Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 44

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 44

Ginggi agak kewalahan menerima serangan yang ganas dan bertubi-tubi ini. Sementara itu, Ki Rangga Guna melepaskan angin pukulan sambil tertawa-tawa, sesekali meringkik seperti kuda. Mulutnya menyeringai dan matanya liar.

Sambil terus berkelit dan menghindar, Ginggi merasakan keganjilan, terutama menyangkut tindakan-tindakan aneh orang ini. Sudah dua kali Ginggi bertemu dengan Ki Rangga Guna. Pertama kali ketika orang ini dikeroyok di depan kedai wilayah Kandagalante, Tanjungpura. Kedua kali di sebuah dusun kecil ketika baik Ginggi maupun orang ini sama-sama kemalaman dan hendak menumpang tidur.

Dari pertemuan itu, Ginggi menyaksikan perilaku Ki Rangga Guna yang tenang dan terkesan acuh tak acuh. Ketika dikeroyok banyak orang, sedikit pun dia tidak mau membalas atau melayani pengeroyokan itu. Padahal, Ginggi merasa yakin bahwa jika Ki Rangga Guna mau, dia dengan mudah bisa melumpuhkan para pengeroyoknya.

Ketika Ki Rangga Guna diserbu oleh Ginggi, hal yang sama juga terjadi. Dia tidak mau membalas serangan, bahkan selalu menghindar dan akhirnya melarikan diri. Hanya kali ini, pada pertemuan ketiga, Ki Rangga Guna membalas serangan. Bahkan, dia membalas jauh lebih kejam dan ganas, seolah memiliki maksud untuk membunuhnya.

Ganjil sekali orang ini. Dalam beberapa kali pertemuan, dia sanggup menampilkan dua perilaku yang bertolak belakang. Sekarang Ki Rangga Guna tampak seperti orang gila dan bagaikan kerasukan setan. Apalagi jika melihat matanya yang liar dan suaranya yang meringkik menyeramkan.

"Gilakah orang ini sesudah hampir tiga atau empat bulan tidak bertemu dengannya?" pikir Ginggi. Dia kemudian teringat pengakuan pemilik rumah hiburan di Tanjungpura yang mengatakan bahwa ketika Ki Rangga Guna mengacau di sana, perilakunya hampir menyerupai orang gila dan kekejamannya seperti iblis. Jadi, sudah sejak pertemuan sebelumnya, Ki Rangga Guna memang sudah berpenampilan aneh seperti ini.

Kembali Ki Rangga Guna mendoyongkan tubuhnya ke depan sehingga saking doyongnya, perutnya hampir menyentuh permukaan gua. Sepasang tangannya kini ditarik ke belakang. Pelan-pelan, kepalannya berubah menjadi terbuka.

Ginggi bersikap hati-hati. Serangan yang meniru gerakan kodok hendak meloncat ini amat berbahaya, seperti yang dipertunjukkan pertama kali tadi. Dari gerakan telapak tangannya yang didorongkan ke depan, kelak akan terpancar hawa panas. Hanya dengan mundur tiga tindak dan berkelit ke samping serangan itu bisa dihindarkan. Jika serangan yang sama kembali dilakukan, Ginggi perlu mengubah gerakan menghindar, sebab bila jurus hindarnya hanya itu-itu saja, maka akan mudah diketahui oleh Ki Rangga Guna.

Ginggi mengingat-ingat gerakan hindar mana lagi yang pernah diajarkan Ki Darma dalam upaya meloloskan diri dari serangan lawan seperti itu. Ginggi bingung sekali dalam memilih jurus terbaik. Ki Darma memang memberikan banyak jurus hindar yang jumlahnya tak terhitung, sampai-sampai Ginggi tidak hafal lagi.

Namun, faktor penyebab dia tidak hafal bukan karena terlalu banyak macam jurusnya, melainkan karena keengganannya mendalami semua yang diberikan Ki Darma. Ginggi dulu memang merasa jenuh sebab selama sepuluh tahun pekerjaannya hanya berlatih sesuatu yang sebenarnya tidak dia sukai.

"Ini gerakan berkelahi dan semua ditujukan untuk membunuh. Apakah kelak pekerjaanku hanya berkelahi dan membunuh, Aki?" tanya Ginggi ketika itu. Ki Darma hanya mendelik marah bila Ginggi membangkang seperti itu. Ginggi akhirnya mau berlatih hanya karena tidak mau didamprat oleh Ki Darma. Itu pun jika Ki Darma sedang turun gunung, Ginggi hanya berlatih asal-asalan saja.

"Aku tidak senang berkelahi. Untuk apa setiap hari harus berlatih ilmu kasar macam begini?" pikirnya ketika itu. Namun sekarang terbukti bahwa pendapat Ki Darma benar dan pilihannyalah yang keliru. Paling tidak, dalam menghadapi gempuran maut dari orang gila ini, Ginggi memendam rasa sesal yang dalam. "Kalau saja dulu tidak asal-asalan, kalau saja dulu gigih berlatih, aku tidak akan menderita kewalahan seperti ini," keluhnya dalam hati.

Ki Rangga Guna kini mendorong-dorongkan sepasang telapak tangannya yang terbuka lebar. Orang ini cerdik. Tadi, serangan gaya kodok itu dilakukan sambil meloncat. Karena Ginggi mundur tiga tindak dan berkelit ke samping, serangannya gagal. Sekarang, dia menyerang hanya dengan angin pukulannya yang menderu-deru tanpa beranjak dari kedudukannya semula.

Cerdik sekali, sebab dengan melakukan serangan dari jarak jauh, Ki Rangga Guna bisa mengamati ke mana pemuda itu menghindar. Jika ada gerakan ke samping kiri, Ki Rangga Guna tinggal mengarahkan pukulannya ke samping kiri, begitu pun sebaliknya.

Sejauh ini Ginggi hanya bisa lolos dengan berlindung di balik bongkahan batu. Namun, setiap kali bongkahan batu terkena serangan, batu besar itu hancur berantakan. Lambat laun, pemuda itu tentu akan kehilangan bongkahan batu untuk berlindung.

Ginggi pun menyadari perkiraan itu. Si bedebah itu hanya mengulur-ulur waktu, persis seperti kucing yang hendak memangsa tikus. Sebelum tikus kecil digerus habis oleh gigi-gigi runcingnya, sang tikus yang ketakutan setengah mati hanya dipermainkan saja. Ginggi merasakan Ki Rangga Guna sangat optimistis bisa mengalahkannya. Sebelum membunuhnya, Ginggi seolah disiksa dengan permainan-permainan maut.

Ginggi mengeluh. Barangkali di sinilah akhir hayatnya. Tak disangka, jauh sebelum tugasnya selesai, dia sudah keburu mati. Mati bukan oleh musuh yang lebih besar, melainkan oleh orang yang sebelumnya harus dia mintai saran dan petunjuk sebagaimana pesan Ki Darma.

Sadar nasibnya akan berakhir di gua kapur ini, pemuda itu mengeraskan hatinya. "Kalau hanya sekadar menjemput mati, buat apa harus berhati-hati? Lebih baik aku mencoba balik menyerang. Kalau berhasil syukur, kalau tidak, ya hanya mempercepat proses kematian saja. Yang penting aku berusaha menyerang dan membunuhnya pula," pikirnya dalam hati.

Putusannya sudah bulat. Ketika Ki Rangga Guna menarik sepasang tangannya ke belakang untuk mengambil ancang-ancang serangan baru, serentak Ginggi menghimpun inti tenaga. Ujung kakinya menjejak dinding gua dan tubuhnya melesat memburu ke arah Ki Rangga Guna. Dia harus adu cepat. Sebelum sepasang tangan lawannya kembali mendorong ke depan, dia harus melayangkan sebuah serangan dahsyat.

Sambil melesat di udara, sepasang tangan Ginggi bersilang di depan wajahnya. Tangan kanan berbentuk kepalan, sedangkan tangan kiri membentuk capit gunting. Ki Rangga Guna tampak terkejut dengan bentuk serangan ini. Barangkali dia tidak menduga bahwa Ginggi akan nekat balik membalas serangan, atau barangkali dia terkesiap karena mengenali jurus ini.

Apa pun yang ada di benak Ki Rangga Guna, rasa terkejutnya amat menguntungkan Ginggi karena gerakan Ki Rangga Guna terhenti sejenak. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemuda itu. Kepalan tangan kanan pemuda itu segera melayangkan pukulan.

Ginggi sebetulnya tahu betul bahwa Ki Rangga Guna akan menduga serangan asli terletak pada capit gunting tangan kiri. Dua jari, yakni jari tengah dan telunjuk, sudah diisi inti tenaga, sedangkan kepalan tangan kanan sebenarnya kosong tanpa tenaga. Ginggi memastikan begitulah yang tengah dipikirkan Ki Rangga Guna yang kenal betul akan gerakan khas milik Ki Darma.

Karena Ki Rangga Guna berpikir demikian, pemuda itu mengubah siasat. Dia harus mengecoh jalan pikiran yang sudah baku itu. Maka, pemuda itu serentak menarik inti tenaga yang sudah disalurkan ke capit gunting tangan kiri dan dialirkannya ke kepalan tangan kanannya dengan sepenuh tenaga.

Wusss... Plak!

Ki Rangga Guna berteriak keras dan tubuhnya terbanting menumbuk dinding gua.

"Yihuy!" seru Ginggi berteriak girang.

Ki Rangga Guna duduk selonjor bersandar di dinding gua. Dia memijat-mijat keningnya yang bersemu memar dan agak bengkak. Sesudah beberapa kali menggoyang kepala untuk mengusir rasa pening, dia perlahan bangkit kembali dan menatap nanar bercampur heran kepada Ginggi. Tangan kanannya kemudian menunjuk ke arah pemuda itu.

"Engkau... mengapa engkau gunakan jurus Ki Guru Darma?" katanya heran.

"Aku pergunakan jurus milik Ki Darma karena dia memberikannya padaku!" kata Ginggi.

"Kau murid Ki Darma?"

Ginggi menggelengkan kepala. Dia tidak berbohong, sebab selama ini Ki Darma tidak pernah menyebut Ginggi sebagai muridnya.

"Kau bukan muridnya tapi kau pergunakan jurus itu, berarti kau curi ilmu Ki Guru, jahanam!" Ki Rangga Guna mendelikkan matanya.

"Aku tidak mencuri, aku dilatih olehnya!" sanggah Ginggi.

"Hehehe, tikus kecil! Hanya murid yang menerima pelajaran guru. Kalau guru tidak mengambil murid, maka tidak mungkin memberi ilmu. Jadi, engkau pasti mencuri ilmu guru, hei kecoa!"

Sambil kembali tertawa-tawa, Ki Rangga Guna mendekati pemuda itu untuk menyerang balik. Ginggi amat terkejut melihat Ki Rangga Guna begitu kuat menerima pukulan. Padahal ketika latihan di puncak Cakrabuana, sebongkah batu bisa hancur lebur dan pohon jati tumbang karena batangnya patah akibat pukulannya. Namun sekarang, dahi Ki Rangga Guna begitu kuatnya menerima pukulan inti tenaga. Pukulan keras itu hanya membuat Ki Rangga Guna nanar sebentar. Luka memar itu seolah tidak berarti baginya.

Ginggi mundur beberapa tindak ketika Ki Rangga Guna maju mendekat.

"Kau pencuri, tikus kecil... kau pencuri..." gumamnya menyeringai dengan mata liar. Tampak jelas sekali kegeraman Ki Rangga Guna saat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment