Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 41

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 41

Hanya ketika ada bentakan pemuda itu saja, kedua orang tugur membalikkan badan. Kedua orang itu menjerit ngeri, tapi tak mampu bergerak. Barangkali keduanya menyangka terjangan itu mengarah pada mereka berdua. Gerakan Ginggi sebetulnya agak terganggu oleh posisi kedua tugur tersebut. Padahal, jurus yang dilakukannya ini seharusnya menerjang lurus meniru loncatan harimau.

Kalau Ginggi harus mengikuti jurus yang sudah ditetapkan oleh Ki Darma, barangkali sebelum terjangan mencapai sasaran yang dimaksud, maka hanya kedua tugur itu saja yang menerima akibatnya. Oleh sebab itu, pemuda itu perlu mengubah sedikit gerakannya. Terjangan yang seharusnya lurus mengarah sasaran, dia ubah menjadi gerakan salto sehingga tubuhnya sedikit mumbul ke atas dan melewati ubun-ubun para tugur.

Ketiga orang itu mendongak ke atas menyaksikan demonstrasi salto yang dilakukan Ginggi. Hanya bedanya, bila kedua orang tugur menyaksikan adegan ini dengan mulut melongo dan gemetar, Ki Rangga Guna menatapnya dengan pandangan tenang, walau pun selintas Ginggi melihat ada kerutan heran di dahi orang itu. Ki Rangga Guna nampak sudah siap menerima serangan. Tangan kiri lurus ke atas sambil seluruh jari-jari tangan terbuka lebar seperti orang menyangga sesuatu benda berat.

Sedangkan kepalan tangan kanan melintang tepat di sikut kiri. Ginggi hafal betul gerakan ini. Jari-jari terkembang lebar akan digunakan sebagai perisai untuk menghadapi serangan lawan dari atas, sedangkan kepalan tangan kanan dipersiapkan untuk membalas serangan. Bentuk serbuan dari atas bila taat mengikuti ajaran Ki Darma sebetulnya harus melancarkan serangan berbentuk pukulan kepalan tangan. Namun Ginggi mengerti, bila fihak lawan menerima serbuan kepalan tangan dengan jari-jari tangan melebar, pukulan sekuat apa pun tak akan ada gunanya, sebab Ginggi bisa menduga, tangkisan lawan tak akan menerimanya dengan kekerasan.

Ginggi tahu betul gerakan tangan melebar ini. Dia akan digunakan untuk memunahkan tolakan tenaga kasar dari serangan kepalan tangan itu. Maka, tahu akan siasat lawannya, Ginggi mengubah bentuk serangan. Hanya ketika meluncur di perjalanan saja serangan Ginggi berbentuk kepalan tangan. Akan tetapi ketika kepalan tangannya hampir setengah jengkal "mendarat" di telapak tangan Ki Rangga Guna yang jari-jari tangannya terbuka lebar itu, Ginggi mengerahkan pusat tenaga ke arah jari-jari tangannya.

Kepalan tangan secepat kilat berubah mengembang dan "menjeprit" serentak. Jepritan ini sungguh kuat sebab semua tenaga dialirkan ke jari-jari tangan. Kalau Ki Rangga Guna tidak cepat-cepat menurunkan tangannya, jelas akan membahayakan telapaknya. Tubuh Ki Rangga Guna melorot hingga jatuh terduduk dan jumpalitan ke belakang seperti trenggiling. Ginggi pun jumpalitan untuk mengubah kedudukan. Dan di saat tubuhnya turun ke bumi, sepasang kakinyalah yang mendahului turun.

Ginggi berdiri dengan kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang memperhatikan tubuh Ki Rangga Guna yang terus menggelinding menjauh. "Hahaha! Jangan terlalu jauh menggelinding, aku tak melanjutkan serangan!" teriak Ginggi dengan nada mengejek. Kedua tugur sudah terbiri-birit entah kemana dan Ki Rangga Guna meloncat berdiri pada jarak tujuh depa lebih. Dia berdiri dengan kaki sama terpentang dan tangan membentuk pasangan kuda-kuda silang.

"Apa hubunganmu dengan Ki Darma, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna berkata lembut namun menyelidik penuh rasa heran. "Aku petugas Ki Darma yang diutus membasmi kejahatan. Dan penjahat pertama yang harus kubasmi adalah engkau!" kata Ginggi tenang. "Kejahatan apa yang aku buat, anak muda?" "Kejahatanmu membawa aib bagi semua orang. Kau memperkosa wanita! Terimalah seranganku!!" teriak Ginggi melesat kembali.

"Tunggu dulu!" teriak Ki Rangga Guna. Tapi Ginggi sudah terlanjur menerjang dengan satu pukulan kepalan tangan. Plak! Tubuh Ki Rangga Guna mundur tiga tindak, sedangkan tubuh Ginggi serasa tertahan dinding baja ketika kepalan tangannya ditahan telapak terbuka Ki Rangga Guna. Ginggi kembali melakukan serangan. Tapi Ki Rangga Guna hanya main kelit dan mundur. Sedikit pun tak melakukan pembalasan.

Dan serangan yang dibalas kelitan ini sepertinya tak akan menghasilkan keputusan, sebab duaduanya saling mengenal gerakan lawan. Sampai pada suatu saat, Ki Rangga Guna punya kesempatan untuk meloloskan diri dari serangan-serangan Ginggi. Ki Rangga Guna meloncat menjauh dan melarikan diri. Ginggi berteriak agar lawannya tak bertindak pengecut. Namun suara pemuda itu tak digubris Ki Rangga Guna. Ginggi penasaran. Orang itu terus dia kejar.

Masuk ke hutan jati, keluar lagi. Berlari di padang semak-semak. Sampai pada suatu saat jauh di ufuk timur seberkas cahaya sudah terlihat, buronan pemuda itu tak pernah ditemukan lagi. Hari sudah mulai terang tanah. Ginggi penasaran dan bertekad menemukan Ki Rangga Guna. Dia naiki beberapa pohon jati, dengan harapan bisa melihat di atas pohon. Tapi yang terlihat hanya pohon dan padang semak belaka.

Akhirnya hanya kelelahan yang didapat. Ginggi terpaksa kembali ke dusun kecil itu. Orang-orang sibuk bertanya tentang kejadian semalam. Dan Ginggi hanya mengabarkan bahwa buronannya itu seorang penjahat besar. "Tidakkah dia yang mencuri mayat anakku, anak muda?" tanya kepala dusun yang dikabari perihal peristiwa semalam. "Entahlah, yang jelas orang itu harus kutangkap," gumam Ginggi.

Sepagi itu, Ginggi sudah menjadi bahan pembicaraan penduduk dusun. Kedua tugur itulah yang menyebarkan berita, betapa saktinya pemuda berpakaian kain halus mengkilat itu katanya. "Raden, bagaimana kalau kau tinggal menjadi penduduk di sini?" kata kepala dusun penuh harap. "Kami membutuhkan orang pandai sepertimu. Dan kalau kau mau, kami semua akan mengabdi padamu. Biarlah kau menjadi kepala dusun, sebab hanya itu yang patut kuberikan padamu sebagai imbalannya," tutur kepala dusun sejujurnya.

"Paman, bila engkau menganggapku orang pandai yang dibutuhkan, maka sebenarnya banyak yang memerlukan tenagaku di saat-saat seperti ini. Aku memang perlu menunaikan kewajiban menjaga keamanan dan memberantas kejahatan. Tapi tentu bukan sekadar di dusun ini saja," kata Ginggi. Dan kepala dusun nampaknya sadar akan keadaan. Dia tak berani lagi mengajukan kehendaknya pada pemuda itu.

Ginggi hanya perlu beristirahat sejenak dan makan seadanya. Sesudah itu, dia pun segera mohon diri. Tak lupa sambil mengucapkan terima kasih atas perhatian dan penghargaan yang diberikan penduduk dusun tersebut. Ginggi kembali melakukan perjalanan panjang. Dia keluar masuk hutan jati atau hutan karet yang banyak terdapat di wilayah perbatasan utara ini.

Bila memasuki sebuah dusun, Ginggi pun berupaya melakukan penyelidikan, atau pun penyelidikan dalam mencari tahu Ki Rangga Guna, dan tidak terasa, perjalanan pemuda itu sudah memakan waktu berminggu-minggu lamanya. Atau bisa juga waktu berbulan sudah dia habiskan hanya untuk penyelidikan. Ginggi menghabiskan waktu berbulan karena dia bisa menelitinya dari perjalanan peredaran purnama. Menurut perhitungannya, sudah tiga bulan purnama dia jalani.

Ke mana sebetulnya dia berjalan, pemuda itu pun sudah tak tahu lagi. Hanya saja yang menyebabkan dia sanggup melakukan perjalanan panjang, karena yang tengah dikuntitnya serasa benar-benar ada di depannya. Dengan perkataan lain, perjalanannya selama ini tidaklah keliru. Sebab di beberapa kampung yang dilalui, Ginggi juga menemukan kasus-kasus perkosaan terhadap gadis muda tak berdaya.

Tidak semua korban perkosaan berakhir dengan kematian. Dan yang kebetulan selamat dari kematian selalu mengabarkan bahwa yang mengganggu kehormatan dirinya adalah seorang lelaki setengah baya dengan wajah bulat, hidung melengkung dan mata sipit. "Ki Rangga Guna," desis Ginggi kesal dan geram. Ginggi bahkan semakin marah, sebab di beberapa kampung terjadi beberapa kejadian seperti yang membuktikan bahwa tindakan perkosaan terhadap anak gadis ada kaitan erat dengan pencurian mayat bayi yang mati di malam Sukra (Jumat).

Ada satu dua kampung yang menjadi geger sebab dalam selang beberapa hari saja terjadi dua peristiwa menggemparkan. Pertama peristiwa pemerkosaan terhadap gadis muda dan beberapa hari kemudian ketika kebetulan ada bayi di malam Sukra, kuburnya ada yang membongkar dan mayat bayinya hilang. Bila tindak kejahatan ini dilakukan oleh seseorang yang sama, maka tudingan Ginggi hanya terarah kepada Ki Rangga Guna seorang.

Dan bila benar begitu, betapa jahatnya murid Ki Darma yang satu ini. Ginggi tak suka terhadap Ki Banaspati yang ambisi politiknya demikian gila. Namun, terhadap Ki Rangga Guna ini malah lebih membencinya lagi. Ki Rangga Guna menyakitkan sebab tindakan-tindakannya hina, biadab dan tak manusiawi. Ki Rangga Guna jiwanya barangkali sudah dirasuki setan atau sudah menjadi gila dan kehilangan kesadarannya sebagai manusia.

Kalau tidak demikian, mana mungkin tindak kejahatannya melebihi takaran manusia jahatan lainnya. Pada suatu hari, Ginggi tiba di sebuah wilayah perbukitan kapur. Bukit-bukit ini tidak terlalu besar apalagi tinggi, namun amat banyak dan bertebaran. Beberapa bukit terasa gersang tanpa tumbuhan berarti. Namun beberapa bukit ditumbuhi pohon-pohon jati kendati terlihat tak begitu lebat.

Hari sudah demikian senja dan sebentar kemudian kegelapan akan merajai malam. Ginggi perlu mencari tempat untuk berlindung dari dinginnya angin malam atau sebuah tempat aman untuk menghindar dari pertemuan dengan binatang buas yang sekiranya membahayakan dirinya. Berdasarkan pengalaman, di bukit kapur biasanya terdapat gua alam. Ginggi harus mencari gua-gua itu sekadar untuk menghabiskan malam.

Ginggi menaiki sebuah bukit. Bukit itu tak terlalu terjal, tapi juga tak begitu mudah untuk didaki. Ginggi memilih bukit itu sebab selain tak begitu terjal tapi tak begitu mudahnya untuk didaki. Maksudnya, didaki oleh jenis binatang yang dirasa akan membahayakan dirinya. Macan kumbang selalu hidup di bukit karang, tapi dalam hal-hal tertentu binatang itu tak suka tinggal di bukit yang memiliki kemiringan melengkung dan rata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment