Chapter 65
Ki Ogel dan Ki Banen mungkin pada mulanya dianggap sebagai pengabdi yang baik, kalau saja kedua orang tua ini tidak memperlihatkan sikap menentang terhadap Suji Angkara.
Dengan siapa pun kini ia dekat, bagi Ginggi tak ada bedanya sebab semua orang akan ia selidiki. Kepada anak muda pesolek ini, berbagai kecurigaan sudah menumpuk. Kini, usaha Ginggi adalah bagaimana cara mengungkapkannya. Dan bila sekarang sudah bisa berdekatan dengan pemuda itu, akan ada banyak cara untuk membuktikannya.
Namun bagi Ginggi, kini ada tantangan yang lebih besar lagi. Ia harus sanggup membuka tabir penuh misteri yang kian menyambung dan melebar. Ginggi harus sanggup membuka tabir sejauh mana peran Ki Bagus Seta yang berada di Pakuan berhasil menempatkan dirinya sebagai bangsawan yang memiliki jabatan penting, padahal gurunya sendiri sudah dianggap pengkhianat dan selalu dikejar-kejar.
Ginggi juga harus mengetahui bagaimana hubungan Ki Bagus Seta dengan Ki Banaspati yang menjadi bawahan dalam mengurus pajak negara. Ini adalah misteri paling besar dan amat menyangkut urusan negara. Bayangkanlah, Ki Banaspati bertugas sebagai muhara untuk wilayah timur, tapi diketahui Ginggi menyembunyikan hasil pajak karena akan digunakan untuk menghimpun kekuatan pasukan dalam upaya melawan raja. Sedangkan Ki Bagus Seta di ibu kota bertindak sebagai pejabat muhara dan bertanggung jawab penuh dalam memasukkan penghasilan negara.
Adakah hubungan kedua orang itu dalam upaya melaksanakan amanat guru? Betulkah Ki Bagus Seta berusaha menjadi muhara juga karena ingin melaksanakan amanat guru? Ginggi perlu menyelidikinya lebih jelas lagi. Pemberontakan adalah sesuatu yang tidak disukai Ki Rangga Guna. Tapi kalau ternyata upaya-upaya yang dilakukan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta merupakan upaya menolong kepentingan rakyat seperti yang diamanatkan Ki Darma Tunggara, maka tak ada jalan lain; Ginggi harus ikut mendukungnya.
Mengapa tidak? Selama dua minggu ia berada di ibu kota Pajajaran ini, ia melihat kaum bangsawan hidup senang. Ia melihat pula bagaimana bahagianya raja dan keluarganya yang acapkali bercengkrama di Taman Mila Kancana, atau makan buah durian di Tajur Agung (kebun istana). Itu karena jasa para pengabdi yang disebut ambara hayati. Tapi apa balas budi raja kepada Ki Darma, perwira yang puluhan tahun mengabdi kepada negara? Ki Darma bahkan dikejar, diburu, serta dicap pemberontak.
Selama dua minggu ini, hampir setiap malam Ginggi menyimak tembang-tembang prepantun (pelantun cerita). Dari prepantun istana sampai prepantun yang menggelar pertunjukannya di jawi khita (benteng luar), selalu menceritakan pengkhianatan Ki Darma Tunggara.
"Siapa berkhianat, itu yang jahat. Seribu perwira siap mati, seribu perwira hampir mati. Mati karena pengkhianatan, mati karena pengkhianatan. Oh, hai, pengkhianat dialah Ki Darma Tunggara! Dialah Ki Darma Tunggara!"
Ginggi hampir setiap malam mendengarkan lantunan prepantun yang mengisahkan pertempuran mati-matian di alun-alun luar Kota Pakuan antara seribu perwira pengawal raja melawan musuh yang datang menyerbu. Dalam peristiwa ini, Ki Darma Tunggara dicurigai melakukan pengkhianatan dengan sengaja mengundang musuh dari barat. Peristiwa itu terjadi belasan atau puluhan tahun yang lalu, ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Dewata Buana atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi).
Ki Darma Tunggara yang merasa lebih berpengalaman dalam membela negara karena sudah sejak Pakuan dipimpin Sang Ratu Jaya Dewata atau lebih dikenal dengan Sri Baduga Maharaja atau Sang Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi), mengkritik kebijaksanaan Sang Prabu Ratu Dewata yang lebih memperhatikan kehidupan agama ketimbang yang lainnya. Ayahanda Sang Prabu Ratu Dewata, yaitu Ratu Sangiang atau lebih dikenal sebagai Sang Prabu Surawisesa (1521-1543 Masehi), semasa memerintah gemar berperang. Selama 14 tahun memerintah, ia melakukan peperangan sebanyak 15 kali.
Menurut Sang Prabu Ratu Dewata, seringnya melakukan peperangan mungkin akan diakui dunia sebagai bangsa yang gagah berani, tapi juga memiliki risiko menyakiti musuh. Musuh yang kalah tak akan selamanya takut; suatu waktu mereka akan membalas kekalahan. Peperangan yang berkepanjangan pun, baik dalam kemenangan apalagi dalam kekalahan, hasilnya tetap akan menyengsarakan rakyat. Karena perang dibentuk oleh jalan pikiran manusia, maka Sang Prabu Ratu Dewata memilih belajar mengendalikan pikiran agar tidak selalu dipenuhi nafsu angkara murka. Sang Prabu Ratu Dewata memilih hidup damai ketimbang mengundang kemelut. Itulah sebabnya sendi-sendi agama diangkat ke permukaan. Kuil dan biara di Pakuan diperbanyak jumlahnya, demikian pun para wiku dan pendeta di kuil memperdalam masalah kebatinan ketimbang memperhatikan kehidupan lahiriah.
Inilah yang dikritik Ki Darma. Menurutnya, tapa di nagara untuk seorang raja bukanlah mengurung diri di kuil sambil melepaskan seluruh kehidupan lahiriah. Tapa di nagara adalah melaksanakan pekerjaan yang ditekuni sehingga berguna untuk kepentingan umum. Hanya memperhatikan kepentingan batiniah tanpa mengurus kepentingan lahiriah membuat hidup tidak seimbang. Apalagi menurut Ki Darma, negara tetap dalam bahaya. Musuh yang datang tidak sekadar akan membalas kekalahan, tapi karena memiliki maksud ingin menghilangkan pengaruh Pajajaran dan menggantikannya dengan pengaruh baru yang dibawa oleh mereka. Jadi, mengurung diri dengan maksud menjauhkan nafsu angkara murka yang ada dalam diri sendiri tidak akan mengusir bahaya peperangan, sebab musuh tetap mengancam.
Ki Darma pernah memberikan peringatan kepada raja bahwa sewaktu-waktu musuh dari barat akan menyerang. Ki Darma bisa berkata begitu karena ia pandai meramal bahaya. Tapi peringatan ini tidak dipercaya raja dengan mengatakan bahwa ramalan Ki Darma bohong belaka. Namun, ketika secara tiba-tiba musuh datang menyerang dan mengepung Pakuan, pemerintah tidak berterima kasih kepada Ki Darma, bahkan sebaliknya menuduh Ki Darma berlaku khianat. Kalau benar Ki Darma bisa meramal, mengapa kedatangan musuh yang tiba-tiba tidak bisa diramalkan? Banyak suara mendukung kecurigaan. Katanya, mungkin saja Ki Darma sudah tahu sebelumnya tapi tidak dilaporkan. Atau ada kecurigaan lebih besar, Ki Darma sengaja "mengundang" musuh datang hingga ke "beranda" Pakuan tanpa diketahui sebelumnya. Itu semua karena pengkhianatan Ki Darma.
Memang raja tidak berhasil membuktikan kesalahan Ki Darma, tapi raja akan tetap menghukumnya ketika Ki Darma akhirnya mengundurkan diri dari kegiatan kenegaraan. Perintah untuk mengejar dan menangkap Ki Darma dikeluarkan setelah Pakuan dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti. Tidak ada yang bisa membuktikan Ki Darma melakukan pengkhianatan, tapi kebencian terhadapnya terus dihembus-hembuskan. Kisah peperangan di alun-alun luar Kota Pakuan merupakan kisah populer dan penduduk senang menikmati lantunan prepantun. Bila prepantun yang membawakannya pandai melantun merdu diiringi dawai-dawai kecapinya, maka pendengar akan tergugah dan terbawa arus. Mereka akan membenci Ki Darma si pengkhianat dan akan memuji kehebatan kepahlawanan seorang perwira muda putra mahkota. Dialah kelak Sang Ratu Sakti Sang Mangabatan, raja gagah berani yang selalu berupaya mengembalikan kejayaan Pajajaran ke masa puluhan tahun silam.
Kisah-kisah kepahlawanan Sang Ratu Sakti dan pengkhianatan perwira Darma Tunggara terkenal sampai jauh ke wilayah timur, seperti ketika Ginggi mendengarkan kisah ini pertama kalinya oleh prepantun Ki Baju Rambeng di Desa Cae hampir setahun lalu. Ginggi sakit hati oleh kesemuanya ini. Barangkali murid-murid Ki Darma lainnya pun sama memendam sakit hati. Itulah sebabnya mungkin Ki Banaspati tidak kepalang tanggung menjalankan amanat guru. Dalam upaya membela kepentingan rakyat, Ki Banaspati akan menghimpun kekuatan untuk digunakan melawan raja. Tidakkah Ki Bagus Seta yang kini mengendalikan kekayaan negara sebetulnya punya tujuan yang sama dengan Ki Banaspati? Barangkali secara diam-diam mereka berdua telah melakukan persekutuan dalam melawan raja. Ya, barangkali. Tapi apa pun yang sesungguhnya terjadi, Ginggi harus tetap berlaku hati-hati. Ia harus mengambil keputusan yang tepat. Untuk itulah Ginggi harus melakukan penyelidikan seseksama mungkin. Ia tidak mau tergelincir melakukan kekeliruan.
Ginggi ikut di rumah besar yang dihuni Suji Angkara. Di rumah besar yang terbuat dari susunan kayu jati pilihan itu juga tinggal beberapa badega (pembantu), termasuk beberapa orang pembantu wanita usia tiga puluhan tahun ke atas tapi berwajah lumayan. Pekerjaan para badega adalah membersihkan halaman, memandikan kuda, atau pekerjaan berat lainnya. Sedangkan para pembantu wanita bekerja dari mulai memasak, mencuci, sampai membereskan tempat tidur Suji Angkara. Para pembantu wanita itu pun kadang-kadang bertugas memijit bila Suji Angkara menghendakinya. Namun, selama Ginggi meneliti, sikap pemuda itu wajar-wajar saja. Ia dipijit dan para wanita memijit, tak lebih dari itu.
Seta juga tinggal di sana. Menurut para badega, Seta bertugas sebagai pengawal Raden Suji. Tapi menurut penglihatan Ginggi, pemuda yang bibirnya selalu mencibir itu tugasnya tak lebih hanya sebagai pelayan belaka, kendati tidak seperti badega lainnya. Seta lebih berupa pelayan pribadi pemuda pesolek itu untuk keperluan di luar rumah. Akan halnya Ginggi, Suji Angkara rupanya tidak menempatkan pemuda itu secara khusus, sebab sesuai dengan ucapan Suji Angkara, Ginggi akan dipekerjakan di kediaman Ki Bagus Seta. Hanya saja selama dua minggu ini, Ginggi sudah dua kali menerima tugas khusus, yaitu mengirimkan surat daun nipah kepada Nyimas Banyak Inten. Ini bermula dari tanya jawab santai antara Ginggi dan Suji Angkara pada suatu senja di taman belakang rumahnya.