Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 34

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 34

Gadis itu berdiri di samping Ginggi, memungkinkan pemuda itu melihat wajahnya dari sudut matanya. Meskipun hanya melihat dari samping, Ginggi menduga gadis itu pasti anak pemilik kedai. Dugaan itu muncul karena raut wajah gadis tersebut hampir serupa dengan seorang gadis kecil yang lebih dulu dikenalnya.

Ginggi merasa kurang puas hanya menatap wajah gadis itu dari sudut matanya. Rasa penasarannya tak tertahankan, sehingga ia segera berpaling untuk menatap langsung wajah gadis itu. Hanya sesaat ia bisa melihat wajah gadis itu secara utuh, karena gadis itu segera memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut.

Setelah meletakkan poci dan cangkir, gadis itu berlalu tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah tidak ada orang di sana. Seolah-olah ia tidak melayani pengunjung, melainkan hanya meletakkan poci dan cangkir di meja begitu saja. Kini Ginggi yang justru mengerucutkan bibirnya.

Gadis itu memiliki paras yang cukup manis. Kulitnya putih bersih, bibirnya tipis merekah merah, dan ada tahi lalat kecil di sudut dagunya. Namun, apalah arti kecantikan jika tidak disertai perangai yang ramah.

*Tuk!*

Pemuda itu menggetok ubun-ubunnya. Itu adalah kebiasaan yang dilakukannya saat menyalahkan diri sendiri. Sekian lama bergaul dengan banyak orang, sedikit banyaknya ia telah terpengaruh oleh tradisi dan kebiasaan mereka. Dulu ia mengacuhkan tabiat orang lain karena dirinya sendiri pun tak mau tahu tabiatnya. Dulu ia bicara seenaknya kepada setiap orang, menampilkan penampilan dan sikap tanpa memedulikan apakah orang lain senang atau tidak melihat tampang dan penampilannya.

Sekarang ia baru tahu rasa diperlakukan dengan bibir mengerucut tanpa sepatah kata pun, sambil mata tak melirik sedikit pun, membuatnya tersinggung dan harga dirinya dilecehkan. "Harga diri?" Sejak kapan ia mengenal harga diri? Tentu sejak ia mengenal banyak orang. Ia melihat orang lain suka tersinggung jika dilecehkan, dan sekarang dirinya ikut-ikutan merasa tersinggung karena dilecehkan. "Kalau begitu, aku sudah terpengaruh oleh kebiasaan orang lain," pikirnya. Padahal, ketika ia hidup berdua saja dengan Ki Darma, ia tidak merasakan hal seperti itu.

*Tuk!*

Ginggi kembali menggetok ubun-ubunnya. Jika demikian, semenjak ia banyak melihat tata pergaulan, ia menjadi orang yang mudah goyah dan rapuh terbawa arus.

"Mari Raden, semua masakan telah terhidang. Tapi maafkan bila segalanya kurang berkenan di hati," kata pemilik kedai, mengembalikan kesadarannya. Ginggi meneliti apa yang ada di hadapannya. Ternyata meja sudah penuh dengan berbagai penganan. Ada ikan lele ditaburi bumbu menyengat, ada juga paha ayam yang baunya wangi menggoda hidung dan air liur. Makanan-makanan lain pun tidak kalah menariknya. Semua masih mengepulkan asap yang harum dan merangsang selera makan.

Tanpa basa-basi, pemuda itu segera melahap semua makanan. Semuanya terasa enak, sehingga malam itu Ginggi makan banyak sekali. Waktu semakin merengkuh malam. Di dalam kedai besar ini, tanpa terasa telah banyak orang. Semuanya memiliki maksud yang sama, yaitu hendak makan. Namun, beberapa pengunjung tampak heran melihat Ginggi memborong satu meja penuh. Beberapa orang bahkan merasa ragu untuk menumpang duduk di bangku tempat Ginggi asyik mengunyah makanan.

Rupanya pemuda itu pun merasakan kecanggungan pengunjung lainnya. Agar mereka tidak ragu-ragu, Ginggi mempersilakan mereka duduk di sampingnya. Ginggi menggeser duduknya ke sudut untuk memberi tempat kepada pengunjung baru. Namun, mana bisa mereka duduk bersama, padahal di atas meja semua makanan milik pemuda itu. Mereka barangkali baru bisa makan bersama kalau semuanya ikut serta mencicipi makanan yang dikuasai Ginggi.

Rupanya pemuda itu pun tahu apa yang dipikirkan para pengunjung. Untuk kesekian kalinya, Ginggi mempersilakan mereka ikut duduk. "Ayo kita makan bersama. Makanan ini enak-enak dan jumlahnya banyak. Tak mungkin aku habiskan sendirian saja. Ayo, makanlah kalian. Jangan khawatir tidak cukup. Kalau habis, biar aku pesankan lagi!" kata Ginggi.

Mulanya pengunjung ragu-ragu menerima ajakan ini. Tapi karena pemuda itu selalu mendesak, akhirnya ada satu dua orang yang berani duduk. Dan akhirnya, yang duduk di sana kian bertambah. Mungkin enam orang mereka berhimpitan di bangku panjang sehingga Ginggi duduk kian mepet ke sudut. Namun, ini membuat kegembiraan baginya. Apalagi ketika dilihatnya semua orang mulai berani makan dengan ramai dan gembira.

"Hey, Pak Tua! Ayo tambah lagi makanannya!" seru Ginggi.

Sebelum pemilik kedai meluluskannya, dengan agak ragu ia bertanya tentang bagaimana cara pembayarannya. "Bayar? Maksudmu kau minta sejumlah makanan ini ditukar dengan benda logam macam ini?" kata Ginggi, merogoh ke dalam buntalannya. Pemuda itu mengeluarkan beberapa pundi-pundi besar. Dibukanya talinya, dikeluarkannya isinya. Ia menyodorkan kepingan uang logam satu genggam. "Cukupkah semua makanan ini aku tukar dengan segenggam kepingan logam ini?" tanya pemuda itu.

"Hah? Kau bayar segitu?" Mata pemilik warung yang kecil itu mendadak terbelalak lebar.

"Kalau kurang, biar kutambah lagi!" kata Ginggi, merasa bahwa pemilik warung kurang puas diberi satu genggam. Tapi pemilik kedai semakin membelalakkan matanya. Ginggi menoleh ke kiri dan ke kanan. Ternyata semua orang menatapnya dengan cara membelalakan mata. Ginggi menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau lebih dari ini, aku tak sanggup sebab keperluanku masih banyak dan perjalananku masih jauh!" kata Ginggi lagi.

"Engkau salah mengerti, Raden. Ki Alpi bukan menganggap bayaranmu kurang, tapi uang itu kelebihan, terlalu banyak. Itu uang kepingan perak dari negeri Cina. Nilainya amat tinggi. Kau berikan hanya dua keping saja, maka sekali pun Ki Alpi menambah makanan sebanyak dua meja lagi, masih terlalu mahal. Artinya, uang logam dua keping itu masih bisa kau tukar dengan makanan lebih dari empat meja penuh," kata seorang tua di sampingnya.

Ginggi mengerutkan keningnya. Ia menoleh kepada Ki Alpi, pemilik kedai ini. "Betulkah begitu, Pak?" tanyanya ingin meyakinkan. Dan ternyata Ki Alpi mengangguk. Ginggi merasa lega hatinya, sekalipun merasa heran. Di Kandagalante Sagaraherang, pemuda ini memang sudah mengenal jenis kepingan uang yang bisa digunakan sebagai alat penukar keperluan hidup seperti barang dan makanan. Tapi bagaimana cara menggunakannya dan berapa perbandingannya dengan berbagai barang yang ada di pasar, Ginggi sendiri tidak tahu.

Masuk ke kedai untuk berbelanja baru kali inilah ia lakukan, dan hasilnya sungguh mencengangkan. Ternyata kepingan logam yang diberikan oleh Kandagalante Sunda Sembawa demikian berharganya. "Bila demikian caranya, aku bisa makan enak tanpa harus bekerja keras," pikirnya sambil meremas-remas kepingan logam yang ada di genggamannya. "Baiklah kalau begitu, aku serahkan saja dua keping," katanya, menyodorkan kepingan logam sebanyak dua keping.

Ki Alpi mengangguk-angguk dan berjanji akan menambah jumlah makanan bila masih diperlukan. Namun nyatanya, makanan satu meja penuh ini tidak habis dimakan bertujuh. Semuanya sudah kalah sebelum pemilik warung menambah makanan baru.

"Wah, terima kasih sekali, Raden. Baru kali ini ada orang kaya raya murah hati mau membagi makanan kepada setiap orang," kata orang tua di sampingnya sambil membuka kancing bajunya dan mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit karena makanan.

"Kau pasti anak orang kaya, Raden, tapi belum pengalaman menggunakan uang," kata yang lain. "Uangmu berharga untuk apa saja, untuk kesenangan apa saja. Mari aku antar kau ke tempat hiburan. Di sana kau bisa main dadu. Kalau kalah, kau bisa dihibur oleh perempuan cantik-cantik dan genit-genit!" tutur yang lainnya.

"Huh! Aku tak suka perempuan! Perempuan itu racun, tahu!" bentak Ginggi, tidak senang, membuat si pembicara bengong sejenak.

"Kalau begitu, untuk apa uang sebanyak itu, Raden? Anak-anak orang kaya di sini selalu membawa uang untuk keperluan di rumah hiburan!"

"Ah! Persetan dengan itu!" bentak Ginggi lagi. Tapi kemudian pemuda itu termenung. Ia heran sendiri dengan sikapnya. Di kedai ini, ketika ia berpakaian necis, ketika orang-orang memuji karena uangnya, dengan enaknya ia bisa bicara sambil membentak-bentak. Dengan seenaknya pula ia memperlihatkan sikap suka dan tidak suka akan pendapat dan gagasan orang lain. "Karena apakah ini?" Benarkah Ki Rangga Guna? Pemuda itu meraba-raba uang logam yang masih banyak terdapat di dalam pundi-pundi kainnya. Ya, ia bertindak jumawa ini karena uangnya. Di kedai ini ia dipandang orang karena uangnya. Ia menampik gagasan orang dan mereka tunduk karena uang juga.

Ah, ternyata uang ini bisa amat menguntungkan tapi juga bisa amat membahayakan. "Coba kalau aku menuruti saran mereka untuk main dadu dan perempuan. Dengan uang ini mudah tapi membahayakan diriku," pikirnya. Ginggi mulai mengerti. Pantas saja banyak orang berupaya memiliki kepingan logam seperti ini. Suji Angkara dikhabarkan senang berniaga dengan kaum pedagang bangsa asing dan bila pulang membawa banyak pundipundi seperti miliknya kini. Kandagalante Sunda Sembawa dikhabarkan sebagai seorang kaya di Sagaraherang dan dihormati semua orang karena banyak memiliki logam ini. Kemudian ada perampok dan orang jahat lainnya, berupaya merampas bahkan membunuh hanya karena kepingan logam ini pula. "Betul-betul berbahaya benda-benda ini," pikir pemuda itu.

Ginggi melepaskan genggaman tangannya dari pundipundi uangnya dan menyembunyikannya kembali ke dalam buntalan pakaiannya. Ia harus hati-hati menggunakan kepingan uang logam ini dan jangan sampai dirinya dikendalikan oleh benda-benda seperti itu.

Orang-orang di sekelilingnya masih ramai. Mereka mengobrol kesana-kemari, tapi percakapan yang paling menyita perhatiannya adalah tentang kematian dua anak gadis yang terjadi dalam selang waktu sebulan ini. Hanya saja, pembicaraan ini nampaknya simpang siur. Tak ada yang mengatakan pasti bagaimana dua anak gadis belia itu bisa mati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment