Chapter 39
"Benar, kan?" Ginggi tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih bila engkau sudah tahu siapa aku. Sekarang coba katakan dari awal peristiwa sebulan lalu yang menewaskan anak gadis majikanmu itu," kata Ginggi.
Tanpa ragu-ragu, badega ini membeberkan kembali peristiwa sebulan lalu. Ketika itu, ke rumah Juragan Ilun Rosa datang lima orang tamu. Semuanya laki-laki. Dari kelima orang tamu itu, hanya satu orang yang berpenampilan menonjol. Semua menaruh hormat padanya.
"Coba kau sebutkan ciri-ciri orang yang satu itu," kata Ginggi.
"Dia seorang pemuda tampan. Usianya barangkali delapan belas atau sembilan belas tahun. Berwajah putih bersih dan tutur katanya sopan. Dia pasti dari keluarga santana atau bahkan bangsawan," kata badega itu memuji tamunya.
"Dan yang lainnya bagaimana?"
"Empat orang lainnya saya kira hanya bawahan pemuda tampan itu saja. Wajah dan perangainya macam-macam. Ada yang sedikit tampan tapi perangainya seperti angkuh. Bila bicara mulutnya selalu tertarik seperti orang yang mengejek dan melecehkan. Pemuda satunya lagi bertubuh kurus dan bergigi tonggos. Dua orang lagi lelaki setengah baya. Yang seorang pendek gemuk dan seorang lagi jangkung dengan pundak melengkung seperti unta," kata pegawai di rumah ini secara rinci.
Tak salah dugaan Ginggi. Mereka adalah Suji Angkara bersama Ki Ogel, Ki Banen, Seta, dan Madi. Mereka meloloskan diri dari marabahaya di wilayah Sagaraherang. Tapi benar perkiraan Ki Banaspati, Suji tidak kembali ke Desa Cae, melainkan terus menuju ke barat yang kemudian diperkirakan akan terus menuju ke Pakuan.
"Apa hubungannya antara kehadiran tamu-tamu itu dengan peristiwa kematian gadis majikanmu, Paman?" tanya Ginggi penuh perhatian.
"Entahlah, sulit untuk menghubung-hubungkannya. Hanya saja, saya mencuri dengar percakapan Nden Wulan dengan pemuda tampan itu malam-malam di halaman depan."
"Percakapan apakah itu?"
"Hanya percakapan sepasang muda-mudi belaka. Namun, nampaknya ada semacam beda pendapat antara keduanya dalam urusan... entahlah. Mungkin urusan asmara. Pemuda tampan itu dengan halus dan lemah lembut menggoda Nden Wulan, tapi Nden menolak ajakan-ajakan pemuda itu dengan berbagai alasan. Nden Wulan beralasan untuk menolak, sebab sebetulnya sudah ada pemuda bangsawan yang menaruh minat padanya, walau pun dilakukan secara rahasia. Hanya saya yang tahu rahasia mereka berdua, Raden?" kata badega.
"Sudah berapa kali pemuda tampan itu bertemu kemari, Paman?"
"Seingat saya, tamu tampan itu baru pertama kali bertamu ke rumah Juragan Ilun. Tapi ke Kandagalante Subangwara sudah beberapa kali. Kabarnya, Nden Wulan pun mengenal pemuda tampan itu di kediaman Kandagalante Subangwara," kata badega lagi.
"Tak ada lagi percakapan khusus selain yang tadi Paman katakan?" kata Ginggi.
"Rasanya tak ada lagi."
"Coba terangkan peristiwa ketika anak gadis majikanmu, Paman temukan sudah terbunuh."
"Ya, malam itu saya dengar suara jeritan kecil. Saya dengar persis sebab saya tengah tugur (ronda). Saya tahu jeritan kecil itu datang dari kamar Nden Wulan. Saya ketuk-ketuk pintunya tak ada sahutan. Saya dobrak dan pintu terbuka. Nampak Nden Wulan sudah terbujur dengan leher terluka karena tusukan patrem (tusuk konde). Nden Wulan bunuh diri?" keluh pegawai itu murung dan penuh sesal.
"Kau yakin?"
"Tangan kanannya berlumuran darah dan masih memegang erat benda tajam itu," kata badega pasti.
"Kira-kira apa penyebab dia bunuh diri?"
"Patah hati?"
"Patah hati? Mengapa kau menduga demikian?"
"Di peraduan Nden Putri yang acak-acakan terdapat sebuah surat daun nipah. Kata Juragan Ilun, isinya permintaan maaf dari Raden Purbajaya bahwa dirinya akan pergi ke Pakuan dan di sana direncanakan pernikahannya dengan sesama anak bangsawan lainnya," jawab badega.
"Kau maksudkan Purbajaya itu kekasih anak gadis majikanmu, Paman?" Badega bertubuh bundar itu mengangguk membenarkan.
"Mulanya Juragan Ilun bingung, siapa Raden Purbajaya. Namun, setelah saya paparkan bahwa pemuda bangsawan itu secara diam-diam menjalin hubungan dengan Nden Wulan, Juragan mulai mengerti kendati tetap masih bingung sebab Juragan belum kenal betul dengan pemuda itu. Tanjungpura ini luas wilayahnya, terutama ke wilayah barat hampir berbatasan dengan Sungai Citarum. Di wilayah ini memang banyak kaum bangsawan," kata badega.
"Juragan mencari tahu siapa pemuda bangsawan itu. Juragan minta tolong kepada Kandagalante Subangwara dan berhasil mendapatkan keterangan perihal pemuda bangsawan bernama Raden Purbajaya itu."
"Bagaimana penjelasan dari Kandagalante?"
"Pemuda itu bangsawan dari daerah utara. Putra Bangsawan Jayasena. Ayahandanya ketika ditemui membenarkan bahwa Raden Purbajaya berangkat ke Pakuan, tapi bukan berniat untuk menikah dengan Putri Bangsawan Pakuan, melainkan akan mengabdi sebagai puhawang," kata badega lagi.
"Puhawang, apakah itu?" tanya Ginggi mengerutkan kening.
"Puhawang adalah seseorang yang ahli dalam ilmu kelautan, ilmu mengenai pantai, gua-gua, serta teluk," kata badega lagi. Katanya lagi, ayahanda Raden Purbajaya tak tahu menahu bahwa putranya punya hubungan batin dengan anak Juragan Ilun Rosa. Hanya pernah mengatakan bila lamaran kerjanya diterima di Pakuan, maka pemuda tampan itu akan segera kembali ke Tanjungpura untuk minta bantuan ayahandanya meminang seorang gadis yang belum disebutkan siapa gerangan.
"Tapi Kandagalante Subangwara amat marah mendengar berita kematian kemenakannya. Dia akan mencari penjelasan langsung kepada Raden Purbajaya di Pakuan. Pemuda tampan tamu Juragan Ilun bersedia membantu menemui Raden Purbajaya, sebab kebetulan dia pun akan menuju Pakuan," kata badega lagi.
"Begitu akrabkah Kandagalante dengan pemuda tampan tamu Juragan Ilun, Paman?"
Yang ditanya mengerutkan alis sejenak seolah-olah mengingat-ingat sesuatu.
"Tidak begitu akrab. Tapi nampaknya Kandagalante tahu betul, siapa pemuda itu. Ini nampak sekali, sebab Kandagalante begitu hormat kepadanya," jawab badega.
Ginggi termenung sejenak. Penelitiannya serasa berbelit-belit dan kian melebar. Bila ingin menguak tabir rahasia kematian gadis itu, sungguh sulit.
"Coba kau terangkan, kalau-kalau masih ada lagi pengetahuanmu perihal kejadian ini," kata Ginggi terus mengorek keterangan.
"Rasanya tak ada lagi?" gumam badega tapi masih mengingat-ingat.
"Oh, ya?" sambungnya memejamkan mata sebentar.
"Apakah itu?" Ginggi menatap tajam lelaki bulat ini dengan tak sabar.
"Istri Juragan Ilun yang memiliki pikiran ganjil itu."
"Ya?"
"Dia malah menduga yang bukan-bukan. Katanya anak gadisnya mati bunuh diri bukan sekadar patah hati belaka, tapi juga karena diganggu kehormatannya!"
"Begitukah? Bagaimana dia memperkirakan demikian?" tanya Ginggi.
"Kata Juragan Istri, peraduan anaknya acak-acakan. Pakaian gadis itu pun tak karuan. Di beberapa bagian malah terkesan dibuka paksa sebab ada bagian-bagian kain yang sobek," kata badega.
"Bagaimana pendapat yang lain?"
"Sejenak yang lain pun percaya dengan itu. Tapi surat daun nipah lebih meyakinkan lagi. Juragan Ilun bahkan tak mau pusing memikirkan bukti ini. Sebab katanya, bila harus mempercayai dugaan ini artinya harus mencurigai orang lain berbuat jahat. Juragan Ilun menganggap dosa bila bercuriga terhadap sesama," kata badega. "Juragan Ilun Rosa hanya mengatakan, banyak kemungkinan mengapa pakaian putrinya tak karuan. Perempuan katanya di mana-mana sama, bila sampai pada puncak kemarahan dan kekecewaan suka menjambak-jambak dirinya sendiri. Demikian halnya dengan Nden Wulan. Dan saya memang pernah menyaksikan. Nden Wulan menjambak-jambaki rambutnya, menangis melolong-lolong ketika dulu dipaksa kawin dengan pemuda yang bukan pilihannya," kata badega.
Ginggi mengangguk-angguk. Anggukan ini samar-samar belaka. Apakah karena mengerti persoalan sebenarnya, atau merasa puas dengan penjelasan barusan.
"Terima kasih atas uraian ini, Paman?" katanya sambil...
Jilid 10.
"Bukankah akan mencari Juragan Ilun, Raden?" Biarlah saya mengabarinya. Raden hanya cukup menunggu setengah hari saja," kata badega.
"Tidak usah, Paman. Aku tak punya waktu, sebab hari ini juga harus segera melanjutkan perjalanan," kata Ginggi.
"Baiklah kalau begitu. Tapi siapa nama Raden ini, kalau-kalau Juragan menanyakannya," kata badega menatap agak heran karena Ginggi seperti mau buru-buru.
Ginggi hanya tersenyum, "Tanyalah kepada kepala jagabaya Ki Aliman," tukasnya sambil beri salam dan pergi dari tempat itu.
Masih penuh misteri, pikir Ginggi. Tapi walau pun begitu, pemuda ini sudah punya gambaran. Menyimak berbagai kejadian yang melibatkan korban wanita, kecurigaan Ginggi terpusat kepada pemuda anggun bernama Suji Angkara. Benar, sejauh ini Ginggi belum bisa membuktikan kecurigaannya. Tapi paling tidak, berbagai kejadian bisa menyudutkan Suji Angkara. Di mana ada peristiwa yang melibatkan korban wanita, maka di situ ada Suji Angkara!
Di Desa Cae, di mana Nyi Santimi hampir menjadi korban perkosaan, kabarnya Suji Angkara berada di situ dan baru pulang berniaga. Rama Dongdo mempercepat hari pertunangan Nyi Santimi dengan Seta katanya hanya karena kehadiran Suji Angkara. Rama Dongdo, kakek Nyi Santimi seolah-olah bercuriga cucunya akan diganggu pemuda tampan berpenampilan sopan itu.
Ketika Suji Angkara memasuki Desa Wado juga terjadi peristiwa di mana seorang gadis bunuh diri. Kini yang terakhir di Tanjungpura, peristiwa bunuh dirinya seorang gadis pun diawali dengan kehadiran Suji Angkara.
Ketika Suji Angkara memasuki wilayah Sagaraherang tidak terjadi kasus wanita bunuh diri. Ginggi menduga, hal ini tidak terjadi karena di daerah itu mereka dijamu berbagai kesenangan termasuk hiburan wanita. Ya, kalau Ginggi mencurigai Suji Angkara, maka semua kebetulan ini pas adanya dan bisa dijadikan pegangan untuk bahan penyelidikan.
Sambil berjalan seorang diri menyusuri jalan pedati yang berdebu dan berudara panas, Ginggi berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan peristiwa itu bisa terjadi.