Chapter 54
Namun, urusan ini sepertinya ikut melibatkan perilaku Suji Angkara. Pemuda pesolek ini berjanji akan ikut menangani kasus tersebut. Bagaimana cara membantu menanganinya? Pemuda yang tutur katanya selalu sopan, tetapi terkadang bertindak kejam ini, mengatakan bahwa dia akan menindak Purbajaya.
Mengapa Suji Angkara ingin menyelesaikan perkara ini seperti itu? Ginggi ingat, pelayan Juragan Ilun Rosa menceritakan pula bahwa secara diam-diam Suji Angkara menggoda gadis anak Juragan Ilun Rosa di taman belakang rumah, tetapi gadis itu selalu menolaknya dengan mengatakan bahwa dirinya sudah ada yang punya. Antara pertemuan Suji Angkara dengan peristiwa terjadinya bunuh diri gadis itu hanya berselang satu hari saja.
Kapan surat nipah yang berisi "pengkhianatan" Purbajaya diterima gadis itu? Kalau mengingat cerita pelayan, ketika ditemui Suji Angkara di taman belakang rumah, gadis itu masih demikian setia terhadap Purbajaya. Bila begitu, maka surat dari pemuda itu pasti diterima dalam sehari saja. Namun, pelayan tak pernah mengatakan melihat orang mengirimkan surat kepada gadis itu. Dari mana surat itu didapat?
Satu hal penting lagi yang perlu disimak Ginggi. Ibunda gadis itu secara naluri menangkap suatu bukti; anaknya mati bukan sekadar kecewa atas "pengkhianatan" kekasihnya, melainkan karena sebab lain juga. Istri Juragan Ilun Rosa mendapatkan anak gadisnya bunuh diri dengan menusukkan *patrem* ke lehernya sambil berdandan tak karuan, kusut-masai tak beraturan, bahkan seperti ada bekas cakaran kuku di beberapa bagian tubuhnya.
Sayang sekali, perhatian Juragan Ilun Rosa telah terpusat kepada surat daun nipah itu. Dia lebih percaya anaknya mati karena kecewa merasa dikhianati. Juragan Ilun Rosa bahkan langsung setuju ketika Suji Angkara berjanji akan menindak, bahkan membunuh Purbajaya bila ditemukan di Pakuan.
"Saya tak kenal dengan pemuda bernama Purbajaya, anak muda," kata pemilik pedati sambil mengingat-ingat.
"Dia bekerja sebagai apa di *dayo*?" pemilik pedati balik bertanya.
"Sekitar enam bulan lalu, Purbajaya pergi dari Tanjungpura ke Pakuan karena ingin melamar bekerja sebagai puhawang," kata Ginggi sambil mengubah posisi duduknya karena sejak tadi menclok terus di atas timbunan gulungan kain.
"Maksudmu petugas ahli dalam bidang penelusuran laut dan teluk?"
"Ya, ya begitulah!"
"Di Pakuan ada pejabat yang pernah berurusan dengan itu. Dia Pangeran Yogascitra, masih kerabat Sang Prabu walaupun kerabat jauh. Kalau kau bisa mengunjunginya, barangkali ada celah untuk mencarinya," kata pemilik pedati.
Ginggi tersenyum cerah mendengarnya. Berarti ada harapan mencari keberadaan pemuda Purbajaya.
"Bagaimana, apakah mudahkah aku mengunjungi Pangeran Yogascitra, Paman?" tanya Ginggi.
"Semua bangsawan di Pakuan pandai menjaga kehormatan dirinya. Tapi, ada banyak cara untuk menjaganya. Ada yang tidak sembarangan berhubungan dengan siapa saja, ada juga yang begitu ramah menerima kehadiran siapa saja. Namun yang penting, kau datanglah ke sana secara baik-baik dan dengan tindak-tanduk sopan. Etika hidup bagi mereka berada di atas segalanya. Kalau kau pandai menggunakan etika dan menyenangkan mereka, kau pasti tidak akan sulit bertamu ke kediaman Pangeran itu, anak muda," kata pemilik pedati memberikan petuah.
Senja mulai jatuh ketika roda pedati menggelinding pelan memasuki pintu gerbang *dayo* (kota) Pakuan. Berdebar hati Ginggi ketika melihat pintu gerbang kota yang demikian besar dan berwibawa. Pintu gerbang ini tidak dibuat dari kayu-kayu jati seperti *lawang kori* di wilayah Kandagalante, atau apalagi bila dibandingkan dengan *lawang kori* di wilayah desa. Pintu gerbang *dayo* Pakuan menjulang tinggi dan terbuat dari batu-batu dengan ukiran halus. Di kiri kanannya, membelakangi gapura, berdiri kokoh patung *rotadenawa* (raseksa) sambil memanggul sebuah gada besar, seolah-olah tengah menjaga keamanan Pakuan dari gangguan musuh.
Pedati berhenti sejenak sebab akan menghadapi pemeriksaan para *jagabaya*. Ini pemeriksaan kedua, sebab ketika tadi siang pedati menyeberangi jembatan besar Sungai Cihaliwung (Ciliwung), pedati bermuatan gulungan kain katun dan belacu ini pun diperiksa petugas sebelum melakukan penyeberangan. Namun, karena tak ada sesuatu yang mencurigakan, pedati berjalan kembali dan diperbolehkan memasuki *dayo*.
Sekarang pedati berjalan melewati sebuah alun-alun yang amat luas. Jauh di seberang alun-alun tampak lagi sebuah gerbang. Lebih mewah dan lebih berwibawa lagi bentuknya. Terbuat dari batu hitam halus yang terdapat ukiran-ukiran bernilai seni tinggi. Gerbang itu seperti pintu masuk ke sebuah kompleks besar yang dikelilingi benteng kokoh. Remang-remang di dalam benteng terlihat bangunan-bangunan, baik terbuat dari batu maupun dari kayu jati, menjulang melampaui tingginya benteng.
"Itulah pintu gerbang untuk memasuki pusat *dayo*, anak muda. Raja dan para bangsawan tinggal di sana," kata pemilik pedati.
"Apakah Paman akan masuk ke sana?" tanya Ginggi.
"Aku ini hanya pedagang biasa. Keperluanku ke sini untuk mengirim barang-barang dagangan ke pasar. Tidak sembarangan orang masuk ke sana, apalagi malam hari. Jadi, sebaiknya malam ini kau cari penginapan di luar benteng. Esok hari baru minta izin *jagabaya* untuk bertamu ke kediaman Pangeran Yogascitra," kata pemilik pedati.
Ginggi turun dari tumpukan kain dan mengucapkan terima kasih karena dirinya diperkenankan menumpang pedati.
Ginggi berdiri sendirian di tepi alun-alun yang dikelilingi pohon-pohon besar. Di sudut alun-alun dekat gerbang ada tiga pohon amat besar. Daunnya rimbun dan rantingnya bergayut ke permukaan tanah hampir menyerupai jenggot raksasa. Di Puncak Cakrabuana pun pohon besar seperti ini ada dan Ki Darma menyebutnya sebagai pohon beringin. Hanya bedanya, beringin yang terdapat di sudut alun-alun benteng luar ini tampak lebih terawat. Batangnya tak memiliki lumut; sepertinya setiap hari ada petugas yang khusus bekerja membersihkan lumut pohon yang usianya pasti sudah amat tua ini. Di depan pohon itu pun ada semacam tempat pemujaan. Ada asap dupa mengepul dari sudut tempat pemujaan itu. Bunga dan macam-macam sesaji juga tampak bertebaran di sana. Ketika hari sudah hampir gelap benar, ada seseorang membawa pelita dan ditaruhnya di tempat pemujaan.
Ginggi melangkah menyusuri tepi alun-alun. Kata Ki Banaspati, Pakuan ini *dayo* (ibu kota) yang amat ramai. Penduduknya lebih dari lima puluh ribu orang dan jumlah pasukan keamanan di seluruh negeri berjumlah lebih dari seratus ribu prajurit, ditambah seribu orang perwira pengawal raja. Berbicara soal pengawal raja, Ginggi jadi teringat Ki Darma. Bukankah dulu orang tua ini bekerja sebagai pengawal raja? Betapa besar sebetulnya jasa Ki Darma. Dia mengabdi puluhan tahun kepada tiga orang Raja Pajajaran yang berturut-turut memerintah di Pakuan. Namun, hanya karena Ki Darma selalu berani melontarkan kritik terhadap raja, maka jasanya seperti tertimbun oleh kesalahan itu. Tak ada orang yang berani memuja dan memperlihatkan perasaan bangga terhadap Ki Darma, sebab kata Ki Rangga Guna, siapa yang menyebut Ki Darma akan dianggap punya hubungan tertentu dengan orang tua itu. Dan yang memiliki pertalian dengan Ki Darma akan ditangkap petugas karena akan mendapat perlakuan yang sama, yaitu dituduh pemberontak.
"Hati-hati bila memasuki Pakuan, jangan sekali-kali mengaku sebagai murid Ki Darma!" perkataan ini dikeluarkan oleh Ki Banaspati dan Ki Rangga Guna dalam tempat dan waktu yang terpisah.
Ginggi kembali melangkah menyusuri tepian alun-alun yang sebagian ditumbuhi rumput hijau, sebagian lagi hanya berupa tanah merah sedikit berdebu. Ginggi membayangkan tempat ini sebagai wahana untuk latihan perang-perangan para prajurit Pakuan. Mungkin juga digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara kebesaran raja dan berbagai demonstrasi ketangkasan berkuda atau permainan senjata. Tapi yang pasti terbayang di pelupuk matanya adalah pertempuran besar di alun-alun ini ketika pasukan misterius yang diduga dari Banten, diperintah oleh Sultan Hasanuddin secara rahasia, menyerang Pakuan.
Ki Rangga Guna mengabarkan, dalam pertempuran besar ini seribu pengawal raja mati-matian menahan serangan prajurit tanpa identitas ini. Dan sekalipun berhasil menghalau pasukan penyerbu, Pakuan banyak kehilangan perwira tangguh. Dua Senopati Pajajaran yang amat tangguh, yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet, tewas di medan laga. Kepahlawanan kedua senapati ini, kata Ki Rangga Guna, banyak disebut dan dibanggakan oleh *prepantun* (juru pantun, pembawa cerita yang diambil dari kisah nyata), tapi sambil meremehkan dan menyesalkan perbuatan Ki Darma yang dianggapnya membuat gara-gara terjadinya serangan. Hanya beberapa bulan setelah penyerbuan ini, kabarnya Ki Darma mengundurkan diri dan langsung dituding mengkhianati raja. Begitulah yang terjadi belasan tahun silam di saat Pakuan diperintah Sang Prabu Ratu Dewata.
Ginggi melangkah sunyi menyisir tepian alun-alun. Di hatinya tetap ada kebanggaan terhadap Ki Darma, kendati perasaan ini tetap disembunyikannya di lubuk hati paling dalam. Sekarang Ginggi tiba di sebuah perempatan jalan. Perempatan ini merupakan akhir dari alun-alun. Bila Ginggi menengok ke kiri, di sepanjang jalan tepi benteng istana tampak beberapa bangunan yang terang benderang oleh cahaya lampu gantung. Di sana terlihat banyak orang; ada yang duduk-duduk di bangku panjang, ada juga yang sekadar berjalan-jalan sambil melihat ke sana ke mari.
Ginggi menuju ke sana, kalau-kalau ada kedai nasi di tempat itu. Dan benar perkiraan pemuda itu. Di sana terdapat juga kedai makanan. Sudah terlihat banyak orang yang makan di sana. Nampaknya para pedagang atau para pengirim barang yang baru datang ke *dayo* ini. Ginggi menyelip duduk di antara dua pembeli yang tengah makan nasi dengan lahapnya. Ketika Ginggi ikut duduk, kedua orang itu menggeser posisi untuk memberi keluasaan kepada Ginggi. Yang seorang malah mengangguk sambil menawari pemuda itu makan.