Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 57

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 57

Namun, hati dan perasaannya tak kuasa membendung keinginan untuk menyaksikan iring-iringan yang keluar dari pintu benteng itu. Kendati dengan wajah tertunduk, mata Ginggi memaksakan diri untuk mengerling guna melihat iring-iringan tersebut.

Tampaknya, itu adalah sebuah iring-iringan besar. Mula-mula ada barisan pengawal berjumlah dua belas prajurit. Semuanya berambut panjang, digelung ke atas, dan disisir rapi. Kepalanya diikat oleh semacam pengikat kepala yang terbuat dari ornamen logam. Dua belas prajurit pengawal ini bertelanjang dada, namun leher dan sepasang tangannya dihiasi pinggel (gelang) logam berwarna perak. Semuanya bercelana sontog terbuat dari beludru kasar yang diberi ornamen kerlap-kerlip berwarna perak. Dua belas prajurit pengawal ini memakai kain batik kebat yang dilipat dua, kecuali satu ujungnya dibiarkan terbuka hingga hampir menjuntai ke bawah. Mereka memegang senjata di tangan kanan dan perisai logam di tangan kiri; enam orang bersenjatakan tombak dan enam orang lainnya memegang pedang terhunus. Mereka berbaris rapi dengan irama tertentu.

Rombongan kuda keluar dari lawang saketeng. Jumlahnya pun dua belas prajurit yang bertugas sebagai pembawa bendera dan umbul-umbul. Sesudah itu, rombongan ketiga keluar. Mereka bukan prajurit dengan langkah gagah dan wajah tegang, melainkan rombongan gadis-gadis yang berjalan lemah gemulai sehingga membuat siapa pun terpesona memandangnya. Melalui sudut matanya, Ginggi menghitung ada sekitar empat puluh orang gadis yang berwajah molek. Rombongan gadis itu mengenakan kain berwarna hijau muda dan kebaya berwarna kuning. Ada selendang tipis berwarna hijau tua melintang di leher masing-masing, menutupi sebagian leher dan dada bagian atas yang putih mulus, membuat kaum lelaki terpesona melihatnya. Rombongan empat puluh gadis cantik ini membawa tempayan perak dengan setumpuk bunga warna-warni di atasnya.

Suara gamelan mengalun pelan ketika rombongan keempat keluar dari lawang saketeng. Rombongan ini diawali oleh barisan pengawal dengan senjata trisula, lengkap dengan perisai di tangan kiri. Mereka tampak gagah dengan jumlah sekitar dua belas orang. Dada Ginggi bergetar ketika lirikan matanya menyaksikan siapa yang keluar dari lawang saketeng selanjutnya. Enam orang prajurit memanggul jampana (alat angkut yang diusung) dengan posisi dua orang di sisi depan dan dua orang lagi di sisi belakang.

Sosok yang duduk menumpang jampana kayu halus berukir indah dengan motif burung garuda itu membuat dada Ginggi kembali bergetar hebat. Barangkali, inilah Sang Susuhunan Pakuan, raja keempat Kerajaan Pajajaran, atau raja urutan ke-38 dalam susunan raja-raja dari kerajaan masa lampau (967 M) jika dihitung sampai pengangkatan raja hari ini, yaitu Ratu Sakti Sang Mangabatan (1543–1551 M).

Menyaksikan iring-iringan besar yang menuju alun-alun ini, di telinga Ginggi terngiang kembali tembang-tembang papantun yang pernah ia simak di Desa Cae beberapa bulan silam:

*Singasari keri-kanan payung wilis lilingga gading dipuncakan manik molah payung getas dililinggaan dipuncakan ku omas deung payung saberilen beunang ngagaler ku lungsir tapok terong emas keloh gelewer paranjang papan kikiceup deungeun lilieuk deg semut sama sadulur petana tataman indah Bur kadi kuta manglayang Lumenggang di awang-awang Juru kendi tipandeuri Juru kandaga tiheula Deung sawung galing kiwa tengen Di tengah kidang kancana Saha nu di singa barong Bur tiheula ler pandeuri Satangganan lain deui.*

Itulah tembang-tembang papantun yang memberitahukan kepindahan iring-iringan Sri Baduga Maharaja bersama para istri dari dayo (kota) lama Galuh (Ciamis) ke dayo baru Pakuan (Bogor) pada tahun 1482 Masehi, atau 30 tahun silam. Barangkali iring-iringan perjalanan Sri Baduga Maharaja dari Galuh ke Pakuan adalah yang terbesar, tetapi iring-iringan Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan—yang juga disebut Sang Prabu Dewata Buana—adalah yang termegah, kendati hanya melakukan perjalanan dari istana menuju alun-alun benteng luar di tepi Sungai Cisadane.

Semua ambarahayat diperintahkan untuk berdiri kembali oleh teriakan dan aba-aba seorang prajurit yang berdiri di tepi balandongan (panggung). Mendengar aba-aba itu, serentak semua orang berdiri. Ginggi pun berdiri dan tatapannya langsung tertuju ke arah balandongan. Empat puluh gadis cantik tampak berjejer di depan balandongan dan menaburkan bunga warna-warni kepada seseorang yang duduk terpisah di singgasana kayu mengkilap.

Ginggi berdiri tidak terlalu depan, namun juga tidak terlalu jauh, sehingga ia sanggup menyaksikan orang yang duduk di singgasana itu. Ia hampir tidak sanggup menatap lama orang tersebut. Mungkin karena Ginggi sadar bahwa yang ditatapnya adalah seorang raja dari kerajaan yang pernah mengalami zaman keemasan puluhan tahun silam, atau mungkin karena sosok itu memang amat berwibawa.

Sang Raja duduk tegap dengan anggun. Usianya sekitar empat puluh tahunan, namun tampak muda. Kulit wajahnya putih halus dan bercahaya. Matanya bening dengan sorot tajam penuh keyakinan. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis, tampak lebih tampan karena dihiasi kumis tipis. Di atas kepalanya terpasang mahkota yang dihiasi emas murni. Sepasang telinganya dihiasi susumping yang mengkilap keemasan. Itulah mungkin Makuta Binokasih Sanghyang Pake (kini disimpan di Museum Geusan Ulun, Sumedang), mahkota Raja Pajajaran yang dibuat oleh Prabu Bunisora untuk digunakan Raja Pajajaran pertama, yaitu Sri Baduga Maharaja (1482–1521 Masehi), dan kemudian secara turun-temurun dipakai oleh raja-raja seterusnya hingga Prabu Geusan Ulun, Raja Kerajaan Sumedanglarang.

Sang Prabu memakai baju kurung tipis dari kain sutra berwarna kuning muda tanpa lengan. Sepasang tangannya dihiasi gelang-gelang emas, baik di pergelangan maupun di dekat bahu. Leher Sang Prabu pun dihiasi kalung emas susun tiga yang membentuk motif daun dan kembang.

"Hm, gagah benar Sang Susuhunan," lelaki setengah baya yang berdiri di samping Ginggi berdecak kagum. "Lihatlah anak muda, beliau menggunakan Makuta Emas Binokasih Sanghyang Pake, yang dulu dipergunakan Sang Susuhunan Sri Baduga Maharaja, atau bergelar Sang Ratu Jaya Dewata, atau lebih harum lagi disebut sebagai Prabu Siliwangi. Lihatlah pula benten emas yang membelit pinggangnya, ataupun susumping garuda mungkur yang terpasang di kedua telinga Sang Prabu. Oh, serasa aku kembali ke zaman kebesaran Pakuan ketika Sang Susuhunan Sri Baduga Maharaja masih ada," gumam lelaki setengah baya ini.

Ginggi menoleh; ternyata ada genangan air mata meleleh di pipi lelaki itu. Namun, Ginggi hanya sebentar mencari makna dari ucapan sang ambarahayat karena dari tepi balandongan terdengar lagi teriakan prajurit yang menyuruh semua orang diam dan menundukkan kepala.

Suasana kembali hening. Di tengah keheningan ini terdengar lantunan doa yang rupanya diucapkan seorang wiku (pendeta). Dengan nada bergetar meraga sukma, sang wiku membaca doa dengan panjang. Ia berdoa semoga Pakuan beserta Pajajaran tetap berdiri kokoh sentosa, raja bahagia, dan rakyat sejahtera.

"Bagaimana agar kesejahteraan bisa terangkum secara lahir batin, maka sang Suku milang awak: urang lamun salah langkah eta matak urang papa; leungeun lamun salah cokot eta matak urang papa; ceuli lamun salah denge eta matak urang papa; panon lamun salah jeueung eta matak urang papa; irung lamun salah ambeu eta matak urang papa. Jangan terlalu lama berhenti agar tidak terlanjur, jangan terpengaruh oleh penglihatan, jangan terpengaruh oleh pendengaran, ujar-ujar jangan khilaf, ingat-ingat jangan lupa," ujar sang wiku.

Selanjutnya, sang wiku kembali berdoa untuk kesejahteraan Pajajaran beserta seluruh penghuninya:

*Hati tiba tak diajak*

*Hati datang tak diundang*

*Yang setia selalu berhasil*

*Suka tanpa mengenal duka*

*Kenyang tanpa mengenal lapar*

*Hidup tanpa mengenal maut*

*Bahagia tanpa mengenal papa*

*Baik tanpa mengenal buruk*

*Pasti tanpa mengenal kebetulan*

*Moksa, lepas tanpa mengenal ulangan hidup*

"Itulah Purohita (pendeta tinggi negara) Ki Raga Suci. Dia sudah menjadi Purohita Pakuan sejak zaman Sang Susuhunan Sri Baduga Maharaja," tutur lelaki setengah baya di samping Ginggi.

Ginggi tak sempat mengiyakan omongan orang itu karena tiba-tiba semua ambarahayat berteriak gemuruh mengucapkan selamat pada Raja. "Panjang umur dan hidup sejahtera!"

Sang Susuhunan Prabu Sakti Sang Mangabatan berdiri sejenak, melambai-lambaikan tangan ke segala penjuru dengan senyum dan mata berbinar. Ia masih terus melambaikan tangan dan mengerling ke sana-kemari karena gemuruh suara ambarahayat belum juga reda. Purohita Ki Raga Suci mengangkat tangan, memberi aba-aba agar ambarahayat berhenti dan memberikan kesempatan kepada Raja untuk berbicara. Mendadak, semua orang yang ada di seputar alun-alun diam seperti kena sirep. Ribuan ambarahayat menyorotkan mata tanpa berkedip ke arah balandongan.

"Tak ada masa sekarang bila tak ada masa lalu. Namun juga, masa lalu bisa berlanjut karena ketegaran masa sekarang," ujar Sang Prabu dengan suara halus namun mengandung wibawa yang tinggi.

"Puluhan tahun Kerajaan Pajajaran berdiri, bahkan ratusan tahun Kerajaan Sunda ini tetap utuh. Kita tetap kokoh, tetap berdiri, dan sanggup bertahan dari gangguan musuh karena setiap generasi yang diberi tanggung jawab untuk mempertahankan negeri sanggup menjaga dengan baik. Pajajaran tetap ada karena selalu memiliki raja yang kuat dan rakyat yang setia. Oleh sebab itu, aku sebagai Susuhunan Pakuan tetap menyuruh kalian, ambarahayat, agar selalu setia kepadaku. Kesetiaanmu padaku hanya berarti kalian mempertahankan keberadaan Pajajaran," ujar Sang Prabu.

Ambarahayat masih diam terpana mendengarkan ujar-ujar Sang Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment