Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 58

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 58

Pajajaran masih tetap besar, tetapi Pajajaran juga tengah prihatin. Wilayah kekuasaan kita sekarang tidak seutuh masa-masa lalu. Wilayah Pajajaran di pantai utara dan barat telah direbut musuh, sehingga perdagangan kita terganggu dan penghasilan negeri berkurang. Musuh bisa merebut wilayah kita satu per satu barangkali karena mereka kuat, tapi juga bisa berarti karena tidak semua ambarahayat bersetia penuh kepada negara.

Aku dengar di wilayah timur, beberapa negeri kecil yang dulu ada di bawah Pakuan sudah berpaling kepada kekuatan agama baru. Mereka sudah tidak membayar seba ke Pakuan. Dengan demikian, penghasilan negara semakin kecil jua. Itulah sebabnya, semua ambarahayat harus semakin setia terhadap Pakuan. Aku selalu memerintahkan muhara untuk terus meningkatkan hasil seba dari kalian karena keadaan yang kian mendesak ini. Kalau kalian tak mengeluh oleh seba yang ditarik semakin tinggi oleh muhara, maka kalian akan menjadi ambarahayat yang berarti sebab telah berkorban demi kebesaran Pajajaran!" kata Sang Prabu dengan suara yang ditinggikan.

Ambarahayat masih tetap diam. Ginggi melirik ke samping, lelaki setengah baya nampak menunduk sambil berpangku tangan.

"Kita akan tetap berusaha mempertahankan kebesaran Pajajaran. Pakuan akan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya di wilayah timur Sungai Citarum. Beberapa daerah Kandagalante yang ada di timur sudah aku setujui untuk menambah kekuatan prajurit dan jagabaya. Itu untuk menjaga rongrongan dari kekuasaan Demak dan Cirebon. Pembentukan kekuatan di wilayah-wilayah timur akan semakin ditingkatkan sebab barangkali kelak bukan sekadar bertahan saja, tapi pun akan berusaha mengembalikan hak-hak kita yang telah hilang," seru Sang Prabu.

"Sekarang Pajajaran memiliki seratus ribu prajurit dan seribu orang perwira pengawal raja. Jumlah prajurit akan selalu ditingkatkan dan seribu perwira pengawal raja harus selalu memiliki cadangan. Hari ini saatnya menguji keterampilan. Akan ada ujian tingkat bagi prajurit-prajurit pandai. Bila benar-benar ketangguhan dan kemampuannya meningkat dan lulus dalam ujian, maka prajurit itu akan diangkat menjadi perwira kerajaan!" ujar Sang Prabu.

Terdengar sorak-sorai di kiri kanan alun-alun karena ratusan prajurit berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjatanya masing-masing.

"Juga akan ada ujian ketangkasan bagi ambarahayat yang akan menyediakan dirinya menjadi prajurit Pakuan!" kata Sang Prabu pula.

Kini sorak-sorai terdengar lebih membahana sebab keluar dari mulut ambarahayat yang jumlahnya ribuan di seputar alun-alun itu.

"Nanti para senapati dan perwira yang akan mengatur tata cara uji ketangkasan ini," kata Sang Prabu mengakhiri pidatonya. Beliau kembali melambai-lambaikan tangan dan disambut gemuruh tepukan ambarahayat. Sang Prabu kembali duduk di singgasana yang diikuti oleh suara tetabuhan bertalu-talu dengan irama penuh semangat.

Berbareng dengan itu, dari bawah balandongan berturut-turut naik para wanita yang berpakaian indah dengan wajah molek. Mereka duduk berjajar rapi.

"Paman, banyak wanita cantik berderet di belakang Sang Prabu, siapakah mereka?" tanya Ginggi menatap tak habis-habisnya kepada deretan wanita jelita itu.

"Itulah para bidadari, putri-putri istana penghuni Taman Mila Kancana, berselampai sutra Cina, beramben corak manikam, dan bersanggul penggetar cinta!" kata lelaki setengah baya itu.

Ginggi mengangguk dan amat setuju dengan ungkapan indah penduduk Pakuan ini. Apalagi di saat gemerlap dengan segala kebesarannya, sedangkan di hari-hari kelabu, ambarahayat Pajajaran selalu memuji-muji eloknya penghuni Pakuan. Ginggi sejak tadi hanya memperhatikan ke arah balandongan saja di mana Sang Prabu beserta para putri cantik berada. Padahal, di kiri kanan balandongan masih terdapat panggung-panggung bertenda yang banyak digunakan orang untuk duduk berderet.

Ginggi tersentak kaget sebab di antara deretan orang, terdapat beberapa orang yang dikenalnya dengan baik. Di sana ada Ki Banaspati. Dia menggunakan pakaian senting (bedahan lima) terbuat dari kain beludru hitam. Kepalanya ditutup bendo dari kain batik corak alas-alasan. Tidak bersua hampir sepuluh bulan lamanya, tidak ada perubahan di wajah Ki Banaspati. Tubuhnya masih tetap tegap dan dadanya bidang. Alis matanya kini agak tebal hitam. Ki Banaspati duduk sejajar dengan para hadirin lainnya. Melihat penampilan dan jenis pakaian yang dikenakannya, semuanya pasti terdiri dari kaum bangsawan dan pejabat semata.

Ketika mata Ginggi mengarah ke jajaran paling pinggir, pemuda itu kembali terkejut. Di sana duduk seorang pemuda anggun. Sama menggunakan pakaian senting beludru hitam, tapi menggunakan bendo yang di depannya dipasang ornamen warna emas. Pemuda berkulit putih dengan hidung mancung tapi kalau tertawa selalu mengatupkan bibirnya, siapa lagi kalau bukan Suji Angkara. Ginggi bingung; ada Ki Banaspati, ada Suji Angkara. Mereka duduk sejajar di panggung kehormatan bersama para pejabat negara lainnya, padahal keduanya jelas bermusuhan setelah peristiwa di wilayah Sagaraherang itu. Bagaimana bisa mereka kini sama-sama berada di sana?

Ginggi teringat, sebetulnya sepuluh bulan lalu dia diperintah Ki Banaspati untuk mengejar dan membunuh Suji Angkara. Hingga kedua orang itu bertemu di Pakuan, Ginggi tak pernah melaksanakan perintah Ki Banaspati. Marahkah Ki Banaspati bila kelak bertemu lagi dengannya? Ginggi mundur beberapa tindak dan mencari tempat berdiri di belakang kerumunan orang banyak.

Sekarang juru bicara acara mengumumkan bahwa sebelum diadakan uji keterampilan, akan diawali dulu dengan latihan perang-perangan dengan menampilkan kebolehan siasat pertempuran yang jadi kebanggaan Pajajaran dan Kerajaan Sunda sejak ratusan tahun silam. Akan dilakukan oleh seribu perwira pengawal raja dan dibantu pasukan prajurit. Penonton berteriak riuh. Beberapa di antaranya bersuit-suit nyaring saking gembiranya diberi suguhan demonstrasi perang-perangan ini.

Ginggi pernah menerima penjelasan dari Ki Rangga Guna bahwa Pajajaran secara turun-temurun memiliki Maliput, Merak-Simpir, Gagak-Sangkur, Luwak-aturun, Kidang-Sumeka, Babah-Buhaya, dan Ngaliga-anik. Menurut juru bicara, pasukan akan menampilkan siasat bertempur yang amat terkenal yang diberi nama Merak-Simpir. Suara gamelan bertalu-talu. Penabuh gendang dan gambang demikian semangat menabuh alat musiknya. Pemegang gong dan kempul, kendati menabuh alatnya tak sesering gendang dan gambang, tapi setiap kali melakukan tugas bagiannya, mereka memukul alat yang dipegangnya dengan mantap dan pasti sehingga menjadi pelengkap pembawa semangat.

Ketika suara gamelan bertalu-talu itulah keluar sebuah barisan berseragam lengkap turun ke lapangan alun-alun yang diiringi tempik sorak penonton. Pasukan yang turun membentuk dua kelompok yang seolah-olah saling bermusuhan. Satu pasukan dengan jumlah lebih besar terdiri dari ratusan prajurit. Mereka semua bertelanjang dada, kecuali sepasang tangan bergelang tulang hitam, begitu pun lehernya berkalung tulang. Semua bercelana sontog hitam dengan ornamen perak di ujung bagian kakinya. Rambutnya panjang tapi digelung rapi ke atas. Mereka bersenjata tombak dan pedang di tangan kanan serta perisai logam di tangan kiri.

Di lain pihak, pasukan yang menjadi lawannya berpakaian lebih gagah lagi. Jumlahnya masih ratusan tapi di bawah jumlah lawannya. Mereka menggunakan baju zirah (baju terbuat dari sisik logam yang tak tembus senjata tajam) yang dilapisi rompi beludru hitam berornamen gemerlap. Celana sontog hitamnya sedikit tertutup kain batik kebat yang dikenakan terlipat dan ujungnya menggapai di depan seperti yang biasa digunakan oleh para ksatria. Mereka bersiap tanpa menggunakan senjata apa pun. Melihat penampilan mereka, kendati jumlahnya tak persis seribu, Ginggi yakin, inilah pasukan seribu perwira pengawal raja.

Sekarang dua pasukan sudah saling berhadapan. Satu di ujung alun-alun sebelah kiri panggung, satunya lagi di ujung kanan. "Merak-simpir!!" teriak perwira kepala. Maka secepat kilat pasukan pengawal membentuk formasi. Formasi ini membentuk ekor burung merak yang tengah membeber. Pasukan paling depan terdiri atas perwira berjajar sepuluh orang. Namun, barisan ini terus berlapis-lapis dengan jumlah berlipat. Pada lapis bagian kedua, jumlahnya ada dua puluh orang. Lapisan ketiga tambah lagi menjadi tiga puluh orang berjajar. Begitu seterusnya hingga barisan atau lapisan paling akhir, jumlah pasukan ada sekitar enam puluh perwira berjajar rapi ke samping.

Aba-aba kedua terdengar. Itulah aba-aba menyerang. Maka dua pasukan sama-sama berlari untuk saling berhadapan. Juru acara mengabarkan kepada penonton bahwa pasukan lawan menggunakan siasat perang bernama Bajra-Panjara. Mereka juga sama membentuk formasi barisan, tapi caranya jauh berbeda dengan yang ditampilkan pasukan perwira. Mereka membuat lapisan penyerangan dengan jumlah yang sama setiap lapisnya. Ginggi menghitung, baik lapisan baris pertama maupun baris kedua sampai lapisan paling belakang, jumlah pertahanannya sama, yaitu terdiri dari lima puluh orang prajurit berjajar ke samping.

Ginggi pun menghitung jumlah lapisan pasukan prajurit. Semuanya ada sepuluh lapis. Artinya, pasukan prajurit total berjumlah 500 orang. Jauh lebih besar ketimbang pasukan perwira pengawal raja. Dengan iringan tempik sorak penonton, dua pasukan berlari saling mendekat sambil tetap menampilkan cara formasi masing-masing. Tempik sorak makin menjadi-jadi, suara gamelan pun makin bersemangat ketika lapisan pertama sudah saling menyerang. Ini adalah pertempuran paling berat buat pasukan perwira. Lapisan pertama ini jumlahnya hanya sepuluh orang. Sedangkan di lain pihak, lapisan pertama dari pasukan prajurit berjumlah lima puluh orang. Ginggi mulai mengerti siasat perang formasi Merak-Simpir ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment