Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 56

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 56

"Malah kalian yang aku tuduh pengkhianat!" teriak Ginggi sambil balas menudingkan telunjuk.

Giliran Madi yang heran. "Mengapa malah kami yang kau anggap pengkhianat, anak tolol?" sergah Madi.

"Habis, kalian secara tiba-tiba meninggalkan diriku di Sagaraherang. Kalian tinggalkan pula beberapa orang pemikul dongdang. Bukankah kau pun tahu aku ikut rombongan kalian dan Raden Suji Angkara pun sudah setuju aku ikut bekerja padanya?" tanya Ginggi.

Madi mengedip-ngedipkan kedua matanya sambil tertunduk ke bawah bangku.

"Ayo, coba siapa yang mengkhianati? Aku tersaruk-saruk di hutan, kabur dari Sagaraherang, sebab ketika kalian pergi, orang Sagaraherang menjadi beringas dan seperti mau membunuhku. Aku akhirnya lari ke mana saja sebab aku tak tahu ke mana aku harus pergi. Berbulan-bulan kemudian, baru aku tiba di sini. Eh, aneh sekali, kau ada di sini. Hanya bedanya, engkau demikian maju di sini, sedangkan aku penuh derita?" Ginggi bicara sedikit mengarang.

Madi terkekeh-kekeh menertawakan nasib "buruk" yang menimpa Ginggi. Tapi serentak tawanya hilang ketika Madi meneliti keadaan tubuh Ginggi.

"Kau membual, anak tolol. Kalau kau katakan kau berkelana penuh derita, mengapa kau mampu masuk ke kedai ini dan mengambil makanan-makanan enak? Pakaianmu juga mencurigakan. Itu pakaian golongan santana (masyarakat golongan menengah) kendati terlihat dekil," kata Madi.

"Nah, dekil, kan?" Ginggi tak kehilangan akal untuk terus mengarang. "Selama mengembara ke sana kemari aku kerja apa saja. Sekarang aku sedikit punya uang dan juga punya pakaian santana kumal karena ketika aku berhenti kerja, majikan memberiku bekal-bekal seperti ini," kata Ginggi.

"Hm, begitu, ya?" Madi mengangguk-angguk.

"Nah, sekarang coba aku bawa pada Raden Suji Angkara agar aku tak tersaruk-saruk mencari pekerjaan!" kata Ginggi lagi.

"Enak saja mau cari kerja di istana!" dengus Madi. "Hanya orang-orang cakap dan pandai berkelahi saja yang bisa diterima bekerja di Pakuan. Sedangkan kau bisa apa?"

"Tempo hari Ki Banen sudah bersedia mengajariku ilmu berkelahi, agar lain kali aku bisa mengalahkanmu!" kata Ginggi.

Madi terkekeh-kekeh mendengar ucapan Ginggi. "Boleh kau minta latihan sama Ki Banen. Lima puluh tahun baru kau bisa menandingiku, anak tolol!" kata Madi.

"Baik, akan kubuktikan lima puluh tahun lagi!" kata Ginggi tak kepalang ngaco.

Madi hanya tertawa-tawa saja. "Boleh, besok aku bawa kau kepada Raden Suji Angkara!" kata Madi.

Ginggi bersyukur dalam hatinya bahwa pada akhirnya dia sanggup menundukkan pemuda bodoh ini kendati harus perang mulut gila-gilaan.

"Nah, kalau begitu malam ini aku ikut numpang tidur di rumahmu!" kata Ginggi.

"Enak saja! Kau cari tempat tidur sendiri. Di tepi-tepi tembok benteng dalam, banyak emperan. Tidurlah di emper sana!" kata Madi sambil berjingkat dan berlalu.

"Hei, di mana aku bisa menemuimu besok?"

"Ya, kau tunggulah di kedai ini!" kata Madi sambil melengos pergi. "Atau di alun-alun sebab akan ada keramaian," lanjutnya.

Pemuda bodoh, pikir Ginggi. Tapi dia pun tetap memuji Madi sebagai orang jujur dan cukup punya perasaan. Buktinya, pemuda itu mau juga meluluskan dia untuk ikut bekerja dengan Suji Angkara.

Ginggi tak begitu sulit mencari tempat untuk menginap. Banyak kedai makanan yang juga menyediakan tempat untuk menginap. Esok paginya, Ginggi sudah berjalan-jalan di seputar dayo. Pada siang hari, kesibukan tampak lebih meningkat. Dari wilayah seputarnya, kaum pedagang memasuki pusat-pusat keramaian dan mereka menggelar dagangan di sana, seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, atau barang keperluan sehari-hari.

Ada juga orang mencari penghasilan dengan berdagang bermacam obat-obatan untuk menanggulangi berbagai penyakit. Di satu sudut, bahkan ada orang memamerkan kepandaian aneh semacam permainan sulap. Penonton bertepuk tangan gembira bila pesulap itu berhasil memamerkan satu kepandaian yang mencengangkan. Atau penonton terkekeh-kekeh bila pesulap memperlihatkan tindak-tanduk lucu. Anak-anak terbahak-bahak dan para gadis menahan tawa dengan jalan menutup mulutnya.

Semakin siang, jumlah yang datang semakin banyak juga. Tua-muda, besar-kecil, lelaki dan wanita seperti beriringan hendak menuju satu tempat. Pakaian mereka bagus-bagus. Beruntung Ginggi sempat mengganti pakaiannya, sehingga dia pun tampak sebagai pejalan kaki dari kalangan kaum berada. Pakaian yang dikenakannya, baju kurung dari kain halus warna merah darah dengan ikat kepala warna yang sama. Celananya jenis komprang dan diikat dengan ikat pinggang kain. Semuanya hasil pemberian Kuwu Wado.

Mengenai jenis kain halus yang dipakainya, baru akhir-akhir ini saja Ginggi tahu bahwa kain seperti ini dibeli dari pedagang asing, kalau tidak dari Parsi, mungkin dari Cina. Termasuk barang langka, apalagi di saat-saat sekarang ini hubungan dagang di pantai utara sudah tak mungkin dilakukan. Kalau pun masih terdapat, kabarnya harganya cukup mahal sebab barang-barang itu bisa masuk ke Pakuan melalui beberapa tangan.

Bila dulu sebelum pelabuhan-pelabuhan utama direbut Cirebon dan Demak, hubungan dagang antara Pakuan dengan negeri-negeri seberang bisa langsung dilakukan, sekarang harus menggunakan perantara. Salah satu perantara di antaranya adalah para pedagang yang sudah berpihak kepada kekuatan agama baru di pesisir. Merekalah yang melakukan transaksi langsung dengan saudagar negeri seberang. Barang-barang itu sedianya hanya boleh diperdagangkan di wilayah-wilayah kekuasaan agama baru saja. Orang-orang Pajajaran merupakan santapan empuk, sebab mereka yang sudah sejak dulu terbiasa menggunakan barang-barang indah, terutama dari kalangan santana sampai bangsawan, selalu tetap memerlukannya.

Ginggi sebetulnya tak senang menggunakan pakaian mewah ini. Tapi apa daya, di buntalan pakaiannya hanya terdapat tiga pasang pakaian mewah hasil pemberian Kuwu Wado dan juga dari Ki Sunda Sembawa. Ada kampret halus warna kuning emas dan satunya warna biru tua terbuat dari kain agak tebal namun tetap halus. Warna merah darah yang dikenakannya sebetulnya hanya pantas digunakan oleh pemuda pesolek saja. Melihat potongan tubuh Ginggi yang semampai, berdada bidang, serta kulit wajah putih dengan hidung agak mancung, bermata bundar, dan sepasang alis tebal seperti golok melengkung, segalanya pas menggambarkan dia pemuda pesolek dari kalangan santana.

Banyak gadis terpaksa melirik atau menyapu dengan kerlingan ketika berpapasan dengannya. Bahkan para pemuda sebayanya menatap bagaikan penuh rasa iri karena menganggap Ginggi seperti memamerkan wajah tampan yang dibalut pakaian mewah. Ginggi ikut ke mana orang menuju. Sekarang baru ingat, tadi malam pemuda Madi berkata di alun-alun akan ada keramaian. Keramaian apa, Madi tak menjelaskan. Hanya saja tadi malam pemuda itu akan menunggunya di alun-alun.

Ginggi bergegas menuju alun-alun. Di satu pihak ingin segera bertemu Madi, di pihak lain ingin segera melihat bentuk keramaian itu. Alun-alun tidak terlalu jauh, sebentar kemudian dia sudah berada di tempat itu. Di sana sudah banyak orang berkerumun dan bergerombol, atau berderet di sepanjang sisi alun-alun.

Ginggi melihat berkeliling. Ternyata di sisi bagian alun-alun, ada sebuah panggung berhias diapit dua bangunan bertenda memanjang di kiri kanannya. Semuanya dihiasi kain warna-warni. Di setiap ujungnya tertancap umbul-umbul. Demikian pun di depan, umbul-umbul bahkan berderet lebih banyak lagi. Ginggi heran, kapan panggung ini dibuat, bukankah kemarin senja suasana di alun-alun masih sepi? Melihat kenyataan ini, hanya menampilkan bahwa orang-orang Pakuan terampil dalam bekerja.

"Paman, akan ada keramaian apakah ini?" tanya Ginggi pada seorang lelaki setengah baya yang ada di sampingnya.

"Hari ini akan diadakan uji keterampilan. Sang Susuhunan Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan memerlukan prajurit-prajurit pilihan untuk kelak dididik dan dipersiapkan menjadi perwira pengawal Raja. Sekarang seribu pengawal Raja sudah banyak yang berusia lanjut dan perlu penggantinya," kata lelaki setengah baya itu menjelaskan.

Kata orang itu, Susuhunan Pakuan, Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan, berkenan menyaksikan uji keterampilan ini bersama para pejabat lainnya. Ketika mendengar keterangan ini, hati Ginggi bergetar. Nama Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan sudah sejak lama dia dengar melalui mulut Ki Darma. Tiga tahun sebelum sang Susuhunan ini memerintah, Ki Darma sudah mengundurkan diri dari kegiatan di istana. Namun kendati begitu, kata Ki Darma, raja ini mengenalnya sejak menjadi putra mahkota.

Namun jauh sebelum putra mahkota ini diwastu (dinobatkan), hubungannya dengan Ki Darma sudah kurang baik. Itulah sebabnya, jauh hari sebelum putra mahkota dinobatkan, Ki Darma mengundurkan diri, yang belakangan dituduhnya sebagai pengkhianat dan pemberontak. Sekarang Ginggi akan melihat dengan mata kepala sendiri, Raja Pajajaran yang berkedudukan di Pakuan ini.

Ketika cahaya matahari menyorot hangat lewat celah dedaunan pohon beringin, terdengar bunyi suara gong yang dipukul tiga kali. Serentak dengan itu terdengar pula suara gamelan yang ditabuh dari pinggir balandongan. Lawang saketeng (pintu gerbang) benteng dalam terkuak lebar, dibuka oleh delapan prajurit berpakaian lengkap. Penonton yang tepat berada di depan lawang saketeng yang tadinya bergerombol menutupi pinggir alun-alun segera menguak sambil membalikkan badan menghadap lawang saketeng.

Suara gamelan ditabuh demikian bersemangat dan masyarakat yang ada di seputar alun-alun mendadak duduk berlutut, tangan menyembah takzim, dan kepala tertunduk ketika dari dalam benteng keluar iring-iringan. Ginggi menoleh ke kiri dan kanan. Namun ketika dilihatnya ada prajurit melihat dirinya dengan mata melotot, dia segera ikut berlutut dan kedua tangan menyembah takzim. Ginggi sebenarnya ingin menunduk juga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment