Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 49

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 49

Sekarang ada yang lebih kupikirkan ketimbang urusan besar yang aku sendiri tak sanggup mengerjakannya. Berita yang disampaikan Ki Rangga Wisesa amat merisaukan diriku.

"Malam kedua belas perjalanan bulan keenam," aku ingat kembali.

Sehari sebelumnya, Ki Darma memerintahkan aku supaya pergi. Kalau benar malam kedua belas itu hari penyerbuan Cirebon dan Pakuan ke Puncak Cakrabuana, aku berdosa kepada Ki Darma. Dia kubiarkan menghadapi marabahaya sendirian, sedang aku—sedang aku?—pemuda itu tak melanjutkan omongannya.

"Kau tak berdosa. Bahkan Ki Darma sendiri yang akan merasa berdosa bila membiarkan kau terlibat bentrokan di puncak. Dia mengorbankan engkau yang belum tahu permasalahan sebenarnya," kata Ki Rangga Guna.

"Bukan itu yang kupikirkan!" teriak Ginggi, benci kepada jalan pikirannya sendiri.

Ya, dia membenci dirinya sendiri. Ketika Ki Darma tengah menghadapi marabahaya, bukankah dia sedang asyik masyuk bersama Nyi Santimi di bukit kecil Desa Cae? Terbayang ketika itu, Ki Darma di Puncak Cakrabuana tengah bergumul mempertahankan nyawa, sedangkan dia bergumul mempermainkan berahi. Aku berdosa, kutuknya dalam hati sambil menggetok ubun-ubunnya sendiri.

"Ki Guru tahu mana kepentingan yang harus dia jaga. Membiarkan engkau terlibat urusan di puncak berarti memutuskan perjuangan dan cita-citanya membela Pajajaran. Sebab, kalau kau ikut menjadi korban di Puncak Cakrabuana bersamanya, putus pulalah cita-citanya!" kata Ki Rangga Guna meyakinkan, tapi tetap saja dengan suara yang terdengar pilu.

"Apa bedanya dengan sekarang? Toh, biarpun aku selamat, tetap saja tak bisa melaksanakan amanatnya. Orang-orang yang sengaja aku hubungi seperti perintah Ki Darma, tidak satu pun yang membuatku lega. Barangkali Ki Darma pun akan kecewa bila dia masih hidup!" teriak Ginggi kesal.

"Plak!" Ki Rangga Guna melayangkan telapak tangannya menempeleng Ginggi. Pemuda itu langsung terjajar dan menimpa bongkahan-bongkahan batu kapur. Tidak menderita luka, tapi Ginggi terkejut setengah mati sebab dia tak menyangka sama sekali bahwa Ki Rangga Guna akan menyerang secara tiba-tiba.

"Ayo, bunuhlah aku, Paman! Kepandaianmu jauh lebih tinggi ketimbang aku. Tapi aku tak malu mati kendati belum menunaikan tugas. Beda sekali dengan kau, Paman; hidup dengan memiliki kepandaian tapi tak pernah memanfaatkan kepandaian itu sendiri untuk membalas kebaikan gurumu!" teriak Ginggi marah dan kesal.

"Kau manusia tolol tapi sombong!" kini Ki Rangga Guna balas membentak. Dia menghambur ke arah Ginggi dan pemuda itu memejamkan mata, sepertinya pasrah untuk mati hari itu. Tapi Ki Rangga Guna tak melancarkan pukulan, kecuali meraih pakaian pemuda itu di bagian dada dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Ocehan-ocehanmu serasa menghina dan merendahkan aku, anak dungu! Sangkamu, kau ini apa? Apa saja yang kau lakukan sejak turun gunung selain mencari-cari kami? Dan apakah kau tahu apa sebenarnya yang aku lakukan selama belasan tahun mengembara? Dengarlah, anak picik! Belasan tahun aku melaksanakan perintah Ki Guru. Belasan tahun aku dikejar dan diburu oleh siapa saja karena aku murid Ki Darma. Aku juga dituding pengkhianat! Semua yang ada hubungan dengan Ki Darma sama diperlakukan sebagai pengkhianat! Kau dengar itu, hai manusia tak punya guna!" teriak Ki Rangga Guna menunjuk-nunjuk hidung pemuda itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya masih mencengkeram pakaian Ginggi.

"Pekerjaan yang engkau laksanakan tak seberapa, demikian juga penderitaanmu. Tapi kau berani mengeluh bahkan menyesali tindakan orang lain, seolah-olah tindakanmu bagus dan berarti bagi Ki Guru. Kau sesali pula tindakan Ki Banaspati. Padahal, sejelek apa pun dia bekerja, toh dia sudah melakukan sesuatu untuk berupaya mengubah keadaan di Pajajaran. Huh, dasar bocah cengeng!" teriak Ki Rangga Guna geram.

Tubuh pemuda itu ia lontarkan dan untuk yang kedua kalinya menimpa bongkahan batu kapur. Ginggi menjerit dan melolong-lolong. Bukan karena rasa sakit di punggung akibat dua kali menimpa bongkahan batu kapur, tapi karena rasa sakit yang ada di hatinya. Benarkah dia manusia tak ada guna yang kerjanya hanya menuding keburukan orang lain? Ginggi menjambak-jambak rambutnya untuk mengimbangi rasa sakit di hatinya.

"Ya, betul, Paman. Aku manusia tiada guna. Aku tak punya harga diri! Aku tak punya rasa malu! Oh, aku harus mati karena ini!" teriaknya sambil mengangkat sebongkah batu untuk kemudian ditimpakan ke kepalanya.

Ki Rangga Guna sudah menggerakkan sepasang tangannya dan mendorong benda berat itu jauh-jauh.

"Hm, enak saja bunuh diri. Bila kau bunuh diri, kau adalah orang licik dan pengecut. Merasa diri tak ada harganya tapi bukan berusaha mendapatkan harga diri itu, malah lari dari tanggung jawab!" omel Ki Rangga Guna kesal.

"Aku bodoh! Aku tak punya kemampuan. Bagaimana mungkin bisa melakukan sesuatu yang berarti?" tanya Ginggi mengeluh.

"Kalau kau sudah punya pertanyaan seperti itu, maka sebetulnya sudah didapat jawabannya. Agar kau mampu melakukan sesuatu, maka belajarlah untuk mampu melakukan sesuatu. Banyak cara untuk meraihnya, yaitu dengan memiliki kemauan untuk belajar. Ingin pandai berenang, belajarlah pada itik. Ingin pandai terbang, belajarlah pada burung. Asal kau sanggup memilih guru yang tepat dan sanggup belajar dengan keras, tak ada sesuatu yang tak bisa kau kerjakan, termasuk melaksanakan amanat dan perintah Ki Guru Darma!" kata Ki Rangga Guna. Ginggi menunduk lesu mendengar perkataan Ki Rangga Guna ini.

Ki Rangga Guna terus berkata-kata sambil berdiri membelakangi dan berpangku tangan. "Jangan menganggap aku juga tak sedih dengan berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling ini. Kau lihat adikku, dia begitu jahatnya, begitu memalukannya. Dia orang putus asa. Ada rasa sakit hati terhadap perlakuan di sekelilingnya. Dia sakit hati terhadap guru. Dia pun sakit hati terhadap situasi negara. Akhirnya frustrasi dan mengacuhkan etika hidup. Kalau kita ikut tenggelam terbawa hanyut pengaruh-pengaruh yang mengungkungi hidup, maka kita pun tak ada beda dengan yang lain. Sama tak ada guna dan sama memalukan. Padahal, Ki Guru Darma sudah memberikan amanatnya yang kesemuanya harus kita junjung tinggi," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk lama sekali. Namun, pada akhirnya dia mengangguk-angguk tanda mengerti akan ucapan Ki Rangga Guna.

"Maafkan kedunguanku, Paman," kata Ginggi pada akhirnya.

"Nah, bagus bila begitu. Meminta maaf berarti akan berusaha memperbaiki sesuatu yang keliru. Aku senang mendengarnya, anak muda," kata Ki Rangga Guna pada pemuda itu.

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan dalam memenuhi amanat Ki Darma?" tanya Ginggi sambil membenahi pakaian yang awut-awutan dan mulai duduk dengan benar.

Kembali Ki Rangga Guna menghela napas, sesuatu yang sebetulnya membuat Ginggi tidak senang. Dan perasaan pemuda ini sebetulnya terasa benar oleh Ki Rangga Guna.

"Setiap kau tanya itu aku mengeluh. Tapi bukan berarti aku ingin menghindar dari pertanyaan itu, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengarahkan matanya ke tempat lain setelah merasa isi hatinya teraba oleh Ki Rangga Guna.

"Begitu beratnya amanat Ki Guru itu," kata Ki Rangga Guna.

Dikatakannya, dulu tugas yang diberikan Ki Darma terhadapnya dan terhadap ketiga muridnya lebih terarah dan jelas. Semuanya harus memperhatikan nasib rakyat dari tekanan Sang Prabu Ratu Sakti. Sang Prabu Ratu Sakti ini selalu bertindak keras dan mudah menghukum siapa saja yang dianggapnya bersalah. Karena negara butuh biaya besar untuk mengembalikan kekuatannya seperti masa-masa silam, Sang Prabu terpaksa menarik pajak tinggi kepada rakyat. Akibatnya, hidup rakyat cukup menderita. Kendati hasil ladang melimpah dan hasil sungai tak pernah surut, rakyat tak pernah kaya sebab hasil pekerjaannya banyak disedot untuk kepentingan negara.

Celakanya, tak semua harta rakyat masuk ke lumbung negara. Akibat kebijakan raja dalam menarik pajak, banyak pejabat berbuat serong dan mendompleng kepada kebiasaan raja.

"Semakin jauh dari pusat kekuasaan, penyelewengan semakin tak terkontrol. Bila di wilayah-wilayah yang dekat ke pusat pemerintahan rakyat disedot untuk membantu menegakkan kembali kebesaran negara, maka di wilayah yang jauh dari pusat, rakyat disedot untuk kepentingan pejabat yang memperkaya diri sendiri," kata Ki Rangga Guna.

Bersama adik kembarnya, Ki Rangga Wisesa, tahun-tahun pertama setelah dilepas Ki Guru Darma, mereka langsung terjun melaksanakan amanat guru. Kedua orang itu selalu berusaha mengacaukan petugas seba. Mereka sering merebut barang-barang yang sudah dikumpulkan petugas, untuk kemudian diberikan kepada rakyat lagi. Malah, kedua orang kembar itu tak segan-segan melakukan pencurian terhadap harta milik pejabat yang diduga kekayaan pribadinya diambil dari cara yang tidak benar. Kesemuanya dikembalikan kepada rakyat.

Tapi, tindakan ini terlalu kasar dan terlalu berani. Ini adalah pekerjaan yang penuh risiko, sebab bila terpergok, mereka diburu dan dikejar.

"Kami akhirnya menyesal sendiri berbuat seperti itu. Sesudah diketahui bahwa kami berdua murid-murid Ki Darma, Pasukan Pakuan memburu kami sebagai pemberontak dan penjahat. Ki Darma juga semakin populer di Pakuan sebagai penjahat dan perampok yang memerintahkan murid-muridnya berbuat kejahatan kepada negara," kata Ki Rangga Guna.

Menurutnya, sesudah dikejar, diburu, dan dituduh pemberontak serta penjahat, hidup keduanya menjadi tak tenang lagi, sebab akhirnya rakyat pun ikut membenci dan memusuhinya. Situasi semakin menghimpit mereka. Di saat itulah hubungan saudara kembar menjadi pecah.

"Adikku mulai lelah dengan pekerjaannya sebab katanya tak pernah menguntungkan dirinya. Yang lebih parah dari itu, adikku menjadi benci terhadap Ki Guru. Hanya karena keinginan Ki Guru katanya yang menyebabkan hidupnya terombang-ambing dan selalu menghindar dari perburuan Pasukan Pakuan," kata Ki Rangga Guna.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment