya, mencari makan entah ke mana.

"Aku ini dibiarkan seperti kalong-kalong itu. Mau pergi, mau tinggal, terserah kamu. Begitu mungkin mereka padaku. Mereka tak sengaja membuangku, tapi membiarkan aku terbuang. Tapi memang itulah hukuman bagi orang yang tak mempunyai ambisi dan kesombongan. Kau dengar itu Ginggi!" kata Sunda Sembawa berpaling menatap wajah yang bersimpuh di depannya.

"Kata orang, anak dari istri tertua Sang Prabu Ratu Dewata ini mewarisi tabiat ayahandanya. Suka menyepi di kuil bersama para wiku dan bersahabat dengan dupa dan kemenyan. Katanya aku sungguh tepat untuk bertindak sebagai Purohita, pendeta tertinggi di keraton. Tapi kata mereka juga, negara sedang ada dalam bahaya peperangan. Baik peperangan melawan musuh dari luar, maupun musuh dari dalam negeri sendiri. Dan mereka berkilah, di saat situasi seperti itu, bukan Purohita yang sanggup mengembalikan kejayaan negara, melainkan seorang pemimpin berhati besi bercita-cita baja."

"Dan kilah mereka, Sang Ratu Sakti amat memenuhi syarat mengemban itu semua. Ya, dia adikku lain ibu. Sejak masih remaja dia laki-laki romantis, menyenangi keindahan dan kemolekan wanita. Akan tetapi dia juga keras dan ambisius. Dan memang dia berhasil tampil di saat yang tepat. Hanya orang yang ambisius, keras, dan banyak omong yang akan dipilih dalam suasana genting. Orang yang tak pernah menampilkan kepandaian akan tersisih. Itulah aku. Itulah kebodohanku masa lalu. Hanya karena aku tak mau disebut sombong, hanya karena aku menghargai sikap ayahanda yang senang menyepi dan membaca kitab serta mendalami filsafat, maka aku pun menyesuaikan diri. Tapi tentu, bukan berarti aku tak bisa memimpin negara. Bukan berarti aku tak bisa melawan musuh dengan keras dan gagah. Ya, itulah kesalahanku masa lalu. Aku tak suka penonjolan dan kesombongan diri. Sayangnya, sikap-sikapku dianggap tak memiliki kekuatan."

"Sekarang malah terbukti, bahwa memilih orang keras seperti Ratu Sakti hanya akan membuat kekeliruan saja. Negara semakin kacau. Pemberontakan terjadi di sana-sini hanya karena tak senang dengan cara kerja ratu sekarang. Amat beruntung, bahwa Pangeran Fadillah dari Cirebon dan Sultan Hasanudin dari Banten perhatiannya sedang tertumpu melawan Pasuruan dan Panarukan. Kalau tak begitu nasib Pakuan benar-benar di ujung tanduk. Pakuan tak akan memiliki kekuatan berarti bila terjadi penyerbuan total dari Banten dan Cirebon," kata Sunda Sembawa.

Lelaki gagah ini kemudian berdiri dari duduknya. Melangkah mendekati beranda dan mematung di sana sambil menggendong tangan di belakang.

"Beruntung aku punya pembantu yang bisa diandalkan. Ki Banaspati orang yang pandai mencari celah-celah keuntungan. Ilmunya tinggi dan gagasan-gagasannya banyak. Tetapi yang lebih beruntung dari itu, dia sanggup memilah-milah, di mana keadilan harus ditempatkan. Bayangkan Ginggi, sekarang Ki Banaspati menjadi pembantu muara urusan pajak yang dipimpin Bangsawan Soka. Kalau dia penjilat, seharusnya dia mendekati Bangsawan Soka yang begitu berkuasa mengatur kekayaan negara. Tetapi Ki Banaspati lebih menitikberatkan memperjuangkan keadilan ketimbang kekayaan dan kemuliaan. Kalau tak begitu, tidak mungkin dia mau mendukungku. Cobalah, aku yang terbuang hanya sebagai Kandagalante Sagaraherang, tapi dia hargai, dia bangkitkan semangatku. Dia kobarkan cita-citaku. Dialah yang memberi dorongan agar aku menghimpun kekuatan dan kelak harus kugunakan untuk merebut takhta kerajaan. Aku pernah menolak sebab ini kejahatan. Tapi Ki Banaspati berkata, akan lebih jahat lagi kalau kita membiarkan rakyat menderita oleh tekanan yang keras dan orang yang ambisius. Kata Ki Banaspati, kita merebut takhta bukan untuk diri pribadi tapi untuk rakyat. Jangan biarkan Pajajaran dipimpin oleh kekeliruan. Dan Ki Banaspati mendorongku untuk mengusir sikap-sikap keliru dan menggantinya dengan sikap bijaksana."

"Ki Banaspatilah yang mengobarkan semangatku. Ki Banaspatilah yang memberiku kepercayaan diri. Dan Ki Banaspati pulalah yang mengerjakan segalanya agar kepercayaanku timbul. Ki Banaspati pandai membuat tipu daya untuk menyusun kekuatan. Ki Banaspati mengusulkan kepada Pakuan agar Kandagalante yang jauh dari pusat pemerintahan diberi wewenang menambah pasukan guna mempertahankannya dari serangan dan pengaruh musuh. Usul ini diterima dan dianggap wajar. Disangkanya, kita membangun pasukan untuk membantu mereka, padahal akan kita gunakan sebaliknya. Sudah ada beberapa Kandagalante yang paham dengan cita-cita kita dan sama-sama menghimpun kekuatan. Dan Ki Banaspati terus berjuang mencari pengaruh sekaligus memengaruhi Kandagalante lainnya. Semuanya akan menghimpun kekuatan dan semuanya bersatu untuk mengembalikan kejayaan masa lalu Pajajaran. Dan sekali lagi, engkau harus tahu Ginggi, akulah yang akan menjadi ratunya!" kata Sunda Sembawa tersenyum renyah.

Dipandangnya lagi langit merah di ufuk barat. Ditatapnya lagi puluhan atau ratusan atau bahkan ribuan kalong yang keluar dari sarangnya itu. Tampak Sunda Sembawa menyungging senyum penuh arti. Beberapa lama dia menatap tajam ke arah tenggelamnya matahari. Tersenyum lagi sendirian. Sesudah itu baru dia mengalihkan tatapannya kepada Ginggi.

"Aku hanya tahu, kau dibawa ke sini oleh Ki Banaspati. Karena Ki Banaspati mempercayaimu, maka aku pun percaya padamu. Oleh sebab itu kerjakanlah apa yang menjadi tanggung jawabmu kini," katanya.

"Membunuh Suji Angkara?" tanya Ginggi.

Ki Sunda Sembawa memalingkan muka dan berdesis. Ginggi menyembah takzim.

"Akan hamba cari Suji Angkara!" katanya.

"Bagus!" desis Sunda Sembawa lagi.

"Ya, hanya akan kucari saja sebab tak ada alasan untuk membunuhnya," kata pemuda itu di dalam hatinya. Namun mencari Suji Angkara pun Ginggi merasa perlu. Kalau memang pemuda itu berangkat ke Pakuan, hal itu akan lebih menarik perhatian dirinya, sebab Suji Angkara benar-benar menjadi orang yang misterius.

Keterangan pertama yang didapatnya di Desa Cae, pemuda itu hanya dikenal sebagai anak Kuwu Suntara yang pulang ke desa empat bulan sekali sambil membawa kekayaan melimpah karena berdagang dengan bangsa asing. Belakangan didengar kabar lagi bahwa pemuda tampan berpakaian mewah ini pun menjadi pembantu Ki Banaspati sebagai pengurus pajak negara.

Tapi terbukti, hubungan keduanya tidak benar-benar erat. Kalau tidak begitu, tidak mungkin mereka saling bercuriga dan saling menuduh. Upaya pembunuhan yang dilakukan Ki Banaspati terhadap pemuda angkuh itu hanya menandakan bahwa Ki Banaspati telah menganggap pemuda itu membahayakan gerakannya. Sekarang kecurigaan kian bertambah sesudah ada dugaan Suji Angkara menuju Pakuan. Kalau benar pemuda itu menuju Pakuan, artinya dia memiliki hubungan dengan orang Pakuan. Itu menarik untuk disimak, pikir Ginggi.

Ginggi tak menunggu kepulangan Ki Banaspati ke Sagaraherang. Apalagi surat di daun nipah untuknya hanya mengatakan bahwa dia harus mencari Suji Angkara ke Pakuan dan membunuh pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment