Chapter 53
Entah bagaimana awalnya, yang jelas orang ini telah menjadi kepercayaan dari muhara (pejabat penarik pajak negara) untuk menjangkau pajak-pajak di wilayah timur Sungai Citarum. Mencoba mengumpulkan seba dari wilayah timur artinya harus berupaya mengembalikan pengaruh Pajajaran ke negeri-negeri kecil yang kini sudah berada di bawah pengaruh Cirebon. Kalau Ki Banaspati mampu melakukannya, maka orang ini benar-benar hebat. Dia akan menjadi sosok yang sangat dihargai dan diperlukan di Pakuan.
"Diperlukan di Pakuan?" Kalau benar demikian, tepatkah kini dia menghimpun kekuatan untuk merebut kekuasaan di Pakuan? Apakah memang begitu seharusnya, orang yang diperlukan Pakuan harus menjadi pengendali utama di Pakuan itu sendiri? Ginggi teringat kembali ucapan Ki Darma yang disampaikan melalui Ki Rangga Guna bahwa Ki Darma memang tak puas dengan cara Raja sekarang memerintah, tapi Ki Darma tak pernah bermaksud mengenyahkan Raja dengan menggantinya. Yang Ki Darma katakan, Raja sedang sakit dengan berbuat keliru. Orang sakit harus diobati dan bukan dienyahkan. Lebih jelasnya, Ki Darma sebetulnya tidak memerintahkan para muridnya untuk melakukan pemberontakan, apalagi merebut kekuasaan.
Sedangkan Ki Banaspati diketahui Ginggi tengah berupaya menyusun kekuatan militer yang kelak akan digunakan untuk menyerang Pakuan. Tidakkah ini berlebihan dan melenceng dari keinginan Ki Darma? Beruntung sekali Ginggi bertemu dengan salah seorang murid Ki Darma yang tidak mengecewakan dirinya. Melihat sikap dan pendirian Ki Rangga Guna, Ginggi yakin jalan pikiran orang itu masih wajar dan berjalan tepat di atas perintah Ki Darma.
Sekarang Ginggi tidak sendirian dalam mengemban perintah gurunya. Namun, masih ada satu harapan lagi; satu murid Ki Darma lagi belum ditemukan. Ginggi berharap murid kedua Ki Darma ini masih hidup dan tetap ingat amanat gurunya. Bila benar demikian, perasaan pemuda itu semakin lega. Sekarang, walaupun kembali sunyi karena harus berjalan sendirian lagi, dada pemuda itu terasa lapang. Dia memang harus menuju barat karena banyak tugas yang harus diselesaikan di sana. Pertama, ingin menyelidiki sejauh mana peranan Ki Banaspati di Pakuan. Kedua, Ginggi harus melacak Suji Angkara yang misterius dan dipastikan juga menuju Pakuan, bahkan mungkin sudah berada di sana.
Ginggi harus sanggup membongkar kemisteriusan pemuda itu. Siapa dia sebenarnya? Dan benarkah kecurigaan dirinya terhadap pemuda itu beralasan? Ginggi curiga bahwa setiap Suji Angkara memasuki satu wilayah, hampir selalu ada gadis bunuh diri karena pemerkosaan. Ki Rangga Wisesa memang melakukan hal yang sama, tapi korban-korban lain jelas merupakan perbuatan orang di luar Ki Rangga Wisesa, dan Ginggi mencurigai Suji Angkara. Bila tudingan ini tidak benar, Ginggi akan merasa berdosa. Tapi bila ternyata benar, Ginggi akan mengeraskan tekad untuk membuat perhitungan.
Ginggi amat heran jika harus memikirkan Suji Angkara mampu melakukan tindakan tercela seperti itu. Pemuda itu tampaknya kaya raya, ditampilkan melalui caranya memilih pakaian mahal dan mewah. Suji Angkara juga dikenal di Desa Cae sebagai anak seorang kuwu, gemar berniaga dengan bangsa asing, dan berwajah tampan. Kesemua bukti ini sebetulnya sudah bisa dijadikan modal untuk memikat gadis-gadis cantik. Mengapa pula pemuda pesolek itu harus melakukan tindakan kasar memperkosa wanita? Ginggi bingung memikirkannya. Biarlah, ia akan menguak tabir ini dengan penyelidikan saksama. Kalau Suji Angkara gemar berbuat jahat, tidak ada bangkai busuk yang tak tercium kendati disembunyikan di tempat tertutup, pikirnya.
Jilid 12
Setelah tiba di wilayah Cibarusa, Ginggi tak mendapat kesulitan berarti untuk mencari arah menuju Pakuan. Jalan pedati antara Cibarusa dan Pakuan cukup ramai sebab setiap hari banyak orang datang dan pergi ke Pakuan. Kebanyakan dari mereka terdiri dari kaum pedagang, baik yang berdagang hasil bumi seperti padi huma, kacang-kacangan, atau buah-buahan, sampai hasil ternak seperti kerbau, sapi, kambing, dan ayam. Ada pula saudagar yang berdagang aneka kain, mulai dari kain kasar sampai kain halus. Kain kasar dibawa dari wilayah seputar Pakuan untuk diperdagangkan di sana; sebaliknya, kain halus dibawa dari Pakuan untuk diperdagangkan di wilayah-wilayah sekitarnya.
Ginggi masih memiliki cukup uang logam perak hasil pemberian Kuwu Wado. Ketika di Cibarusa ia mohon ikut menumpang sebuah pedati dengan imbalan beberapa keping uang logam perak, pemilik kendaraan bertenaga sapi itu amat senang hati menolongnya.
"Ayo naiklah. Tapi kau harus duduk di tumpukan kain belacu ini, anak muda," kata pemilik pedati.
Ginggi duduk menclok di atas tumpukan kain. Kain belacu itu semua berwarna putih, digulung di sebuah kayu bulat menyerupai tongkat berukuran besar.
"Ramai sekali lalu lintas di sini, Paman?" kata Ginggi sambil menoleh ke kiri dan kanan. Bagi pemuda itu, ini adalah pemandangan pertama melihat orang di jalan besar berlalu lalang dengan berbagai kesibukan.
"Tidak seramai puluhan tahun silam, anak muda," kata pemilik pedati. Orang tua itu bertopi cotom (topi anyaman bambu bulat melengkung seperti wajan) dan berbaju kampret hitam dengan dada dibiarkan terbuka.
Ginggi tersenyum pahit. Sementara orang suka mengatakan bahwa zaman cenderung bergerak maju, Pajajaran sepertinya tak terikat oleh kecenderungan ini. Buktinya, pemilik pedati ini menyebutkan lalu lintas ke Pakuan malah lebih ramai puluhan tahun silam dibandingkan sekarang.
"Dulu ketika Pajajaran di bawah pimpinan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, Pakuan begitu makmur sebab perdagangan amat maju," katanya pelan, sesekali menengok ke kiri dan kanan sepertinya ucapannya ini tidak boleh didengar banyak orang.
"Sekarang mengapa tidak semaju dulu?" tanya Ginggi mencoba menguji keberanian orang ini berbicara. Pemilik pedati hanya tersenyum tipis.
"Zaman memang telah berubah, anak muda, dan semuanya membawa perubahan. Perubahan itu bisa berupa kemajuan, tapi bisa juga berupa kemunduran. Barangkali bagi Pajajaran, roda kehidupan sedang ada di bawah. Pajajaran sedang ada dalam kemunduran sebab roda kemajuan telah berada di tangan kekuasaan yang baru," kata pemilik pedati dengan serius.
Ginggi menoleh untuk menatap pemilik pedati ini. Orang tua ini ternyata tahu masalah perkembangan negara. "Ya, bagaimana tidak tahu? Aku kan sejak muda berniaga kecil-kecilan. Dari wilayah seputar Pakuan aku kirimkan kain kasar karena bangsa-bangsa lain memborong kain kasar buatan Pajajaran. Sebaliknya, bangsa-bangsa asing seperti Cina, Keling, Campa, dan Maladewa datang ke Pajajaran menjual kain halus atau berbagai barang keperluan yang di Pakuan belum dibuat. Pedagang dan pembeli semua berkumpul di pelabuhan milik Pakuan, seperti di Cirebon, Banten, atau Muara Cimanuk. Perdagangan dengan bangsa asing paling banyak dilakukan di Pelabuhan Kalapa. Dalam setahun, Pakuan butuh seribu ekor kuda dan dibelinya dari Pulau Sumba atau Sumbawa. Tapi sebaliknya, orang-orang Pakuan dalam satu tahun sanggup menjual merica, lada, dan buah asam masing-masing seribu buah kapal. Begitu majunya perdagangan ketika itu," kata pemilik pedati sambil mengatur langkah penghela sapi agar bisa memilih jalan yang agak rata.
"Sekarang perdagangan hanya dilakukan sebatas di dalam negeri saja karena semua pelabuhan milik Pakuan sudah jatuh ke tangan Banten atau Cirebon. Banten yang dulu termasuk pelabuhan penting milik Pakuan dalam hubungan dagang dengan negeri-negeri di Andalas, sekarang malah jadi musuh Pakuan yang setiap saat bisa melakukan penyerbuan. Zaman telah berubah, anak muda. Ada yang maju, ada yang mundur. Giliran Pajajaran yang mundur sebab kemajuan sekarang ada di tangan orang lain: Banten, Cirebon, dan Demak. Merekalah kini yang melakukan perdagangan antarpulau," katanya lagi.
"Sang Rumuhun memang sudah mengatur-Nya. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang lama, ada yang baru, dan yang usang digantikan dengan yang bagus. Tak ada sesuatu yang tetap di dunia ini," ucapnya lagi.
"Engkau dari mana berasal, anak muda, dan mau apa datang ke Pakuan?" tanya pemilik pedati sambil lalu.
"Aku dari wilayah Kandagalante Tanjungpura dan berniat mengunjungi sanak saudara. Kalau Paman kerap kali datang ke dayo (ibukota), barangkali pernah kenal pemuda yang bernama Purbajaya?" tanya Ginggi setengah berbohong. Mencari pemuda bernama Purbajaya memang sudah termasuk bagian dari rencananya. Untuk menyelidiki misteri yang menyelimuti Suji Angkara, sekarang bisa ditelusuri lewat diri Purbajaya, anak bangsawan wilayah Tanjungpura Utara itu.
Ginggi ingat, menurut cerita pelayan Juragan Ilun Rosa, secara diam-diam Purbajaya menjalin hubungan cinta dengan anak gadis Juragan Ilun Rosa. Anak gadis itu tiba-tiba mati bunuh diri, dan dianggapnya karena putus asa membaca surat yang ditulis Purbajaya yang mengabarkan dirinya akan kawin dengan putri bangsawan di Pakuan. Keterangan ini bertolak belakang dengan cerita ayahanda Purbajaya yang hanya mengatakan bahwa anak muda itu pergi ke Pakuan karena akan melamar kerja sebagai puhawang atau ahli kelautan. Bahkan diceritakan pula bahwa Purbajaya pernah berkata, bila sudah berhasil mencapai cita-citanya, ia meminta ayahnya agar sudi meminang gadis pujaannya yang ada di Tanjungpura. Mana yang benar dari kedua bukti ini, Ginggi belum bisa mengambil kesimpulan.