Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 42

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 42

Biasanya macan kumbang menyenangi bukit dengan tonjolan-tonjolan khas agar dia bisa berloncatan ke sana kemari dengan mudah dan ringan.

Ginggi mencoba mendaki bukit yang melengkung dan rata. Agak sulit memang. Tetapi pekerjaan itu terus dilakukannya. Ginggi bersemangat menaiki bukit itu karena dia memastikan di balik punggung bukit terdapat cekungan gua.

Bagaimana dia tahu di sana ada cekungan gua? "Aku melihat seberkas cahaya. Di sana pasti ada gua dan dihuni manusia," kata Ginggi di dalam hatinya.

Namun, sudah barang tentu pemuda itu harus hati-hati. Dia tidak boleh sembarangan memasuki gua. Tidak akan menjadi masalah bila yang melewatkan malam di dalam gua itu hanyalah seorang pengembara sepertinya, atau sekelompok pemburu. Tetapi bila yang di dalam sana adalah orang jahat, Ginggi perlu mengeceknya. Maka, dengan berendap-endap ia mendekati mulut gua.

Melalui tonjolan-tonjolan batu di sudut lubang gua, Ginggi mengintip ke arah datangnya cahaya. Cahaya itu berupa api unggun. Kayu-kayu kering gelondongan digunakan sebagai bahan bakar, sehingga api berkobar tinggi.

Ginggi terkesiap. Kembali dadanya berdebar keras dan giginya gemeretak karena menahan kemarahan. Siapa yang tidak marah bila yang dilihatnya adalah suatu pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri saking kagetnya.

Api unggun itu bukan saja digunakan sebagai penerangan dan pengusir dinginnya malam, melainkan dipergunakan juga untuk mengganggang tubuh mayat seorang bayi. Mayat bayi itu sudah mulai mengering sebagai tanda sudah lama diganggang di atas api unggun. Namun, ada lemak-lemak menetes dari tubuh kering seperti dendeng itu. Tetesannya jatuh ke atas jilatan api dan membentuk suara desisan khas sebagaimana api yang tertimpa tetesan benda cair.

Di sudut gua kapur, pemandangan tak kalah hebatnya. Di sana terbaring tubuh seorang gadis amat muda dengan pakaian tidak keruan, bahkan boleh disebut hampir telanjang. Gadis muda itu tampak tidak sadarkan diri, atau barangkali sudah mati, sebab selain wajahnya sudah pucat pasi, di beberapa bagian tubuhnya banyak ditemukan luka memar dan sebagian mengucurkan darah.

Yang membuat darah Ginggi semakin menggelegak karena marah, pelaku dari semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Rangga Guna. Orang ini tampak tengah duduk bersila menghadap ke arah api unggun. Tangannya bersidakap dan mulutnya komat-kamit seperti tengah mengucapkan mantra. Kulit wajah Ki Rangga Guna tampak pucat seperti jarang terkena sinar matahari. Hampir-hampir tidak menyerupai Ki Rangga Guna saking pucatnya, apalagi kain kepalanya diikat dengan kain putih. Yang menandakan bahwa dia Ki Rangga Guna, karena raut wajahnya yang khas, yaitu muka bulat, hidung melengkung seperti paruh burung ekek, dan matanya sipit.

Sekarang Ki Rangga Guna tengah memakai pakaian serba putih. Bukan berbentuk kampret atau salontreng, tetapi lebih menyerupai baju kurung. Celananya juga menggunakan warna putih model sontog, yaitu celana panjang sebatas betis.

"Sedang melakukan upacara apakah ini?" pikir Ginggi. Jelas sekali, Ki Rangga Guna tengah melakukan suatu upacara. Ginggi pernah melihat beberapa upacara dari beberapa jenis agama yang ada di Negeri Pajajaran ini. Tetapi yang dilakukan Ki Rangga Guna seperti baru pertama kalinya dilihat Ginggi. Upacara itu aneh dan menakutkan. Ki Rangga Guna bersidakap menghadap api yang di atasnya diganggang mayat bayi, hanya membuat kesan bahwa upacara yang dilakukannya bukan untuk melaksanakan upacara kebaikan.

Beberapa bulan lalu bahkan dia pernah mendapat kabar dari seorang penduduk yang kampungnya pernah geger karena kehilangan mayat bayi di kuburannya, tepat di malam Sukra (Jumat). Ginggi dikabari, kemungkinan mayat bayi dicuri di malam Sukra untuk kepentingan ilmu hitam.

Ginggi menghitung, kalau tidak salah ini malam Sukra. Upacara yang erat kaitannya dengan ilmu sihir, kata orang, selalu dilakukan di malam Sukra. Benarkah Ki Rangga Guna tengah melakukan upacara ilmu hitam? Ginggi terus mengintip untuk lebih mengetahui apa saja yang akan dilakukan orang sesat ini.

Sekarang Ki Rangga Guna menurunkan kedua tangannya. Sesudah itu dia membentuk posisi seolah-olah kedua tangannya akan melakukan sembah. Sepasang telapak tangan dia lekatkan satu sama lain. Namun, gerakan menyembah segera diubahnya. Sedikit demi sedikit telapak tangan dipisah dan merenggang. Sesudah itu kedua telapak tangan bersatu kembali. Begitu seterusnya, berulang-ulang.

Menurut penglihatan Ginggi, ini gerakan yang biasa dilatihnya semasa masih bersama Ki Darma. Gerakan telapak tangan terbuka dan kemudian menyatu adalah gerakan tepukan untuk memperkuat telapak tangan itu sendiri. Tepukan akan dimulai pelan. Namun, lama-kelamaan akan semakin keras dan meningkat. Ginggi melakukan latihan seperti itu empat puluh hari empat puluh malam tanpa henti. Ini untuk melatih kekuatan telapak tangan. Kata Ki Darma, bila telapak tangan sudah benar-benar kuat, kalau digunakan untuk menghantam batang pohon, maka akan membuat pohon itu tumbang karena batangnya hancur. Kalau yang dihantam adalah sebuah batu, maka batu itu akan hancur menjadi kerikil-kerikil kecil.

"Bisa kau bayangkan kalau telapak tanganmu kau pergunakan untuk menempeleng pipi lawan. Maka mulut lawanmu akan dower, rahangnya akan hancur, dan gigi-giginya akan tanggal berantakan," kata Ki Darma waktu itu.

Namun, sudah hampir enam bulan Ginggi melakukan perjalanan, belum satu kali pun tangannya dia layangkan untuk menyakiti orang, kendati harus diakuinya selama dia turun gunung sudah beberapa kali melakukan perkelahian. Ginggi memang sudah menduga cara latihan seperti ini beserta kegunaannya kelak. Namun, yang membuat pemuda ini merasa kaget, tingkat latihan Ki Rangga Guna lebih tinggi dan lebih hebat hasilnya.

Gerakan tepukan semakin lama semakin keras karena dilakukan pengerahan tenaga sepenuhnya. Saking kerasnya, tepukan itu menghasilkan suara yang membahana dan menyakitkan anak telinga. Ginggi hampir-hampir tidak kuat menahannya. Tepukan tangan ini menghasilkan pemandangan yang amat menakjubkan. Setiap kali sepasang tangan Ki Rangga Guna bertemu keras, setiap itu pula membersit seberkas cahaya kilat. Ada hawa panas memancar dari mayat bayi yang tergantung di atas lidah api, bergoyang-goyang seperti didera hembusan angin keras. Begitu pun lidah api melenggang-lenggok keras sebagaimana layaknya dierpa hembusan angin.

Ginggi berusaha menulikan telinga, sebab setiap lubang telinga menerima suara tepukan, setiap kali itu pula dadanya bergetar keras. Pemuda itu hampir meloncat pergi saking tidak kuatnya menahan getaran itu, kalau saja Ki Rangga Guna tidak menghentikan latihannya. Suara tepukan berhenti dan suasana mendadak hening. Lidah api berhenti bergoyang, kecuali tubuh mayat bayi yang tergantung di atas masih bergoyang ke sana kemari.

Sekarang Ki Rangga Guna berdiri dari duduknya. Memandang sejenak ke arah mayat bayi yang tergantung kering di atas langit-langit gua. Secepat kilat Ki Rangga Guna meloncat memburu mayat bayi yang kering kerontang itu. Turun dan hinggap seperti burung hantu di tonjolan batu di seberang lidah api sambil tangan kanan sudah memegang tubuh mayat bayi tepat di bagian kedua kakinya. Secepat kilat Ki Rangga Guna mengeluarkan sebuah pisau yang terselip di pinggangnya. Dan srat! Tangan mayat bayi itu dipotongnya sebatas pergelangannya. Kedua bagian tangan bayi itu, kiri dan kanan, dia bungkus dengan kain putih. Dilipatnya beberapa kali. Dan sesudah itu, bungkusan telapak tangan mayat bayi itu dia belitkan di pinggangnya seperti layaknya memakai sabuk.

"Biadab!" desis Ginggi perlahan.

Ki Rangga Guna melemparkan bagian tubuh mayat bayi ke atas kobaran api, dan seketika kemudian mayat bayi kering kerontang itu sudah luluh-lantak dimakan api. Terdengar suara Ki Rangga Guna terkekeh-kekeh seperti puas atas hasil kerjanya. Perhatian Ki Rangga Guna sekarang beralih ke tubuh gadis muda yang tergeletak diam di sudut gua. Sambil tertawa menyeramkan, Ki Rangga Guna mendekati tubuh tidak bergerak itu. Pisaunya yang tipis mengilat dia angkat dan sepertinya akan segera dihunjamkan ke bagian dada gadis tidak berdaya itu.

"Hentikan!" teriak Ginggi, tak sanggup lagi menahan gelora hatinya.

Sejenak Ki Rangga Guna terkejut mendengar suara ini. Barangkali dia tidak menyangka ada orang lain mengintip perbuatannya. Hanya sejenak saja dia terkejut, sebab sesudah itu raut wajahnya lebih menggambarkan rasa heran ketimbang kemarahan.

"Siapa di situ? Ayo masuk ke sini!" teriaknya.

Ginggi meloncat masuk dan berdiri berhadapan dengan Ki Rangga Guna. Tapi, benarkah ini Ki Rangga Guna? Ginggi menatap tajam wajah orang ini. Sudah dua kali dia bertemu Ki Rangga Guna. Dan ini yang ketiga. Tetapi wajah Ki Rangga Guna seperti berbeda dengan wajah orang ini beberapa bulan berselang. Beberapa bulan yang lalu Ki Rangga Guna berkulit kecokelat-cokelatan karena seperti sering terkena sinar matahari. Sedangkan raut mukanya kini amat berbeda dengan beberapa bulan lalu. Berkulit putih tetapi terkesan pucat karena kekurangan sinar matahari. Yang membuat bulu kuduk Ginggi merinding, mulut Ki Rangga Guna selalu menyeringai memperlihatkan giginya yang kuning. Matanya pun berputar liar dan bila menatap sorotannya tajam beringas. Berbeda sekali dengan penampilan beberapa bulan yang lalu.

"Hikhikhikhik! Kebetulan ada sesuatu yang bisa aku pakai sebagai latihan. Tiga kali empat puluh hari empat puluh malam aku tuntaskan latihanku. Sepuluh bayi sudah kugunakan, sepuluh gadis pun sudah aku manfaatkan. Ayo bocah dungu, pukullah aku!" kata Ki Rangga Guna melengking tinggi menyakitkan telinga dan isi dada.

Untuk yang kesekian kalinya, Ginggi bergidik. Suara dan tawa Ki Rangga Guna kini bahkan menyeramkan. Dulu besar dan berat. Bernada datar dan seperti tidak gemar bicara berpanjang-panjang. Sekarang kecil melengking dan sesekali seperti suara ringkik kuda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment