Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 47

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 47

"Dan itu kesemuanya karena taktik dan siasat perang yang dibangun Ki Guru," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi, mengapa akhirnya Ki Darma dimusuhi oleh satu kekuatan besar lainnya, padahal telah dengan susah payah dia bela dan dia pertahankan? Mengapa Ki Darma yang begitu berjasa malah dikejar-kejar?" Ginggi penasaran dan memotong ucapan Ki Rangga Guna dengan tidak sabar.

"Yah, itulah. Ki Guru Darma akhirnya menjadi korban pendiriannya sendiri," gumam Ki Rangga Guna.

Ginggi ingin mendapatkan penjelasan lebih gamblang. Untuk itu, dia meminta Ki Rangga Guna membeberkan kembali semuanya dengan sejelas-jelasnya. Ki Rangga Guna akhirnya meriwayatkan perihal penyebab Ki Darma menjadi buronan.

"Ki Darma Tunggara sejak muda belia telah mengabdikan diri ke Pakuan sebagai prajurit. Jadi, sudah barang tentu pembelaan dirinya terhadap negara dilakukan melalui upaya menjaga keberadaan negara dari gangguan musuh. Yang dimaksud bekerja untuk negara bagi Ki Darma adalah mempertaruhkan badan dan nyawa dalam setiap peperangan. Namun kendati begitu, Ki Darma bukanlah perwira yang gila perang. Kejayaan negeri menurut Ki Darma adalah bagaikan harimau. Sifat harimau menurut Ki Darma tidak serakah; dia hanya makan selagi lapar. Kalau tidak lapar, dia tidak akan makan dan tidak membunuh mangsa. Harimau pantang berkelahi dan akan selalu menghindari lawan. Tapi kalau harimau diganggu, maka dia pantang menyerah."

"Ki Darma selama menjadi perwira sudah kenyang berdiri di medan pertempuran. Ketika masih menjadi prajurit di bawah kepemimpinan Sang Prabu Sri Baduga, Ki Darma ikut dalam pertempuran-pertempuran kecil melawan Cirebon. Ketika Pakuan dipimpin Sang Prabu Surawisesa, Ki Darma bahkan lebih matang lagi meraup pengalaman bertempur. Selama Sang Prabu Surawisesa memerintah hampir empat belas tahun lamanya, terjadi lima belas kali pertempuran besar melawan Banten dan Cirebon. Di sini, Ki Darma mulai lelah bertempur dan berani mengkritik raja."

"Menurut Ki Darma, sebaiknya kita bertempur hanya ketika kita diserang saja. Pasukan yang lengkap dan sikap pemberani menurut Ki Darma lebih baik digunakan untuk membela diri semata. Tapi menurut kebanyakan perwira dan juga raja, kebesaran negeri juga tercipta bila sanggup menepiskan berbagai kendala. Menurut raja, ketika Pajajaran belum diserang oleh Banten dan Cirebon, negara ini kuat di lautan. Sebelum Pelabuhan Sunda Kalapa direbut Banten dan Cirebon, Pajajaran melakukan komunikasi dagang dengan bangsa asing melalui Kalapa. Namun sesudah pelabuhan besar itu dikuasai Banten dan Cirebon, tertutuplah hubungan ekonomi dengan negara-negara seberang lautan. Hal ini amat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri. Itulah sebabnya, pasukan Pajajaran beberapa kali sempat mencoba merebut Pelabuhan Kalapa, namun sejauh itu tak pernah berhasil," tutur Ki Rangga Guna.

Menurut Ki Rangga Guna, Ki Darma memang selalu melontarkan kritik. Namun kendati begitu, dia tetap berlaku sebagai prajurit sejati yang taat kepada perintah. Ki Darma selalu berupaya melumpuhkan kekuatan musuh dengan cara membentuk pasukan kecil yang terdiri dari perwira-perwira pilihan. Mereka secara rahasia kerap kali mengganggu pusat-pusat kekuatan musuh.

Ketika pemerintahan berpindah dari Sang Prabu Surawisesa kepada Sang Prabu Ratu Dewata, sikap raja ini sangat bertolak belakang dengan pendahulunya. Bila Sang Prabu Surawisesa bisa dikatakan gemar berperang, Sang Prabu Ratu Dewata justru memiliki kegemaran mengurung diri di kuil bersama para wiku istana. Melihat kenyataan ini, Ki Darma pun tetap tidak puas dan tetap melakukan kritik. Dikatakannya, raja selalu lemah memimpin negara, padahal bahaya serbuan musuh tetap mengancam.

Dan terbukti, terjadi penyerbuan besar-besaran ke pusat pemerintahan oleh pasukan Banten. Perang besar pecah di alun-alun benteng luar. Hanya karena kegagahan seribu perwira pengawal raja, istana tidak berhasil ditembus. Kedaton Sri Bima Untarayana Madura Suradipati selamat dari serangan musuh, tetapi ratusan perwira pilihan menjadi tumbal negara.

Ki Darma Tunggara yang lolos dari maut tidak mendapatkan penghargaan yang layak atas jerih payahnya mempertahankan istana. Dia malah dicurigai oleh kalangan pejabat sebagai pengkhianat.

"Mengapa dituduh pengkhianat?" tanya Ginggi heran.

"Itulah karena kepandaian Ki Guru Darma meramal kejadian yang bakal berlangsung," kata Ki Rangga Guna. Mulanya, pejabat istana ragu akan kepandaian Ki Darma ini. Ketika naluri Ki Darma mengatakan akan adanya bahaya, hampir semua orang tidak percaya. Beberapa pejabat mengatakan Ki Darma hanya mengada-ada karena benaknya selalu dirasuki hawa peperangan. Sebagian lagi mengatakan mustahil ada penyerangan musuh ke pedalaman. Selama berpuluh-puluh tahun, musuh memang tidak pernah melakukan penyerbuan langsung ke pusat istana.

Pasukan Pakuan memang kerap kali gagal melakukan serangan ke pesisir utara karena pasukan musuh di pantai memiliki senjata api berupa meriam. Namun sebaliknya, pasukan musuh tidak berani mengejar sampai ke pedalaman sebab pasukan Pakuan lebih berpengalaman melakukan pertempuran di wilayahnya sendiri. Namun hari itu, kenyataan membuktikan lain. Pasukan Banten ternyata berani menyerbu langsung ke pusat pemerintahan dan hampir berhasil merebut pusat pemerintahan Pakuan itu.

Ki Darma tetap tidak dipercaya memiliki naluri untuk meramal kejadian yang bersifat marabahaya. Dia dituduh sebagai perwira yang gila perang dan kesal melihat raja yang kerjanya mengurung diri di tempat suci. Saking inginnya dipercaya bahwa negara selalu ada dalam bahaya perang, Ki Darma dituduh sengaja "mengundang" musuh agar segera terjadi pertempuran.

"Tentu saja ini amat berkebalikan dengan kejadian sebelumnya. Kalau di zaman Sang Prabu Surawisesa Ki Darma dituding menolak perang, maka di zaman Sang Prabu Ratu Dewata, dia malah dituduh sebagai perwira yang gila perang!" kata Ki Rangga Guna.

"Benar-benar keliru," gumam Ginggi kesal.

"Tiga tahun sebelum Sang Prabu Ratu Dewata diganti oleh putranya, Sang Ratu Sakti, Ki Darma mengundurkan diri dari semua kegiatan di Pakuan. Dia melakukan pengembaraan ke mana saja, dan saat itulah Ki Darma mengambil murid sampai empat orang, kendati antara satu dengan yang lainnya memiliki masa yang berbeda. Satu dengan lainnya tak pernah saling kenal, kecuali aku dan adikku saja," kata Ki Rangga Guna. "Dua murid terdahulu sudah berpisah dengan Ki Darma selama lima tahun ketika aku dan adikku, Rangga Wisesa, diambil sebagai murid oleh Ki Guru," tuturnya.

"Dan sesudah Ki Darma melepas kalian tiga atau empat tahun, baru Ki Darma membawaku ke Puncak Cakrabuana," kata Ginggi menjelaskan.

Ki Rangga Guna melengkapi ceritanya. Ternyata, setelah Ki Darma melepaskan masalah kenegaraan, urusannya tidak lantas menjadi lebih ringan. Marabahaya bahkan datang lebih mengancam. Ketika masih berada di istana, bahaya seberat apa pun masih bisa ditanggulangi bersama para perwira lain. Tapi sesudah Ki Darma menjadi warga sipil, sudah tidak ada lagi pengawalan kekuatan lain di luar dirinya.

Pasukan musuh tahu betul bahwa Ki Darma adalah perwira tangguh yang banyak merugikan mereka karena siasat perangnya. Sekarang, setelah Ki Darma tidak memiliki pasukan, pihak musuh berupaya untuk membalas dendam. Ki Darma dikejar-kejar tentara musuh bila pengembaraannya tiba di wilayah utara. Semua perwira musuh bahkan seperti berlomba untuk menangkapnya.

"Aku sendiri mengalaminya. Ketika tengah bersama Ki Guru melakukan perjalanan di wilayah Caringin, kami dikepung pasukan Cirebon. Ki Darma banyak membunuh prajurit musuh. Hanya anehnya, pihak Cirebon seperti tidak berniat mengambil nyawa Ki Guru. Sepertinya mereka hanya ingin menangkapnya saja. Kalau tujuan mereka mengepung Ki Darma untuk membunuhnya, hari itu tidak mungkin kami berdua bisa lolos dari kepungan," kata Ki Rangga Guna dengan nada heran.

"Tidakkah mereka akan memanfaatkan tenaga Ki Darma? Bukankah Ki Darma dikenal musuh sebagai ahli siasat perang?" tanya Ginggi.

Ki Rangga Guna termenung sebentar lalu mengangguk-angguk. "Bisa juga begitu," ucapnya pelan.

"Jika begitu, barangkali Ki Darma tidak dianggap musuh besar bagi pasukan Cirebon!" kata Ginggi.

Ki Rangga Guna terdiam. "Entahlah, aku tidak bisa meraba maksud sebenarnya dari pihak musuh. Yang jelas, setiap kali kami bertemu pihak musuh, selama itu pula kami dikejar dan dikepung. Aku dan Ki Guru dalam upaya membuka kepungan terpaksa harus melakukan pembunuhan. Nah, kalau ternyata kami selalu membunuh, apakah mereka tetap akan menarik Ki Guru sebagai sekutunya?" tanya Ki Rangga Guna.

Ginggi tidak bisa memberikan komentarnya.

"Yang jelas, hidup Ki Darma semakin sulit sesudah dia berhenti dan mengundurkan diri dari istana. Pihak yang ditinggalkan merasa tidak senang, bahkan lebih dari itu mereka merasa dikhianati. Puncak marabahaya bagi Ki Guru Darma adalah ketika pucuk pemerintahan di Pakuan dipegang oleh Sang Prabu Ratu Sakti yang kini memerintah. Sang Prabu Ratu Sakti bahkan lebih keras dari raja-raja sebelumnya. Pakuan langsung mengumumkan bahwa Ki Guru Darma adalah seorang pengkhianat yang berbahaya bagi negara. Barang siapa menemukannya mati atau hidup akan diberi hadiah," kata Ki Rangga Guna.

Melihat bahaya seperti ini, Ki Guru Darma menyuruh kami berpencar dan melarang kami mengaku sebagai murid Ki Darma. Ki Guru Darma nampak agak kecewa dengan kepemimpinan raja yang sekarang. Bukan karena Sang Prabu Ratu Sakti berniat membunuhnya, tetapi yang mengecewakan Ki Guru adalah karena raja yang sekarang bertindak keras terhadap rakyat. Barang siapa ketahuan tidak menaati kebijaksanaannya, mereka akan ditindak. Itulah sebabnya di beberapa daerah timbul pemberontakan," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk mendengar ucapan Ki Rangga Guna. "Aku memang bukan muridnya, Paman," gumam Ginggi.

Ki Rangga Guna pun menghela napas. "Entah apa sebabnya Ki Guru Darma tidak mengangkat atau mengakuimu sebagai muridnya yang sah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment