Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 60

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 60

"Engkau pernah menyindir kami ketika di Desa Wado tentang cara-cara paksa dalam menarik seba yang dilakukan Suji Angkara," kata Ki Ogel.

"Ya, benar! Waktu itu aku tidak senang dengan tindakan Raden Suji Angkara sebab mengambil seba di desa itu terlalu kasar!" kata Ginggi.

"Aku juga waktu itu tidak senang. Tapi aku menahan diri sebab aku masih punya harapan dari anak itu," kata Ki Ogel melanjutkan ceritanya tentang kejanggalan yang diperlihatkan Suji Angkara.

Di Desa Wado, pemuda tampan itu kepergok Ki Banen sedang menggoda anak gadis warga desa. Mereka menganggap Suji Angkara bertindak tidak senonoh sebab mengganggu anak gadis orang yang minggu depannya akan melangsungkan pernikahan.

"Namun, kami tidak melakukan teguran. Apa pun yang terjadi, Suji Angkara adalah putra Kuwu Suntara yang begitu disayangi orang tuanya, sedangkan kami semua menghormati Kuwu," kata Ki Ogel.

Ki Ogel melanjutkan ceritanya. Perasaan tidak enak semakin membebani hatinya ketika anak gadis di Desa Wado mati bunuh diri.

"Menurut berita, gadis itu bunuh diri karena kecewa biaya untuk upacara pernikahan sebagian besar habis guna membayar seba. Tapi benarkah begitu? Kami mencurigai sesuatu, tapi kami tak sanggup mengatakan apa-apa," kata Ki Ogel menghela napas.

"Peristiwa yang sama terjadi pula di wilayah Kandagalante, Tanjungpura. Anak gadis Juragan Ilun Rosa mati bunuh diri setelah gadis itu sehari sebelumnya digoda Suji Angkara. Kami menemukan banyak kejanggalan. Setiap kami masuk ke sebuah wilayah, saat itu pula ada gadis yang bunuh diri. Di Warunggede juga ada gadis bunuh diri. Apakah memang kami patut bercuriga? Entahlah. Hanya yang jelas, setiap kami memasuki satu wilayah, selalu saja ada peristiwa menyedihkan," kata Ki Ogel.

"Dengan kata lain, kau mengatakan bahwa setiap di situ ada Suji Angkara, maka di sana ada peristiwa. Begitukah?" tanya Ginggi.

Ki Ogel tidak berani menganggukkan kepala, sedangkan Ki Banen hanya tergolek dengan pernapasan lemah.

"Pemuda Seta dan Madi bagaimana?" tanya Ginggi.

"Seta pernah mengatakan hal ini padaku, tapi akhirnya dia melupakan urusan ini. Seta terlalu setia kepada Suji Angkara sebab selalu mendapatkan perhatian lebih dari pemuda itu. Sekarang Seta menjadi ponggawa istana dan Madi menjadi prajurit tugur benteng dalam. Mereka berdua amat berterima kasih pada Suji Angkara yang dianggapnya begitu berjasa mengangkat nasib mereka. Bila sudah bekerja selama setahun, kabarnya Seta akan pulang dulu ke Cae untuk melangsungkan pernikahan dengan Nyi Santimi," kata Ki Ogel.

Jantung Ginggi berdegup mendengarnya. Perasaan tidak enak menyelimuti hatinya bila harus diingatkan kepada nama gadis Desa Cae ini. Setiap kali mengingat Nyi Santimi, pasti ingat peristiwa aib yang amat memalukannya.

"Lalu, mengapa Ki Banen sampai menderita sakit seperti ini?" tanya Ginggi kembali memperhatikan orang tua yang tergolek lemah di hadapannya.

"Yah, dia memang sakit keras," keluh Ki Ogel.

"Aku tanya mengapa dia sakit? Apa penyebabnya?" tanya Ginggi lagi.

"Betul, aku sakit keras," sambung Ki Banen sambil kembali menahan batuk. Namun, ia tak bisa menahannya terus, hingga pada suatu saat ia batuk dengan keras. Ki Banen serentak bangkit karena batuknya diakhiri dengan memuntahkan darah hitam!

Ginggi buru-buru menyeka lelehan darah dari mulut orang tua itu dengan kain yang tersedia.

"Engkau bukan sakit biasa. Engkau menderita karena ada luka dalam, Paman!" kata Ginggi.

"Siapa yang memukulmu?" Ki Ogel terbelalak heran. Begitu pun Ki Banen, matanya yang layu mendadak terbuka lebar.

"Kau? Dari mana engkau tahu dia sakit karena dipukul?" tanya Ki Ogel.

Ginggi sejenak terdiam. Hatinya mencari jawaban yang sekiranya tidak mengundang perhatian mereka berdua.

"Ya, karena darah hitammu itulah. Luka dalammu menyebabkan jaringan darahmu rusak berat," kata Ginggi.

"Coba aku lihat dadamu, Paman." Tanpa diminta, Ginggi membuka pakaian Ki Banen di bagian dadanya. Ada tanda kehitaman amat tipis dan hampir menghilang, menandakan bahwa luka itu sudah lama terjadi.

"Kau pasti dipukul orang sekitar sebulan yang lalu," kata Ginggi mengira-ngira. Ki Banen mengangguk tanda membenarkan.

"Siapa yang melukaimu dengan pukulan tenaga dalam ini?" tanya Ginggi lagi. Ki Banen menggelengkan kepala.

"Engkau merahasiakannya padaku?" Ginggi melirik tajam.

"Tidak. Aku memang tidak tahu siapa yang memukul aku," kata Ki Banen.

"Coba ceritakan peristiwanya." Ki Banen terdiam.

"Ceritakanlah, Paman."

"Ini mungkin imbalan bagi orang yang selalu bercuriga," gumam Ki Banen. "Suji Angkara selalu memperhatikan Nyimas Banyak Inten," katanya lagi.

Ginggi mengerutkan dahi.

"Baiklah, aku terangkan sebelumnya," potong Ki Ogel manakala melihat Ginggi kebingungan.

Ki Ogel bercerita lagi bahwa di Pakuan terdapat banyak pejabat dan kaum bangsawan. Yang terkenal saja, Ki Ogel menyebut Bangsawan Soka. Dia masih kerabat Raja dan menjabat mangkubumi. Ada Pangeran Yogascitra, juga masih kerabat Raja. Dia punya dua orang anak, putra dan putri. Yang laki-laki, anak pertama, bernama Banyak Angga, sedangkan yang kedua putri bernama Nyimas Banyak Inten. Ada juga Bangsawan Bagus Seta yang punya anak perempuan cantik bernama Layang Kingkin. Gadis ini punya hubungan cinta dengan Banyak Angga.

"Bangsawan Bagus Seta ini menjabat muhara. Bila Suji Angkara datang ke Pakuan, maka yang dimaksudnya adalah Bangsawan Bagus Seta. Kami tidak tahu apa hubungan atau keperluan Suji Angkara kepada Bangsawan Bagus Seta," kata Ki Ogel.

Ginggi sudah sejak tadi menahan napas mendengar penjelasan ini. Lengkap sudah murid-murid Ki Darma semua ditemukan, dan semuanya amat mengejutkan, terutama Ki Banaspati dan Bangsawan Bagus Seta.

Bayangkanlah, pertama kali Ginggi menemukan Ki Banaspati. Dia dikenal sebagai pejabat Pakuan yang menjadi tangan kanan muhara atau pejabat penarik pajak negara. Sekarang murid Ki Darma lainnya ditemukan sebagai pejabat muhara itu sendiri. Dengan perkataan lain, Ki Banaspati menjadi bawahan Bangsawan Bagus Seta.

Tapi di lain pihak, Ginggi tahu bahwa Ki Banaspati tidak seutuhnya bekerja untuk Pakuan, maksudnya untuk Raja. Sebab seperti yang dikemukakannya tempo hari, Ki Banaspati akan menghimpun kekuatan guna melakukan penyerbuan.

Satu hal yang membuat Ginggi heran. Benarkah Ki Bagus Seta menjadi muhara? Ginggi tempo hari pernah mendapatkan kabar di Sagaraherang bahwa yang menjadi muhara di Pakuan adalah Bangsawan Soka. Sekarang ada kenyataan lain, bahwa Ki Bagus Setalah yang menjadi pejabat muhara, sedangkan Bangsawan Soka bertindak sebagai mangkubumi. Ginggi tidak mengetahui jabatan mana yang lebih tinggi antara muhara dan mangkubumi, bisa salah satu lebih tinggi, tapi bisa juga sejajar. Tapi yang perlu digarisbawahi, jabatan muhara dipegang Ki Bagus Seta bisa merupakan misteri bila dikaitkan dengan Ki Banaspati.

Bagaimana tidak begitu, baik Ki Bagus Seta maupun Ki Banaspati adalah murid-murid Ki Darma. Kedua orang itu sama-sama dibebani tugas untuk menolong ambarahayat Pajajaran dari tekanan Raja. Sekarang Ginggi sudah mengetahui maksud tersembunyi Ki Banaspati. Kendati dia bekerja sebagai aparat muhara, tapi sebagian kekayaan negara dari hasil seba dia sisihkan untuk keperluan pemberontakan.

Lantas peranan Ki Bagus Seta sendiri bagaimana? Mungkinkah kedua murid Ki Darma yang berhasil mencapai kedudukan penting di Pakuan ini bersekutu dalam mencapai maksud-maksud tertentu? Persekutuan ini mungkin amat rahasia. Siapa pun tidak mengetahuinya, termasuk Suji Angkara. Itulah sebabnya anak muda itu harus dilenyapkan seperti perintah Ki Banaspati kepada Ginggi.

Siapa pun adanya Suji Angkara ini, akan benar-benar membahayakan bila dibiarkan melaporkan penemuannya ke Pakuan. Hanya saja yang menyebabkan Suji Angkara hingga hari ini masih selamat nyawanya, barangkali karena hubungannya dengan Ki Bagus Seta itulah. Seperti yang dikatakan Ki Ogel tadi, Suji Angkara seperti punya hubungan erat dengan Ki Bagus Seta.

Ginggi tidak pernah melaksanakan perintah Ki Banaspati untuk membunuh Suji Angkara. Dan bila tetap anak muda itu dianggap membahayakan, seharusnya Ki Banaspati sudah melenyapkan Suji Angkara di Pakuan. Namun kenyataannya, anak muda itu masih segar bugar. Benarkah sudah tidak membahayakan, atau bagaimana? Biarlah, waktu yang akan menentukan kelak, pikir Ginggi karena berbagai misteri yang ada di sekitarnya masih banyak yang belum terjawab.

Dia tidak bisa berpikir lebih panjang lagi, apalagi dia sekarang tengah menyimak cerita Ki Ogel.

"Coba lanjutkan ceritamu, Paman!" kata Ginggi lagi tidak sabar karena Ki Ogel pergi ke dapur untuk menjerang air. Ki Ogel kembali duduk di hadapan Ginggi dan Ki Banen yang tergolek lemah.

"Ya, begitu seperti apa kata Ki Banen. Dia amat bercuriga kepada Suji Angkara. Itulah sebabnya, ketika anak muda itu kerap kali mendekati Nyimas Banyak Inten, Ki Banen selalu menguntit. Sampai pada suatu saat..."

"Sampai pada suatu saat bagaimana, Paman?" Ginggi tidak sabar.

Ki Banen batuk-batuk lagi, memuntahkan darah hitam lagi walau hanya berupa bercak. Ginggi terpaksa membantu menyekanya dengan kain yang ada di hadapannya. Ki Ogel sibuk pergi ke dapur, kembali lagi sudah membawa air hangat di panci kayu. Mulut Ki Banen dibersihkan dengan air hangat, disekanya beberapa kali.

"Ki Banen bercerita padaku. Malam itu bulan benderang," kata Ki Ogel sesudah merawat Ki Banen.

"Ki Banen terkejut ketika ia bertugas sebagai tugur benteng, ada bayangan berkelebat memasuki puri di mana Nyimas Banyak Inten berada. Ki Banen tidak tahu bayangan siapakah itu. Tapi karena rasa curiganya telah melekat pada Suji Angkara, Ki Banen langsung menduga bahwa yang datang mengunjungi puri secara sembunyi-sembunyi tentu berniat jahat. Menurut Ki Banen, bayangan itu pasti Suji Angkara," kata Ki Ogel.

Ginggi menoleh kepada Ki Banen. "Benarkah, Paman?" tanya Ginggi pada Ki Banen.

Yang ditanya hanya termenung, kemudian dengan perlahan dia menggelengkan kepala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment