Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 37

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 37

"Ha, beranikah dia?" Ginggi mendongakkan kepalanya untuk melihat gadis itu lebih jelas.

Secara kebetulan, gadis itu pun mendongakkan kepala untuk melihat ke arah pancuran.

Serentak mata bertemu mata dan keduanya berteriak kaget, "Mengapa kau mengintipku?" teriak gadis itu setengah menjerit.

Ginggi tertawa kecil mendengar umpatan ini.

"Hai, mengapa kau tertawa? Dasar lelaki mata keranjang!" umpat gadis itu.

Dan kembali pemuda itu tertawa.

Sekarang tawanya kian keras.

"Kau kurang ajar padaku, ya?" tanya gadis itu, bicara sambil memalingkan muka.

"Kau yang kurang ajar! Kau yang mengintip. Kau yang marah-marah! Dasar gadis aneh!" kata Ginggi, mendongak dan kakinya berjingkat sedikit.

"Kau laki-laki kurang ajar!" teriak gadis itu.

"Lho, siapa yang mengintip, kau atau aku? Siapa yang sedang mandi, kau atau aku? Ayo kau menjauh dari sini. Kalau tak mau pergi, aku akan teriak minta tolong. Biar kau dikepung semua penduduk, dipukuli sampai babak belur sebab mengganggu orang mandi!" teriak Ginggi.

Terdengar suara ditahan sebab celoteh pemuda itu dianggapnya lucu.

Tapi tawa itu hanya sebentar saja, sebab secara tiba-tiba suara gadis itu terdengar ketus.

"Enak saja bicara! Maumu, ya, diganggu dan digoda perempuan! Hai, lelaki licik, lelaki bawel dan sombong serta tolol! Dengarkan, tak ada dalam sejarah atau riwayat mana pun bahwa perempuan menggoda dan mengganggu kehormatan lelaki! Dasar lelaki dungu!" umpat lagi gadis itu.

Ginggi masih tertawa-tawa.

Sehari semalam dia kenal gadis itu, tapi baru kali ini terdengar suaranya.

Tapi begitu keluar suaranya, semua perkataan menghambur mencercanya.

"Betul! Dan aku juga baru tahu sekarang, bahwa sejarah perempuan mendekati lelaki mandi dimulai di kampung ini dan pertama kali dilakukan olehmu!" Ginggi memanas-manasi agar gadis itu semakin jengkel padanya.

"Sialan kau lelaki tengik!" jerit gadis itu kesal.

"Kau yang tengik. Kalau tidak, untuk apa berindap-indap mendekati lelaki mandi?"

"Aku tidak berindap-indap. Aku melangkah biasa saja!"

"Nah, apalagi! Biar sekalian aku laporkan kepada jagabaya!"

"Kurang ajar kau!"

"Hahaha! Hai, gadis pikun, mau apa kau ke sini?"

"Sialan, aku tidak pikun. Aku masih muda. Usiaku baru tujuh belas tahun!"

"Hahaha! Gadis malang, baru usia semuda itu sudah pikun!"

"Pikun kentutmu!"

"Kalau tak pikun, tak nanti barang-barangmu kau tinggal begitu saja di sini!" teriak Ginggi.

"Hai, kau lihat barang-barangku, kau pegang-pegang kepunyaanku?" gadis itu berteriak setengah menjerit.

Tawa Ginggi semakin menjadi-jadi.

Dari arah rumah ada lelaki tergopoh-gopoh.

Ternyata ayah gadis itu yang datang bersama gadis bau kencur yang pasti adik dari gadis yang marah-marah di tepi pancuran itu.

"Asih, ada apa? Siapa yang kau katakan pegang-pegang barang kepunyaanmu itu?" tanya pemilik warung kaget.

Ginggi kembali tertawa terkekeh-kekeh.

"Anak muda, kau ganggu anakku?" tanya pemilik warung tak senang.

"Siapa mengganggu siapa? Kau lihat sendiri, anak gadismu yang datang menyatroni lelaki mandi!" kata Ginggi enteng saja.

"Asih, untuk apa mengintip orang mandi?" giliran gadis itu diperiksa ayahnya.

"Saya tak mendekati orang mandi, tapi mau mengambil barang-barangku. Ternyata di pancuran ada pemuda cerewet yang bawel dan tengik serta tukang fitnah itu, Ayah!" kata Asih nyerocos.

Kalau ayahnya tak menyetopnya, rupanya masih ada segudang cercaan yang akan ditimpukkan ke wajah pemuda itu.

"Aku tanya, mengapa kau mendekati pancuran padahal di sana ada orang mandi?"

"Sudah saya jawab tadi, ada barang-barang saya tertinggal," jawab gadis itu cemberut.

"Tak bisakah kau ambil nanti setelah dia selesai mandi?"

"Tidak bisa, Ayah!"

"Mengapa?"

"Takut barang-barang itu dilihat pemuda culas itu. Dan tampaknya lelaki bermata bundar terselubung keranjang itu benar-benar mata keranjang. Dia pasti lihat-lihat barangku dan barangkali juga pegang-pegang! Ih, menjijikkan kelakuan si pongah itu!" Asih membanting-bantingkan kakinya ke tanah, tampaknya gemas sekali.

Tapi melihat kegemasan Asih, ayahnya tersenyum simpul.

Adiknya bahkan tak tertahankan lagi untuk tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.

Hanya ketika sang kakak mendelik saja gadis cilik itu mendadak menghentikan tawanya dan bersembunyi di balik badan ayahnya.

"Aku kira benar-benar ada bahaya mengancam keperawananmu. Dasar anak bawel?" kata ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Anak muda, tolong sodorkan cucian si Asih itu!" kata ayahnya lagi menyuruh Ginggi.

"Hai, jangan! Biarkan aku yang bawa sendiri!" teriak Asih.

"Ayo, ambillah ke sini!" teriak Ginggi sambil membiarkan ubun-ubun kepalanya diguyur air pancuran.

"Sialan! Dasar lelaki tak bermalu!" cerca Asih lagi.

"Cepat kau selesaikan mandimu. Sesudah itu kau cepat-cepat pula pergi dari tempat itu. Dan awas, jangan sekali-kali berani menatap pakaianku!" ancam gadis itu. Kini yang menunggu Ginggi mandi hanya gadis itu saja sendirian.

Pemuda itu sengaja memperlambatnya.

Sambil bersiul-siul dia hanya mempermainkan air seperti anak kecil dan membuat gadis itu semakin kesal.

Tapi setelah puas mempermainkannya, Ginggi segera berpakaian dan keluar dari tempat mandi yang ditutup gedek bambu itu.

Kembali berpapasan dengan gadis itu sambil bersiul-siul.

Asih hanya mendengus kesal.

"Pertengkaran" dengan gadis itu menimbulkan kegembiraan dan sedikit mengurangi kekesalan hatinya bila mengingat peristiwa semalam.

Namun ketika teringat lagi akan hal itu, kembali alis pemuda itu berkerut.

Ini sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Sejak dari Desa Cae, dia sudah diperkenalkan kepada bentuk-bentuk kejahatan berahi.

Pertama-tama dia menyaksikan percobaan perkosaan oleh orang misterius.

Bila tak sempat dia gagalkan, maka Nyi Santimi akan menjadi korban perkosaan.

Siapa pelakunya? Di dalam gua ketika itu suasana cukup gelap, kecuali cahaya remang-remang dari cahaya bulan di luar gua.

Yang jelas, pelaku pemerkosa mempunyai kepandaian lumayan.

Ketika Ginggi tiba di Desa Wado, pemuda itu pun mendapatkan peristiwa sama.

Ada gadis bunuh diri di desa itu.

Penduduk hanya menduga, gadis itu bunuh diri karena bekal untuk perkawinannya berkurang banyak karena dikuras paksa untuk kepentingan seba.

Padahal penyelidikan pemuda itu, sebelum mati, kesucian gadis itu sudah ternoda.

Ginggi menduga, gadis itu bunuh diri karena rasa malu, atau juga dibunuh oleh pelaku pemerkosa untuk menutupi jejaknya.

Sekarang di wilayah Kandagalante Tanjungpura, pemuda itu mendapatkan dua peristiwa perkosaan dalam selang waktu satu bulan.

Siapa pelaku perkosaan sebulan lalu, Ginggi tak bisa menduga.

Tapi, pemerkosa tiga hari lalu sudah ada sedikit petunjuk.

Setidaknya ada orang yang dicurigai.

Ki Rangga Gunakah? Kalau benar begitu, dia amat kecewa.

Sudah dua orang murid Ki Darma dia temukan dan keduanya mengecewakan dirinya.

Betapa tidak.

Ki Banaspati sudah berhasil dia temukan.

Dia memang menjadi orang terpandai, disegani banyak orang, dan tampaknya kaya raya.

Dia pun mengaku berjuang membela rakyat seperti apa yang dibebankan gurunya, Ki Darma.

Tapi apa pun kilah Ki Banaspati, Ginggi menilai lain.

Ki Banaspati terlalu jauh dalam mengejar cita-cita membela rakyat.

Dia ingin menggantikan kedudukan raja.

Ki Banaspati sepertinya tengah bermain api.

Di Pakuan, dia bertindak sebagai abdi negara, bertugas menjadi aparat muhara (petugas penarik pajak), sedangkan jauh dari pusat pemerintahan, dia menghimpun kekuatan untuk meruntuhkan raja kelak.

Di Sagaraherang, dia bersekutu dengan Kandagalante Sunda Sembawa dan seolah-olah mendukung cita-cita keturunan Raja Pajajaran ini untuk merebut takhta dari saudaranya.

Tapi di sini kembali Ki Banaspati bermain api, sebab dukungan terhadap Sunda Sembawa menurut perkiraan Ginggi hanya sebagai taktik belaka.

Kandagalante Sunda Sembawa yang memiliki kekuatan tentara sebetulnya hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan ambisi Ki Banaspati belaka.

Ya, Ginggi amat menduga demikian, sebab Ki Sunda Sembawa mengaku kepada pemuda itu bahwa semangat dan ambisinya untuk merebut haknya sebagai raja terpompa oleh dukungan Ki Banaspati.

"Ki Banaspati orang hebat. Dia berhasil membangunkan semangatku untuk menghimpun kekuatan dalam upaya merebut hakku sebagai penguasa Pakuan yang sah!" kata Sunda Sembawa ketika itu.

Ucapan Sunda Sembawa yang memuji-muji Ki Banaspati ini hanya menjelaskan bahwa pejabat Sagaraherang ini timbul ambisinya hanya karena dipanas-panasi dan dikipasi oleh Ki Banaspati.

Berlindung kepada cita-cita Sunda Sembawa, Ki Banaspati diperkirakan akan terus bergerak dan berupaya melaksanakan cita-citanya sendiri.

Menjadi raja!

Tapi, betulkah cita-cita menjadi raja merupakan bagian penting dari misi yang dibebankan Ki Darma? Ki Darma hanya mengatakan, semua muridnya dilepas untuk berjuang menjaga nama baik Pajajaran dan bekerja untuk kepentingan rakyat semata.

Merangkul cita-cita membela rakyat, apakah juga sambil harus menguasai segalanya? Menjadi orang pertama di negeri ini? Ginggi bingung memikirkannya.

Apakah betul Ki Banaspati bekerja untuk kepentingan rakyat atau bukan, yang jelas Ginggi tidak menyenangi gaya siasatnya.

Cara kerjanya kasar dan penuh tipu muslihat.

Untuk menghimpun kekayaan yang katanya akan dipergunakan sebagai dana perjuangan, Ki Banaspati membentuk pasukan khusus dan tak segan-segan melakukan perampokan, baik kepada kaum pedagang, para bangsawan, bahkan kepada para pejabat yang katanya korup.

Ginggi menduga, bisa saja rombongan seba yang dipimpin Suji Angkara dicegat "perampok" di hutan jati bukan sekadar kekeliruan belaka tapi sudah merupakan "santapan" rutin bagi perampok bermisi ini.

Seperti apa kata beberapa pejabat desa yang pernah Ginggi ajak bicara.

Sekarang ketika suasana sedang kacau, banyak kelompok memanfaatkan situasi.

Ada kelompok pura-pura menagih seba, padahal setelah hasilnya terkumpul, entah dibawa ke mana, yang jelas bukan untuk kepentingan Pakuan.

Atau bahkan juga terjadi pemberontakan kecil di mana-mana.

Berdalih membela kepentingan rakyat dari tindakan raja, namun sambil mengutip dana dari rakyat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment