Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 43

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 43

"Ayo, anak kecil, pukullah aku! Ayo, cepat!" ringkiknya lagi.

"Bukan saja aku akan sekadar memukul, tetapi aku akan membunuhmu!" teriak Ginggi.

"Engkau jahat dan biadab, maka harus kuenyahkan engkau dari muka bumi ini!" teriak Ginggi melesat ke depan.

Begitu langkah kaki kanan maju setindak, begitu pula kepalan tangan kanan bergerak seperti per, membuat pukulan keras mengarah dada.

Ginggi terkejut. Menurut logika, bila seseorang diserbu pukulan, maka ia akan segera bergerak menyambut. Kalau tidak berkelit, pasti akan menangkis.

Tetapi Ki Rangga Guna sungguh berani. Pukulan Ginggi dibiarkannya menerobos, menyerang dada. Ginggi berteriak keras, mencoba menahan gerakan. Sebesar apa pun kemarahannya terhadap Ki Rangga Guna yang jahat ini, tetapi ia tidak mau bertindak kejam melakukan serangan kepada orang yang tidak melakukan perlawanan.

Luncuran tenaganya yang telanjur ia keluarkan hanya bisa ditahan setengah bagian saja. Setengahnya lagi menerobos dada Ki Rangga Guna.

Bleg!

Ginggi menyeringai kesakitan. Kepalannya seolah memukul karung goni berisi pasir besi saking kerasnya dada Ki Rangga Guna.

Ki Rangga Guna terkekeh-kekeh. Tampaknya ia gembira dengan kejadian ini.

"Ayo, pukul lagi lebih keras, anak muda!" teriaknya melengking.

"Tubuh orang ini kuat," pikir Ginggi.

Maka pemuda itu pun tidak ragu-ragu melakukan pukulan kedua. Kali ini kepalan tangan kiri yang digunakannya untuk menyerang. Takaran tenaganya ia tambah lagi hingga mencapai tiga perempat bagian.

Blug!

Dada yang terselubung baju kurung warna putih itu hanya bergeming sedikit, dan Ginggi tetap menyeringai kesakitan kendati inti tenaga sudah ia salurkan ke tangan kiri.

Ginggi penasaran. Ayunan kepalan tangan kanan kini ia isi dengan seluruh inti tenaganya. Ia memusatkan pikiran di antara kedua alis mata. Ia menahan napas dalam-dalam. Sesudah semua hawa murni ia sedot, lalu ia mengeluarkan suara bentakan nyaring sambil dibarengi hentakan tangan kanannya.

Blag!

Tubuh Ki Rangga Guna bergoyang dan langkahnya mundur tiga tindak. Ginggi melongo. Ini adalah pukulan yang sepenuhnya diisi inti tenaga. Kalau digunakan untuk memukul pohon jati, maka seluruh kepalan akan melesak masuk ke batang pohon. Kalau kepalan itu menyerang batu karang, maka akan hancur berkeping-keping.

Tetapi dada Ki Rangga Guna yang hanya terbuat dari tulang dan daging tipis hanya membuat kakinya mundur tiga tindak saja. Tidak terkesan ada rasa sakit yang tercermin di wajahnya. Ki Rangga Guna bahkan terkekeh-kekeh lucu melihat Ginggi melongo seperti itu.

"Sekarang giliranku yang memukul, anak muda. Aku ingin membuktikan bahwa latihan telapak tanganku selama seratus dua puluh hari tidak henti ini akan melumerkan bongkahan baja dan membuat batu karang menjadi debu! Terimalah ini!" teriak Ki Rangga Guna dengan suara melengking tinggi.

Tubuh orang itu doyong dan melengkung ke depan seperti akan terjerembap. Namun akhirnya ia membuat gerakan seperti kodok meloncat dan tangan melesat ke depan. Tangan kanan terbuka mengarah wajah Ginggi dan tangan kiri menyodok dengan kepalan mengarah ke pusar.

Ginggi bergidik menerima serangan ini sebab begitu tangan kiri menyodok dari bawah, ada hawa panas menerjang pusarnya. Begitu pula serangan tangan kanan yang terbuka mengarah wajah, terasa sekali ada dorongan hawa yang sama menuju arah serangan itu.

Serangan ganda yang mengarah ke atas dan ke bawah secara bersamaan ini sebetulnya mudah untuk ditangkis. Caranya adalah mengibaskan sepasang tangan secara berbarengan, tetapi dengan arah berlainan. Untuk menolak serangan ke wajah, Ginggi harus mengibaskan tangan kanan secara silang ke samping. Sedangkan untuk memunahkan serangan ke bawah pusar, ia harus mengibaskan tangan kiri ke bawah.

Namun Ginggi tidak berani mengambil risiko mengadu kekuatan tangan dengan lawannya. Ki Rangga Guna seperti memiliki kekuatan ajaib, tetapi yang bisa membahayakan lawannya. Tadi Ginggi sudah menyaksikan latihan tepukan Ki Rangga Guna. Betapa hebat pengerahan tenaganya sehingga dua telapak tangan beradu mengeluarkan percikan bunga api. Ini hanya menandakan bahwa latihan pengerahan tenaga Ki Rangga Guna sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Tempo hari, Ki Darma pernah mengatakan bahwa manusia memiliki inti tenaga yang bersembunyi di badannya. Siapa pun adanya, dilatih ataupun tidak dilatih. Hanya bedanya, orang yang gemar berlatih kelak akan mampu menjinakkan, mengendalikan, dan mengatur kapan inti tenaga bisa dikeluarkan. Sedangkan yang tidak pernah berlatih, ia tidak akan bisa mengendalikan kekuatan tersembunyi itu menurut kehendaknya sendiri.

"Ambillah contoh. Seseorang yang tidak pernah melatih ilmu kepandaian, dalam keadaan biasa ia tidak mungkin sanggup meloncat menyeberangi sungai yang lebar, misalnya. Tetapi tenaga besar yang tersembunyi di badannya sebenarnya ia punya. Buktinya, bila ia merasa takut dikejar anjing, ia akan lari secepatnya dan secara nekat sungai yang lebar akan diloncati dan berhasil. Kau lihat juga contoh lain. Bila dalam keadaan biasa seseorang tidak dalam keadaan panik, manakala ia terkurung api di dalam rumah terkunci rapat, untuk menyelamatkan diri ia nekat menubruk pintu terkunci dan tidak sadar berhasil membobolnya. Itu adalah satu tanda bahwa dalam dirinya ada tenaga maha besar yang tersembunyi," kata Ki Darma beberapa waktu lalu ketika Ginggi belajar di puncak Cakrabuana.

Kata Ki Darma, bagi yang ingin mengendalikan tenaga maha besar yang ada di dalam tubuhnya, maka ia harus mau berlatih keras. Kian keras latihan akan kian pandai mengendalikan kekuatan maha besar tersembunyi ini. Sebagai bukti, betapa hebatnya tenaga pukulan yang dikeluarkan Ki Rangga Guna. Puncak kekuatan ini akan menciptakan tenaga dahsyat sampai mengeluarkan tekanan udara dan menghasilkan sumber api.

"Tenaga dahsyat yang dikeluarkan dari tubuh kita juga bisa mendorong udara dan menghasilkan tekanan luar biasa. Itulah sebabnya, kerap kali kita dengar ada orang sanggup memukul lawan tanpa menyentuhnya. Itu karena telapak tangan orang tersebut telah sanggup mendorong udara di hadapannya sehingga menimbulkan tekanan. Kian kuat ia mendorong udara, maka akan kian kuat pula hasilnya. Ada orang yang sanggup memukul roboh sebuah pohon besar dari jarak jauh. Pohon itu tumbang dan terbakar karena tekanan udara yang besar juga akan menghasilkan kilatan api," kata Ki Darma.

Waktu itu, Ginggi disuruh berlatih dari hal-hal yang kecil dulu. Pertama-tama, ia berdiri menghadap api pelita jarak satu depa saja di sebuah ruangan tertutup. Ginggi membuka telapak tangan dan seolah-olah memukul atau mendorong cahaya api itu dengan telapak tangan sejauh satu depa.

"Kau lihat bukan? Lidah api itu bergoyang-goyang karena tenaga tolakan telapak tanganmu itu. Kian kuat kau berlatih memukul jarak jauh, maka akan kuat pula hasilnya. Api bukan sekadar bergoyang, tetapi akan padam. Latihan lebih kau tingkatkan lagi, maka bukan hanya menggoyangkan lidah api, melainkan sanggup merobohkan sesuatu yang lebih besar lagi, misalnya saja menumbangkan sebuah batang pohon dengan pukulan jarak jauh," kata Ki Darma.

Menurut Ki Darma, ilmu berkelahi tiada batasnya. Siapa yang paling pandai di dunia, tidak ada orang yang tahu.

"Sudah berapa jauh tingkat ilmu yang kau miliki, engkau tidak akan tahu, tidak juga aku yang melatihmu. Oleh sebab itulah, aku ingatkan engkau harus hati-hati hidup di dunia. Jangan sombong dan takabur. Kalau bisa, sembunyikan ilmumu itu. Biarkan orang lain menganggapmu tidak bisa apa-apa agar perhatian orang lain padamu terlena," kata Ki Darma.

Amanat terakhir Ki Darma bahwa ia harus mau menyembunyikan ilmu kepandaiannya, tidak selamanya bisa dijalankan. Buktinya, hari ini saja ia memperlihatkan kepandaian tanpa dipaksa orang.

"Tetapi yang ini mesti kulakukan karena tujuanku ingin membasmi kejahatan," kata Ginggi dalam hatinya.

Seperti tadi diutarakan, pemuda itu terlalu berisiko bila ia mencoba menangkis pukulan Ki Rangga Guna. Ia tidak mau saling berbenturan tangan. Oleh sebab itu, tidak ada cara terbaik meloloskan diri dari terjangan lawan selain mundur tiga tindak ke belakang dan kemudian meloncat jauh ke samping.

Sudah barang tentu, terjangan Ki Rangga Guna dengan lompatan kodoknya hanya berhasil menerjang angin belaka. Tetapi lompatan itu terlalu kuat. Tubuh Ki Rangga Guna yang dihindarkan oleh kelitan ke samping, sepertinya hendak menubruk dinding karang.

Tetapi orang itu benar-benar pandai membuat gerakan. Sepasang tangan yang sedianya akan digunakan untuk menyerang Ginggi sekarang ia gunakan untuk menotol dinding sehingga tubuhnya kembali memantul ke udara. Di atas udara, Ki Rangga Guna bersalto. Dan saat tubuhnya ada dalam keadaan terbalik, Ki Rangga Guna menggerak-gerakkan sepasang tangannya.

Ginggi terkejut. Ini adalah pukulan jarak jauh seperti apa yang dikatakan Ki Darma. Dan benar saja, suara angin berciutan mengiringi udara panas yang memengaruhi ruangan gua itu. Ginggi yang tepat berada di bawah lawannya segera membuat gerakan trenggiling hindarkan api. Ia berguling-guling beberapa kali ketika Ki Rangga Guna menggerakkan sepasang tangannya lurus ke bawah dengan telapak tangan terbuka lebar.

Blaaar!!!

Ada suara dentuman menggelegar. Ruangan gua seperti bergetar. Dari langit-langit, ada bebatuan yang runtuh. Beberapa menimpa gundukan api dan beberapa lagi menimpa tubuh gadis yang tergolek di sudut. Sebuah batu besar tepat menimpa dadanya.

Tidak terdengar jerit kesakitan atau erangan kecil. Tidak juga meronta-ronta atau sekadar menggerak-gerakkan ujung jari kaki sebagai tanda sakit. Ini hanya membuktikan bahwa gadis itu mungkin sejak tadi tidak bernyawa lagi. Kalau tadi Ginggi melihat Ki Rangga Guna hendak menikam dada gadis itu, siapa tahu.

"Bukankah dia memotong bagian tangan mayat bayi sekalipun?" Ginggi tidak sempat berpikir panjang lagi sebab serangan angin pukulan terus memberondongi dirinya. Pemuda itu pun terpaksa melompat ke sana kemari dan jumpalitan beberapa kali. Batu-batu kapur berguguran dari sana-sini. Dan langit-langit gua seperti mau runtuh rasanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment