Chapter 33
Padahal dia sendiri tak ubahnya dengan pemerkosa. Si pemerkosa melakukan nafsu berahinya dengan jalan paksa, sementara dirinya melakukannya dengan alasan suka sama suka. Tapi baik berahi yang dilakukan dengan cara paksa maupun suka sama suka, bila segalanya dilaksanakan berdasarkan naluri nafsu, Ginggi menganggapnya sebagai tindak kejahatan juga.
"Aku juga penjahat berahi," umpatnya sambil menggetok ubun-ubunnya sendiri. "Hai, kau pukul kepalamu sendiri, anak muda?" Ki Aliman terheran-heran dibuatnya. Dan pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh setelah sadar apa yang dilakukannya. "Saking gembiranya dipercaya olehmu, Paman," kata Ginggi.
"Jadi, bolehkah aku menginap semalam di wilayahmu?" tanyanya lagi. Kepala jagabaya itu mengangguk, dan Ginggi mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya. "Ya, engkau boleh menumpang bermalam di wilayah ini. Carilah kedai yang cukup besar. Biasanya mereka menerima pengembara yang kemalaman, asalkan keperluan makan dan minum, kau beli di sana," kata Ki Aliman.
Ketika kepala jagabaya itu mempersilakan Ginggi mencari tempat menginap, hari sudah berangkat senja. Ada terdengar suara kentongan ditabuh dengan penuh irama, kemudian disambut pukulan beduk. Sayup-sayup pemuda itu pun mendengar ada suara lantunan merdu mendayu-dayu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti olehnya. Namun kendati begitu, Ginggi sudah mengenalnya. Itulah seruan panggilan sembahyang bagi orang-orang yang telah memeluk agama baru.
Ginggi hafal benar, lantunan merdu seperti itu terjadi lima kali. Ada beberapa orang bergegas pergi ketika mendengar panggilan merdu itu. Namun kebanyakan orang tak acuh mendengarnya. Kalau pun ada yang bergegas ke rumahnya masing-masing, itu karena hari sudah mulai gelap saja. Ini semua hanya menandakan bahwa kendati agama baru sudah merasuk ke Tanjungpura, namun penduduk asli sebagian besar masih memeluk agama lama.
Sambil berjalan mencari kedai yang cukup besar, Ginggi beberapa kali menjumpai bangunan pura yang diletakkan di halaman rumah. Bau dupa terasa tajam semerbak melalui asap tipis mengelun dari anglo kecil. Sedangkan suara lantunan panggilan sembahyang dari agama baru terdengar sayup-sayup jauh di sudut perkampungan.
Akhirnya sebuah kedai cukup besar ditemukan juga, dan pemuda itu masuk ke sana, disambut pemiliknya sambil mempersilakan duduk dan secara beruntun langsung menanyakan dan menawarkan beberapa jenis makanan yang sekiranya Ginggi akan tertarik untuk memesannya. Ginggi sejenak berkeliling meneliti ruangan kedai itu. Ada bangku dan meja panjang tempat orang makan-makan. Namun di ruangan tengah, ada dipan bambu amat luas. Mungkin tempat orang makan sambil duduk bersila, atau juga tempat orang numpang menginap.
Belum ada pengunjung yang datang, kecuali seorang gadis kecil, barangkali anak pemilik kedai, tengah menyalakan beberapa lampu teplok di sudut-sudut ruangan kedai. "Saya mau makan di sini tapi sekalian juga menumpang tidur barang semalam," kata Ginggi mencoba mendayudayukan suara sopan dan halus. Tapi si pemilik kedai berpakaian kampret putih dengan kain sarung diikatkan di pinggangnya hanya menatap penuh selidik.
Gadis kecil yang tengah menyalakan lampu pun sejenak menghentikan tugasnya untuk ikut menatap wajah pemuda itu. Ditatap oleh kedua orang itu dengan penuh selidik, membuat Ginggi jadi kikuk. Dia menggosok-gosok ujung hidungnya beberapa kali seolah-olah di sana ada asap belanga mengotorinya. Dia juga menepis-nepiskan ujung tangannya ke arah pakaiannya, kalau-kalau debu jalanan membuat pakaiannya dekil.
Namun pemuda itu akhirnya yakin, kedua orang itu menatapnya bukan karena kondisi tubuhnya yang dianggap kotor. "Engkau orang asing. Kami takut dengan orang asing," gumam pemilik warung bertubuh pendek kurus ini, menatap pada anaknya. "Saya sudah mendapatkan izin kepala jagabaya Aliman," kata Ginggi. "Betulkah?" "Untuk apa berbohong. Kami bahkan mengobrol lama. Dan saya tahu, apa penyebab kalian takut terhadap orang asing. Karena di sini ada kejadian yang tak kalian sukai bukan?" kata Ginggi lagi.
Pemilik kedai itu mengangguk. "Ya, dua malam lalu ada gadis terbunuh. Katanya bunuh diri. Tapi banyak orang mengatakan, gadis anak perempuan penghibur itu bunuh diri setelah kegadisannya dirambah manusia laknat tak bertanggung jawab!" kata pemilik warung marah dan kesal. Dia mendengus dan melotot ke arah Ginggi. Sesudah itu gadis kecil itu pergi dengan tergesa-gesa.
"Lihatlah, karena peristiwa-peristiwa yang menyangkut mereka, banyak anak gadis tak suka dan selalu bercuriga terhadap kaum pendatang. Lihatlah kesan anakku kepadamu barusan. Dia sangka setiap laki-laki yang pendatang gemar melakukan kejahatan berahi," kata pemilik warung menuding dengan hidungnya ke arah mana gadis itu berlalu. "Kalau saya tahu, akan saya kejar penjahat itu!" kata Ginggi. "Semua orang juga berkata begitu. Tapi siapa yang bisa menduga hati orang. Mulutnya berkata begitu, padahal mungkin hatinya berkata lain," kata pemilik kedai seperti menyindir.
"Ya, memang bisa juga begitu. Tapi aku berkata menurut apa kata hatiku. Lihat saja nanti, kalau ada terdengar peristiwa macam itu lagi, aku pasti turun tangan," kata Ginggi menegaskan. Si pemilik warung tidak mengiyakan tapi juga tidak menentang perkataan pemuda itu. Dan karena sudah mendapatkan izin kepala jagabaya, pemilik kedai pun akhirnya mengizinkan Ginggi menumpang tidur.
"Tapi tentu dengan beberapa persyaratan. Di antaranya saja engkau tidak boleh berbuat onar, termasuk minum tuak." "Saya tidak mau minum tuak," jawab Ginggi. "Ya, bagus!" sambut pemilik kedai. Dua hari melakukan perjalanan, pemuda ini tidak mandi. Oleh sebab itulah pertama yang diburunya di tempat pondokannya adalah jamban untuk mandi. Pakaian yang barusan ditanggalkan sudah demikian dekil dan langsung saja dia cuci bersih.
Sekarang Ginggi perlu menggantinya dengan bekal pakaian yang didapatnya dari Kandagalante Sunda Sembawa. Ada sekitar tiga stel pakaian yang didapat di dalam buntalannya. Tapi amboi, mana yang harus dia kenakan sebab ketiga stel pakaian itu semuanya terbuat dari bahan mewah. Ginggi sudah mengenal beberapa jenis kain, mana buatan Pajajaran dan mana yang didatangkan dari negri sebrang atau pun negri-negri jauh. Dan ketiga stel pakaian itu semuanya dibuat dari bahan-bahan pilihan hasil pertukaran dengan negri jauh.
Jenis pakaiannya masih berupa kampret juga. Tapi kainnya tipis halus dan mengkilat. Kalau kena cahaya lentera, kain baju itu memantulkan kembali cahayanya dan warna biru tuanya semakin indah. Pemuda itu bingung memikirkan jenis pakaian ini. Ginggi suka melihat jenis pakaian halus mengkilat ini ketika para remaja anak-anak golongan santana (kalangan menengah, saudagar dan pedagang) memakainya ketika mereka berjalan-jalan menghirup udara sore atau bila mereka bercanda bersama kaum remaja putri.
Hanya anak-anak orang kaya dan yang berjiwa pesolek saja yang gemar memakai pakaian halus dengan warna mencolok seperti ini. Ketiga pakaian di buntalan itu indah-indah belaka. Barusan yang dipegangnya adalah kampret warna biru tua. Dua lagi berwarna kuning dan merah darah, amat mencolok. Ketiganya aku tak suka, pikirnya. Tapi kalau dia tak gunakan, habis mau pakai yang mana? Terdesak oleh keadaan, akhirnya pemuda itu terpaksa memilih salah satu pakaian. Dipilihnya warna biru tua.
Ikat kepalanya pun berwarna sama, hanya saja terbuat dari jenis kain yang agak tebal walau pun masih sama halus. Ketika pemuda itu selesai berdandan dan mulai masuk ke kedai, si pemilik kedai melongo heran. Anak gadisnya pun hampir-hampir tak berkedip menatapnya. Menerima tatapan demikian tajam dari mereka, kembali Ginggi meraba hidungnya dan menepis-nepis pakaiannya. "Pakaianku sudah tak kotor dan badanku pun sudah tak dekil. Tapi mengapa kalian masih menatapku seperti itu?" tanyanya heran.
Si gadis kecil tersipu-sipu ditegur demikian. Ayahnya yang kurus dan kecil pun malah nampak membungkukkan badan dengan penuh hormat. "Saya tak menyangka Raden berkenan singgah di kedai reyot macam begini?" kata pemilik kedai masih membungkuk-bungkuk. Senyum hambar bergayut di bibir pemuda itu. Ternyata penyakit manusia tak pernah sirna, pikirnya. Selama Ginggi turun gunung dan mengenal tipe-tipe manusia, selalu ada kesamaan, bahwa orang cenderung melihat sesamanya hanya dari luar belaka.
Mulut manis dan pakaian bagus akan selalu disambut hangat dan ramah. Padahal tadi sebelum mandi dan berpakaian dekil dengan jenis kasar, orang-orang ini melirik dengan sebelah mata. "Seharusnya Raden memilih tempat peristirahatan yang lebih bagus. Barangkali Kuwu Marsonah atau bahkan Juragan Ilun Rosa pun akan berkenan menerima kehadiran Raden," kata pemilik kedai hormat. "Aku mungkin akan bertamu kepada mereka. Tapi untuk menumpang tidur, aku memilih di sini saja," kata Ginggi.
Dan karena sudah terlanjur mendapatkan penghormatan, akhirnya Ginggi pun tak ragu-ragu untuk meminta pelayanan mereka. "Aku sekarang lapar. Coba sediakan makanan yang paling enak. Kau juga gadis kecil, ambilkan aku minuman yang sekiranya bisa menyegarkan tubuhku," kata pemuda itu yang segera memilih tempat duduk agak di sudut. Pemilik kedai tergopoh-gopoh mempersiapkan berbagai penganan. Si gadis kecil disuruhnya menghangatkan lauk-pauk yang ada di kedai itu.
Ginggi bersenandung kecil merasakan nikmatnya dilayani orang. Sambil senyum simpul dia menyaksikan anak beranak sibuk kesana-kemari menyiapkan makanan. Ada yang membawa baki kayu, ada juga mengambil piring terbuat dari tanah liat. Ginggi menghitung, ada tiga orang lagi yang bekerja di kedai besar itu. Mereka laki-laki setengah baya semua. Oh, tidak! Ternyata masih ada seorang lagi pekerja kedai. Dan yang ini jelas gadis muda. Usianya barangkali dua atau tiga tahun di atas gadis kecil tadi.
Gadis ini tidak tergopoh-gopoh. Dia melangkah biasa saja. Tapi Ginggi tahu, gadis itu datang untuk menghampiri dan melayaninya, sebab dia datang mendekat membawa baki yang di atasnya terdapat poci dan cangkir.