Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 38

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 38

Akhirnya rakyat yang tersedot ke sana ke mari.

Sementara harkat dan kesejahteraannya belum pulih, kesengsaraannya sendiri terus bertambah karena punya kewajiban menyumbang perjuangan.

Di wilayah Kandagalante Tanjungpura ini, Ginggi hampir bertemu murid kedua Ki Darma. Kalau benar orang yang dikeroyok di depan kedai itu Ki Rangga Guna, pemuda itu setidaknya telah berhasil melaksanakan perintah Ki Darma.

Tapi akan benar-benar sempurnakah apa yang menjadi kehendak penghuni puncak Cakrabuana itu? Ginggi disuruhnya meminta petunjuk kepada orang itu dalam upaya menjalankan misinya.

Petunjuk apa? Mencari tahu tata cara berbuat mesum? Kalau benar Ki Rangga Guna dikejar-kejar karena gemar berlaku mesum, Ginggi betul-betul malu dan kecewa. Barangkali Ki Darma pun akan merasakan hal yang sama.

"Aku akan kejar Ki Rangga Guna. Dia harus bertanggung jawab atas tindak-tanduknya yang mencemarkan nama Ki Darma ini," pikir pemuda itu.

Mengingat hal ini, Ginggi segera berkemas. Ia mengganti pakaiannya dengan yang baru dan memohon diri kepada pemilik kedai.

"Tapi anak muda, uang yang kau berikan tadi malam jumlahnya terlalu besar, sedangkan aku tidak punya kembalian atas kelebihannya," kata pemilik warung yang membantu mengikat tali buntalan pemuda itu.

"Tidak mengapa Pak, aku tidak begitu merisaukan soal uang," kata Ginggi.

Pemilik warung mengucapkan terima kasih. "Sekarang kau hendak ke mana, anak muda?" tanyanya kemudian.

Ginggi termenung. Mau ke mana setelah ini? Ki Banaspati memberinya tugas, yaitu membunuh Suji Angkara yang kabarnya berangkat ke Pakuan. Ginggi tak terlalu memperhatikan tugas gila ini, tapi keinginan untuk melacak Suji Angkara memang ada dalam benaknya. Barangkali dia harus terus menuju Pakuan sambil tetap berupaya mengemban misi Ki Darma, yaitu menghubungi orang-orang yang diharapkan bisa memberi bimbingan dalam mengemban misi membela rakyat Pajajaran.

"Tinggal dua orang yang harus kutemukan di mana mereka berada, yaitu Ki Rangga Wisesa dan Ki Bagus Seta," kata Ginggi di dalam hatinya.

Sekarang banyak tugas yang harus dikerjakannya. Mencari kedua orang itu yang entah berada di mana, serta berusaha mengejar Ki Rangga Guna untuk diminta pertanggungjawabannya. Begitu banyaknya tugas yang harus diemban sebelum melaksanakan misi yang sebenarnya, yaitu membela rakyat.

"Aku akan melacak penjahat yang mengacau Kandagalante Tanjungpura ini. Bukankah engkau mengharapkan wilayahmu aman, Pak Tua?" kata Ginggi, yang disambut anggukan oleh pemilik warung itu.

"Terima kasih kau mau berjuang untuk kedamaian kami. Tapi hati-hati, penjahat itu bengis dan berangasan. Jangan hanya karena membela orang lain kau mengalami marabahaya," pesannya.

Ginggi tersenyum. Orang ini baik, mau memikirkan keselamatan orang lain.

"Aku pergi sekarang juga, Pak Tua. Oh ya, sampaikan permohonan maafku kepada putrimu yang bernama...?"

"Ah, si Asih anak cerewet. Akulah yang mesti minta maaf padamu," sergah pemilik warung tersipu-sipu. "Kalau engkau kembali dalam keadaan selamat, sebetulnya aku menginginkan kau tinggal di sini. Kalau kau mau tentunya..." orang tua itu menunduk penuh rahasia dan ucapannya seperti mengandung makna tertentu. Namun hal ini tidak dirasakan oleh pemuda itu.

"Aku juga senang dengan wilayah Kandagalante ini. Orang-orangnya bila berbicara tidak punya tedeng aling-aling tapi penuh persaudaraan," kata Ginggi, teringat keakraban penduduk manakala dia disuguhi makanan, juga teringat kecerewetan gadis anak pemilik warung ini.

Karena hari sudah demikian siang, Ginggi terpaksa memohon diri dan dilepas oleh pemilik warung dengan perasaan sukacita. Untuk menahan panas matahari, Ginggi dibekali topi jenis *toroktok*, yaitu topi anyaman bambu dengan caping lebar dan bulat. Topi ini biasa digunakan penggembala itik dan aman melindungi seluruh kepala dari sergapan sinar matahari.

Ginggi senang menerimanya. Kendati topi jenis ini disediakan untuk penggembala itik, nampaknya ini topi khusus yang dibuat dengan menonjolkan keindahan. Anyaman bambunya menggunakan dua warna, gading dan cokelat, serta dianyam teratur sehingga menghasilkan paduan warna yang indah. Topi itu pun tampak halus mengkilap sebab dipoles dengan cairan tertentu yang membuatnya mengeluarkan warna khusus pula.

Ginggi berjalan sambil mencari alamat rumah Juragan Ilun Rosa yang katanya masih saudara dekat Kandagalante ini. Ginggi akan memenuhi janjinya kepada Ki Aliman, kepala jagabaya di sini, bahwa ia akan ikut membantu menyelidiki peristiwa aib yang terjadi di wilayah ini.

Seperti yang dikabarkan kepala jagabaya, di Kandagalante Tanjungpura ini terjadi dua peristiwa yang melibatkan kematian dua orang gadis. Salah satu korbannya adalah putri Juragan Ilun Rosa. Anak gadisnya dikabarkan mati bunuh diri dengan cara menusuk lehernya dengan *patrem* (tusuk konde). Mengenaskan, sebab tindakan bunuh diri diduga dilakukan karena kehormatannya dirusak.

Namun di kelokan jalan yang agak sunyi, pemuda itu terpaksa menghentikan langkahnya. Ada yang mencegatnya di tepi jalan berdebu itu. Gadis pemilik warung!

Ginggi tertegun sejenak. Ada apa lagi dengan gadis bawel ini? "Bukankah aku tidak mengganggumu lagi? Mengapa kau tiba-tiba mencegatku?" tanya Ginggi berusaha pura-pura ketus.

Namun pemuda itu kecele jika mengharapkan ucapan ketusnya dibalas dengan hal serupa. Gadis itu malah diam saja. Sebentar ia menatap dengan mata berbinar, sebentar kemudian menunduk dengan rona merah di pipinya. Ginggi jadi malu sendiri. Ternyata gadis itu datang bukan untuk bersilat lidah. Entah apa keinginan gadis cerewet ini. Karena gadis itu tidak menjawab pertanyaannya, Ginggi melangkah mendekat beberapa tindak.

"Ada apa Asih? Asih bukan, namamu?" tanya Ginggi menjadi gagap.

Gadis itu mengangguk. Ia menatap lagi dengan berbinar, kemudian menunduk lagi dengan rona merah yang masih tertinggal di pipinya.

"Oh ya, kalau-kalau ayahmu tidak menyampaikannya, aku mengajukan permohonan maaf atas kejadian tadi pagi. Tidak seyogianya aku mempermainkanmu sehingga membuatmu marah," kata Ginggi setulusnya.

Gadis itu hanya mengangguk dan menunduk.

"Lalu, apa lagi?" tanya Ginggi gugup.

Pemuda itu baru sadar bahwa sejak tadi di tangan gadis itu ada sebuah bungkusan dari daun jati. Sambil tetap menunduk, ia menyerahkan bingkisan itu kepada Ginggi.

"Untuk bekal di jalan kalau-kalau kau lapar," gumam gadis itu sambil menunduk.

Pemuda itu menerima pemberian tersebut sambil menatap wajah si gadis.

"Kata ayah, bila kau kembali kelak, kau akan menetap di sini. Betulkah itu?" tanya gadis itu penuh harap.

Ginggi menatap tajam mata gadis itu yang berbinar, bening, dan masih suci. Gadis ini aneh sekali. Pertama kali bertemu diawali dengan sikap angkuh dan seolah membenci lelaki, sekarang di saat akan berpisah ia memperlihatkan wajah ramah dan penuh harap.

Berdesir darah pemuda itu. Entah benar entah salah, tapi pemuda itu sudah punya pengalaman melihat perangai wanita. Kalau suaranya sudah mulai halus, nada bicaranya serius, dan menatap dengan sorotan nanar, ini hanya membuktikan bahwa hati dan perasaan kewanitaannya sedang berbicara.

Benarkah ini? Ginggi membayangkan pertengkarannya dengan gadis itu tadi pagi di pancuran. Hal ini mengingatkannya pada pertengkaran kecil di Desa Cae dengan Nyi Santimi, juga di pancuran. Dari pancuran pulalah ada pertemuan hati antara dia dan Nyi Santimi.

Sekarang pancuran telah menggodanya pula. Oh ya! Tidak! Hal itu jangan terulang lagi. Cinta itu menyesakkan, bahkan hampir membuat penyiksaan, paling tidak terhadap batin ini.

Ginggi memalingkan muka ketika mata gadis itu berbinar menatapnya. "Aku kelak akan pulang ke Cakrabuana. Sudah barang tentu akan lewat ke sini," tutur Ginggi.

"Terima kasih. Aku akan setia menunggumu," kata gadis itu pelan.

Ginggi menerimanya dengan pandangan lesu. "Ya, cepatlah pulang! Orang tuamu pasti khawatir bila kau berlama-lama di sini!" pinta Ginggi memerintahkan gadis itu segera berlalu.

Gadis itu menatap tajam sebelum pergi, seolah mengharapkan sesuatu dilakukan oleh pemuda itu. Tapi Ginggi tidak melakukan apa-apa sehingga gadis itu nampak kecewa. Ia berlalu pergi dengan berlari kecil dan menghilang di kelokan jalan.

Barangkali benar gadis itu kecewa. Tapi Ginggi bernapas lega, bahaya sudah dilewatinya. "Hhh, wanita! Begitulah bila kepercayaan terhadap lelaki mulai timbul," pikir Ginggi.

Ginggi berhasil menemukan rumah Juragan Ilun Rosa. Rumah panggung itu terbuat dari kayu jati pilihan, cukup besar dan megah, menandakan bahwa pemiliknya orang berada. Wajar saja, sebab orang ini masih saudara Kandagalante Subangwara, penguasa wilayah Tanjungpura.

Namun ketika Ginggi mengucapkan salam, rumah besar itu sunyi saja. Beberapa kali pemuda itu berteriak memberikan salam, barulah dari samping rumah tergopoh-gopoh seorang lelaki tua yang gendut dan bundar. Pakaiannya sederhana, jauh dibandingkan dengan pakaian Ginggi yang terbuat dari kain halus mengkilat.

"Siapakah Raden, dari mana asal dan mau apa datang ke mari?" tanya si gendut ramah namun mengandung curiga.

"Hanya mau bertemu dengan Juragan Ilun Rosa, adakah dia?" tanya Ginggi.

"Juragan sudah sebulan ini tinggal bersama saudaranya, yaitu Kandagalante Subangwara," tutur lelaki itu.

"Sudah sebulan?"

"Ya, semenjak terjadi peristiwa memilukan di rumah ini," jawab si gendut bundar memberikan penjelasan.

"Engkau di sini ketika peristiwa itu terjadi, Paman?" tanya Ginggi.

"Saya badega (pembantu) di sini. Bahkan sayalah yang menemukan mayat Nden Wulan terbujur bersimbah darah di kamarnya," kata si gendut sambil mengusap bulu kuduknya. "Tapi Raden siapa, mengapa menanyakan peristiwa itu?"

"Hanya ingin tahu saja, mengapa peristiwa menyedihkan itu sampai terjadi," jawab Ginggi.

"Oh ya... Saya dengar tadi malam ada penjahat yang dikepung dan seorang pemuda ikut membantu. Kata kepala jagabaya, orang muda itu akan berusaha menangkap penjahat yang dicurigai berbuat onar di wilayah kami ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment