Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 36

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 36

Pintu ditutup dari dalam. Suasana terdengar sangat hiruk-pikuk, lalu terdengar suara perempuan menjerit tertahan.

"Aku tidak berani memeriksa, hanya bersembunyi di bawah meja," ujar pemilik rumah hiburan itu. Ginggi menatap sebal kepada lelaki yang ada di hadapannya.

"Setelah suasana mulai sepi, aku memeriksa kamar belakang. Ternyata anak gadis dari seorang perempuan penghibur kami mati bunuh diri. Dia gantung diri," lanjut sang pemilik rumah hiburan.

"Pasti bunuh diri karena kehormatannya diganggu," desis Ginggi lemah.

"Kau yakin begitu?"

"Ya, dia jahat terhadap perempuan. Di depan orang banyak saja dia berani berbuat tak senonoh, apalagi di dalam kamar tertutup itu."

"Lantas, di mana kau simpan senjata tajammu?" tanya Ginggi melirik ke arah hulu senjata yang tersembul di pinggang pemilik rumah hiburan itu.

Orang itu pun melihat senjatanya, lalu memegangnya erat-erat. "Senjataku tak pernah jauh dari pinggangku," gumamnya.

"Dan tak pernah kau cabut, termasuk ketika anak asuhanmu dalam bahaya!" desis Ginggi kesal.

Lelaki berikat pinggang kulit tebal itu mengeluh pendek. Dengan lesu, dicabutnya senjata tajam itu dan diletakkan di atas meja. "Bagaimana aku bisa melawan? Orang itu tampaknya memiliki kepandaian tinggi dan tenaga yang amat besar. Jangankan menolong anak asuhku, untuk menyelamatkan diri sendiri saja, jika tidak pandai-pandai merengek minta dikasihani, aku pasti sudah mati," katanya.

Ginggi menghela napas panjang. Kejahatan rupanya sedang terjadi di mana-mana, dan banyak orang tidak mampu mencegahnya. "Mungkin kau tahu siapa nama penjahat itu," kata Ginggi dengan nada seolah tidak memerlukan jawaban. Benar saja, orang itu tidak menjawab. Ginggi berbalik dan berniat meninggalkan rumah hiburan yang kini sepi itu.

"Anak muda?" panggilnya dengan nada ragu-ragu.

"Engkau tahu, tetapi tidak berani mengatakannya kepada siapa pun, termasuk kepada para jagabaya," kata Ginggi pasti.

"Aku diancam. Tapi itulah anehnya, dengan sombong orang itu memperkenalkan diri. Dia mengancamku, jika berani mengabarkan namanya kepada orang lain, aku akan digorok," kata lelaki pengecut ini. "Aneh, bukan? Kalau dia penakut, mengapa membuka identitas? Tapi kalau dia pemberani, mengapa namanya takut diketahui umum?"

Ginggi pun berpikiran sama. Mengapa orang itu bertindak aneh? "Kau katakan orang itu memiliki kesaktian?" tanya Ginggi.

"Ya!"

"Coba bandingkan dengan ini," kata Ginggi sambil mencabut senjata tajam milik orang itu. Senjatanya berupa pisau besar yang satu sisinya amat tipis dan tajam. Dengan telapak tangannya, Ginggi menekan bagian ramping dari pisau itu keras-keras.

Pemilik rumah hiburan itu membelalakkan matanya. Seharusnya, jika sisi tajam pisau itu ditekan keras ke telapak tangan, kulit dan daging pemuda itu akan terluka. Namun anehnya, pisau itu seolah hanya selembar daun nipah. Ketika ditekan, sisi pipihnya melipat, melengkung, dan penyok, sedangkan telapak tangan Ginggi tidak terluka sedikit pun.

"Engkau hebat, anak muda. Kalau kau menghadapi penjahat tengik itu, pasti dia tak akan kuat melawannya," kata orang itu yakin.

"Bagus kalau begitu. Nah, sekarang katakan, siapa begundal yang telah membuat onar di sini?"

"Dia mengaku bernama Rangga Guna! Ya, Rangga Guna, anak muda!" pemilik rumah hiburan itu mengulang nama tersebut.

Hati Ginggi tercekat mendengarnya. Betulkah perkataan orang ini? Rangga Guna adalah salah seorang murid Ki Darma yang harus segera ditemuinya. Mengapa murid Ki Darma melakukan kejahatan hina seperti ini?

"Cepat, bantu kami. Tangkaplah penjahat itu. Bunuhlah dia untuk kami!" kata orang itu penuh harap, membuat hati Ginggi semakin terguncang.

Dengan pikiran kalut, Ginggi membalikkan badan untuk berlalu. "Jangan kau katakan kehadiranku di sini. Awas, kalau kau bercerita bahwa aku membengkokkan senjatamu, maka bukan pisau itu yang akan kubengkokkan, melainkan lehermu!" Ginggi menakut-nakuti hingga pemilik rumah hiburan itu meringis memegangi lehernya.

Ginggi meloncat ke pekarangan dan menghilang di kegelapan.

***

**Gadis Pemilik Kedai**

Keesokan harinya, Ginggi bangun agak siang dengan mata pedih karena kurang tidur. Kejadian semalam membuatnya gundah gulana. Di kampung itu tersiar kabar mengenai dua wanita yang bunuh diri, diduga sebagai korban perkosaan. Kemudian muncul seorang lelaki jangkung bermuka bulat, hidung melengkung, dan bermata sipit. Salah seorang penduduk menuduhnya sebagai pelaku. Lelaki sipit itu dikepung, tetapi anehnya, meski memiliki ilmu bela diri, dia tidak mau melawan atau melukai warga. Hal ini bertolak belakang dengan penjelasan pemilik rumah hiburan semalam, meskipun ciri-ciri fisiknya sama dengan Rangga Guna.

Pikiran yang ruwet membuat Ginggi tidak bergairah. Pakaian kampretnya yang berwarna biru muda nampak kusut, dan ikat kepalanya hanya berjuntai di bahu. Dia duduk menyandar di dinding kayu. Pemilik warung tempatnya menginap datang menghampiri.

"Aku tidak biasa makan pagi, Pak," gumam pemuda itu sambil memeluk lutut.

"Kalau begitu, barangkali kau perlu minum kopi jagung. Biar Asih menyiapkannya," kata pemilik warung tanpa menunggu persetujuan Ginggi.

Seorang gadis bertubuh semampai datang membawa baki berisi cangkir tanah liat. Ginggi menatapnya selintas. Asih, putri pemilik warung itu, ternyata sangat cantik, namun tampak sangat sombong. Ginggi pun bersikap acuh tak acuh, berpura-pura tidak melihatnya.

"Biar dia merasakan bahwa wajah cantiknya tidak berarti apa-apa buatku," batin Ginggi sambil memalingkan muka.

Gadis itu pun bersikap sama, tidak menatap apalagi menyapa. Setelah meletakkan cangkir kopi, dia berlalu begitu saja. Ginggi merasa sedikit kecewa karena upayanya untuk menyinggung perasaan gadis itu ternyata tidak membuahkan hasil.

Ginggi berniat mandi, namun untuk menuju pancuran dia harus melewati dapur. Di sana dia kembali berpapasan dengan Asih. Ginggi tetap bersikap acuh tak acuh, menatap ke arah lain agar tidak terkesan mengagumi wajah molek namun angkuh itu. Kali ini dia berhasil; ada kerutan di alis gadis itu, tanda dia merasakan sikap Ginggi.

Ginggi tahu Asih baru saja kembali dari pancuran karena dia melihat gadis itu menyimpan *lodong* (bambu tempat air) di sudut dapur. Saat Ginggi tiba di pancuran dan mulai menanggalkan pakaiannya, dia terkejut melihat setumpuk pakaian wanita tertinggal di sana. Dia segera memalingkan muka.

Tiba-tiba, terdengar jeritan kecil yang tertahan dari balik semak. Ginggi segera berjongkok merapat ke semak-semak. Dia menduga Asih kembali dengan terburu-buru karena ada sesuatu yang tertinggal—sesuatu yang seharusnya tidak dilihat oleh lelaki.

Ginggi tersenyum kecil. "Rasakan sekarang, kau pasti tersiksa oleh rasa malu, hai gadis angkuh," pikirnya. Melalui celah pepohonan, dia bisa melihat wajah Asih yang tampak malu dan khawatir. Gadis itu melangkah ragu, menatap ke arah pancuran dengan cemas, namun segera mundur kembali ketika melihat gerakan di balik semak. Tampaknya dia sangat ingin mengambil barangnya tetapi terlalu malu untuk meminta tolong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment