Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 35

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 35

"Aku kira mereka memang mati bunuh diri," kata yang seorang.

"Ya, memang, semua orang juga tahu mereka mati bunuh diri. Yang seorang menusuk perutnya dengan patrem, satunya lagi gantung diri. Tapi ada kesamaan dari keduanya. Mereka bunuh diri karena mempunyai sebab yang sama, yaitu merasa kesucian dirinya sebagai perawan tercemar. Kau dengar, bukan? Tubuh mereka ditemukan dalam keadaan mengibakan. Pakaiannya koyak-koyak, kulit tubuhnya pun lecet-lecet. Sepertinya terjadi pergumulan dulu sebelum gadis itu bunuh diri," kata yang lainnya lagi.

"Kalau benar kedua gadis itu mati karena kejahatan lelaki, ingin kukoyak-koyak isi dada si jahat itu!" teriak seorang pemuda geram.

"Ya, benar! Dia harus dibunuh sebab telah merusak nama baik lelaki di sini!" teriak yang lainnya.

"Cobalah lihat, sesudah ada kejadian seperti itu, susah sekali kita melihat gadis-gadis molek bertandang di senja hari. Pergi ke mata air pun mesti dikawal ketat ayahnya. Bahkan lebih rugi dari itu, gadis-gadis di sini sekarang tidak menyukai para pemuda. Kalau kita tatap, dia palingkan mukanya. Dia lari dan dia sembunyi. Rugi kita!" kata pemuda yang duduk di sudut sana.

Semuanya mengangguk-angguk, tetapi sambil tertawa berderai. Ginggi yang hanya mendengar saja juga ikut tertawa. Ternyata pada akhirnya mereka membenci si pemerkosa karena tindakan lelaki biadab merugikan mereka dalam berhubungan dengan para gadis yang dilanda ketakutan dan kecurigaan. Pantas saja anak pemilik warung demikian ketus terhadapku, pikir pemuda itu.

"Siapa yang pernah tahu, kira-kira seperti apakah lelaki jahat itu?" tanya seseorang.

"Kita semua rata-rata mencurigai kaum pendatang. Tetapi sulit meraba-raba siapa mereka, sebab ke Tanjungpura banyak orang yang datang dan pergi," kata seorang pemuda sambil menatap ke arah Ginggi.

Yang lain pun ikut menatapnya sehingga pemuda itu menjadi pusat perhatian walau sesaat.

"Aku yakin, yang berbuat kejahatan bukan anak muda seperti Raden berpakaian biru ini," tutur lelaki tua yang duduk di samping Ginggi, sepertinya membela kehadiran pemuda itu.

"Bahkan aku amat mencurigai, pelakunya adalah orang yang sudah berumur. Tubuhnya agak tinggi, mukanya agak bulat, hidungnya melengkung seperti burung ekek dan matanya sipit seperti...?" Lelaki tua yang bicara tadi tidak melanjutkan kata-katanya ketika ke dalam kedai itu masuk seorang lelaki setengah baya.

Pak tua yang barusan menghentikan kata-katanya malah melotot kaget memandang pendatang baru itu. Bibirnya gemetar, telunjuknya mengarah kepada pendatang baru itu sambil ikut gemetar pula. Semua orang sama-sama menatap pendatang itu, tidak terkecuali Ginggi. Orang itu agak jangkung, mukanya bulat, hidungnya melengkung, dan matanya sipit.

"Diakah orangnya?" teriak yang lain.

"Ya, dia! Benar dia! Dialah si jahat itu!" teriak lelaki itu. Semua orang sigap berdiri. Ada juga yang menghunus golok.

"Serbu!" "Bunuh!" Semua orang serentak menghambur ke arah pendatang baru itu yang tampak amat terkejut dengan sambutan aneh ini. Dia hanya sempat bengong sejenak. Namun pada akhirnya ia tak memiliki kesempatan untuk diam mematung seperti itu bila tak ingin tubuhnya lumat oleh berbagai serbuan yang datang.

Orang berhidung bengkok bermata sipit itu tampak tak ingin melayani serangan. Dengan gerakan kaki teratur, dia melangkah satu dua langkah ke belakang. Ketika serangan datang kian gencar, ujung kakinya menotol tanah dan jumpalitan ke belakang.

"Hm, dia punya kepandaian," gumam Ginggi masih tetap duduk di tempatnya. Di pekarangan yang agak luas, lelaki setengah baya itu baru berdiri lagi. Tetapi pengepung terus mengejar dan menyerang, dan tampaknya orang-orang itu bersiap akan membunuhnya. Namun dari tempat duduknya, Ginggi menyaksikan, kepandaian orang asing itu sungguh hebat. Dia bisa berkelit ke sana kemari menghindari berbagai serangan dengan amat lincah dan tepat. Sebuah bacokan golok yang menghambur ke arah jidatnya, dengan enteng saja dia tepiskan hingga si penyerang terjerembap ke samping. Bila dia mau, sebetulnya orang asing itu bisa membalas serangan dengan telak, bahkan bisa membunuh si penyerang. Tetapi tubuh si penyerang dibiarkan begitu saja terjerembap di bawah kakinya tanpa berusaha untuk menyerang tengkuk si penyerang, misalnya dengan pijakan kaki.

Dalam waktu yang singkat, terdengar jerit dan pekik kesakitan. Bukan karena orang asing itu melancarkan serangan balasan, tetapi teriakan kesakitan itu keluar dari mulut si penyerang yang serangan pukulan tangannya berbenturan dengan tangkisan tangan orang asing itu. Mereka meringis-ringis dan tak berani melanjutkan serangannya. Sebaliknya, lelaki bermata sipit itu pun tampaknya tak berniat melanjutkan keributan. Terbukti, ketika tahu penyerangnya menghentikan gerakan, dia pun segera membalikkan badan hendak berlalu pergi.

"Tangkap pemerkosa!" teriak lelaki tua penyulut keributan ini.

Ginggi tahu, lelaki ini yang tadi menuduh si hidung bengkok bermata sipit melakukan perbuatan biadab terhadap gadis di kampung ini.

"Raden, bukankah engkau tadi sore bilang akan menangkap pelaku perkosaan? Itulah orangnya seperti apa kata Mang Suepi!" kata pemilik kedai menagih janji.

Ginggi memang ingat, tadi dia berkoar hendak menangkap tukang perkosa. Tak dinyana, sekarang "tugas" itu menunggunya. Tetapi benarkah lelaki berwajah bulat itu pelaku pemerkosa?

"Apakah kau tidak salah lihat, Mang?" tanya Ginggi kepada si lelaki tua.

"Mataku memang lamur, tetapi masih bisa melihat wajah orang itu. Ya, dialah yang tiga malam lalu datang ke rumah hiburan dan mengganggu banyak wanita penghibur. Karena orang itu tabiatnya kasar, tak ada wanita yang mau padanya. Namun di tengah malam, terdengar jeritan pilu di rumah hiburan itu. Ternyata anak gadis salah satu wanita penghibur yang sebetulnya masih bau kencur sudah bunuh diri. Pakaiannya koyak-koyak dan seluruh tubuhnya penuh dengan cakaran-cakaran. Uh, biadab! Biadab!" kata lelaki tua itu mengepal-ngepalkan tinjunya.

"Pak, titip buntalanku, akan aku kejar orang itu!" kata Ginggi.

Sesudah menyerahkan titipan barangnya, Ginggi segera pergi ke arah mana orang tadi menghilang. Pemuda itu berlari cepat sambil sesekali melongok ke arah lorong-lorong kuta atau benteng tanah liat. Tetapi sampai keempat sudut tembok benteng dia datangi, orang yang diburunya tidak ditemukan, sepertinya menyusup ke... "Betulkah orang itu pemerkosa?" gumamnya. Kalau benar begitu, maka sungguh berani dia berkeliaran menampakkan diri di muka umum padahal kelakuan jahatnya sudah diketahui. Mengapa dia berani mati seperti itu? Apakah karena memiliki kepandaian tinggi seperti apa yang ditampilkannya tadi? Karena yang dicari tak juga ketemu, akhirnya pemuda itu berniat kembali ke kedai.

Namun sebelum melangkah pergi, ada terbesit pikiran untuk singgah dulu di rumah hiburan yang ada di wilayah tersebut. Tetapi rumah hiburan itu tampak sepi pengunjung. Padahal bangku dan meja telah terpasang di beberapa sudut. Dan di atas meja kayu kasar itu ditaruh beberapa kendi berisi tuak. Tak ada wanita di sana. Padahal menurut banyak orang, yang namanya tempat hiburan selalu saja berderet wanita cantik dan genit.

Ginggi disambut seorang laki-laki berpakaian kampret dengan sarung terselendang di bahu. Ada senjata tajam terselip di sela-sela ikat pinggang kulit dan sepertinya siap kapan saja dicabut dari sarungnya.

"Maaf, malam ini tak ada hiburan di sini. Anak-anak kami masih takut akan peristiwa tiga malam lalu," katanya dingin.

"Saya tidak sedang mencari hiburan," jawab Ginggi.

"Apalagi sedang tidak mencari hiburan, maka sebaiknya kau cepat pergi!" katanya lagi diselingi suara batuk seperti terserang gangguan angin malam.

"Saya akan menanyai perempuan yang anak gadisnya bunuh diri itu," Ginggi menerangkan.

"Engkau petugas jagabaya, anak muda?" Ginggi menggelengkan kepala.

"Kalau begitu pulanglah!"

"Baru saja aku memergoki orang yang dicurigai. Tubuhnya sedikit jangkung, wajahnya bulat telur, hidungnya melengkung seperti burung beo...?"

"Ya... ya... aku tahu. Tetapi di mana dia? Jauhkah dari sini?" Si baju kampret dengan hulu senjata tajam di pinggang ini mendadak gemetar tubuhnya. Kalau tak ada bangku di belakangnya, mungkin dia jauh terkulai. Matanya melotot ke pekarangan.

"Kau ada apakah, Paman?" tanya Ginggi heran. Dia ikut menengok ke luar beranda, di mana pekarangan amat gelap gulita. Tetapi di pekarangan tak terlihat seorang pun.

"Di mana bedebah itu?" tanya orang itu gemetar.

"Dia melarikan diri entah ke mana sebab dikejar-kejar banyak orang."

"Syukurlah! Mudah-mudahan terus dikejar ke mana pun dia pergi. Semakin jauh dia pergi, semakin bagus pula," kata pemilik warung hiburan sedikit lega.

"Kau amat takut kepadanya?"

"Ah, masih terasa dinginnya mata golok menyentuh kulit leherku. Masih terasa ngilunya pergelangan tanganku karena jari-jarinya yang sekuat capit baja menjepit keras sampai kulit tanganku lecet-lecet. Dia mungkin orang gila. Tawanya membuat merinding bulu kuduk dan bentakannya menggetarkan ulu hati. Kalau aku panjang umur, tak kuinginkan sepasang mataku melihat orang itu lagi seumur hidupku," tutur pemilik warung hiburan dengan nada yang masih bergetar.

"Betulkah dia mengganggu keamanan di sini?"

"Dengan tak sopan dan kurang ajar, dia mengganggu semua perempuan asuhanku. Dia main colek ke sana kemari dengan seenaknya. Dengan kasar dan penuh paksaan, dia memondong perempuan paling molek dan mencoba menggoda dengan binal. Tak ada perempuan yang mau padanya. Kemudian satu per satu anak-anak asuhanku dia tempeleng hingga terlontar ke sana kemari. Mereka melarikan diri. Akhirnya orang gila itu sambil tertawa "hahah-heheh" menyeretku dan mengancamku," pemilik warung menutup mukanya dengan kedua belah tangannya.

"Lantas hubungannya dengan kematian anak gadis itu bagaimana?"

"Entahlah. Sesudah dia mengancamku, sesudah dilihatnya semua perempuan pada bersembunyi, dia seperti mencari-cari sesuatu. Dan di sebuah ruangan kamar belakang, aku dengar suara ribut-ribut."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment