Chapter 32
Maka sesudah dibekali pakaian baru dan uang cukup banyak, Ginggi segera pergi meninggalkan tempat itu.
Dia menolak untuk ditemani satu atau dua orang, dengan alasan penyelidikan secara diam-diam hanya bisa dilakukan seorang diri.
Ginggi pun menolak ketika akan dibekali seekor kuda Sumba yang tinggi besar dengan alasan naik kuda yang gagah hanya akan menarik perhatian orang belaka.
"Melakukan perjalanan dengan berjalan kaki akan terkesan sebagai orang kebanyakan dan tak akan menarik perhatian siapa pun," kata pemuda itu.
Alasan-alasan ini dapat diterima oleh Ki Sunda Sembawa dan dia mengabulkan permintaan pemuda itu.
"Yang penting kau pulang dengan membawa keberhasilan," kata Sunda Sembawa.
Ginggi mengangguk pasti.
Menurut petunjuk, Ginggi perlu waktu dua hari untuk menuju wilayah Kandagalante Tanjungpura, sebuah wilayah yang dapat dikatakan bersinggungan dengan batas utara.
Kata Sunda Sembawa, Ginggi harus lebih hati-hati memasuki wilayah ini.
Pengaruh dari kerajaan agama baru cukup kuat di sini.
Ini karena Pasukan Cirebon yang telah menguasai Pelabuhan Kalapa (Sunda Kalapa) kerap kali lewat ke wilayah Tanjungpura untuk menuju Kalapa atau sebaliknya bila kembali ke Cirebon.
"Banyak juga di antara anggota Pasukan Cirebon tercecer tinggal di beberapa kampung wilayah Tanjungpura dan bahkan beristri wanita-wanita di sana," kata Sunda Sembawa.
Ginggi tersenyum mendengar penjelasan ini.
Jadi benar kata Ki Darma, rakyat sebetulnya tidak mau tahu urusan politik.
Pemerintah saja yang mengatakan orang-orang dari negara agama baru itu merupakan musuh, padahal rakyat sendiri tidak menganggap demikian.
Buktinya, mereka tidak memisah-misahkan arti agama.
Orang Pajajaran secara alamiah dapat bersatu dengan orang-orang Cirebon membentuk sebuah keluarga.
Namun di lain pihak, pemuda itu pun membenarkan bahwa ada orang Pajajaran yang berusaha mempertahankan negaranya.
Seperti yang dikatakan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja yang pernah disampaikan melalui mulut Rama Dongdo, Ki Banen, serta Ki Ogel, bahwa Pajajaran tidak memusuhi agama baru.
Namun tentu saja, dengan pengertian bahwa Kerajaan Pajajaran tetap diakui oleh siapa pun.
Perjalanan memang dilakukan dua hari untuk mencapai Tanjungpura.
Tidak terlalu sulit sebab tidak ada bukit apalagi ngarai.
Hanya saja perjalanan banyak dilakukan melalui hutan jati yang udaranya terasa panas.
Ginggi memasuki wilayah Kandagalante Tanjungpura sesudah matahari condong ke barat.
Dia segera menuju kediaman kepala jagabaya dan mengaku sebagai pengembara yang ingin menumpang tidur di wilayah Kandagalante ini.
Namun kepala jagabaya tidak seramah dugaannya.
Lelaki gemuk dengan baju kampretnya dibiarkan terbuka ini melihatnya dengan pandangan selidik dan penuh curiga.
"Aku tidak begitu saja membiarkan orang asing memasuki Tanjungpura ini.
Sudah dua kali kami menerima kehadiran pengembara.
Dan sudah dua kali itu pula kami mengalami kejadian yang tidak mengenakkan!" tutur kepala jagabaya, yang diketahui Ginggi bernama Ki Aliman.
"Telah terjadi dua kematian bersamaan dengan kehadiran dua pendatang asing," tutur kepala jagabaya.
"Pembunuhan?"
"Tidak. Kedua penduduk kami mati bunuh diri!"
"Ada penduduk mati bunuh diri, mengapa pendatang asing yang disalahkan?" tanya Ginggi.
Kepala jagabaya bernama Aliman ini tidak bisa mengemukakan alasan dengan segera.
Dia tampak hanya memilin-milin ujung kumisnya yang tebal saja.
"Aku juga tidak punya alasan tepat, mengapa harus begitu.
Kecurigaan kami terhadap orang asing, hanya karena peristiwa itu terjadi selalu secara bersamaan," katanya.
Hampir sebulan yang lalu, ke Tanjungpura datang empat orang asing.
Mereka bertamu ke Juragan Ilun Rosa.
"Tapi malam sebelum kepergian mereka, anak gadis Juragan Ilun mati bunuh diri," kata Ki Aliman.
Ginggi hanya mendengarkan saja tanpa berniat memotong ucapan jagabaya ini.
"Itu terjadi sebulan yang lalu," kata Ki Aliman. "Tiga hari yang lalu ada lagi pendatang asing dan mengaku pengembara.
Sifatnya kasar dan berlaku sesuka hati.
Dia bergaul dengan perempuan penghibur di rumah tuak sampai jauh malam.
Di tengah malam buta, anak seorang perempuan penghibur, yaitu gadis kecil berusia belasan tahun, meraung dan menjerit ngeri.
Ketika orang-orang mendobrak kamarnya, mereka mendapati si gadis kecil itu sudah mati berlumuran darah."
"Lantas, apa hubungannya dengan kehadiran orang asing itu? Apakah karena kematian kedua gadis bersamaan waktunya dengan kehadiran mereka semata?" tanya Ginggi.
"Tidak ada bukti mereka terlibat urusan bunuh diri.
Tapi kedua gadis yang nekat bunuh diri semuanya karena merasa kehormatan dirinya terganggu," kata Ki Aliman sambil mengucapkan sumpah serapah.
"Paman mencurigai para pendatang itu yang melakukan kejahatan seksual?" tanya Ginggi.
"Sulit bagiku bicara tanpa bukti.
Tapi selama aku hidup di Tanjungpura, aku mengenal tabiat lelaki di sini.
Mereka memang senang minum tuak dan bercanda dengan perempuan penghibur.
Tapi meskipun begitu, lelaki di sini pantang melakukan tindakan seperti itu.
Untuk menghadapi kaum wanita, lelaki Tanjungpura tidak bertindak pengecut.
Kalau kami menyenangi seorang wanita, kami datangi dan kami bicara terus terang.
Mungkin ada di antara kami yang merayu bahkan memaksa.
Tapi itu tetap dilakukan dengan terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi.
Banyak perkelahian sesama lelaki karena memperebutkan wanita.
Tapi dalam mendapatkannya, tetap saja dilakukan secara ksatria," kata Ki Aliman.
Ginggi hanya tersenyum mendengar kepala jagabaya ini memuji-muji kaum lelaki di wilayahnya.
"Apakah menurutmu orang asing yang memasuki wilayah Tanjungpura hanya mereka saja?"
"Tanjungpura ini wilayah yang ramai dikunjungi orang setiap saat.
Bahkan orang-orang dari agama baru suka lewat dan bermalam di sini," kata Ki Aliman.
"Nah, mengapa kalian tidak mencurigai kehadiran mereka juga?" tanya Ginggi.
"Kepada mereka kami tidak mencurigainya.
Agama mereka keras terhadap dosa yang melibatkan penyelewengan seksual.
Jangankan melakukan pemaksaan seksual, berkencan di rumah tuak dengan perempuan penghibur yang sifatnya suka sama suka saja, mereka menganggapnya sebuah dosa besar," kata Ki Aliman.
"Engkau pengikut agama baru, Paman?" tanya Ginggi.
"Tidak. Aku pemeluk agama lama!"
"Dan pendatang yang Paman curigai itu, apakah juga pemeluk agama lama?"
"Ya, kurasa demikian.
Pemeluk agama baru mudah dilihat, sebab hampir setiap saat mereka melakukan sembahyang menghadap ke barat, sedangkan pemeluk agama lama tidak.
Para pendatang yang kami lihat sepertinya bukan pemeluk agama baru," kata Ki Aliman.
"Kalau mereka juga pemeluk agama lama yang sama seperti yang dipeluk Paman, apakah kalian akan curiga juga pada mereka?" tanya Ginggi.
"Kenapa kau tanya begitu?" tanya Ki Aliman.
"Sebab terkesan, agama kalian membenarkan adanya kejahatan seksual!"
Mata Ki Aliman melotot marah kepada Ginggi yang dianggapnya mengajukan pertanyaan sembrono.
"Engkau jangan merendahkan agamaku!
Dalam agamaku juga ada peraturan untuk memelihara tindak-tanduk agar tidak terjerumus dalam dosa.
Mahayu dora sepuluh adalah memelihara dan berusaha memperoleh kebajikan dari gerbang yang sepuluh.
Salah satu di antaranya menyebutkan bahwa manusia diharuskan menjaga dan memelihara baga purusa (baga = kelamin wanita, purusa = kelamin laki-laki)," kata Ki Aliman.
"Kalau begitu, kau tidak adil mencurigai orang-orang pemeluk agama lama melakukan kejahatan, sebab agama apa pun sebetulnya tetap melarang orang berbuat jahat," tutur Ginggi.
Ki Aliman memerah wajahnya.
"Aku mungkin keliru.
Atau, aku sebenarnya tidak menyebutkan bahwa aku mencurigai orang-orang selain pemeluk agama baru?" kata Ki Aliman terbata-bata.
Ginggi kembali tersenyum.
"Tapi kita memang salah.
Dalam hal ini seharusnya kita tidak memperbincangkan perihal agama.
Mereka melakukan kejahatan tidak mengatasnamakan agama.
Yang penting, Paman, sebagai kepala jagabaya harus berusaha menjaga dan kalau mungkin menangkap penjahatnya, kalau memang kedua gadis yang bunuh diri itu karena kejahatan seksual," kata Ginggi pada akhirnya.
Ki Aliman mengangguk-angguk tanda setuju dengan ucapan pemuda itu.
"Hai, engkau mau ke mana anak muda?" tanya Ki Aliman, heran melihat Ginggi seperti mau berlalu dan tampaknya akan keluar melalui lawang kori yang akan segera ditutup karena hari telah kelam.
"Aku akan melanjutkan perjalanan.
Mudah-mudahan berjalan kaki di malam hari tidak menemui gangguan berarti di tengah jalan," kata Ginggi dan kembali akan berlalu meninggalkan tempat itu.
"Bukankah engkau akan menumpang tidur di sini?"
"Bukankah Paman tadi melarang orang asing menumpang tidur di sini?" Ginggi balik bertanya.
Ki Aliman tersenyum.
"Aku tidak membuat peraturan kaku.
Asalkan aku yakin orang itu tidak melakukan kejahatan, aku izinkan siapa pun masuk.
Dan kau tampaknya bukan orang jahat, anak muda," kata Ki Aliman.
Ginggi tersenyum dibuatnya.
Selama beberapa bulan banyak bergaul dengan orang-orang, Ginggi pun sudah tahu bagaimana tata caranya, termasuk dalam bertutur kata.
Dengan nada bicara yang teratur serta dibumbui basa-basi sopan santun ternyata sanggup membuat orang lain langsung menilai dirinya sebagai orang baik.
Padahal sampai saat ini pemuda itu tetap beranggapan bahwa nilai seseorang bukan terletak pada tindak-tanduknya ataupun tutur sapanya.
Sebab tabiat sebenar-benarnya hanya ada di lubuk hatinya.
Mungkin juga orang bertutur sapa dan bertindak tanduk sopan karena begitu yang ada di dalam hatinya, tapi mungkin juga tidak.
Sekarang, Ki Aliman langsung mengubah kecurigaan menjadi kepercayaan terhadapnya hanya karena Ginggi sanggup bicara sopan.
Mungkinkah aku orang baik? Tidak seorang pun tahu, tidak juga aku, pikirnya.
Sampai detik ini Ginggi memang tidak sanggup menilai dirinya sendiri.
Mungkin saja dia mengaku orang baik karena selama ini dia benci pembunuhan.
Tapi sekali waktu dia mengatakan dirinya orang jahat kalau mengingat peristiwa aib yang dilakukannya bersama Nyi Santimi di hutan Desa Cae beberapa waktu lalu.
Dia sembrono menuding orang lain jahat karena melakukan pemerkosaan terhadap wanita lemah.