Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 50

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 50

"Akhirnya kami bertengkar. Satu menyalahkan Ki Guru, satunya membela Ki Guru. Kataku, perintah Ki Guru tak salah. Yang salah kitalah sebagai pelaksana, mengapa memilih siasat kasar dan terlalu berani seperti itu. Adikku marah besar padaku. Katanya, aku membela guru, wajar karena disayang. Tapi dia menyalahkan guru juga wajar karena tak diperhatikan. Akhirnya, kami memilih jalan sendiri-sendiri," kata Ki Rangga Guna.

"Namun, kebijaksanaan Ki Guru benar," ujarnya. "Mengapa dia tak memberikan perhatian yang sama kepada saudara kembarku? Karena Ki Rangga Wisesa memiliki kelemahan batin. Iri, benci, dan selalu menyalahkan tindakan orang lain merupakan sisi lain dari kelemahan adikku. Tapi sisi lainnya, kelemahan itu adalah sesuatu yang amat berbahaya. Dia punya sikap tak acuh akan penilaian orang lain terhadap dirinya. Asalkan dia senang melakukannya, kendati orang lain menganggapnya salah, maka dia lakukan seenak perutnya sendiri. Kau sudah tahu, bukan, betapa selama ini dia melakukan kejahatan dan menimpakan kelakuannya padaku, sehingga akhirnya akulah yang dikejar-kejar?"

Ginggi terkesiap mendengar kalimat akhir dari Ki Rangga Guna ini. Katanya, adik kembarnya punya kelemahan yang amat membahayakan, yaitu selalu bersikap tak acuh terhadap penilaian umum. Kendati orang lain menganggapnya salah, bila dia senang melakukannya, maka dia lakukan pula. Ini mengingatkan Ginggi pada sikap hidupnya tempo hari. Bukankah dia pun pernah berprinsip seperti itu, tak acuh terhadap penilaian orang lain? Ginggi bergidik saat membayangkan bagaimana jika dia melakukan tindakan berbahaya dan merugikan orang lain hanya karena tak menggubris penilaian umum.

"Sesudah aku berpisah dengan saudara kembarku, maka segala sesuatu yang akan aku lakukan mengandalkan jalan pikiran dan gagasan sendiri saja," kata Ki Rangga Guna melanjutkan perkataannya. Menurutnya, pemerintah Pakuan membuat kebijakan menghimpun kekayaan rakyat untuk mengembalikan kejayaan negara karena negara ada dalam keadaan genting. Dulu, kekayaan negara lebih dititikberatkan kepada hasil perdagangan antar bangsa melalui Pelabuhan Kalapa dan wilayah pantai lainnya. Tapi sekarang, sesudah wilayah utara dikuasai Banten dan Cirebon, Pakuan sudah tak bisa melakukan hubungan dagang lagi dengan negeri seberang.

"Maka aku pikir, penyebab dari kesemuanya adalah negara-negara yang telah menggempur dan merebut wilayah-wilayah penting tersebut. Merekalah yang aku anggap salah. Maka kesanalah perhatianku sekarang," kata Ki Rangga Guna lagi. Karena tinggal di wilayah Pajajaran dia selalu dikejar dan diburu, maka Ki Rangga Guna segera pergi ke wilayah utara. Kerap kali dia menyusup ke wilayah musuh. Dengan mengambil risiko tinggi, Ki Rangga Guna menyerang pusat-pusat pertahanan Banten dan Cirebon.

"Para perwira Pajajaran adalah orang-orang tangguh dalam perkelahian. Ilmu mereka tinggi. Tapi bila harus menyerbu ke utara, mereka tak sanggup. Pasukan Banten dan Cirebon di wilayah itu berhasil merebut berbagai senjata api yang dulu dikuasai teman dagang Pakuan, yaitu bangsa-bangsa seberang lautan. Ada beberapa senjata api bernama meriam, dan orang Pakuan takut menghadapinya," kata Ki Rangga Guna.

"Meriam?" Ginggi bergumam, heran mendengar benda tersebut. Ki Rangga Guna menyebutnya sebagai senjata api. Tapi bagaimana rupanya dan sejauh mana kedahsyatannya, Ginggi tak bisa membayangkan.

"Meriam benar-benar dahsyat. Dia terbuat dari besi baja, bermoncong, serta bulat hampir sebesar batang kelapa. Kalau disulut api, moncong meriam yang sudah diisi peluru akan melontarkan peluru tersebut yang kelak berubah menjadi bola api amat besar. Para perwira Pakuan sepandai apa pun berkelahi, tidak akan sanggup mempergunakan kepandaiannya sebab keburu dihadang lontaran peluru. Peluru bola api itu terlontar ratusan bahkan ribuan depa jauhnya. Bisa kau bayangkan, anak muda, sebelum para perwira dan prajurit Pakuan berhadapan dengan musuh, mereka sudah dihantam bola-bola api. Banyak yang mati atau luka-luka berat karena bola api sanggup meledak dan mengoyak-ngoyak tubuh orang yang diserang. Satu terjangan bola api sanggup membunuh puluhan bahkan ratusan penyerang. Orang Pakuan kewalahan menghadapinya, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi melongo dan terkadang meleletkan lidah saking herannya mendengar kisah kehebatan senjata yang terbuat dari gelondongan besi baja itu.

"Benda aneh itu benar-benar sakti sekaligus mengerikan dan kejam, Paman?" kata Ginggi masih diliputi keheranan.

"Tapi aku berusaha melumpuhkan senjata-senjata itu," kata Ki Rangga Guna. "Dan aku bertekad begitu. Secara diam-diam aku menyelundup ke Pelabuhan Kalapa. Aku mencoba naik ke kapal milik pasukan Banten atau Cirebon. Aku coba jatuhkan benda jahat itu ke laut. Kalau senjata itu berada di benteng pelabuhan, maka aku coba rusakkan dengan cara lain."

Ginggi puas mendengarnya. Seolah-olah benar musuh akan segera lemah karena sejumlah meriam dilumpuhkan Ki Rangga Guna.

"Aku berhasil melumpuhkan senjata berat itu. Tapi ternyata masih lebih banyak lagi benda yang sama dikawal dan dilindungi keamanannya. Bila aku harus merusak benda itu, maka sebelumnya aku harus melakukan perkelahian terbuka dengan pihak musuh. Dan sesudah satu dua senjata ganas itu aku lumpuhkan, mereka menjadi tahu bahwa aku mengarahkan penyerbuan untuk melumpuhkan meriam. Akibatnya, penjagaan mereka terhadap benda berbahaya itu semakin ditingkatkan sehingga aku tak mungkin lagi mengganggunya. Sampai pada suatu saat, aku masuk ke dalam perangkap mereka. Aku dikepung untuk ditangkap hidup-hidup atau dibunuh sekalian. Beruntung aku bisa lolos dari kepungan dengan jalan menerjunkan diri ke tengah laut. Selama bertahun-tahun aku hanya bersembunyi di pulau-pulau kosong jauh di seberang Pelabuhan Kalapa. Aku bahkan terputus dari dunia luar dan tak tahu perkembangan Pajajaran selanjutnya."

"Sampai pada suatu saat aku bisa mendarat kembali ke pulau besar ini. Aku tadinya akan berusaha mencari dua murid Ki Guru Darma yaitu Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta yang tak pernah aku kenali baik wajah ataupun pekerjaannya. Baru hari ini saja melalui kau aku bisa tahu Ki Banaspati. Selama ini terpaksa aku harus main sembunyi karena aku tetap dikejar dan diburu, apalagi ketika aku diributkan sebagai tukang perkosa gadis," kata Ki Rangga Guna setengah mengeluh.

Ginggi menarik napas berat mendengar kisah Ki Rangga Guna. Pantas saja dia marah besar ketika Ginggi merasa kecewa terhadapnya, sebab menurut hematnya, Ki Rangga Guna sudah benar-benar melaksanakan tugas yang dibebankan Ki Darma dengan berat dan penuh penderitaan.

"Maafkan aku kalau begitu, Paman," kata Ginggi menunduk malu.

"Sudahlah, sebab hanya karena kita menyadari berbuat salahlah kita jadi tahu mana yang benar," kata Ki Rangga Guna sambil mengajak pemuda itu meninggalkan perbukitan kapur. Kedua orang itu turun berkelok-kelok menuruni bukit. Sebelumnya Ki Rangga Guna lama menatap ke arah bongkahan-bongkahan batu kapur yang menimbun dan menutup lubang gua.

"Kasihan saudara kembarku. Semoga Hyang mengampuni dosamu," gumam Ki Rangga Guna. Dia mengucapkan doa sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

"Aku akan kembali ke Puncak Cakrabuana untuk melihat nasib Ki Darma. Engkau akan ke mana, Paman?" kata Ginggi ketika sudah sampai di sebuah dataran rendah.

"Engkau jangan mudah digoncang kesedihan, anak muda. Kesedihan berlebihan hanya akan membuat tumpul pikiran saja," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi aku selalu ingat Ki Darma, aku khawatir akan nasibnya," kata Ginggi.

"Aku muridnya, aku juga sama khawatir akan nasib Ki Guru. Tapi bila kita pulang ke Cakrabuana, hanya akan mengulur-ngulur perintah guru saja, dan dia akan marah sekali," kata Ki Rangga Guna. "Peristiwa penyerbuan ke Puncak Cakrabuana bila benar dilakukan, itu terjadi hampir lima bulan lalu. Kita tak akan bisa mengubah atau mempengaruhi kejadian yang sudah berlangsung. Bila Ki Guru tewas dalam penyerbuan itu, kita tak bisa menolongnya. Ki Guru orang yang tak senang diperhatikan secara berlebih. Mati untuk sesuatu kepentingan yang lebih besar, baginya bukan soal. Itulah sebabnya Ki Guru memaksamu meninggalkan puncak. Ki Guru merasa lebih penting menyuruhmu pergi bergabung dengan kami ketimbang menahanmu tinggal di puncak hanya sekadar membantunya menyelamatkan diri dari serbuan musuh. Engkau harus selamat sebab diharapkan bisa melanjutkan perjuangannya, anak muda," kata Ki Rangga Guna menyeka keringat yang membasahi seluruh wajahnya.

Ginggi menunduk dan mengatupkan kedua matanya. Hatinya pedih sekali bila ternyata benar Ki Darma tewas dalam peristiwa penyerbuan ke puncak. "Aku berdosa, aku berdosa," keluhnya, sebab setiap kali teringat kematian Ki Darma, selalu juga terbayang perbuatan mesumnya dengan Nyi Santimi. Peristiwa mesum itu mungkin hampir bersamaan waktunya dengan hari-hari penyerbuan orang-orang Pakuan atau juga orang-orang Cirebon ke Puncak Cakrabuana.

"Sudahlah!" teriak Ki Rangga Guna kesal melihat kecengengan Ginggi. "Ki Guru menyuruhmu turun untuk menemui kami dan minta petunjuk perihal tugas-tugas selanjutnya. Sekarang kau sudah bisa bertemu denganku. Mari kita atur dan bagi tugas dalam melaksanakan perintah Ki Guru," lanjutnya.

Ginggi segera menepis pikiran-pikiran sedihnya. Dia mengangguk keras berdiri menghadap ke arah Ki Rangga Guna. "Aku siap menerima perintahmu, Paman!" katanya.

"Bagus!" kata Ki Rangga Guna gembira. Lelaki setengah baya itu mulai mengatur tugas. "Engkau harus melanjutkan perjalanan menuju Pakuan," kata Ki Rangga Guna. "Dan aku akan menuju Sagaraherang," lanjutnya lagi. Ki Rangga Guna mengatakan, ke Pakuan amat penting sebab harus meneliti pusat perkembangan pemerintahan ini. "Aku akan sulit menembus Pakuan, sebab semua perwira kerajaan sudah diperintahkan menangkapku hidup atau pun mati. Hanya engkau seorang murid Ki Guru Darma yang belum mereka kenal. Tapi hati-hati, di sana kau jangan sekali-kali membuka diri."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment