Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 48

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 48

Namun, apa pun yang terjadi, kenyataannya Ki Guru memberikan berbagai ilmu kepandaian kepadamu.

"Berarti kau harus mengakuinya sebagai guru, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengangguk tanda setuju.

"Barangkali hatiku pun sudah mengakuinya, Paman. Kalau tak begitu, tak mungkin aku mau melaksanakan amanatnya," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menoleh.

"Aku harus mencari keempat muridnya dan aku harus mengikuti petunjuk para muridnya dalam upaya membela rakyat Pajajaran dari tekanan raja," kata Ginggi menatap Ki Rangga Guna.

Yang ditatap hanya termenung lesu.

"Sekarang aku sudah bertemu denganmu. Mungkin kau tahu apa yang harus aku lakukan seperti kehendak Guru," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna masih tampak diam, sehingga Ginggi perlu berkata sekali lagi.

"Entahlah, anak muda. Aku sendiri pun bingung memikirkannya," kata Ki Rangga Guna pada akhirnya, yang membuat Ginggi heran.

Ki Rangga Guna bangun dari duduknya. Dia berdiri berpangku tangan. Matanya memandang ke pedataran di bawah bukit. Pedataran itu amat luas. Beberapa terdiri dari rawa-rawa, sebagian lagi hanya berupa semak dan tumbuhan perdu. Ada sekelompok burung bangau terbang di atas rawa. Sesekali mereka menukik menusuk permukaan air rawa dan terbang lagi sesudah paruhnya mengapit ikan kecil.

"Sebelum aku dilepas, Ki Guru memang memberikan amanat serupa. Tapi kau lihatlah, bagaimana kesanmu melihat adikku, Ki Rangga Wisesa? Membuatku malu saja," gumamnya sedih.

Dia pandang lagi bongkahan-bongkahan reruntuhan gua kapur. Ki Rangga Wisesa ada di sana, mungkin terkubur untuk selama-lamanya.

"Aku juga amat menyesalkan kejadian ini, Paman. Tapi mengapa hal ini bisa sampai terjadi?" tanya Ginggi.

"Adik kembarku tersiksa oleh perasaan iri dan sakit hati. Kami berdua dulu adalah rakyat Kerajaan Talaga. Ketika Talaga diperangi Cirebon, keluargaku termasuk orang Talaga yang menolak masuk keyakinan baru. Maka terjadi peperangan dan kami ada di pihak yang kalah. Kami dua saudara kembar melarikan diri dan akhirnya diambil murid oleh Ki Guru Darma. Namun, selama Ki Guru memberi pelajaran, dia menunjukkan perbedaan sikap pada kami berdua. Entah perangai apa yang terdapat pada adikku. Yang jelas, Ki Guru nampaknya lebih mempercayaiku ketimbang adikku. Bila ada sesuatu yang harus dirundingkan, maka Ki Guru merundingkannya denganku. Bila Ki Guru memerintahkan sesuatu yang dianggap penting, maka hanya akulah yang ditugaskan. Secara diam-diam, Ki Guru memberikan ilmu yang tak diberikan kepada adikku. Aku heran dan tak enak dengan perlakuan ini. Maka, aku tanyakan kepada Ki Guru, tapi dia hanya berkata bahwa kelak pun aku akan tahu. Secara diam-diam, ilmu yang didapat dari Ki Guru aku sampaikan dan latihkan kepada adikku. Tapi adikku bukannya berterima kasih, malah memendam kemarahan. Sampai pada suatu saat kami berpisah, rasa sakit hati adikku tak terobati lagi," kata Ki Rangga Guna.

"Dan rasa sakit hati ini dia lampiaskan dengan melakukan serangkaian kejahatan. Mencuri mayat bayi dan memperkosa wanita," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menundukkan muka.

"Barangkali mencuri mayat bayi dan memperkosa gadis bukan maksudnya berbuat kejahatan," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengerutkan dahi.

"Ya, itu pengakuan adikku. Dia melakukan itu karena keperluan tertentu. Kerap kali dia memperkosa gadis bukan karena dia gila perempuan, tapi karena ingin menyempurnakan ilmu sihir yang tengah dia pelajari. Begitu pun halnya dengan pencurian mayat bayi. Semua dilakukan demi penyempurnaan ilmu sesatnya itu," kata Ki Rangga Guna.

"Kesalahannya memang terletak padaku dan Ki Guru. Kami telah membuat dia sakit hati. Dan agar dia memiliki kepandaian yang sekiranya bisa mengalahkan aku, dia kerjakan cara apa saja, termasuk mempelajari ilmu sesat," ungkapnya.

"Ya, Ki Rangga Wisesa ingin membalas dendam padamu, Paman. Terbukti, selama ini dia mempergunakan namamu dalam melakukan kejahatannya sehingga semua orang mengejarmu," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna mengangguk-angguk mengiyakan.

"Tapi kalau benar engkau tak bersalah, mengapa setiap kau dikejar dan dikeroyok kau tak pernah menerangkan hal yang sebenarnya?"

"Percuma, sebab persamaan wajah kami menyulitkan sanggahanku. Semua orang tak mau percaya bila aku memungkirinya. Maka tak ada jalan lain selain aku menangkap adikku sendiri. Sekarang adikku sudah mati dan tak akan berbuat kejahatan lagi. Tapi kedudukanku tetap tak berubah, namaku tetap jelek. Dengan kematian adikku, aku semakin tak mungkin membuktikan bahwa diriku tak bersalah," kata Ki Rangga Guna.

"Aku menyesal dengan kematian adikku. Seharusnya dia tak perlu mati. Orang berlaku jahat bukan karena badannya, tapi karena pikirannya yang sedang sakit. Jadi untuk memberantas kejahatan, sebetulnya bukan membunuh orangnya, tapi mengobati jiwanya itu," kata Ki Rangga Guna mengeluh.

"Engkau tidak membunuh saudaramu, Paman!" kata Ginggi menghibur. Tapi Ki Rangga Guna tetap sedih dengan peristiwa ini.

Menjelang siang, perut Ginggi terasa lapar. Meniru burung bangau, kedua orang itu mencoba mencari ikan di rawa-rawa. Tidak begitu sulit, sebab dengan kepandaian mereka, ikan-ikan di rawa terasa begitu mudah ditangkap. Di tepi bukit, mereka membakar ikan gabus atau bogo. Makan tanpa banyak bicara karena Ki Rangga Guna nampaknya masih diliputi kesedihan atas kematian saudaranya.

Sesudah rasa lapar di perutnya menghilang, Ginggi kembali bertanya perihal rencana selanjutnya, terutama yang erat kaitannya dengan tugas yang dibebankan Ki Darma. Namun, untuk yang kesekian kalinya, Ki Rangga Guna hanya mengeluh.

"Berpayah-payah aku mencari murid-murid Ki Darma, sudah tiga orang aku temukan. Tapi nyatanya tak seorang pun yang membuatku percaya," kata Ginggi pada akhirnya.

Ki Rangga Guna menatap Ginggi dengan penuh perhatian.

"Siapa yang kau temukan selain kami berdua, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna penuh minat.

"Aku temukan juga Ki Banaspati."

"Ki Banaspati? Itulah murid pertama Ki Guru. Tolong pertemukan aku, sebab selama ini aku belum pernah bersua!" kata Ki Rangga Guna.

Giliran pemuda ini yang kini menunduk lesu.

"Kau seperti tak berselera memperbincangkan Ki Banaspati, anak muda," kata Ki Rangga Guna penuh selidik.

"Ya, kau akan mudah menemukan Ki Banaspati, Paman. Dia orang berpengaruh. Paling tidak di wilayah Kandagalante Sagaraherang," kata Ginggi sambil termangu-mangu.

Ki Rangga Guna terus mengamatinya.

"Dia jadi orang berpengaruh?" tanya Ki Rangga Guna penuh perhatian.

"Betul," ujar Ginggi. "Tapi aku heran, mengapa Paman belum pernah bertemu atau pun mendengar perihalnya? Kalau aku pernah tak tahu, itu wajar, sebab sejak kecil aku hanya bersama Ki Darma di puncak gunung yang sunyi. Tapi kau lain lagi. Kau tak pernah hidup menyepi dan pekerjaanmu tentu berkelana," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna mengangguk-angguk.

"Benar, selama ini aku berkelana, tapi aku pergi jauh dari Pajajaran. Biar nanti aku ceritakan perihalku. Sekarang lebih baik kau terangkan Ki Banaspati," kata Ki Rangga Guna mendesak.

Dengan perasaan enggan, terpaksa pemuda itu menerangkan perihal Ki Banaspati, termasuk penilaian dirinya terhadap orang itu. Dengan panjang lebar, Ginggi menerangkan betapa Ki Banaspati telah menjadi orang terpandang. Di Pakuan sebagai pembantu utama muhara (petugas penarik pajak negara). Juga di wilayah Kandagalante Sagaraherang, menjadi semacam penasihat kandagalante itu. Dikatakannya pula, betapa sebetulnya dia merasa curiga akan tindak-tanduk Ki Banaspati sebab seperti menyembunyikan suatu misteri.

"Ki Banaspati mengatakan bahwa selama ini dia tetap setia kepada amanat Ki Darma dalam perjuangan membela rakyat. Tapi aku pikir, cita-citanya terlalu jauh. Yang dimaksud perjuangan demi kepentingan rakyat olehnya adalah berupaya membentuk satu kekuatan untuk menjatuhkan raja, dan kemudian kelak akan digantikan olehnya!" kata Ginggi.

Mendengar penjelasan ini, Ki Rangga Guna termenung. Beberapa kali alisnya tampak berkerut. Beberapa kali pula tampak matanya kian menyipit. Dan sambil berpangku tangan, sesekali dia berjalan ke kiri, sesekali berjalan juga ke kanan.

"Ini pemberontakan namanya!" gumamnya agak keras.

"Pemberontakan?"

"Ya, melawan pemerintahan yang sah adalah pemberontakan namanya. Orang yang memberontak selalu mempunyai nama buruk," kata Ki Rangga Guna.

"Sekalipun bertujuan membela rakyat, Paman?" tanya Ginggi.

Ditanya demikian, Ki Rangga Guna termenung.

"Entahlah, mungkin benar ia berjuang demi rakyat," kata Ki Rangga Guna. "Tapi tak kurang yang berdalih demi kepentingan rakyat, padahal rakyat sebenarnya hanya dianggap modal untuk melicinkan cita-cita pribadinya," kata Ki Rangga Guna lagi.

"Aku mengkhawatirkan, itu yang menjadi tujuan sebenarnya dari Ki Banaspati. Dia bermain api. Mencoba membujuk dan mempengaruhi Kandagalante Sunda Sembawa agar berambisi merebut takhta, tapi yang sebenarnya Ki Sunda Sembawa dikendalikan untuk kepentingan Ki Banaspati itu sendiri," kata Ginggi memperkirakan siasat Ki Banaspati.

"Benar-benar berbahaya bila begitu!" Ki Rangga Guna berseru saking terkejutnya mendengar penjelasan itu.

"Ya, dan ini mengecewakan. Semuanya... semuanya..." gumam Ginggi dengan nada keluhan.

Mereka terdiam sejenak, sepertinya tengah asyik dengan lamunannya masing-masing. Namun kemudian, terdengar kekeh Ki Rangga Guna. Suara tawa penuh kepahitan. Mendengar tawa ini, Ginggi berjingkat dan berdiri.

"Aku mau pulang ke Puncak Cakrabuana..." kata pemuda itu pendek.

Ki Rangga Guna menatap pemuda itu dengan pandangan kosong.

"Bagaimana dengan amanat Ki Guru?" tanyanya.

"Ya, aku ingat betul. Jangan kembali sebelum tugas selesai," jawab Ginggi teringat kembali pesan Ki Darma.

"Ya, itu juga yang dikatakan Ki Guru padaku. Sekarang aku tak mau pulang..."

"Ya, mungkin tak bisa pulang karena engkau tak mau melaksanakan perintah gurumu!" kata Ginggi ketus dan akan segera beranjak pergi.

"Lantas kau sendiri pulang untuk apa, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment