Chapter 55
Ginggi hanya membalas mengangguk sebagai tanda terima kasih. Ia memesan nasi dan lauk-pauk sesuai pilihan pemilik kedai. Sambil menunggu pesanan disodorkan, Ginggi melirik ke kiri dan ke kanan. Di petak-petak lain, terdapat sekumpulan orang dengan tingkah laku yang beragam. Ada yang cemberut, ada yang tegang, namun kebanyakan hanya berteriak-teriak memberi semangat.
Ginggi tersenyum tipis. Menyaksikan tingkah laku mereka, di bumi Pajajaran ini seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Barangkali benar, di dayo (ibu kota) pusat pemerintahan, orang tidak merasakan kesulitan berarti sebab segala keperluan hidup tersedia. Namun, barangkali juga tawa dan senda gurau di sini hanya bersifat semu belaka. Ginggi pernah menyaksikan ada orang tertawa padahal hatinya tengah dirundung duka. Ia juga pernah melihat orang yang memiliki banyak masalah tetapi bersikap acuh tak acuh karena sudah pasrah terhadap kemelut hidupnya.
Ketika makanan disodorkan, Ginggi mulai makan dengan lahap. Makanan tersebut terasa enak dan nikmat, entah karena pemilik kedai pandai mengatur bumbu atau karena pemuda itu sudah lama tidak menyantap hidangan lezat. Makanan enak terakhir yang ia santap berada di kedai wilayah Tanjungpura. Sesudah itu, ia hanya makan apa yang tersedia di hutan. Baru kali ini ia menemukan kembali makanan yang begitu mengundang selera. Saking asyiknya makan, Ginggi tidak menyadari bahwa seseorang baru saja duduk di samping kirinya.
Ginggi tidak akan menoleh jika orang itu tidak menepuk bahunya dengan cukup keras.
"Hei!" kata orang di sampingnya.
Ginggi hampir tersedak karena terkejut melihat siapa yang menepuknya.
"Eh, engkau Madi?" pekik Ginggi heran.
Ya, Madi—pemuda jangkung berkulit hitam dan bergigi tonggos, sahabat Seta, calon suami Nyi Santimi—tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Ginggi menatap pemuda itu. Ia tidak heran mengapa Madi ada di Pakuan, sebab sejak di Sagaraherang ia sudah mendengar adanya rombongan Suji Angkara yang "melarikan diri" menuju Pakuan. Yang mengherankan Ginggi adalah penampilan Madi yang kini berbeda. Ia tak lagi berkampret hitam dengan ikat kepala senada.
Malam ini, pemuda yang dikenal gampang marah namun agak bodoh itu tampak lebih tegap. Dadanya terlihat bidang karena mengenakan rompi tanpa lengan dengan kancing terbuka. Bajunya terbuat dari kain tebal dengan ornamen perak di sepanjang sisinya. Rambut panjangnya tidak lagi diikat, melainkan disanggul ke atas dengan rapi. Gelang dari tanduk kerbau yang diukir kasar menghiasi pergelangan tangan dan lengan atasnya. Pinggang Madi dibelit angkin batik hihinggulan sebagai pengikat kain ungu yang menutupi celana sontog hitam.
"Hei, kau ada di sini rupanya?" kata Ginggi sambil menunjuk hidung pemuda itu.
Madi menepis telunjuk Ginggi dengan gemas, namun Ginggi segera menarik tangannya.
"Sialan kau anak setan! Jangan sembarangan menyapa orang. Kau tahu siapa aku sekarang?" kata Madi dengan wajah melotot marah.
"Ya, siapa lagi? Bukankah namamu Madi? Ataukah kau sudah mengubahnya? Apa namamu sekarang?" tanya Ginggi sambil cengar-cengir.
"Tengik kau! Namaku sejak dulu tak pernah kuubah!" sahut Madi masih gemas.
Ginggi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Heran, namamu tetap Madi, tapi kau tidak mau kusapa?" gumamnya.
"Namaku tetap Madi. Tapi cobalah sedikit sopan padaku. Sekarang di sini aku bukan rakyat biasa seperti tempo hari!" kata Madi sombong.
"Kau bukan rakyat lagi? Anak bangsawan?" Ubun-ubun kepala Ginggi digetok oleh Madi.
"Jangan kau hina aku. Aku memang bukan anak bangsawan, tapi di Pakuan sini, siapa tak kenal Madi, prajurit keraton?" kata Madi sambil tersenyum lebar.
"Wah, kau jadi pegawai istana rupanya! Aku bangga padamu!" Ginggi tertawa kecil, dan Madi pun ikut tertawa karena merasa senang.
"Yang lainnya bagaimana? Apakah semua bernasib baik seperti dirimu, Madi?"
"Ya, semua bernasib lumayan. Seta, Ki Ogel, dan Ki Banen, semuanya menjadi abdi dalem istana."
"Hebat!"
"Segalanya berkat Raden Suji Angkara," kata Madi.
Mulut Ginggi ternganga. "Aku memang sudah menduga sejak dulu. Raden Suji Angkara memang bukan orang sembarangan. Dia sebetulnya putra Juragan Bagus Seta!"
"Bagus Seta?"
"Sssst!!!" Madi membekap mulut Ginggi yang berbicara terlalu keras. Ginggi meronta karena tangan Madi terlalu lama membekapnya.
"Mengapa kau bekap mulutku?" tanya Ginggi kesal.
"Mengapa kau berteriak tak sopan? Kau harus tahu diri di sini, tolol! Juragan Bagus Seta kau sebut begitu saja. Itu tidak sopan!" desis Madi marah.
Ginggi memang tidak sadar berseru menyebut nama Bagus Seta karena terlalu terkejut. Apakah yang dimaksudnya adalah Ki Bagus Seta, murid kedua Ki Darma? Benarkah sekarang dia sudah menjadi bangsawan di Pakuan? Sungguh luar biasa. Ginggi tidak boleh terlihat memperhatikan Ki Bagus Seta secara khusus, maka ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Prajurit Madi, kau katakan tadi Raden Suji Angkara adalah putra bangsawan Bagus Seta. Bukankah di Desa Cae pemuda tampan itu anak Ki Suntara, Kuwu Cae?" tanya Ginggi.
"Ya, aku juga dulu menduga demikian. Barangkali semua penduduk Cae berpikiran begitu. Tapi selama di perjalanan mengikutinya, terkesan bahwa dia bukan pemuda sembarangan. Tindak-tanduknya seperti bangsawan. Kekayaannya pun jauh lebih besar ketimbang yang dipunyai seorang kuwu. Raden Suji Angkara bukan anak seorang kuwu, melainkan memang putra bangsawan asli yang di dayo ini sudah cukup terkenal," terang Madi panjang lebar.
Madi menjelaskan bahwa Suji Angkara memang putra Ki Bagus Seta. Hubungannya dengan Kuwu Suntara terjadi karena ibunda Suji Angkara dulu adalah istri dari Kuwu Suntara. Bagaimana istri Kuwu Suntara bisa "berpindah" menjadi istri Ki Bagus Seta, Madi tidak mengetahuinya.
"Biarlah itu urusan orang-orang besar dan tidak ada kaitannya dengan urusanku. Aku tidak perlu tahu," kata Madi.
Ginggi mengangguk setuju, padahal dalam lubuk hatinya, masalah ini sangat menarik. Dari Sagaraherang, Ki Banaspati menyuruhnya membuntuti Suji Angkara untuk kemudian dibunuh. Namun, pemuda pesolek itu ternyata putra Ki Bagus Seta. Mustahil Ki Banaspati yang sering tinggal di Pakuan dan menjadi tangan kanan muhara tidak tahu bahwa Ki Bagus Seta juga ada di Pakuan dan menjadi bangsawan istana. Mustahil pula ia tidak tahu bahwa Suji Angkara adalah putra dari saudara seperguruannya sendiri.
Jalan pikiran Ginggi terhenti. Sepasang alisnya yang tebal melengkung karena ia berpikir keras. Hal ini sangat aneh dan penuh misteri. Jika Ki Banaspati tahu Suji Angkara putra Ki Bagus Seta, mengapa Suji Angkara seperti tidak mengenal Ki Banaspati? Menurut pengamatan Ginggi, hubungan mereka selama ini hanya sebatas hubungan kerja.
Ginggi kembali teringat percakapannya dengan Ki Banaspati di Sagaraherang. Saat itu, Ki Banaspati tidak pernah mengungkit bahwa Ki Bagus Seta ada di Pakuan. Ia seolah-olah memberikan kesan tidak tahu di mana para saudara seperguruannya berada. Sekarang baru ketahuan bahwa ada dugaan mereka sebenarnya sudah tahu dan sama-sama mengabdi di istana, namun sengaja menyembunyikan hubungan tersebut. Mungkinkah keduanya menjalin kerja sama rahasia?
Ginggi menduga keras ke arah itu, apalagi semua murid Ki Darma harus merahasiakan identitas mereka. Baik Ki Bagus Seta maupun Ki Banaspati dipastikan memasuki istana dengan mengubur hubungan mereka dengan Ki Darma. Jika mereka bekerja sama, mengapa Ki Banaspati harus membunuh Suji Angkara? Apakah karena pemuda itu menyibak rahasia kegiatan mereka dalam "merampok" dan menggelapkan hasil kekayaan seba?
Ginggi memijit dahinya. Semua uraian dalam hatinya hanyalah perkiraan. Untuk mengetahui kebenarannya, ia harus terjun langsung menyelidikinya.
"Prajurit Madi, tolong bawalah aku menghadap Raden Suji Angkara," pinta Ginggi tiba-tiba.
"Ya, aku akan membawamu ke hadapan Raden Suji Angkara. Mudah-mudahan kau dihukum berat!" kata Madi dengan senyum penuh ejekan.
"Lho, mengapa aku harus dihukum?" tanya Ginggi heran.
"Akan aku katakan kau pengkhianat, sebab kau malah tinggal di Sagaraherang ketika kami pergi!" jawab Madi.