Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 59

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 59

Lapisan pertama dengan jumlah terbatas diuji kekuatannya melawan jumlah musuh yang lebih banyak. Bila lapisan pertama ini gagal menghadang musuh, maka lapisan kedua akan bergerak dengan jumlah berlipat ganda. Jika lapisan kedua juga gagal membendung, maka lapisan ketiga akan bergerak dengan jumlah yang kian berlipat. Begitu seterusnya sampai tiba pada lapisan terakhir dengan jumlah barisan paling banyak.

Namun, pertempuran gelombang pertama belum memerlukan bantuan gelombang kedua, sebab sepuluh perwira pengawal raja tampak melakukan perlawanan sengit meski dikepung lima puluh prajurit bersenjata lengkap. Sepuluh perwira itu sanggup berkelit dari serbuan ujung tombak atau pedang, bahkan berhasil membalas serangan. Kendati dilakukan dengan tangan kosong, jurus berkelahi mereka sangat tinggi dan hebat.

Ginggi terpesona sekaligus heran, sebab ada beberapa gerakan dan jurus yang mirip kepunyaan Ki Darma. Namun, rasa heran itu tak berlangsung lama, sebab belasan tahun silam Ki Darma adalah anggota pasukan seribu perwira pengawal raja. Ki Darma merupakan perwira senior yang pasti banyak menurunkan ilmunya kepada sesama perwira yang pengalaman bertempurnya berada di bawah bimbingannya. Teringat akan hal ini, Ginggi tersenyum kecut. Orang itu hingga hari ini tidak disukai kalangan istana, tetapi ilmunya tetap dipergunakan.

Siasat bertempur dengan julukan Bajra-Panjara pun sebenarnya sangat hebat. Semua barisan terlihat berjajar kokoh seperti jeruji penjara. Barisan lapis pertama dalam menyerang dan bertahan tidak mengubah gaya formasi serta posisi. Mereka berjajar rapi, ketat, dan kuat sehingga tidak memberikan peluang bagi musuh untuk lolos dari kepungan. Mereka saling menunjang satu sama lain; jika ada salah satu anggota terdesak, dua anggota di samping kiri dan kanannya segera memberikan bantuan. Begitu seterusnya.

Namun, ketangguhan formasi apa pun hanya akan sempurna bila didukung oleh pelaku yang secara perorangan cakap dalam menampilkan kebolehan ilmu bela diri. Pasukan perwira pengawal raja memiliki ilmu dua atau tiga tingkat di atas rata-rata prajurit biasa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, tiap gelombang pasukan Bajra-Panjara berhasil ditembus oleh taktik perang Merak-Simpir yang dilakukan dengan jurus-jurus perseorangan yang sempurna. Bajra-Panjara berantakan karena anggota pasukannya kocar-kacir dan cerai-berai. Sorak-sorai dan suitan tanda pujian bergemuruh di seputar alun-alun menyambut kemenangan pasukan pengawal raja. Sang Prabu Ratu Sakti pun tampak mengangguk-angguk tanda senang dengan pertunjukan ini.

Latihan perang-perangan telah selesai tanpa menimbulkan luka berarti kepada kedua anggota pasukan tersebut. Kini tiba saatnya uji ketangkasan bagi para prajurit yang akan mengalami kenaikan tingkat, disusul oleh uji keterampilan bagi ambarahayat yang bermaksud mengabdikan diri menjadi Prajurit Pakuan. Macam-macam cara ujian diselenggarakan, mulai dari keterampilan menggunakan tujuh belas macam senjata hingga uji bela diri. Dari mulai uji menangkap banteng, sampai kepada uji menangkap macan kumbang yang dilepas di tengah alun-alun.

Penonton, terutama kaum wanita dan anak-anak, bergidik ngeri. Ada yang menjerit ketakutan, menutupi mata, atau berlindung di balik pohon karena tidak kuasa melihat kegagahan macan kumbang serta aumannya yang membelah dada. Namun, binatang buas itu tidak mungkin lolos dari alun-alun, apalagi menyerang penonton, karena para perwira tangguh selalu siaga mengepung agar ruang gerak binatang itu terbatas di dalam barisan pengawal raja saja.

Sedang asyik menyaksikan semua pertunjukan dan atraksi memikat ini, tiba-tiba bahu Ginggi ditepuk orang dari belakang.

"Hei, kau Prajurit Madi rupanya!" teriak Ginggi gembira. "Sejak tadi aku cari-cari kau, ke mana saja?" tanyanya sembari hendak menepuk bahu Madi.

Namun, Madi segera menepiskan tepukan Ginggi. "Kau jangan bertindak kurang ajar seperti itu. Aku kan prajurit!" desis Madi melotot marah.

"Oh, maaf," kata Ginggi sambil tetap tersenyum.

"Aku sejak pagi sibuk terus. Aku kan prajurit, dan ini pestanya prajurit!" jawab Madi sombong.

"Tapi yang lain sibuk, kau malah tidak?" gumam Ginggi mencibir.

"Dasar anak tolol. Yang sibuk bukan hanya di tengah alun-alun saja. Ada juga yang melakukan kesibukan secara diam-diam. Itulah aku, sebab aku mesti memeriksa kalau-kalau di sekeliling alun-alun keamanan tidak terjamin," jawab Madi.

"Oh, begitu rupanya?"

"Sekarang aku datang ke sini bukan sengaja cari-cari kau, tapi sedang bertugas jaga, siapa tahu di sini ada pengacau!" kata Madi tidak senang dengan cibiran Ginggi.

"Pengacau?" Ginggi mengerutkan dahi.

"Ya, orang-orang bawel sepertimu bisa-bisa kutangkap karena dianggap pengacau!" kata Madi jengkel.

"Hei, jangan marah seperti itu. Kau kan sudah jadi prajurit," kata Ginggi.

Madi hanya menjawab dengan desisan.

"Bagaimana, apa aku bisa ikut kerja lagi pada Raden Suji Angkara?" tanya Ginggi kembali teringat hal itu.

"Kau lihat sana, Raden Suji lagi sibuk!"

"Maksudku, ya nanti saja bila Raden Suji Angkara tidak sibuk."

"Ya, nanti saja bicaranya, tolol!" hardik Madi yang tampak akan segera berlalu.

"Eh, aku dapat pesan dari Ki Banen, dia ingin bertemu denganmu!" kata Madi menahan langkah.

"Ki Banen? Di mana aku bisa bertemu dengannya?"

"Huh, dia menjadi sering sakit-sakitan setibanya di sini. Orang-orang pada ribut kerja, dia malah sakit," kata Madi kesal.

Madi memberikan alamat di mana Ki Banen bisa ditemui. Ketika acara uji keterampilan masih berlangsung, Ginggi segera meninggalkan tempat itu. Hanya Ki Banen yang tampak baik padanya. Oleh sebab itu, mendengar orang tua itu sakit, Ginggi ingin menengoknya. Ginggi melangkahkan kaki meninggalkan alun-alun. Dia berjalan menyusuri sebuah parit buatan yang orang Pakuan sebut sebagai Cipakancilan. Kata Madi, Ki Banen tinggal di sebuah rumah tua di tepi Cipakancilan.

Memang tidak sulit, sebab di beranda rumah kayu jati itu ada orang gemuk berwajah bulat dan berkumis tebal. "Ki Ogel?" sapa Ginggi. Ki Ogel memicingkan kedua matanya karena ingin melihat jelas siapa yang menyapanya.

"Kau, anak muda?" Ki Ogel balik menyapa.

"Ya, kini aku beri tahu namaku, aku Ginggi!" jawab pemuda itu sedikit terharu. Terharu, hanya dalam waktu sembilan bulan saja wajah Ki Ogel sudah berubah. Rambutnya yang kini digelung ke atas sudah penuh uban. "Aku kau tinggalkan begitu saja di Sagaraherang. Sekarang kalian kusul. Tapi, benarkah Ki Banen sakit?" tanyanya.

Ki Ogel hanya mengangguk lesu. "Mari masuk," tukasnya.

Ginggi masuk ke rumah tua itu. Ada ruangan tengah cukup luas yang dilengkapi satu ruangan tidur. Ki Ogel menunjuk ke ruangan itu. Ginggi masuk dan tampak ada orang tua tergolek lemah di lantai papan yang beralaskan tikar.

"Ki Banen?" sapa Ginggi.

Orang yang tergolek lemah itu membuka matanya pelan-pelan. Dengan sorot mata sayu, dia menatap siapa yang datang, namun rupanya Ki Banen masih hafal dengan Ginggi.

"Kau anak muda?"

"Aku Ginggi," kata pemuda itu mendekati tubuh tak berdaya tersebut. Ki Banen mengulurkan tangannya, seolah ingin memegang tangan pemuda itu. Ginggi mengerti. Dia segera memegang tangan Ki Banen yang kurus dan keriput. Ki Banen jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya, jauh lebih tua dibandingkan dengan wajah Ki Ogel yang tampak masih agak gemuk.

"Anak muda, mau apakah kau datang ke Pakuan ini?" tanya Ki Banen dengan suara lemah.

"Aku... bukankah aku sudah jadi anak buah Raden Suji Angkara? Mengapa aku kalian tinggalkan di Sagaraherang? Sudah barang tentu aku datang ke sini karena menyusul kalian," kata Ginggi setengah berbohong.

"Jangan... jangan ikut kerja di sini. Sebaiknya kau pulanglah! Lebih baik kau selamatkan jiwamu!" Ki Banen menggerak-gerakkan tangannya seperti mengusir Ginggi.

Pemuda itu tidak mengerti apa yang dimaksud Ki Banen. Namun, orang tua itu tampak payah untuk melanjutkan ucapannya. Dia hanya memegangi dadanya dan mulutnya menahan batuk. Ginggi menengok ke arah Ki Ogel, ia ingin mendapatkan penjelasan.

"Tadi pagi memang Madi memberitahu kami bahwa engkau datang ke Pakuan. Maka Ki Banen meminta agar kau datang ke sini. Maksud Ki Banen memang begitu, sebaiknya kau pulang saja dan jangan lanjutkan maksudmu untuk mengabdi kepada Suji Angkara," kata Ki Ogel.

"Mengapa?"

Ki Ogel menundukkan kepala. "Pokoknya kau pergi saja dari sini. Kau tidak akan cocok bekerja dengannya," katanya setelah lama berdiam diri.

"Aku ingin tahu, apa sebabnya aku tak boleh bekerja kepada Raden Suji Angkara, padahal susah payah aku menempuh perjalanan jauh dari Sagaraherang ke Pakuan ini," gumam Ginggi dengan nada kesal.

"Kau terangkan, Ki Ogel," kata Ki Banen pada akhirnya.

Ginggi kembali berpaling kepada Ki Ogel. Dia amat penasaran ingin segera mendengarkan penjelasan. Dengan hati-hati dan penuh rasa khawatir, Ki Ogel bercerita tentang pengalamannya ikut Suji Angkara selama ini. Sejak dari Desa Cae, kedua orang tua ini memang sudah berniat bergabung dengan Suji Angkara, pertama untuk mencari pengalaman dan kedua mencari mata pencaharian yang layak.

"Kau mungkin tahu, Suji Angkara kelihatannya begitu kaya dan setiap hari kerjanya berfoya-foya belaka," kata Ki Ogel. "Anak pesolek itu senang berfoya-foya karena banyak kekayaannya. Dia banyak memiliki kekayaan karena gemar berniaga. Itulah sebabnya, ketika ada tugas mengirimkan barang seba, Ki Ogel dan Ki Banen tertarik untuk ikut serta."

"Aku dan Ki Banen berpikir, bila usai tugas mengirim seba, tidak akan kembali ke kampung halaman, melainkan akan ikut Suji Angkara berniaga," ungkap Ki Ogel. Namun, apa yang terjadi? Sesudah bersama Suji Angkara, baik Ki Ogel maupun Ki Banen banyak mendapatkan keganjilan. Kata Ki Ogel, cara kerja Suji Angkara dalam menghimpun barang-barang seba tidak wajar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment