Chapter 52
"Kau ini orang jujur, sekaligus juga kurang ajar!" kata Ki Rangga Guna. "Orang lain menyembah-nyembah meminta aku menjadi gurunya. Di sini, malah kau jual mahal sehingga kau yang mengajukan syarat apakah boleh atau tidaknya aku melatihmu!" kata Ki Rangga Guna lagi.
Ginggi tersipu-sipu mendengarnya.
"Benar sekali, aku kurang ajar," katanya dalam hatinya.
Dan sambil melakukan perjalanan bersama, Ginggi mendapatkan tambahan ilmu yang sangat berarti.
Ginggi kini mulai sadar akan kekeliruan dirinya.
Hanya karena dia tidak gemar berkelahi maka dia menolak latihan-latihan keras seperti perintah Ki Darma.
Kalau Ki Darma turun gunung, Ginggi sering berbohong seolah-olah berlatih dengan keras selama Ki Darma tidak ada.
Sekarang, ulah bohongnya terbukti hanya merugikan dirinya sendiri.
Ketika melawan Ki Rangga Wisesa, nyawanya hampir-hampir saja melayang.
Kepandaiannya tidak berarti apa-apa dalam menghadapi ilmu-ilmu Ki Rangga Wisesa yang ganas dan aneh itu.
Dan kepandaiannya semakin tidak berarti bila dibandingkan dengan Ki Rangga Guna.
Menghadapi Ki Rangga Guna, ternyata Ki Rangga Wisesa bukan tandingannya.
Walaupun ketika itu Ki Rangga Guna tidak membalas serangan saudara kembarnya, tetapi tampak nyata Ki Rangga Wisesa kewalahan dan putus asa karena setiap usahanya dalam menyerang Ki Rangga Guna tidak pernah berhasil.
Bila begitu, ternyata murid-murid Ki Darma rata-rata berkepandaian sangat tinggi.
"Semua sebenarnya diberi sama, kecuali beberapa yang berbeda.
Itu karena disesuaikan dengan sifat dan jiwa masing-masing murid.
Saudara kembarku merasa iri sebab ada satu-dua jurus yang Ki Guru berikan padaku, tetapi tidak diberikan kepadanya.
Ada ilmu-ilmu ganas dari Ki Guru yang hanya diberikan padaku, itu karena Ki Guru mengenal betul sifatku.
Kata Guru, ilmu ganas jangan diberikan kepada orang yang memiliki jiwa pemarah.
Adikku tidak diberi sebab dia memang kurang pandai mengendalikan perasaan jiwanya.
Mungkin aku yang dianggap cocok menerima ilmu-ilmu yang sebenarnya amat berbahaya itu.
Aku pun sudah melihat gerakanmu.
Kau dipercaya memegang ilmu ganas sebab barangkali Ki Guru percaya kau bisa membawanya," kata Ki Rangga Guna.
"Tapi aku tidak sepandai kau, Paman?" potong Ginggi.
"Tidak ada murid yang diberi satu ilmu bisa memilikinya dengan kesempurnaan yang sama satu sama lain.
Itu semua terpulang kepada kepandaian si murid itu sendiri.
Kau kan pernah bilang, tidak begitu kerasan dengan segala macam ilmu kekerasan.
Jiwamu sudah menolaknya dari dalam.
Sebaliknya, aku begitu mengharapkan memiliki ilmu-ilmu tinggi, sebab aku teringat masa silam di Talaga.
Kalau orang tuaku memiliki ilmu bela diri, dia tidak akan tewas dalam penyerbuan tentara Cirebon.
Orang yang memiliki kepandaian setidaknya bisa melawan sebelum kalah.
Aku selalu bersemangat dalam latihan.
Ketika berpisah dengan Ki Guru, aku tetap mencari dan menambah ilmu.
Orang-orang lain di negeri seberang lautan, seperti dari Negeri Tulangbawang, Palembang, Minangkabau, Pariaman, atau bahkan orang Cina, Campa, Keling, Parasi, dan Siam, semuanya memiliki ilmu kepandaian dengan ciri kekuatan masing-masing yang berbeda.
Aku banyak berhubungan dengan mereka dan saling tukar-menukar ilmu.
Ilmu-ilmu gabungan itu aku gabungkan dan aku latih bertahun-tahun, keras dan penuh godaan.
Namun, hasilnya membanggakan.
Puluhan, mungkin ratusan kali aku dihadang dan menyerbu musuh, sampai saat ini aku masih diberi usia panjang.
Itu di antaranya karena ilmu berkelahi yang aku miliki," kata Ki Rangga Guna.
Karena selama di perjalanan harus berlatih, akibatnya, sebelum melaksanakan tugas masing-masing, dua atau tiga bulan mereka habiskan waktu untuk urusan latih-melatih.
Dan sampai pada suatu saat, mereka harus berpisah karena sama-sama teringat kembali akan tugas yang harus mereka kerjakan.
"Kita sebenarnya telah kembali ke selatan, padahal Pakuan terletak di sebelah barat, agak ke utara," kata Ki Rangga Guna ketika memberi tahu arah jalan yang harus ditempuh untuk menuju Pakuan.
"Untuk kembali ke arah jalan pedati, seharusnya kau harus kembali ke utara, yaitu memasuki wilayah Tanjungpura lagi.
Itu perjalanan yang amat jauh.
Ada jalan terdekat menuju Warunggede," kata Ki Rangga Guna.
"Warunggede?"
"Warunggede juga merupakan wilayah yang dipimpin oleh seorang Kandagalante.
"Mengapa harus menuju ke sana, sebab jalan pedati melewati wilayah tersebut." Kata Ki Rangga Guna, dari Talaga di timur sampai Pakuan yang jauh di barat sebenarnya dihubungkan oleh sebuah jalan utama yang bisa dilalui kereta atau pedati, melalui Wado, Sumedanglarang, Sagaraherang, Purwakarta, Cikao, Karawang, Tanjungpura, Warunggede, Cibarusa, Cileungsi, dan berakhir di Pakuan.
Dari Kerajaan Talaga, jalan pedati berlanjut ke selatan, yaitu menuju Kawali dan berakhir di pusat Kerajaan Pajajaran Lama, yaitu Galuh," kata Ki Rangga Guna.
"Bila kau sudah tiba di Warunggede, kau bisa menuju Pakuan dengan menyusuri jalan pedati yang nyaman dilalui.
Tapi di beberapa wilayah harus berhati-hati.
Antara Karawang-Tanjungpura-Warunggede, jalan pedati bersinggungan dengan wilayah utara yang sudah dikuasai pasukan Cirebon.
Asalkan engkau tidak terlalu banyak bicara soal Pakuan, tidak akan terjadi bentrokan dengan pasukan musuh," ungkap Ki Rangga Guna.
Ginggi mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Nah, sudah kubekali kau berbagai pengetahuan.
Sekarang tiba saatnya kita melaksanakan tugas masing-masing," kata Ki Rangga Guna.
"Kita akan segera berpisah, Paman?" tanya Ginggi.
Ki Rangga Guna hanya mengangguk kecil.
"Kalau ada umur, ada jodoh, kita pasti bertemu lagi.
Tapi kalau Hyang tidak mempertemukan kita lagi, tidak perlu disesalkan terlalu dalam.
Kita sebelumnya pun tidak pernah mengenal dan tidak pernah bertemu, bukan?" kata Ki Rangga Guna.
Ginggi hanya menghela napas mendengar ucapan Ki Rangga Guna ini.
"Baiklah, kita berpisah di sini, Paman.
Semoga nasib kita baik dan di suatu waktu kita bisa bertemu lagi," kata Ginggi menguatkan hati.
Dia harus belajar berani melakukan sesuatu.
Salah satunya harus berani melakukan perpisahan.
Beberapa kali terjadi, pemuda itu sulit menghadapi perpisahan.
Berpisah dengan Ki Darma, berpisah dengan Nyi Santimi, berpisah dengan gadis, anak pemilik warung di Tanjungpura, dan kini berpisah dengan Ki Rangga Guna.
Semua terasa berat bila Ginggi tidak berani menguatkan hati dan perasaannya.
Pemuda itu berdiri mematung ketika Ki Rangga Guna lebih dulu meninggalkannya.
Matahari sudah condong ke barat.
Dan karena Ki Rangga Guna berjalan menuju timur, punggungnya tersorot sinar lembayung.
Bayangan tubuhnya jatuh menimpa tanah di hadapannya, dan langkah Ki Rangga Guna seperti bermain dengan bayangannya sendiri.
Sampai hilang di kelokan jalan setapak, sampai keadaan benar-benar sepi, baru kemudian pemuda itu berani melangkah.
Langkah kakinya pelan, tak bergairah.
Untuk kembali ke jalan pedati, Ginggi tidak perlu kembali ke utara menuju Tanjungpura, tetapi memotong jalan agak ke barat, untuk kemudian belok ke kanan, agak ke utara lagi.
Benar seperti kata Ki Rangga Guna, jalan memotong menuju Warunggede tidak begitu jauh, tetapi harus melewati jalan setapak yang membelah hutan jati.
Sehari penuh dia menerobos hutan tanpa bertemu seorang manusia pun.
Ginggi di tengah perjalanan hanya bertemu binatang hutan yang tidak begitu membahayakan.
Sampai tiba di wilayah Kandagalante Warunggede, pemuda itu tidak mendapatkan rintangan berarti.
Begitu pula ketika perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan pedati ke arah barat.
Ginggi sering berpapasan dengan para pejalan kaki, ataupun rombongan pedati yang penuh dengan hasil bumi, tetapi mereka tidak saling mengganggu.
Ginggi harus menyeberangi sebuah sungai yang sangat lebar tetapi berair tenang, jauh sebelum tiba di Kandagalante Warunggede, kata seorang kakek pemilik rakit penyeberangan, sungai besar itu bernama Citarum.
Ginggi teringat ucapan Ki Rangga Guna, bahwa Pakuan mutlak hanya berkuasa di batas sungai ini hingga ke barat.
Namun demikian, wilayah utara tetap dikuasai pasukan Banten atau Cirebon.
Dengan kata lain, kekuasaan mutlak yang dipegang Pakuan sebenarnya adalah wilayah tengah dan selatan, mulai dari batas Sungai Citarum ke arah barat.
Wilayah-wilayah yang ada di sebelah timur Citarum merupakan wilayah-wilayah "transisi" karena pertentangan politik dengan Cirebon.
Di beberapa wilayah timur, ada yang bertahan dan setia kepada Pakuan, tetapi kebanyakan sudah mulai bimbang.
Dan semakin jauh menuju timur, semakin jauh dari pusat pemerintahan, rasa setia terhadap Pakuan pun semakin menipis.
Beberapa kerajaan kecil yang dulu berada di bawah kekuasaan Pakuan, seperti Sumedanglarang, Sindangkasih, Talaga, atau bahkan Cirebon Girang, semenjak masuknya pengaruh Cirebon, praktis berkiblat ke Cirebon. Kendati secara militer, negara-negara tersebut tidak pernah memusuhi Pakuan, apalagi membantu Cirebon untuk ikut menyerbu ke barat.
Hal ini bisa terjadi, barangkali karena apa pun yang terjadi, Pakuan beserta Pajajaran masih tetap disegani.
Bahwa dulu puluhan atau ratusan tahun silam, Pakuan Pajajaran berupa sebuah negara besar dengan segala kewibawaannya, sampai hari itu pun masih dihormati oleh para penghuni negara-negara kecil itu.
Apalagi bila diingatkan dengan hubungan silsilah, bahwa yang menjadi pucuk pimpinan di negara-negara kecil itu hampir semua memiliki pertalian kerabat dengan raja-raja Pajajaran.
Kalaupun seolah-olah terjadi "pemutusan" hubungan, semuanya terjadi karena politik juga.
Cirebon yang dibantu kerajaan besar di wilayah timur bernama Demak, melebarkan sayap kekuasaan dengan cara menyebarkan keyakinan baru.
Cirebon yang kuat karena bantuan Demak, lebih leluasa menyebarkan pengaruh ke pusat kerajaan-kerajaan kecil di wilayah timur, sebab letak mereka lebih dekat.
Sebaliknya, pengaruh Pakuan terasa lebih kecil karena letaknya yang jauh di barat.
Maka, bagi negara-negara kecil di timur, siapa yang lebih kuat memberikan pengaruh, dialah yang akan berkuasa.