Chapter 51
"Jangan sampai dirimu diketahui orang lain punya hubungan dengan Ki Guru Darma," kata Ki Rangga Guna.
Ginggi mengangguk-angguk.
"Aku sendiri akan menyelidiki kegiatan Ki Banaspati. Aku juga harus tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Apakah benar kegiatannya untuk kepentingan rakyat ataukah hanya sekadar memenuhi ambisi pribadinya belaka?" kata Ki Rangga Guna.
"Bagaimana cara mengetahuinya, Paman?" tanya Ginggi.
Ki Rangga Guna merenung dalam. "Sulit menebak isi hati orang, sesulit mencari ujung langit," kata Ki Rangga Guna dengan bibir terkatup rapat.
"Mereka yang berjuang merebut kekuasaan selalu mengusung alasan demi rakyat. Begitu pun yang tengah berkuasa, dia memimpin negara demi rakyat. Sang Prabu Sakti bersikap keras terhadap rakyat tetap dengan alasan demi rakyat jua. Dia menginginkan rakyat yang taat kepada raja. Mentaati keinginan raja berarti mentaati keinginan negara. Bila semua rakyat setia terhadap negara, maka negara itu akan menjadi besar dan kuat. Kebesaran dan kekuatan sebuah negara akhirnya akan sanggup melindungi kepentingan rakyat. Jadi, semuanya akan terpulang kepada rakyat jua," kata Ki Rangga Guna.
"Bila begitu, pentingkah ada pemberontakan?" tanya Ginggi.
"Aku tidak bicara soal pemberontakan, anak muda. Tidak juga Ki Guru Darma. Ki Darma pergi dari istana karena dia tak setuju dengan kebijakan Raja. Ki Darma menganggap Raja keliru dalam memimpin. Tapi tidak berarti Ki Darma menginginkan ada pergantian raja. Hyang sudah mengatur segalanya, termasuk memilih seorang raja untuk memimpin negara. Kalau Hyang sudah memilih begitu, ada bahaya apa pun yang mengancam raja, karena sudah dipilih-Nya, raja akan tetap selamat. Hanya Hyang yang tahu saat kapan raja akan turun takhta dan bagaimana caranya raja akan tergantikan dengan yang baru," kata Ki Rangga Guna lagi.
"Oleh sebab itu, Ki Guru Darma tak bicara tentang pemberontakan. Dia tak pernah melawan raja dan negara. Setiap titah raja dia laksanakan dengan sebaik-baiknya, negara pun selalu dia bela dengan taruhan nyawa. Tapi Ki Guru Darma tahu, raja sedang sakit. Dan orang sakit bukan untuk dienyahkan, tapi harus diobati. Itulah sebabnya Ki Guru Darma selalu melontarkan kritik. Yang namanya obat memang tidak enak, tapi menyehatkan. Seharusnya kritik itu diibaratkan air bersih untuk mandi di saat kita sedang dekil. Kritik itu harus diibaratkan seperti kita sedang lapar diberi nasi."
"Kritik sebenarnya ibarat *galah cedek tinugelan teka* (galah sodok dipotong runcing). Galah sodok adalah semacam seligi atau bambu runcing. Makin pendek makin baik, karena kemungkinan patah makin berkurang. Artinya, kritik dapat memperkokoh dan mempertajam kemandirian seseorang. Begitu orang tua zaman Pajajaran dulu berbicara tentang pentingnya kritik. Tapi, ya barangkali orang zaman sekarang tak gemar menelan kritik, atau bisa juga karena orang zaman sekarang tak luwes melontarkan kritik sehingga datangnya amat menyakitkan. Kritik Ki Guru Darma, daripada diterima, malah orang yang melontarkan kritik itu sendiri dianggap melawan raja dan dianggap pemberontak," kata Ki Rangga Guna menghela napas.
Ginggi juga ikut menghela napas dalam-dalam. Dia prihatin oleh nasib buruk yang menimpa Ki Darma. Menurutnya, Ki Darma orang yang begitu cinta terhadap negara dan pengabdi setia terhadap Raja. Namun, rasa cinta dan pengabdian Ki Darma kurang diterima dengan baik oleh pemerintah.
Ginggi dan Ki Rangga Guna akhirnya membagi tugas. Ginggi harus pergi menuju Pakuan sebab akan banyak yang harus diselidiki di sana, sedangkan Ki Rangga Guna akan menyelidiki tindak-tanduk Ki Banaspati di Sagaraherang.
"Untuk sementara, lupakanlah nasib Ki Guru Darma. Kita harus berdoa untuk keselamatannya. Tapi bila Ki Guru ternyata sudah tiada, kita pun harus berdoa agar dirinya diterima di sisi-Nya," kata Ki Rangga Guna.
Ginggi mengangguk, kendati dia tak tahu bagaimana caranya melakukan doa. Ketika disampaikannya bahwa dia tak bisa berdoa dengan cara apa pun, Ki Rangga Guna hanya tersenyum pahit.
"Dahulu Ki Guru Darma seorang pengikut agama lama yang setia. Tapi hidupnya goncang dengan kehadiran agama baru, yang oleh pihak-pihak tertentu kehadiran agama baru tersebut dilibatkan dalam urusan politik. Entahlah, mengapa akhirnya dia tak memberi pengajaran agama padamu, anak muda," kata Ki Rangga Guna.
"Perlu benarkah seseorang memeluk sebuah agama?" tanya Ginggi.
"Manusia itu makhluk lemah. Kalau dia merasa sombong hanya karena dirinya lebih pandai dari makhluk lainnya, sebetulnya masih ada yang jauh lebih pintar darinya. Manusia hanya bisa membunuh sesamanya dan tak mampu berbuat kebalikannya, yaitu menghidupkan yang mati. Manusia hanya pandai merusak alam tapi tak sanggup menciptakan alam. Padahal alam terbentuk karena ada yang mencipta. Manusia bisa hidup pun karena ada yang menghidupkan. Dan manusia harus sadar, di atas dirinya ada suatu kekuatan yang menguasai hidupnya. Dialah yang harus kita sembah. Agama yang ada di dunia selain menyuruh kita berbuat kebajikan terhadap alam dan seisinya, juga harus berbuat hormat kepada Sang Pencipta. Itulah pentingnya kita beragama, anak muda!" kata Ki Rangga Guna menerangkan panjang lebar.
"Agama apa yang terbaik buatku?" tanya Ginggi penasaran.
Kembali Ki Rangga Guna tersenyum pahit. Namun kemudian dia menoleh dan memandang pemuda itu. "Barangkali tidak keliru Ki Guru Darma tidak memberikan ajaran agama padamu," ujar Ki Rangga Guna.
"Bila Ki Guru mengajarkan agama padamu, berarti dia akan mengajari agama yang diyakininya. Artinya, Ki Guru memaksakan kehendak agar kau memilih keyakinan yang telah diyakininya selama ini. Barangkali Ki Guru Darma tidak mau begitu. Dia akan membiarkan kau melakukan pencarian terhadap satu keyakinan. Tidak diberi oleh orang lain, tidak pula dipaksa oleh kehendak orang lain. Kalau pun sekarang kau membutuhkan agama, tentu Ki Guru Darma hanya mengharapkan agama yang kau dapatkan adalah agama yang benar-benar kau yakini sendiri kebenarannya. Barusan kau tanya padaku, agama apa yang kau anggap baik buatmu. Jawabannya bukan harus keluar dari mulut orang lain, namun dari keyakinan hatimu sendiri. Sekarang ada banyak agama terdapat di bumi Pajajaran ini. Alangkah bijaksananya bila semua orang memberi kebebasan kepada semua orang dalam memilih keyakinan beragama seperti yang diucapkan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja semasa memimpin Pajajaran mencapai puncak keemasannya," kata Ki Rangga Guna.
Ginggi menatap tajam Ki Rangga Guna.
"Sri Baduga Maharaja dulu tetap setia dengan keyakinan lama. Sebab menurutnya, tidak mudah orang berpindah agama dan keyakinan. Namun kendati begitu, beliau tak memaksakan kehendak agar semua rakyat ikut-ikutan bertahan dengan keyakinan yang dimiliki Raja. Sri Baduga Maharaja tidak melarang rakyat memilih agama. Yang beliau tidak suka adalah orang yang suka memilih-milih agama, dari agama yang satu ke agama yang lain, begitu seterusnya. Dan semua Raja Pajajaran, dari mulai Sri Baduga Maharaja sampai yang tengah memerintah sekarang, tetap setia terhadap kebijakan kebebasan berkeyakinan. Kendati negara berpegang kepada keyakinan lama, tapi Raja memberikan kemerdekaan kepada seluruh rakyatnya untuk memilih keyakinannya masing-masing," kata Ki Rangga Guna.
"Aku hingga kini setia kepada keyakinan lama tanpa ada orang yang memaksanya. Sekarang, aku pun tak berkehendak memaksakan keyakinanku pada orang lain. Aku bersyukur kau merasa perlunya kehadiran agama di hatimu. Soal keyakinan apa yang akan engkau pegang, jangan minta pendapat orang lain, tapi carilah olehmu sendiri. Pilihlah sebuah agama yang kau yakini bisa membawa keselamatan bagi dirimu sendiri, tapi sambil tidak merugikan keyakinan orang lain. Pilihlah sebuah agama yang membawa kebenaran pada dirimu sendiri, tapi sambil tidak menjelek-jelekkan keberadaan keyakinan agama lain. Kau harus bisa memilih agama yang secara sempurna bisa menjaga martabatmu dan bisa menyelamatkan dirimu, baik di dunia maupun di alam lain kelak. Jangan tergesa-gesa memilihnya, tapi juga jangan berlarut-larut mengulur waktu," kata Ki Rangga Guna lagi.
"Aku tidak akan mengajarkan agama yang aku anut. Tapi sedikit kepandaian yang bersifat lahiriah akan aku berikan seluruhnya padamu," kata Ki Rangga Guna.
"Maksud Paman, aku akan kau ajari ilmu berkelahi?" tanya Ginggi.
Ki Rangga Guna menganggukkan kepalanya.
"Aku sebetulnya tak gemar berkelahi, Paman," kata Ginggi menundukkan kepala.
"Menguasai ilmu berkelahi bukan berarti harus gemar berkelahi. Bahkan, aku sebetulnya benci kepada orang yang senang memamerkan kepandaiannya," tukas Ki Rangga Guna. "Ilmu berkelahi hanyalah sebagai alat perlindungan. Seperti sebuah topi, kau pakai bila hari panas atau hujan. Atau seperti sejumput makanan bila kau lapar."
"Tapi ilmu berkelahi kebanyakan menampilkan gerakan yang tujuannya untuk membunuh saja, Paman," tukas Ginggi.
Ki Rangga Guna tersenyum. "Semuanya terpulang kepada kita sebagai pemakainya, anak muda. Bila kau punya pisau, apakah akan dipergunakan untuk mengupas buah-buahan ataukah akan kau pergunakan untuk melukai dan membunuh orang? Ada orang yang tega membunuh sesamanya dengan sebuah beliung (kapak), padahal benda itu dibuat untuk mengambil kayu bakar di hutan. Seekor ular memiliki bisa yang amat mematikan. Tapi tidak setiap hari dia membunuh. Kalau dia tak diganggu, tak pernah ular mengganggu. Bahkan kadang-kadang, ular hanya pergi meloloskan diri setiap diganggu, kendati kalau mau, ular bisa menyerang dan membunuh," kata Ki Rangga Guna.
Ginggi merenung mendengar penjelasan ini. Namun akhirnya dia mengangguk-angguk penuh pengertian.
"Baiklah, aku terima pemberianmu, Paman," kata Ginggi akhirnya.
Ki Rangga Guna terkekeh-kekeh mendengar ucapan Ginggi sehingga membuat pemuda itu heran sendiri. "Mengapa Paman tertawa mendengar kesanggupanku?" tanyanya.
Kembali Ki Rangga Guna tertawa, bahkan sedikit terbahak-bahak, membuat pemuda itu semakin tak mengerti.