Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 63

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 63

Ginggi berpikir, demikian cerdiknya Sang Prabu Sri Baduga Maharaja membangun pertahanan. Keraton seolah-olah diapit dua jurang terjal dari dua aliran sungai. Hanya ada satu celah di sebelah selatan, tetapi itu pun dihadang benteng dan parit buatan yang airnya dialirkan dari Sungai Cipakancilan. Orang-orang kembali bersorak-sorai sambil menunjuk ke bawah.

Ginggi ikut melihat. Ternyata, debit air di lubuk sudah berkurang dan banyak orang mulai terjun ke bawah. Orang-orang berteriak sambil menunjuk ke sana kemari karena di permukaan lubuk sudah terlihat air bergoyang dan bergelombang akibat gerakan sirip ikan. Semakin air berkurang, semakin nyata terlihat gerakan ikan-ikan itu. Orang-orang kembali bersorak sorai karena gembira, hasil tangkapan akan berlimpah.

Kini, orang yang terjun ke permukaan lubuk semakin banyak. Jala panjang segera ditebar membentuk lingkaran besar, dibawa dan dipegang oleh puluhan bahkan ratusan orang. Namun, lingkaran besar itu lama-kelamaan semakin mengecil dan menyempit, membuat ruang gerak ikan yang ada di tengah kepungan kian terbatas. Karena tempat berenang kian sempit, ikan-ikan itu semakin berdesakan, hilir mudik di ruang yang terbatas.

Sekarang dari atas tebing diturunkan anco, yaitu jaring segi empat yang bisa dinaik-turunkan dengan keempat ujungnya diikat pada ujung bambu. Anco diturunkan hingga ke dasar lubuk yang kedalamannya tinggal satu atau satu setengah depa lagi, lalu dibiarkan beberapa lama. Sesudah cukup waktu, anco segera diangkat. Hasilnya membuat semua orang menganga terpana; jaring anco penuh digayuti ikan besar. Tubuh ikan-ikan itu menggelepar dan meloncat-loncat, satu dua ekor bahkan kembali ke dasar lubuk, membuat orang berteriak menyesal. Anco ditarik ke tepi dan puluhan orang berebutan menangkap ikan-ikan besar tersebut dengan bersorak gembira, lalu memasukkannya ke dalam buleng atau ember kayu. Ikan-ikan itu bukan untuk dibawa pulang, melainkan disetor kepada wadha, petugas yang bertanggung jawab atas kelancaran calagara (pajak tenaga).

Suara sorak-sorai semakin riuh rendah ketika air semakin surut dan kepungan jaring semakin rapat. Ratusan mungkin ribuan ikan benar-benar terkepung dan bingung ke mana harus bersembunyi. Akhirnya, ikan-ikan itu hanya melompat-lompat tak tentu arah hingga menggelepar di kubangan lumpur.

Di tepian, terlihat sekelompok anak muda. Yang perempuan elok parasnya dan yang laki-laki tampak tampan. Melihat dandanan mereka yang bagus, mudah diduga mereka adalah rombongan anak-anak bangsawan. Namun, yang membuat Ginggi terkejut, di antara rombongan bangsawan itu terdapat Suji Angkara dan Seta.

Suji Angkara melangkah tenang dan anggun menyertai seorang gadis yang amat cantik rupawan. Tubuhnya semampai, kulitnya putih bersih, sepasang pipinya halus kemerahan dan tampak ranum. Bibirnya tipis mengulum senyum, sehingga di pipi kanannya terbentuk lesung pipit. Ginggi bergetar saat melihat sorot mata gadis itu yang demikian tajam dan jernih. Ketika tak sengaja pandangan mereka bertemu, pemuda itu lantas tertunduk karena tak kuat beradu pandang dengan sorot mata yang bagaikan bintang kejora itu.

Padahal mata gadis itu tidak sengaja memandangnya. Justru yang memandang ke arahnya dengan penuh perhatian adalah Suji Angkara. Pemuda itu tampak heran melihat Ginggi ada di sana.

"Hei Duruwiksa, engkau di sini juga?" Suji Angkara berteriak dengan suara tertahan.

Ginggi tersenyum dan mengangguk. Saat Suji Angkara memanggilnya dengan lambaian tangan, Ginggi mendekat.

"Engkau berada di sini, Duruwiksa?" tanya Suji Angkara sambil tersenyum dan sesekali melirik gadis di sampingnya.

"Saya mencari-cari Raden sejak dari Sagaraherang," kata Ginggi sopan, "Mengapa sepertinya semua meninggalkan saya di sana, padahal Raden sudah janji akan mengambil saya sebagai pekerja?"

Yang ditegur hanya tersenyum simpul, seolah-olah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa baginya. "Aku hanya ingin melihat kesetiaanmu saja. Tapi, ya, engkau orang yang ulet juga," kata Suji Angkara.

"Jadi, diterimakah saya bekerja bersamamu, Raden?" tanya Ginggi penuh harap, namun matanya selintas menyambar ke arah wajah anggun di samping pemuda itu.

"Aku tak tahu apa kepandaianmu. Tapi melihat kesetiaanmu padaku, aku terima kau kerja bersamaku," jawab Suji Angkara.

"Engkau baik sekali, Raden," Ginggi mengangguk-angguk seolah penuh rasa terima kasih.

"Sudah selayaknya seorang bangsawan sayang dan penuh perhatian kepada orang kebanyakan," gumam Suji Angkara dengan nada suara yang dihalus-haluskan. Namun, bagi Ginggi nada bicara itu hanya berupa kesombongan.

"Tapi pakaianmu bagus sekali. Tak layak kau kenakan, apalagi kau kelak hanya akan bertugas sebagai pekerja kasar," kata Suji Angkara menilik pakaian Ginggi.

"Saya tak sengaja mendapatkannya. Pakaian ini hanya pemberian dari bekas majikan saya di perjalanan," tutur Ginggi merendah.

Suji Angkara mengangguk-angguk, lalu mengalihkan perhatian ke arah orang-orang yang berebutan mengambil ikan. "Siapakah pemuda ini, Raden?" tanya gadis di sampingnya sambil menyibakkan rambut yang tertiup angin.

Duhai cantiknya! Betapa indah rambut hitam itu berkibar dan jemari tangan halus itu menyibakkan rambutnya. Ginggi kembali menunduk ketika tatapannya terpergok oleh sorot mata gadis semampai itu.

"Ah, hanya pemuda bodoh saja, Adinda Inten," ujar Suji Angkara. "Tapi dia orang jujur dan baik. Kelak dia akan sering kusuruh untuk mengunjungimu, namanya Duruwiksa." Suji Angkara tersenyum ketika gadis itu terkekeh sambil menutupi mulutnya.

Hanya Ginggi yang terkejut mendengar nama gadis itu. Dinda Inten, tidakkah maksudnya Nyimas Banyak Inten? Ginggi bingung jika teringat cerita Ki Ogel dan Ki Banen. Bukankah kedua orang tua itu curiga terhadap tindak-tanduk Suji Angkara terhadap gadis tersebut? Namun, hubungan kedua orang muda itu tampak sangat akrab.

"Betulkah namamu Duruwiksa? Mengapa wajah tampan sepertimu dinamakan Duruwiksa?" gadis itu masih terkekeh lembut.

"Nama sesungguhnya Ginggi. Tapi dia yang mengatakan bahwa Ginggi artinya Duruwiksa, iblis jahat yang kerjanya menggoda manusia," Suji Angkara menerangkan. "Ayo perkenalkan dirimu pada Nyimas Banyak Inten, putri terkasih Pangeran Yogascitra," lanjut pemuda itu.

Ginggi menunduk dan menyembah. Gadis itu hanya mengangguk dengan senyum manis di bibir tipisnya.

"Nah, yang ada di samping Dinda Inten adalah Banyak Angga, kakak Nyimas. Sedangkan gadis cantik yang ada di samping pemuda tampan itu adalah adikku, Layang Kingkin. Mereka berdua sahabat baik yang tak pernah lepas barang sekejap," kata Suji Angkara menunjuk sepasang muda-mudi yang usianya belum genap dua puluh tahun itu.

Ginggi menyembah beberapa kali sambil memperhatikan sepasang muda-mudi itu. Mereka benar-benar seperti dewa dan dewi dari kahyangan. Ginggi memuji keelokan wajah anak-anak bangsawan yang ramah itu.

"Dan yang berdiri di antara mereka adalah Seta, termasuk pembantu setiaku," kata Suji Angkara menunjuk Seta.

"Saya sudah kenal Seta!" kata Ginggi tersenyum ke arah pemuda yang mulutnya suka mengejek itu.

"Huh!" dengus Seta tak acuh.

"Ya, bukankah Seta adalah pemuda gagah yang merobohkan tiga perampok sekaligus di hutan jati tempo hari?" kata Ginggi mengingatkan kepahlawanan pemuda angkuh itu. Padahal, yang terbayang di mata Ginggi adalah kejadian di tepi pancuran Desa Cae, di mana Seta dan Madi yang mengeroyoknya justru dipermainkan hingga benjut karena saling gebuk sendiri.

Seta terkecoh dengan pujian palsu itu. Buktinya, dia membusungkan dada meski mulutnya masih ditarik ketat untuk memberi kesan angkuh.

"Anak buahku lihai-lihai. Jadi bila kau sudah bersamaku, kau harus hati-hati," kata Suji Angkara. Ginggi mengangguk setuju.

"Bagus, sekarang kau bahagiakan sahabat-sahabatku. Kau tangkaplah ikan terbaik di lubuk. Hari ini kami ingin pesta makan ikan di Pulo Parakan Baranangsiang," kata Suji Angkara dengan nada perintah tegas.

Sialan, dengus Ginggi dalam hati. Namun, karena telanjur berikrar ingin mengabdi, dia terpaksa membuka baju dan menyingsingkan celana sontognya. *Brus*, dia turun ke lubuk. Orang-orang tercengang melihat pemuda berpakaian santana ikut terjun menangkap ikan, karena menurut mereka hal itu tidak lazim bagi golongan bangsawan. Ginggi tak memedulikan pikiran mereka, ia justru bergembira bisa ikut menangkap ikan bersama-sama. Baginya, tak ada kesulitan untuk menangkap ikan, apalagi di kubangan yang airnya sudah surut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment