Chapter 40
Suji Angkara itu misterius dan membahayakan. Ia pesolek, tampan, dan sopan saat berbicara. Namun, tindakannya terkadang ganas. Ginggi telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa kejamnya Suji Angkara dalam pertempuran sengit melawan perampok di hutan jati. Gerakan perkelahiannya selalu ditujukan untuk membunuh lawan.
Ki Joglo, anak buah Ki Banaspati yang ditemukan tewas di tepi kolam di wilayah Sagaraherang, diyakini oleh Ginggi sebagai korban pembunuhan Suji Angkara. Pemuda itu membunuh lawan yang tidak berdaya dengan sangat kejam, yaitu dengan menggorok lehernya. Kuwu Wado pun sangat takut kepadanya, sebab pemuda sopan itu jika marah sanggup membengkokkan batang tombak dan daun pintu jati ketika penarikan seba di Desa Wado ditolak oleh sang Kuwu.
Banyak laporan yang sampai ke telinga Ginggi mengenai keanehan sikap pemuda yang gemar berpakaian gagah meniru kaum bangsawan tinggi tersebut.
"Pemuda itu ramah dan halus tutur sapanya. Tapi ketika kami hanya berduaan saja, sinar matanya berbeda, seolah mengandung maksud-maksud tertentu. Bicaranya pun menjadi mendesis seperti mewakili suatu perasaan. Saya takut karena naluri saya sebagai wanita seolah mengabarkan adanya bahaya," kata Nyi Santimi tempo hari di Desa Cae.
Ya, Suji Angkara penuh misteri. Belum lagi tentang perannya dalam keseharian. Sebagai apakah sebenarnya dia? Apakah hanya bertindak sebagai anak Kuwu Desa Cae yang gemar mengembara, atau sebagai bawahan Ki Banaspati dalam upaya pengumpulan seba? Ternyata tidak juga demikian. Buktinya, kini Ki Banaspati menyuruh Ginggi untuk membunuh pemuda itu karena dicurigai memiliki hubungan dengan Pakuan.
Dengan siapa dia berhubungan di Pakuan? Bukankah Ki Banaspati sendiri oleh sebagian orang disebut-sebut sebagai orang Pakuan juga karena menjadi petugas penting dalam urusan penarikan seba? Ya, semuanya misterius dan menarik untuk diselidiki. Tapi ingatlah ini, akhirnya Ginggi hanya mengeluh pendek. Pekerjaannya benar-benar berat. Belum lagi dia harus mengejar penjahat berahi lainnya yang dituduhkan orang-orang kepada Ki Rangga Guna.
"Biarlah akan aku selesaikan satu per satu," gumam pemuda itu sambil terus berjalan.
Hari semakin panas dan menyengat. Ginggi tiba pada senja hari di sebuah dusun kecil. Penduduknya tampak sangat miskin. Pekerjaan sehari-hari mereka mungkin berladang. Namun, karena kini sedang musim kemarau, tanah mereka kering dan tidak bisa ditanami. Barangkali keperluan makan mereka sehari-hari hanya mengandalkan simpanan hasil panen tahun lalu. Meskipun miskin, penduduk itu ramah. Mereka mengizinkannya menumpang tidur dan ceria menyambutnya. Sehelai tikar rombeng mereka gelarkan, dan dengan tergopoh-gopoh mereka menyediakan air putih hangat di cangkir tanah liat. Mereka juga menyodorkan nasi jagung, tetapi ditolak oleh Ginggi karena dia sudah makan pemberian gadis anak pemilik warung di Tanjungpura.
Sayang sekali, kehadiran pemuda itu di kampung kecil ini kurang tepat waktunya. Hal ini dikarenakan seisi kampung sedang dilanda kesedihan sekaligus kemarahan. Dua hari lalu, istri kepala kampung melahirkan seorang bayi. Sayang, usia bayi laki-laki itu tidak lama. Hanya selang beberapa waktu, sang bayi meninggal pada malam harinya.
"Kami semua bersedih karena Bapak Kepala Dusun sangat mengharapkan seorang anak. Sesuai dengan kebiasaan kami, jika ada yang meninggal dunia, maka saat itu pun si mati harus segera dikuburkan. Malam Jumat kemarin bayi itu kami kuburkan," kata penduduk yang rumahnya ditumpangi oleh Ginggi.
"Malam Jumat? Malam apakah itu?" tanya Ginggi sambil mengerutkan dahi sehingga alisnya melengkung membentuk sepasang golok.
"Oh, barangkali engkau masih memeluk agama lama, anak muda. Jumat adalah nama salah satu hari dari hitungan minggu. Kalian menyebutnya sebagai hari Sukra. Hitungan hari dalam seminggu bagi kalian mungkin Soma untuk hari kesatu, dan kami menyebutnya Senin. Anggara untuk hari kedua, dan kami menyebutnya Selasa. Buda untuk hari ketiga, dan kami menyebutnya Rabu. Respati, Sukra, Sanaiscara, dan Aditya; kami menyebutnya sebagai Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad, anak muda," kata pemilik rumah sambil menyulut rokok klobot, yaitu tembakau yang dilinting dengan kulit jagung.
"Sebetulnya ada kepercayaan penduduk bahwa bayi yang mati pada malam Jumat harus diwaspadai karena terkadang timbul gangguan. Kami berniat menjaga kuburan bayi itu sampai hitungan malam Jumat berakhir. Namun, Bapak Kepala Dusun tidak percaya pada kepercayaan lama ini. Akibatnya..."
"Akibatnya bagaimana, Paman?" Ginggi tidak sabar menanti kelanjutan cerita pemilik rumah tersebut.
Pemilik rumah yang giginya sudah hitam karena terlalu banyak merokok itu batuk sejenak. Ia meletakkan rokok klobotnya dan meraih cangkir tanah liat. Lelaki tua berkulit kering itu segera meneguk air putih di cangkirnya.
"Mayat bayi itu hilang karena kuburannya dibongkar orang!" cetus orang itu.
"Dibongkar orang?" Ginggi kaget mendengarnya, matanya yang bundar semakin terbelalak. "Kau yakin kuburan itu dibongkar orang?" tanya Ginggi.
"Di kampung kami terkadang terdapat binatang gaul, yaitu sebangsa anjing tetapi wajahnya seperti kera. Kadang-kadang terdengar binatang itu mencakar-cakar kuburan. Namun, kuburan bayi yang dibongkar itu jelas tindakan manusia. Tidak ada cakaran, melainkan cungkilan alat. Lagi pula, jika dilakukan oleh binatang, mengapa harus selalu malam Jumat?"
Ginggi menggosokkan telunjuk ke ujung hidungnya. Matanya menerawang ke langit-langit atap rumbia. "Untuk keperluan apa orang menggali kuburan bayi?" gumam Ginggi.
"Banyak keperluannya, anak muda. Orang jahat yang ingin memiliki sihir selalu menggunakan mayat bayi sebagai persyaratan mendalami ilmu hitam. Orang-orang daerah timur percaya akan adanya mukjizat dari makhluk aneh bernama kemamang. Makhluk itu berupa kendi yang bisa terbang, diperintahkan majikannya untuk mencuri kekayaan orang lain, atau disuruh membunuh dan mencederai musuh majikannya," kata pemilik rumah sambil melinting kembali rokok klobotnya.
"Aneh, mana mungkin ada kendi bisa terbang sendiri?" potong Ginggi sambil terkekeh.
"Bukan sembarang kendi, sebab benda itu sudah diisi mayat bayi yang dikeringkan. Mayat bayi itu dicuri dari kuburnya. Selama empat puluh hari empat puluh malam dipanggang di atas perapian. Kian lama tubuh bayi itu kian kerempeng dan mengering bagaikan dendeng. Selama proses pengeringan, ada tetesan minyak yang keluar dari tubuh mayat bayi itu. Oleh penjahat yang sedang mendalami ilmu hitam, tetesan minyak itu ditadah dan diserap dengan kapas. Kapas yang berisi minyak itu disimpan di buli-buli kecil. Minyak itu sangat berguna untuk kejahatan lainnya. Sedangkan mayat bayi yang sudah kering mengecil itu dimasukkan ke dalam kendi."
"Jahat sekali..." gumam Ginggi.
"Memang jahat dan biadab. Makanya kami semua marah melihat kejadian ini," kata lelaki tua itu.
"Lalu bagaimana tindakan kalian?"
Ditanya demikian, lelaki yang bertelanjang dada karena cuaca panas itu hanya termenung. "Bagaimana, ya? Habis, kami sendiri pun sebetulnya bingung siapa yang melakukan kebiadaban ini," keluhnya sambil menghela napas.
"Apakah sudah kalian coba selidiki?"
"Ya, sudah, tapi kami tidak bisa menemukan jejaknya, apalagi pelakunya."
"Sayang sekali, ya."
"Ya, memang sayang. Dan ini membuat kami selalu penasaran," kata lelaki tua itu.
Ginggi menguap beberapa kali. Rupanya tuan rumah tahu Ginggi sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Ginggi dipersilakan tidur seadanya. Ginggi pun tertidur. Rasanya ia belum lama terlelap ketika di halaman rumah terdengar orang berbicara. Ginggi diam-diam menyimak pembicaraan itu. Ternyata hanya hal yang tidak begitu penting; ada seorang pengelana seperti dirinya yang kemalaman dan meminta izin kepada petugas ronda untuk menumpang tidur di dusun tersebut.
"Nanti akan kami carikan penduduk yang memiliki balai-balai cukup. Maklumlah Paman, ini dusun kecil dan tidak ada rumah besar di sini. Tapi kalau boleh kami bertanya, siapa nama Paman yang terdampar malam-malam di dusun ini?" tanya petugas ronda kepada pengembara itu.
"Namaku Rangga Guna, Sobat!" kata suara pengembara itu.
Ginggi serentak bangun karena kaget mendengar nama itu. Dengan dada berdebar keras, ia turun dari pembaringan dan membuka pintu. Halaman rumah itu cukup luas dan agak gelap. Ada dua orang petugas ronda; satu membawa obor, satunya lagi membawa tongtong. Keduanya tengah berhadapan dengan lelaki setengah baya bertubuh cukup tinggi dan berwajah bulat. Hidungnya melengkung seperti paruh burung beo serta sepasang matanya sipit. Hal itu tampak nyata dari cahaya obor yang bergoyang tertiup angin malam. Tidak salah lagi, itu adalah Ki Rangga Guna, murid Ki Darma yang murtad dan mengkhianati tugas dari gurunya.
"Hai, Rangga Guna!" teriak Ginggi, membuat yang bersangkutan mengernyitkan dahi sehingga kedua matanya semakin menyipit.
Ada kemarahan yang menyesak di dada pemuda itu, sebab kelakuan durjana orang ini akan membawa aib bagi Ki Darma dan mungkin juga merusak nama baik Ginggi sendiri. Sebelum Ki Rangga Guna sadar akan apa yang terjadi, aku harus segera menyerang, pikir pemuda itu sambil menggerakkan ujung kakinya untuk menjejak tanah.
Tubuh pemuda itu meloncat, menerjang bak harimau ke arah Ki Rangga Guna berdiri. Kedua petugas ronda tampak kaget melihat ada orang yang bisa melompat seperti terbang. Saking kagetnya, keduanya hanya berdiri mematung dengan mulut melongo menyaksikan tubuh manusia meluncur deras ke arah mereka. Kedua orang itu memang berdiri membelakangi Ginggi.