Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 61

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 61

"Aku hanya menduga saja. Kendati bulan benderang, bayangan itu meloncat-loncat dengan lincah. Mataku tak sanggup mengikutinya dengan jelas," jawab Ki Banen.

Selanjutnya, Ki Banen bercerita bahwa karena rasa penasarannya, dia terus menguntit bayangan itu.

"Tapi akhirnya aku kehilangan jejak. Kucari ke mana-mana, namun bayangan misterius itu tidak kutemukan. Putus asa karena tak kutemukan yang aku kuntit, akhirnya aku kembali keluar benteng. Dan ketika itulah, di sudut benteng, aku dihadang seseorang."

"Siapa dia?"

"Aku tak tahu. Gerakannya begitu cepat. Dia menghambur padaku dan melancarkan serangan pukulan dahsyat. Tubuhku terlontar beberapa tindak dan tak sadarkan diri," kata Ki Banen sambil memegangi dadanya.

"Tidak sempatkah kau melihat wajahnya walau hanya sebentar? Bukankah waktu itu bulan benderang?" tanya Ginggi.

"Benar. Tapi bulan telah condong ke barat. Dia menyerang membelakangi cahaya bulan, jadi hanya bayangannya saja yang aku lihat. Aku tak kenal siapa penyerang gelap ini," keluh Ki Banen.

Namun, Ki Banen yakin orang itulah yang secara diam-diam memasuki puri. Sebab setelah tahu dia dikuntit, orang itu mengurungkan rencananya.

"Hanya saja sebelum pergi, dia membalas dendam karena kegagalannya melakukan sesuatu akibat kuntitanku itu," kata Ki Banen.

Dia batuk-batuk lagi, dan Ginggi sudah siap dengan kain lap. Namun, batuk Ki Banen tak berlangsung lama dan tidak sampai memuntahkan darah.

"Luka dalammu amat parah, Paman. Celakanya, selama ini tampaknya kau tak menggubris lukamu itu," kata Ginggi.

"Aku setiap hari berobat dengan telaten. Madi selalu setia memberikan ramuan yang harus aku minum setiap hari," jawab Ki Banen.

"Ah, aku tak melihat kau berobat. Kalau lukamu terus diobati, pasti sembuh. Tapi darah hitammu itu hanya menandakan ada luka lama yang tak pernah sembuh. Coba aku lihat ramuan obatmu jika benar kau berobat setiap hari," kata Ginggi.

Ki Ogel dan Ki Banen saling pandang.

"Engkau harus percaya padaku. Bukankah ketika terjadi pertempuran di hutan jati, aku banyak mengobati anak buah Suji Angkara yang terluka sabetan golok perampok?" tanya Ginggi sekaligus mengingatkan kedua orang itu bahwa dirinya ahli pengobatan.

"Ya, betul! Kau bisa mengobati orang sakit!" Ki Ogel menepuk dahinya.

Sesudah itu, dia segera berjingkat memburu sudut ruangan. Di sana ada meja kecil dengan bungkusan kain di atasnya. Bungkusan itu dibawa ke hadapan Ginggi.

"Ini obat pemberian Madi," kata Ki Ogel memberikan bungkusan obat yang sudah dibukanya sendiri.

Ginggi mencoba meneliti ramuan itu. Isinya hanya serpihan-serpihan kayu yang sudah dikeringkan.

"Ramuan ini digodok dan airnya diminum setiap pagi dan sore," kata Ki Ogel.

Ginggi seperti tak mendengar omongan orang tua itu karena matanya tengah meneliti jenis ramuannya.

"Ini ramuan yang dibuat dari irisan batang kayu petai cina dan batang kayu pohon gedi," kata Ginggi sambil memegang-megang serpihan kayu tersebut.

"Bagaimana, cocokkah ramuan ini?" tanya Ki Ogel.

"Batang pohon petai cina gunanya untuk mengeringkan luka, dan kayu gedi merupakan obat untuk melancarkan jalannya darah," jelas Ginggi.

"Ya, cocokkah ramuan itu untuk mengobati luka Ki Banen?"

Ginggi masih tak mengeluarkan jawaban pasti. Alisnya berkerut dan matanya menyipit, tanda dia tengah berpikir keras.

"Daun dan batang pohon petai cina gunanya untuk merapatkan luka sabetan benda tajam. Aku biasanya hanya menggunakan ramuan ini untuk obat luar saja. Entahlah bagaimana kemungkinannya bila digunakan sebagai obat luka dalam, sebab luka dalam bukan karena ada otot yang sobek dan mengeluarkan darah," Ginggi terus menyipitkan mata saking kerasnya berpikir.

"Oh, ya! Jangan diminum ramuan ini!" ucapnya kemudian.

Baik Ki Ogel maupun Ki Banen melirik tajam pada Ginggi.

"Petai cina bila digunakan menutup luka luar akan bekerja cepat mengeringkan darah. Sedangkan bila digunakan terhadap luka dalam dan masuk ke dalam aliran darah, hanya akan membuat darah menggumpal dan membeku. Bila pengobatan ini terus berlangsung, maka aliran darah akan tersumbat oleh darah-darah beku," kata Ginggi yakin.

"Dan batang pohon gedi sebagai obat pelancar aliran darah, bagaimana?" tanya Ki Ogel.

"Ya, ramuan itu pun sama, jangan diminum. Kau bayangkanlah, Paman, sesuatu yang sedang tersumbat, kau dorong-dorong dengan cara paksa, bagaimana akibatnya?" tanya Ginggi.

"Saluran darah akan rusak, mungkin bocor, mungkin pecah!" kata Ki Ogel.

"Nah, benar begitu!" seru Ginggi.

"Berbahaya sekali! Bila begitu, si Madi akan membunuh Ki Banen. Kurang ajar. Aku harus menuntut bocah dungu itu!" teriak Ki Ogel.

"Jangan terburu nafsu. Barangkali Madi tak menyadari kegunaan obat itu. Sebaiknya kita teliti saja dari mana dia mendapatkan ramuan itu," kata Ginggi. "Aku kira Madi tak berniat jahat. Lagi pula, ramuan itu memang obat dan bukan racun. Hanya saja tak tepat bila digunakan mengobati luka dalam."

Setelah mengeluarkan pendapatnya, Ginggi berjanji akan mencarikan obat yang tepat bagi kesembuhan Ki Banen.

"Sekarang aku ingin tanya, mengapa sembilan bulan lalu kalian meninggalkanku secara tiba-tiba di Sagaraherang? Sepertinya kalian pergi dari tempat itu secara tergesa-gesa sekali," kata Ginggi menyelidik.

"Itulah bagian dari keganjilan-keganjilan Suji Angkara, anak muda. Dia selalu bertindak aneh. Suka melakukan sesuatu secara diam-diam," kata Ki Ogel.

"Tengah malam kami berempat dibangunkan dan diajaknya melanjutkan perjalanan ke Pakuan. Ketika aku tanya mengapa mesti buru-buru seperti itu, dia malah membentak. Aku tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Padahal di Sagaraherang engkau pun tahu, kita dilayani dengan baik. Mungkin dia mencurigai Ki Banaspati karena perampok di hutan jati menyebutnya seolah-olah Ki Banaspati pimpinan mereka. Tapi, bukankah Ki Banaspati sudah bilang bahwa itu hanya fitnah belaka?" kata Ki Ogel menceritakan kembali peristiwa mengapa mereka berangkat secara tiba-tiba dari Sagaraherang.

Hanya Ginggi yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tadi Ginggi sengaja bertanya karena ingin mengecek apakah para pengikut Suji Angkara tahu persis peristiwa di Sagaraherang.

"Kalau begitu kalian tak sayang padaku, sehingga meninggalkanku begitu saja?" gumam Ginggi pura-pura menyesal.

"Ki Banen sudah bilang, dia akan mencari kau dulu untuk diajak serta. Tapi Seta menolaknya, sebab sebelumnya pun kau tak ikut rombongan kami. Apalagi Suji Angkara tampaknya begitu amat tergesa-gesa ingin segera meninggalkan tempat itu secara diam-diam," kata Ki Ogel.

"Tapi sudah aku katakan tadi, sebaiknya kau jangan bergabung dengan Suji Angkara," kata Ki Banen menimpali sambil tetap tergolek lemah.

"Selama ini hidupku terkatung-katung, ingin sekali bekerja. Suji Angkara pernah menawariku kerja," gumam Ginggi.

"Carilah kerja di mana saja tapi jangan pada Suji Angkara," Ki Banen balik bergumam.

"Betul, anak muda. Kau ini sok usil, mudah mengkritik orang. Bila kau terang-terangan mengkritik tindak-tanduk Suji Angkara, bisa membahayakan dirimu. Di Pakuan ini tampaknya dia punya pengaruh, entah karena apa. Namun yang jelas, banyak orang yang segan padanya, terutama di kalangan istana," kata Ki Ogel sambil mendongakkan kepala ke langit-langit seolah tengah menerka-nerka apa kedudukan Suji Angkara di Pakuan ini.

Ginggi pun sebenarnya berpikiran sama. Suji Angkara ini amat misterius, sampai-sampai menimbulkan perhatian khusus bagi Ki Banaspati ketika di Sagaraherang. Padahal yang Ginggi tahu, sebelumnya Ki Banaspati menganggap pemuda itu sebagai bawahannya dalam menghimpun seba di wilayah timur.

Untuk berusaha membuka tabir-tabir ini, tak ada cara lain selain langsung memasuki istana. Ginggi harus membuka banyak tabir. Bagaimana pandangan kalangan istana terhadap kegiatan Ki Banaspati, termasuk pula pandangan Ki Bagus Seta? Ginggi juga harus menyelidik apa kegiatan sebenarnya dari Ki Bagus Seta. Apakah dia bertindak murni sebagai pejabat Pakuan, ataukah memiliki tujuan khusus seperti Ki Banaspati?

Bila mengingat akan hal ini, pemuda itu jadi termenung. Kalau ternyata Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta bersekutu untuk menjatuhkan Raja, apa yang harus dilakukan Ginggi? Berpangku tangan, mencoba menggagalkannya, ataukah sama sekali bergabung ikut membantu? Berkerut dahi pemuda itu.

Bila ikut membantu, artinya terjun dalam upaya pemberontakan. Ki Rangga Guna pernah bilang, memberontak terhadap pemerintahan yang sah adalah tindakan hina dan jahat sebab akan mengakibatkan suasana negara semakin kacau. Rakyat pun akan menderita sebab di antara mereka akan terjadi pro dan kontra. Pemberontakan yang bertujuan mengganti tatanan negara, menurut Ki Rangga Guna, hanya akan mengembalikan negara ke titik nol lagi.

"Seorang pemimpin yang bertakhta karena menggantikan raja lama dengan kekerasan biasanya tidak senang bila dalam melanjutkan kepemimpinannya mengikuti tata cara raja yang dijatuhkannya. Dengan demikian, dia jelas akan mengubah gaya kepemimpinannya. Dia akan mengganti seluruh aparatnya, mungkin dengan yang lebih bagus lagi, tapi mungkin hanya sebagai jatah bagi hasil atas jasa-jasa orang yang membantunya melakukan pemberontakan dan bukan dihitung atas dasar mampu atau tidaknya menjadi aparat. Yang jelas, mengganti tatanan negara beserta aparatnya hanya akan mengembalikan cita-cita kemajuan negara ke tingkat awal. Rakyat yang akan jadi korban sebab mereka tak ada habis-habisnya disuruh berjuang dari awal lagi," kata Ki Rangga Guna ketika itu.

Selama tiga bulan Ki Rangga Guna bersamanya, dia memang banyak memberikan berbagai pengetahuan, termasuk pengetahuan akan kejadian masa lalu. Menurut Ki Rangga Guna, selama hampir 900 tahun ini Kerajaan Sunda berdiri, dan berubah menjadi Pajajaran 68 tahun silam (1482 Masehi), sudah dipimpin oleh 38 raja. Pergantian dari raja ke raja lainnya dilakukan secara damai dan penurunan takhta secara kekerasan bukanlah tradisi. Kata Ki Rangga Guna, dari 38 raja yang memegang takhta Kerajaan Sunda, hanya tiga raja yang tergantikan kedudukannya karena pemberontakan, yaitu Sang Prabu Rakean Tamperan Barmawijaya (723-739 Masehi), serta dua raja lagi yang hidup sebelum Sang Prabu Rakeyan Tamperan Barmawijaya, yaitu terhadap Sang Sena (716 Masehi) dan kepada Prabu Purbasora (723 Masehi), ayahanda Sang Prabu Rakeyan Tamperan Barmawijaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment