Chapter 46
Namun kali ini bukan ringkik penuh ejekan, melainkan lebih terdengar sebagai suara tangisan.
Dan tangan Ki Rangga Wisesa akhirnya memukul ke sana kemari.
Suaranya bersiutan.
Ruangan gua bergetar hebat.
Banyak bebatuan kembali runtuh.
Beberapa batu menimpa tubuhnya.
Namun dia seperti tidak mengacuhkannya.
Kedua tangannya terus saja melakukan pukulan jarak jauh yang melahirkan udara panas.
Sekarang, dari seluruh lubang-lubang tubuhnya mengeluarkan darah.
Dari telinganya, hidungnya, dan juga mulutnya.
Ki Rangga Wisesa terus saja menggerak-gerakkan sepasang tangannya yang kini mengeluarkan bintik-bintik darah dari pori-pori kulitnya.
Langit-langit gua terus berguguran, mengeluarkan suara hiruk-pikuk.
Rupanya Ki Rangga Guna sadar akan bahaya.
Dia segera mengapit tubuh Ginggi.
Dibawanya melompat keluar gua.
Dan benar perkiraan Ki Rangga Guna.
Begitu keluar dari mulut gua, terdengar gemuruh dahsyat.
Rupanya semua dinding gua runtuh ke bawah, mengubur semua yang ada di dalamnya.
Mulut gua itu sendiri akhirnya hilang dari pandangan, tertimbun berbagai reruntuhan.
Sudah tidak ada ringkik kuda, kecuali runtuhan bebatuan kapur itu sendiri.
"Paman, di sana ada mayat gadis muda dan mayat seorang bayi," gumam Ginggi.
"Ya, dan jangan lupa, di sana pun ada tubuh adikku.
Dia jahat, tetapi tetap saja dia manusia.
Apalagi setelah kini menjadi mayat.
Tidak ada bedanya dengan mayat orang baik.
Sama-sama hanya berupa onggokan tulang terbungkus daging dan kulit?" gumam Ki Rangga Guna sendu.
Ginggi menunduk lesu, duduk di tanah kapur tanpa daya.
Sampai ada segaris cahaya putih di ufuk timur, mereka berdua masih berada di tepi bongkahan-bongkahan reruntuhan.
Sunyi, sepi, dan dingin oleh udara subuh.
Ginggi masih terduduk lesu dan Ki Rangga Guna berdiri termangu sambil menatap bongkahan dan reruntuhan batu kapur.
Begitu hingga matahari menampakkan wajahnya dari bukit sana.
Tapi, tewaskah Ki Rangga Wisesa? Tidak pernah ada yang membuktikannya.
Tidak pula Ginggi dan Ki Rangga Guna.
Mereka hanya menduga-duga saja.
Bahwa melihat gua runtuh begitu dahsyat, nasib Ki Rangga Wisesa mungkin tidak akan tertolong.
"Malam dua belas perjalanan bulan keenam?" gumam Ginggi kembali mengingat-ingat ucapan Ki Rangga Wisesa.
Dia tengah melangkah lesu menuruni bukit kapur dan di belakangnya Ki Rangga Guna mengikuti.
Ginggi menghentikan langkahnya karena dia terus mengingat-ingat ucapan Ki Rangga Wisesa.
"Ya, aku ingat sekarang?" gumamnya.
"Aku turun dari puncak Cakrabuana hari kesebelas dari peredaran bulan keenam.
Artinya, ketika aku tengah berada di Desa Caelah, penyerbuan ke puncak Cakrabuana itu terjadi?" kata Ginggi seperti berbicara sendiri.
"Begitu, jika ucapan adikku bisa dipercaya," kata Ki Rangga Guna.
"Aku yakin, peristiwa itu benar?" "Dari mana kau tahu?"
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu.
Dari mana Ki Darma tahu akan ada peristiwa di puncak Cakrabuana?" Secara tiba-tiba, hari itu dia memanggilku.
Aku disuruhnya turun gunung hari itu juga.
Aku dipaksa berlatih ilmu berkelahi hampir sepuluh tahun lebih.
Dan memang kerap kali Ki Darma mengatakan, aku disuruh latihan keras karena kelak akan dibebani tugas membela rakyat Pajajaran.
Aku sadar akan hal itu.
Tapi yang membuat heran, mengapa begitu secara tiba-tiba seperti itu? Waktu itu aku minta diulur sampai esok harinya, sebab aku tidak mau berpisah secara tiba-tiba dengannya.
Tapi tetap Ki Darma bersikeras, aku harus pergi hari itu juga.
Aku diusir pergi karena barangkali dia tahu, esok harinya akan terjadi sesuatu.
Tapi, mengapa dia tahu suatu peristiwa akan terjadi?" kata Ginggi dengan wajah bingung dan sedih.
Langkah Ginggi berhenti sejenak untuk kembali mengingat sesuatu.
"Hari itu aku melihat serombongan orang tergopoh-gopoh menuju puncak.
Tidakkah mereka adalah anggota pasukan dari Pakuan seperti yang disebutkan Ki Rangga Wisesa?" gumam Ginggi mengerutkan dahi.
Ki Rangga Guna terdengar menghela napas dalam-dalam.
Sesudah itu dia duduk di sebuah tonjolan batu.
"Kalau begitu, aku pun percaya.
Peristiwa penyerbuan itu benar terjadi," kata Ki Rangga Guna mengangguk-angguk.
Ginggi menoleh kepada Ki Rangga Guna dengan kekhawatiran yang semakin memuncak.
"Ki Guru itu orang pandai.
Nalurinya kuat untuk meraba kejadian yang bakal terjadi.
Dia sudah bekerja di Pakuan sejak kepemimpinan Sang Prabu Surawisesa, bahkan ketika Kangjeng Prabu Sri Baduga.
Dia salah satu perwira tangguh dari seribu orang perwira pengawal raja.
Beberapa pertempuran sering dimenangkan Pakuan, atau ibu kota bisa lolos dari serbuan musuh, karena sebelumnya naluri Ki Guru telah sanggup merasakan adanya mara-bahaya.
Tapi karena kepandaian ini pula Ki Guru menghadapi bencana?" kata Ki Rangga Guna, menghela napas beberapa kali.
"Ki Darma seorang perwira kerajaan?" tanya Ginggi mengerutkan dahi.
"Ya, tidakkah dia mengatakannya padamu?" Ginggi menggelengkan kepala.
Kata pemuda ini, bahwa Ki Darma bukan orang sembarangan, hanya didapatnya melalui cerita pantun.
Itu pun menyangkut hal-hal buruk.
"Selama bersamaku, tidak sedikit pun dia mengatakan siapa sebenarnya dia.
Yang aku tahu, dia hanyalah seorang tua yang cepat marah, tetapi terkesan juga sebagai orang yang kecewa terhadap sesuatu.
Dia kerap kali mengeluh terhadap situasi negara dan aku disuruhnya ikut memikirkan hal itu.
Aku disuruh mencari keempat muridnya agar aku bisa bergabung dan meminta nasihat apa yang harus aku kerjakan.
Tapi kenyataannya?" Ginggi menghentikan perkataannya sebab dia teringat peristiwa tadi malam.
Ki Rangga Guna terlihat kuyu dan tampak memendam kesedihan amat dalam.
Barangkali dia terpukul oleh peristiwa tadi malam.
Saudara kembarnya terkurung reruntuhan gua.
Mungkin Ki Rangga Wisesa telah mati karena reruntuhan itu.
"Ki Guru dulu benar-benar seorang perwira kerajaan yang tangguh.
Namanya dikenal sebagai Ki Darma Tunggara.
Pandai menguasai ilmu pertempuran.
Dia seorang ahli siasat perang.
Dua belas ilmu siasat perang, yaitu makarabihwa, lisang-bihwa, cakra-bihwa, suci-muka, bajra-panjara, asu-maliput, merak-simpir, gagak-sangkur, luwak-maturun, kidang-sumeka, babah-buhaya, dan ngaliga-manik, dia kuasai dengan sempurna.
Semua orang memerlukannya.
Tapi Ki Darma dikenal memiliki satu penyakit menurut anggapan para bangsawan.
Ki Darma selalu berbicara apa adanya.
Kalau baik, dibilang baik; dan kalau jelek, dibilang jelek.
Terhadap kaum bangsawan dan raja, Ki Guru Darma kerap kali melontarkan kritik.
Beberapa orang menganggap kritik Ki Guru Darma itu sebagai panca-parisuda (lima obat penawar), yaitu sebagai alat untuk menghilangkan segala kekurangan yang melekat di tubuh seseorang.
Tapi kebanyakan lainnya beranggapan bahwa bila kritik itu dilontarkan terhadap raja, maka itu berarti penghinaan.
Kata orang, sejak zaman Sang Prabu Surawisesa, Ki Guru sering mengkritik.
Kepada Sang Prabu Surawisesa, dikatakannya sebagai pipit mencari padi.
Pipit tidak akan berhenti mematuk sebelum padi di huma habis dipatuknya.
Itu dimaksudkan sebagai tudingan kepada Sang Prabu Surawisesa yang gemar berperang.
Sebelum musuh dibabat habis, perang tidak akan diselesaikan.
Ketika pemerintahan beralih kepada Sang Prabu Ratu Dewata, dikatakannya sebagai zaman wiku tertidur di tengah ribuan cicitan tikus kelaparan.
Bila Sang Wiku tengah bertapa, bisa saja mengacuhkan situasi sekeliling karena pikiran terpusat dalam tapa.
Tapi yang ini, hanya berupa tindakan diam seorang wiku karena sedang tidur.
Ribuan tikus mencicit karena lapar adalah bahaya, sebab bisa-bisa mengeroyok dan memakan orang yang sedang tidur.
Begitulah memang ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Ratu Dewata.
Di saat Pakuan dikelilingi musuh-musuh, Sang Ratu Dewata malah lebih menitikberatkan mengurus kehidupan agama dan keyakinan.
Sang Ratu Dewata kerap kali mengurung diri di kuil karena melakukan tapabrata.
Padahal menurut Ki Guru Darma, tapa seorang raja adalah berjuang mengurus negeri?" kata Ki Rangga Guna menceritakan kisah Ki Darma.
Ginggi hanya termangu-mangu, duduk di samping Ki.
"Ki Guru Darma selama menjadi perwira hampir-hampir dianggap duri dalam daging.
Banyak kalangan bangsawan tidak menyukainya karena Ki Darma blak-blakan mengoreksi mereka yang keliru.
Bahkan kepada pejabat yang pekerjaannya mempermainkan kekayaan negara, Ki Guru selalu membencinya.
Itulah sebabnya, walaupun tenaga Ki Guru terus dimanfaatkan, tetapi kedudukannya tidak pernah beranjak naik.
Tidak pernah ada orang mengusulkan agar dia menjadi mangkubumi, misalnya.
Padahal Ki Darma sudah lebih dari cukup untuk memegang jabatan seperti itu.
Atau kalau benar Ki Guru Darma tetap diperlukan di keprajuritan, mengapa selama ini tidak pernah dipercaya sebagai kepala perwira, padahal Ki Guru Darmalah yang paling tua dan paling luas pengalamannya?
Beruntung sekali Ki Guru Darma tidak penuh ambisi.
Menurutnya, puluhan tahun menjadi bagian dari seribu perwira pengawal raja, puluhan kali pula terlibat pertempuran besar, tidak sedikit pun mengharap jasa.
Ki Guru mengatakan, dia bukan mengabdi kepada pangkat ataupun harta, tidak pula mengabdi kepada seorang raja.
Kalaupun benar disebut mengabdi, maka dia mengabdi kepada kerajaan, kepada Pajajaran," kata lagi Ki Rangga Guna.
"Aku mengerti, mengapa Ki Darma tidak disukai di pemerintahan.
Itu karena dia memberi kasih sayang terhadap negeri tidak melulu karena pujian atau jilatan kata-kata muluk.
Namun hal-hal seperti itu tidak membuat terusir pergi dari jajaran seribu perwira pengawal raja.
Hanya saja, mengapa Ki Rangga Wisesa mengabarkan Ki Darma diburu dan dikejar oleh perwira kerajaan bahkan oleh pasukan Cirebon dan masing-masing menganggap Ki Darma sebagai musuh besarnya?" tanya Ginggi heran.
Ditanya seperti itu, kembali Ki Rangga Guna menghela napas.
Dia menunduk sejenak dan memijat-mijat jidatnya.
"Yah, akhirnya memang Ki Guru Darma dimusuhi oleh dua kekuatan besar.
Sudah jelas bahwa Pasukan Banten, Cirebon, bahkan Demak menganggap Ki Guru sebagai musuh besar, sebab beberapa kali penyerangan mereka ke Pakuan bisa ditepis.