Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 62

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 62

"Peristiwa pemberontakan dan perebutan kekuasaan ini terjadi karena saling balas-membalas keluarga masing-masing," kata Ki Rangga Guna.

"Jadi terbukti, pergantian kekuasaan dengan jalan kekerasan dan rebutan hanya akan melahirkan kekerasan lainnya lagi. Itulah sebabnya, para penerus raja-raja Sunda menghindari berbagai pertikaian di dalam negeri. Hanya dua raja yang tergantikan karena terbunuh oleh menterinya sendiri karena tak senang atas asal-usul sang raja. Tetapi Raja Sunda ke-31 terbunuh karena sesuatu hal yang terhormat. Beliau adalah Prabu Wangi atau Sang Prabu Maharaja Linggabuana yang tewas dalam pertempuran membela kehormatan dan harga diri di Bubat, negeri timur. Pergantian kekuasaan lainnya yang dialami raja-raja Sunda terjadi secara wajar tanpa ada kemelut yang berarti. Hal-hal seperti ini setidaknya akan membantu kerukunan di dalam negeri sendiri," tutur Ki Rangga Guna yang pada prinsipnya tak menghendaki adanya pemberontakan yang bertujuan merebut kekuasaan negara.

Siapa yang harus Ginggi ikuti pendapatnya, dia masih bimbang memikirkannya. Namun, bila dia hanya berpangku tangan saja, dia akan malu terhadap Ki Darma, sebab hanya menandakan bahwa hidupnya tiada guna. Apa pun yang dilakukan Ki Banaspati, sebenarnya adalah upaya melawan kebijaksanaan raja yang dalam hal ini dianggapnya sebagai amanat guru. Namun, jalan pikiran Ki Rangga Guna yang menolak pemberontakan pun pada hematnya merupakan suatu upaya dalam menjalankan amanat guru juga.

Ki Darma acapkali berkata agar semua muridnya berjuang mengembalikan kejayaan bumi Pajajaran. Hanya bedanya, Ki Banaspati menafsirkan ucapan guru dengan jalan memberontak dan Ki Rangga Guna menafsirkan dengan jalan berupaya bekerja agar Pajajaran aman dan tenteram. Semua sepertinya berjalan di atas kebenaran, tetapi tetap saja amat membingungkan pikiran Ginggi. Sampai percakapan dengan kedua orang itu selesai, jalan pikiran pemuda itu masih digayuti kebimbangan.

"Aku akan jalan-jalan melihat kota, Paman," ujarnya akhirnya.

"Silakan kau berkeliling kota. Tapi hati-hati, jangan membuat keributan. Bila sudah malam, kau pulanglah ke sini," kata Ki Ogel.

Ginggi mengangguk sebagai tanda terima kasih atas penerimaan kedua orang tua itu untuk tinggal di sana. Sesudah memohon diri, pemuda itu segera berlalu meninggalkan rumah kayu tua di tepi Sungai Cipakancilan ini.

Hari sudah amat siang. Di alun-alun benteng luar pun, keramaian sudah usai, kecuali balandongan yang belum dibongkar seluruhnya. Ada satu-dua petugas membereskan sisa-sisa keramaian. Mereka bekerja dengan telaten kendati sinar matahari sudah semakin menyengat. Mungkin acara uji terampil yang tadi diselenggarakan sudah menghasilkan beberapa prajurit pilihan untuk kelak dididik dan digodok agar menjadi perwira tangguh. Mungkin juga sudah banyak ambarahayat yang terpilih sebagai calon prajurit Pajajaran. Namun yang jelas, Ginggi kurang begitu berminat untuk menyimak urusan yang satu itu.

Di saat sengatan matahari siang, dia malah berkeliling Pakuan untuk mengenal suasana ibu kota ini lebih rinci lagi. Sekarang Ginggi bisa memperhatikan wilayah ini dengan lebih saksama. Seperti apa yang diterangkan seorang penduduk, Pakuan terdiri dari dua bagian: pertama wilayah jawi khita (kota luar) dan dalem khita (kota dalam). Batas-batas wilayah itu memang dibatasi oleh khita (benteng); ada benteng luar dan ada benteng dalam. Kaum santana, pedagang, dan ambarahayat tinggal di benteng luar, sedangkan para bangsawan, pejabat, dan kerabat raja tinggal di benteng dalam.

Ketika Ginggi masuk kedayo (kota) dari arah timur, dia mesti menyeberang sungai bernama Cihaliwung (Ciliwung). Kata penduduk, sebenarnya dayo diapit dua sungai besar; di sebelah timur oleh Sungai Cihaliwung dan di sebelah barat oleh Sungai Cisadane. Dua aliran sungai ini biasa dilayari sampai ke muara. Cisadane berakhir di muara Tangerang dan Cihaliwung berakhir di Kalapa (Sunda Kalapa). Dulu, ketika zaman Sri Baduga Maharaja, kedua sungai ini merupakan pelabuhan laut yang menghubungkan perdagangan antara Pakuan dan negeri-negeri seberang. Barang-barang kiriman dari negeri seberang bisa dibawa langsung sampai ke pedalaman Pakuan ini.

Setiap hari lalu lintas sungai selalu ramai. Perahu dari muara datang membawa kain halus, barang-barang keramik dari Cina, atau berbagai keperluan hidup yang belum dibuat di Pakuan. Sebaliknya dari pedalaman, perahu beriringan membawa hasil bumi Pakuan untuk dikirimkan ke berbagai negeri seberang. Kapas, buah asem, bawang merah, bahkan anggur, dibawa perahu-perahu kecil menuju muara, tempat di mana terdapat pelabuhan laut. Barang-barang Pakuan kelak akan dipindahkan ke jung (kapal besar). Dalam satu tahun, hampir seribu jung meninggalkan Pelabuhan Kalapa (Sunda Kalapa) sambil membawa buah asem saja.

Sekarang, zaman Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan, kedua sungai ini masih tetap dilayari, tapi hanya sebatas wilayah Pakuan saja. Perahu-perahu kecil milik orang Pakuan sudah tak berani melanjutkan perjalanan ke utara sampai muara, sebab wilayah tersebut sudah menjadi milik kekuasaan Cirebon. Begitu pun perdagangan antarnegeri, semua sudah menjadi milik Cirebon. Kalau pun ada barang-barang dari negeri seberang masuk ke wilayah Pakuan, itu terjadi karena kenekatan para penyelundup saja.

Masuk ke tengah dayo juga ada sungai. Penduduk menyebutnya sebagai Sungai Cipakancilan atau Cipeucang. Sungai ini ada di antara batas dalem khita dan alun-alun, atau dengan kata lain, sungai ini seolah-olah melindungi benteng dalam. Menurut orang tua yang ditanyai Ginggi, Cipakancilan atau Cipeucang ini sebetulnya sungai yang sengaja dibangun untuk pertahanan istana. Sebelum masuk kelawang saketeng (gerbang keraton), orang mesti melintasi Sungai Cipakancilan dulu. Cukup kokoh sebagai pertahanan. Apalagi bila dilihat dari arah selatan, sisi-sisi Cipakancilan berupa tebing terjal di tepian benteng dalam.

Pusat istana tampak nyata. Ketika Ginggi menyusuri jawi khita menuju arah timur, sayup-sayup dia mendengar hingar-bingar, seperti banyak orang bersorak-sorai. Suara hingar-bingar itu sepertinya datang dari arah tepian Sungai Ciliwung.

"Paman, ada kejadian apakah di sudut benteng timur?" tanya Ginggi kepada seseorang yang tengah memikul bawaan dan nampaknya datang dari arah timur.

"Engkau tidak ikut ramai-ramai ke sana, anak muda?" orang itu malah balik bertanya sambil terus melangkah cepat.

"Ada apa di sana, Paman?"

"Orang-orang sedang marak di Leuwi Kamala Wijaya!" ucap orang itu sambil tetap melangkah tergesa-gesa.

Ginggi melangkah menuju arah yang ditunjukkan orang itu. Sepemakan sirih jauhnya, baru dia sampai ke tempat yang dimaksud. Suara sorak-sorai gegap gempita memang datang dari tempat itu, yaitu Sungai Cihaliwung. Ratusan orang, tua-muda, besar-kecil, laki-laki dan wanita, berderet dan berkelompok di tepi sungai. Mereka tengah menunggu sesuatu sambil berbekal alat-alat penangkap ikan seperti jaring, ayakan, atau ember kayu.

Semua orang tengah menyaksikan dan menunggu teman-temannya yang berada di tengah sungai. Sungai Cihaliwung sedang dibendung, sehingga hanya sebagian kecil saja air mengalir dari sela-sela bendungan. Jadi, yang disebut "marak" oleh orang yang ditanya tadi adalah pekerjaan menangkap ikan dengan cara membendung bagian sungai agar permukaan sungai di daerah hilir menjadi turun hingga ke dasar. Jauh di hilir ada lagi bendungan agar ikan di daerah aliran yang tengah dibendung tidak lari ke hilir. Bagian yang dibendung merupakan aliran sungai paling dalam. Jadi, Leuwi Kamala Wijaya adalah lubuk yang ada di aliran Sungai Cihaliwung.

Ketika Ginggi bertanya lagi kepada yang kebetulan menyaksikan acara ini, orang itu menjelaskan bahwa ini bagian dari acara menyambut panen tahunan di Pakuan. Kata orang itu, setiap tahun di Pakuan diadakan acara menyambut panen. Hampir 49 hari lamanya dan ada macam-macam acara. Acara tahunan ini di antaranya dihadiri juga oleh para penguasa dari wilayah-wilayah seputar Pakuan yang kebetulan membawa seba tahunan. Berbagai upacara keagamaan dilangsungkan dalam pesta panen itu, di antaranya upacara kuwerabakti. Menurut penjelasan yang didapat Ginggi, Kuwera adalah semacam dewa kemakmuran, suami Dewi Sri, ratu padi-padian. Kuwerabakti adalah upacara penghormatan dan sebagai tanda terima kasih manusia terhadap dewa pelindung pangan sehingga pengisi jagat ini mengalami kemakmuran.

"Sebelum diadakan acara kuwerabakti, raja dan seluruh keluarga akan mandi suci di Telaga Rena Maha Wijaya. Kemudian menuju bukit punden di Sasakala Gugunungan untuk melaksanakan upacara nyekar (ziarah) di makam tempat moksa atau ngahiyang (menghilang) Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, di puncak bukit punden itu," kata orang yang ditanya Ginggi.

Selanjutnya orang itu menerangkan kembali upacara marak atau munday di Sungai Cihaliwung ini. Marak di Leuwi Kamala Wijaya ini diadakan setahun sekali. Yang melaksanakannya semua rakyat Pakuan yang berkenaan dengan kewajiban calagara (pajak tenaga kolektif) yang diabdikan kepada negara. Penduduk beramai-ramai menangkap ikan di Leuwi Kamala Wijaya, yang sebagian orang menyebutnya sebagai Leuwi Sipatahunan.

"Ini bukan leuwi sembarang leuwi, sebab Leuwi Sipatahunan adalah lubuk untuk pertahanan keraton. Sipatahunan itu pataheunan, pertahanan," kata orang itu.

Ginggi meneliti lubuk ini dari tepiannya. Masuk akal bila daerah aliran sungai dalam ini digunakan sebagai pertahanan. Letaknya ada di sebelah timur benteng luar. Tidak sembarangan bisa menyeberangi leuwi. Bila ada musuh menyeberanginya, maka tanggul di sebelah selatan akan dibobol dan mengakibatkan kesulitan bagi para penyerangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment