Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 45

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 45

"Kau curi ilmu Ki Guru, kau harus mati!" desisnya.

"Engkau yang harus mati dan bukan aku! Kau jahat! Kau buat malu Ki Darma! Padahal kau harus ingat, apa keinginan Ki Darma ketika ia lepas engkau turun gunung?" kata Ginggi balik mencerca.

Wajah pucat Ki Rangga Guna semakin pucat mendengar omongan pemuda itu. Tampak Ki Rangga Guna seperti terhenyak dan terpojok.

"Aku... aku... aku tak tahu! Aku tak mau tahu!" teriak Ki Rangga Guna mencak-mencak.

"Aku harus bunuh semuanya! Semuanya!" teriak Ki Rangga Guna berteriak-teriak tak keruan.

Dia menghambur menerjang Ginggi. Pukulannya berciut-ciut mengerikan dan angin panas menerjang ke arah pemuda itu. Ginggi semakin terdesak dan semakin mepet ke pojok gua. Sekarang tak ada lagi tempat berlindung. Yang dia kerjakan hanya menghindar dan berkelit saja, namun pada suatu saat Ginggi terpojok juga. Dia hanya mepet di sebuah cekungan batu kapur. Kalau ada serangan ke arahnya, sudah tak mungkin berkelit lagi karena tubuhnya seolah-olah dikurung dinding kapur.

Namun, gerakan Ki Rangga Guna yang sudah bersiap mengirimkan pukulan maut mendadak berhenti ketika tiba-tiba terdengar suara orang, "Ki Adi, hentikan kekeliruanmu itu!"

Ginggi terhenyak mendengar suara ini. Serasa dia pernah dengar sebelumnya. Ki Rangga Guna mundur beberapa tindak dan dia membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang berkata. Karena Ki Rangga Guna sudah tidak memperhatikan dirinya lagi, Ginggi pun segera keluar dari cekungan dinding gua itu. Dia ikut memperhatikan siapa yang berkata tadi.

"Hah?" Mulut pemuda itu menganga memandang siapa yang berdiri tenang di mulut gua. Baik Ginggi maupun Ki Rangga Guna sama-sama kaget melihat siapa yang datang.

Ginggi benar-benar kaget. Sekarang ada "dua" Ki Rangga Guna. Satu orang berwajah tanpa ekspresi dan seorang lagi dengan perangai garang. Namun, dua-duanya memiliki persamaan wajah; muka bulat, hidung melengkung, dan bermata sipit. Mata sipit yang seorang benar-benar sipit sehingga bola mata hampir terlindung, sedangkan si wajah garang sesekali sanggup membelalakkan mata dengan sorot liar.

Ginggi menepuk jidatnya sendiri. Mengapa dia begitu bodoh dan pelupa? Bukankah Ki Darma dulu pernah bilang ada dua orang muridnya yang kembar, yaitu Ki Rangga Guna dan Ki Rangga Wisesa? Hanya saja sejauh ini Ginggi belum melihat yang mana Rangga Guna dan yang mana Rangga Wisesa. Benarkah si jahat bernama Rangga Guna atau malah sebaliknya?

"Ki Adi, sadarlah. Hidupmu sudah semakin jauh dari kebenaran," gumam yang berdiri di mulut gua.

"Tak ada bedanya benar atau salah buatku, Kakang!" teriak si hidung bengkok bersuara garang.

"Ada bedanya Ki Adi. Orang yang berbuat salah selalu merugikan orang yang sedang berjuang demi kebenaran!"

"Ya, begitulah! Makanya tak ada untungnya aku menjadi orang yang benar. Orang benar selalu akrab dengan kerugian. Menjadi orang jujur suka ditipu, dipermainkan, dan dikucilkan. Menjadi orang yang benar dan jujur pun selalu ditekan agar taat kepada peraturan hidup. Sedangkan menjadi orang salah, segalanya bisa menjadi bebas, tidak diringkus berbagai peraturan ataupun harga diri! Aku benci jadi orang baik! Benci!" teriak si garang.

"Ki Adi, menjadi orang jahat juga tak memiliki kebebasan. Karena banyak dibenci, maka banyak dimusuhi. Kau tak bebas berkeliaran. Dan kau takut jadi orang jahat. Saking takutnya, saking bosannya kau dikejar dan diburu, untuk membebaskannya kau berlindung di balik namaku. Kau mengaku sebagai aku setiap melakukan kejahatan. Itu karena kau takut menerima akibat. Dan kau timpakan padaku, Ki Adi!"

Ginggi terhenyak mendengarnya. Kalau begitu dia terkecoh. Yang dia anggap Ki Rangga Guna sebagai pelaku kejahatan sebenarnya adalah saudara kembarnya, Ki Rangga Wisesa.

"Aku tidak berlindung dan aku tidak takut! Aku gunakan namamu agar kita berdua sama-sama dianggap orang lain jahat dan tukang merugikan! Aku benci kau. Dulu kau disayang Guru dan aku tidak. Kau diberi ilmu berlebih dan aku tidak. Tapi ketika Ki Guru perlu dengan ambisinya, aku menerima tugas sama beratnya denganmu! Tidak adil, maka aku benci engkau. Aku juga benci Ki Guru! Aku harus balas dendam. Dan aku puas. Barangkali Ki Guru sekarang sudah mati!" teriak si garang yang Ginggi yakin bernama Ki Rangga Wisesa.

Ginggi terkejut setengah mati mendengar omongan Ki Rangga Wisesa. Begitu pun Ki Rangga Guna terlihat wajahnya seperti memendam rasa terkejut.

"Apa maksudmu Ki Darma sekarang sudah mati, hai orang gila!" teriak Ginggi tak sabar.

Siuuut, blarrr!!!

Ki Rangga Wisesa menyerang Ginggi dengan pukulan jarak jauh yang dahsyat. Ginggi meloncat ke samping dan pukulan itu menghantam dinding sehingga menjadi runtuh.

"Hik-hik-hik! Coba lihat tikus kecil itu! Dia tak mengaku menjadi murid Ki Guru tapi bisa memainkan jurus milik kita. Kalau benar begitu, betapa lemahnya Ki Guru. Dia sembrono dan tak menghargai ilmunya sendiri. Kepada siapa saja dia berikan ilmunya. Padahal ketika aku minta diajarinya, aku menyembah-nyembah padanya. Ki Guru menghina aku. Barangkali juga menghina kamu, Kakang. Kita serasa dapat anugerah dan menghargai pemberiannya, sedangkan Ki Guru sendiri menganggap ilmunya seperti sampah; dia buang atau dia tebarkan kepada siapa saja. Contohnya kepada si tikus kecil itulah!" kata Ki Rangga Wisesa marah dan sesal. Namun, nada bicaranya disertai ringkikan-ringkikan kecil.

"Kau jawab dulu, apa artinya perkataanmu tadi, bahwa Ki Guru barangkali sudah mati?" kata Ki Rangga Guna dengan alis berkerut.

"Aku laporkan kepada semua orang. Kepada orang-orang Pakuan dan kepada orang-orang Cirebon, bahwa Ki Darma, musuh besar mereka, bersembunyi di Cakrabuana. Hik-hik-hik! Aku dengar orang Pakuan mengirim beberapa perwira kerajaan untuk memburu Ki Guru. Dan aku gembira, orang-orang Cirebon melalui Talaga akan menyerbu Cakrabuana juga, tepat di malam kedua belas bulan keenam. Hik-hik-hik! Kalau orang Cirebon sepulang membunuh Ki Guru di tengah jalan berpapasan dengan perwira kerajaan, maka akan terjadi bentrok dan dua-duanya akan saling bunuh! Hik-hik-hik, seru sekali di puncak Cakrabuana lima bulan lalu. Di sana ada sekelompok anjing berebut tulang! Hik-hik-hik!"

Dukk! Plak! Dukk! Plakk!!!

Ginggi melakukan serangan mendadak kepada Ki Rangga Wisesa. Mendengar berita ini, hati Ginggi amat marah dan khawatir. Ki Darma dalam bahaya, dan yang membuat nyawa Ki Darma terancam adalah karena pengkhianatan Ki Rangga Wisesa, murid gila yang tak tahu diuntung ini.

Mendapat serangan mendadak yang sedikit tak terduga ini membuat tubuh Ki Rangga Wisesa terlempar membentur dinding gua. Sebelum Ki Rangga Wisesa bangun berdiri, Ginggi melakukan tendangan telak ke arah dagu orang itu hingga kembali terpental.

Ginggi hendak memburu lagi namun Ki Rangga Guna meloncat menghalangi. Ginggi akan tetap menyerang. Ki Rangga Guna segera menangkap pergelangan tangan Ginggi. Cekalannya kuat sekali membuat Ginggi menyeringai kesakitan. Ngilu rasanya, seperti tulang tangannya akan remuk saja. Tubuh pemuda itu mendadak lemah tak bertenaga. Dia hanya berusaha menahan kakinya agar tak jatuh dengan lutut tertekuk.

"Kau lihatlah anak muda yang kau sebut tikus kecil ini, Ki Adi. Kau sebut dia bukan murid Ki Guru, tapi kasih sayang terhadap Ki Guru demikian tingginya. Amat bertolak belakang denganmu yang masih mau menyebut beliau sebagai guru kita," kata Ki Rangga Guna masih memegang pergelangan tangan Ginggi.

Ki Rangga Wisesa terengah-engah mendapat pukulan bertubi-tubi dari Ginggi. Namun, tetap saja tidak ada luka sedikit pun. Dan demi mendengar ucapan Ki Rangga Guna barusan, Ki Rangga Wisesa seperti marah. Matanya kembali liar. Sambil meringkik seperti kuda, dia bangkit serentak dan menghambur menyerang Ginggi.

Pemuda itu hanya mengatupkan kedua belah matanya. Dia tak memiliki daya apa pun untuk bergerak, apalagi melompat menghindari serangan. Namun, sebelum Ginggi merasakan pukulan lawan, ada suara benturan keras yang menimbulkan hawa yang sangat panas.

Ginggi membuka matanya. Tampak Ki Rangga Wisesa sudah jatuh terduduk di sudut gua. Sebagian tubuhnya tertutup timbunan bebatuan yang rupanya runtuh dari langit-langit gua. Ginggi bisa menduga, serangan Ki Rangga Wisesa yang sedianya mengarah kepadanya segera ditangkis Ki Rangga Guna.

Ki Rangga Wisesa menggoyang tubuhnya, reruntuhan batu terlontar ke sana ke mari. Dia segera bangun tapi dengan agak tertatih-tatih. Dia doyongkan tubuhnya ke depan, menarik sepasang tangannya ke belakang, lalu dengan kekuatan penuh dia mendorong telapak tangan terbuka ke arah Ki Rangga Guna.

Yang diserang segera memutar tangan kanannya sambil membuka jari-jarinya. Sambil tangan kiri tetap memegang pergelangan tangan Ginggi, dia mencoba menahan gempuran adik kembarnya.

Blarrr!!!

Dua pasang tangan saling beradu dan menimbulkan getaran hebat. Kilat menyambar-nyambar dari kedua pertemuan tenaga itu, membuat langit-langit gua kembali runtuh. Tubuh Ki Rangga Wisesa sendiri terlontar ke belakang dan untuk kesekian kalinya membentur dinding gua.

Ketika Ki Rangga Wisesa berdiri sempoyongan, kali ini ada darah meleleh dari mulut dan hidungnya, menetes-netes turun ke baju kurung putihnya di bagian dada.

"Sadarlah Ki Adi! Kau harus bertobat untuk mencuci dosamu!" kata Ki Rangga Guna yang juga mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Aku tak mau bertobat. Aku hanya ingin mati saja! Aku ingin mati saja..." gumam Ki Rangga Wisesa. Dia menyeringai, mungkin merasakan sakit, mungkin juga menahan kemarahan dan kekesalan.

Sambil tetap sempoyongan, Ki Rangga Wisesa terus mendekati dan berniat melakukan serangan. Sekali lagi dia menghantamkan sepasang tangannya. Udara panas memancar, ruangan gua seperti dipenuhi pijaran api. Ginggi menjerit tak kuat karena panasnya ruangan. Udara terasa sesak dan mata pun terasa pedih. Ki Rangga Wisesa seperti putus asa serangannya selalu bisa ditahan. Akhirnya dia melolong-lolong dan menjerit histeris. Sesekali ada terdengar juga ringkik kudanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment