Chapter 64
Bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, dalam sekejap puluhan ikan besar bisa ia lemparkan ke darat. Hanya saja, tentu saja Ginggi tak berani memamerkan kepandaiannya jika tak ingin dicurigai orang. Itulah sebabnya, dalam menangkap ikan ia memperlihatkan "kebegoan" dan berpura-pura lugu, sehingga mengundang tawa renyah bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Ginggi gembira berpura-pura dungu seperti itu sebab dari lubuk hati yang paling dalam, ia menyaksikan Nyimas Banyak Inten terpingkal-pingkal karena merasa lucu melihat Ginggi jatuh bangun menangkap ikan. Nyimas Banyak Inten sampai meneteskan air mata saking gelinya melihat wajah Ginggi yang tak keruan akibat simbahan air. Dengan "susah payah", akhirnya Ginggi berhasil menangkap beberapa ekor ikan tagih dan hampal yang besar.
Orang-orang bersorak riang ketika tiba-tiba tangan Ginggi menangkap seekor ikan balidra. Sebetulnya ini adalah jenis ikan ganas karena sirip-siripnya lebar dan tajam menyerupai sirip ikan gurame. Tenaga ikan balidra sungguh amat besar, apalagi didukung oleh bentuk tubuhnya yang bulat besar. Bila tak hati-hati menangkapnya, sekali sentak ikan belidra sanggup menampar dada orang yang berani menangkapnya dengan sirip-siripnya sehingga akan menimbulkan luka sayatan gergaji. Namun, ikan balidra yang dipegang ekornya oleh Ginggi itu hanya bergerak-gerak lemah.
Semula penonton menganggap Ginggi benar-benar ahli menangkap ikan besar. Namun belakangan mereka tertawa terkekeh-kekeh setelah tahu ikan belidra bertubuh besar dan gagah itu sudah lemas karena terlalu lama di kubangan lumpur. Begitu perkiraan orang-orang yang menyaksikan. Padahal, yang sebenarnya terjadi, secara diam-diam Ginggi memencet bagian tubuh ikan besar itu agar gerakannya menjadi lemah.
Ginggi disuruh naik oleh Suji Angkara sesudah merasa bahwa hasil tangkapan itu cukup. "Ambillah buleng, lalu pikullah ke sana!" Suji Angkara menunjuk ke arah hilir. Suji memberikan perintah agar Ginggi memikul buleng menuju utara, tempat Pulo Parakan Baranangsiang berada. Yang dimaksud dengan Pulo Parakan Baranangsiang adalah sebuah gugusan tanah yang terletak di tengah-tengah Sungai Cihaliwung. Letaknya tidak begitu jauh, tapi juga tidak begitu dekat dari Leuwi Kamala Wijaya.
Sepemakan sirih lamanya Ginggi memikul buleng yang berisi ikan tangkapannya. Keempat muda-mudi yang ditemani Seta ternyata sudah ada di tengah pulau tersebut. Mereka rupanya menyeberang dengan memakai perahu hias. Mereka sudah duduk-duduk di bangku-bangku yang terletak di sebuah bangunan kayu beratap ijuk. Bangunan kayu itu amat indah dan membuat orang senang bila duduk di sana. Pemandangan alam amat mempesona sebab gugusan pulau kecil itu dikelilingi air Sungai Ciliwung yang mengalir tenang. Masih ada biduk kecil yang tertambat di tepinya. Tanpa ragu, Ginggi menaikkan buleng-buleng ke atas biduk, melepaskan tali, dan menyusul mereka ke tengah gugusan pulau.
"Hahaha! Ayo bersihkan dan cepat masak untuk kami!" kata Suji Angkara tertawa gembira.
"Ah, Raden, mengapa terlalu menyiksa pemuda itu? Lebih baik kita kerjakan bersama agar kita bisa makan dengan nikmat," kata Nyimas Banyak Inten seraya mendekati Ginggi dan hendak ikut memasak. Nyimas Layang Kingkin dan Raden Banyak Angga pun tampak ikut mengerubungi Ginggi dan siap membantunya.
"Hahaha! Baik, bantulah anak lamban itu biar kita cepat-cepat menikmati ikan bakar," seru Suji Angkara gembira. Ternyata ia pun ikut menyiangi ikan dan menyalakan api sendiri.
Selama memasak ikan, mereka mengobrol dan bercanda. Suji Angkara tampak selalu menggoda Nyimas Banyak Inten. Terkadang godaannya terlalu mengarah kepada hal-hal yang membuat sepasang pipi gadis itu merah merona. Sekarang ikan sudah masak; baunya yang menyengat membuat perut siapa pun semakin lapar. Keempat muda-mudi itu makan ikan dengan sukacita namun tanpa meninggalkan sopan santun dan etika makan. Mereka makan dengan tertib, tidak tergesa-gesa, dan tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar suara "aduh" atau "ah" karena ikan bakar masih panas atau ada duri yang mengganjal di lidah.
Hanya Ginggi dan Seta yang tidak ikut makan. Seta berdiri mematung sambil melihat ke kejauhan, sementara Ginggi duduk di balai-balai sambil menggoyangkan kedua kakinya.
"Hei, akan lebih ramai nampaknya bila kalian pun ikut makan sama-sama," kata Nyimas Banyak Inten.
"Betul, makanlah sama-sama," kata Nyimas Layang Kingkin. Banyak Angga pun ikut menawari.
Karena ditawari, Ginggi mendekat dan hendak segera ikut makan jika saja Seta tak menghardiknya. "Lho, kita kan sudah ditawari mereka, lagi pula ikan-ikan ini aku yang tangkap. Mengapa kau halangi?" tanya Ginggi membuat kedua gadis itu tersenyum dikulum.
"Anak setan, engkau tak sopan bila harus makan bersama mereka!" kata Seta mendelik.
Ginggi menundukkan kepala. Ia baru sadar kedudukannya di lingkungan mereka. "Yah, biarlah bila begitu aturannya," gumamnya menjauh lagi.
Namun Nyimas Banyak Inten seperti menaruh kasihan kepada Ginggi. Gadis itu setengah memaksa mengajak pemuda itu agar ikut makan. Karena kebetulan yang lain sudah merasa cukup makan, oleh yang lainnya Ginggi dipersilakan mencicipi makanan-makanan enak itu. Karena memang sudah lapar sejak tadi pagi, Ginggi makan ikan dengan lahap. Seta yang beberapa kali ditawari hanya mendengus sebagai tanda menolak. Akhirnya hanya Ginggi saja yang sibuk makan ikan. Keempat orang muda-mudi itu hanya tersenyum melihat Ginggi makan tanpa perasaan canggung.
"Sudah aku katakan, anak muda itu selain bodoh juga punya kejujuran dalam bertindak," kata Suji Angkara sambil memperhatikan tangan Ginggi yang comot sana comot sini. "Ayahanda perlu orang yang lugu tapi jujur. Nanti aku ajak kau menghadap ayahanda," lanjut Suji Angkara.
Ginggi menatap tajam ke arah pemuda itu. "Engkau harus berterima kasih kepada Raden Suji, sebab kau akan bekerja di puri ayahandanya, yaitu Bangsawan Bagus Seta," kata Banyak Angga.
Bergetar hati Ginggi mendengarnya. Ki Bagus Seta, murid Ki Darma, adalah ayahanda Suji Angkara? Ini amat mengejutkan sekaligus membingungkan. Ginggi terkejut dan bingung; bukankah ayahanda Suji adalah Kuwu Suntara, Kepala Desa Cae? Kembali ada misteri baru menyelimuti anak muda tampan tapi terkesan angkuh ini. Namun, di samping keheranannya, Ginggi pun amat gembira. Kalau benar dirinya akan dipekerjakan di puri ayahanda Suji Angkara, berarti ia akan bertemu dengan Ki Bagus Seta. Dengan begitu, lengkaplah pertemuan dirinya dengan keempat murid Ki Darma.
Bersama tiga murid Ki Darma yang telah ditemukan terlebih dahulu, ia menemukan harapan sekaligus kekecewaan dan tanda tanya. Ketika bertemu dengan Ki Rangga Guna, ada secercah harapan bahwa murid ketiga Ki Darma ini sepertinya setia dengan amanat guru. Namun, menemukan Ki Rangga Wisesa hanya ada rasa sesal dan kecewa sebab orang itu berotak miring dan perangai serta tindakannya memalukan Ki Darma. Ki Banaspati, murid pertama Ki Darma, masih berupa teka-teki bagi Ginggi. Sekarang teka-teki makin besar bila ingat Ki Bagus Seta. Ia menjadi bangsawan, ia menjadi pejabat pemungut pajak. Apa yang tengah dilakukan sebenarnya oleh murid kedua ini, Ginggi belum bisa menebaknya.
"Saya amat berbahagia bila dipercaya bekerja di puri ayahandamu, Raden. Bangsawan Bagus Seta sudah lama saya kenal dan saya kagum kepadanya," kata Ginggi menyembah takzim.
Suji mengangguk-angguk. "Ya, nanti sore aku perkenalkan kau pada ayahanda," kata Suji Angkara. Untuk yang kesekian kalinya Ginggi menyembah takzim, disambut dengan sedikit dengus pemuda Seta dari kejauhan. Ginggi tak mendengar dengusan ini sebab hatinya diliputi kegembiraan bisa berhubungan dengan Ki Bagus Seta.
Sudah hampir dua minggu Ginggi berada di Pakuan. Suji Angkara yang pernah berkata akan mempekerjakan Ginggi di kediaman Ki Bagus Seta belum juga melaksanakan janjinya. Selama dua minggu ini, Ginggi malah disuruhnya berada dekat-dekat dengannya. Suji Angkara ternyata tinggal sendirian di sebuah rumah besar, namun masih satu kompleks dengan rumah yang lebih besar lagi, yaitu rumah milik Ki Bagus Seta.
Ginggi belum berkenalan dengan Ki Bagus Seta, namun wajahnya sudah ia kenal. Orang itu bila bepergian selalu mendapatkan pengawalan empat sampai lima orang petugas. Melihat gerak-gerik para pengawalnya, Ginggi menyimpulkan bahwa mereka bukan dari jagabaya biasa, melainkan memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi. Mungkin bukan perwira setingkat pengawal raja, namun sepertinya mempunyai kepandaian yang tinggi, dan Ginggi harus sangat hati-hati untuk menyelidikinya.
Ki Bagus Seta berperawakan gagah. Tubuhnya tinggi besar dan selalu berpakaian mewah. Matanya tajam seperti burung elang dan dagunya runcing, menandakan bahwa orang ini pemikir keras dan selalu bertindak tegas dalam mengambil keputusan. Bila memperhatikan sepasang matanya yang tajam bagai mata burung elang itu, Ginggi amat yakin bahwa orang seperti itu adalah pemerhati yang serius, baik terhadap situasi maupun terhadap tindak tanduk orang lain.
Kalau benar dugaannya, maka Ginggi pun harus semakin hati-hati dalam bertindak. Sikap ini sebenarnya hampir sama dengan tindak tanduk yang diperlihatkan Suji Angkara. Anak muda ini pun seorang pemerhati dan penyelidik. Namun bedanya, Suji Angkara adalah orang yang gila hormat. Bila keinginannya sudah terkabul, ia mudah percaya terhadap mulut manis. Selama beberapa hari Ginggi berada dekatnya, masih ada kesan menyelidik dan menguji dari "majikannya" ini. Tapi karena Ginggi selalu bersikap sopan dan selalu "bodoh namun jujur", anak muda itu akhirnya memiliki kepercayaan penuh bahwa Ginggi datang ke hadapannya tidak memiliki tujuan apa-apa selain hendak mengabdi belaka. Ginggi berpikir bahwa sangat mungkin Suji Angkara mudah percaya akan hal ini karena memang selama ini banyak orang yang mengharapkan bisa mengabdi kepadanya. Buktinya, Seta dan Madi adalah pengabdi yang baik.