Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 66

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 66

Suji Angkara tengah dipijat oleh seorang wanita pembantu, sementara Ginggi asyik merawat tanaman hias di tepi kolam yang dihuni ikan mas berwarna-warni.

"Duruwiksa, sedang apa kau di sana?" tanya Suji Angkara, padahal matanya terpejam karena tengah menikmati pijatan.

"Saya sedang mencabuti daun-daun kering, Raden," jawab Ginggi merendah.

Selama dua minggu ini, pemuda itu selalu menyebutnya Duruwiksa. Namun, karena Suji Angkara mengucapkannya dengan wajar, panggilan itu tidak lagi terasa sebagai ejekan. Bahkan, Ginggi sudah terbiasa dan merasa betah mendengarnya.

"Kau ke sinilah sebentar," kata Suji Angkara sambil melambaikan tangan.

"Baik, Raden." Ginggi melangkah terbungkuk-bungkuk, kemudian duduk bersila di samping dipan kayu tempat pemuda itu berbaring.

"Kepandaianmu, sebenarnya apa sih?" tanya Suji Angkara tiba-tiba.

Ginggi sudah siap menerima berbagai pertanyaan. Ia pun menyiapkan jawaban asal, yang penting jauh dari kebenaran agar tidak mencurigakan. "Saya tak memiliki kepandaian selain yang Raden ketahui selama ini," jawab Ginggi sambil menunduk untuk memperlihatkan rasa malu dan rendah diri.

"Ilmu membaca huruf, misalnya?" Ginggi menggelengkan kepala.

"Saya ini pengembara. Ke mana saja kaki membawa, di situlah saya tinggal. Saya tidak pernah tahu siapa kedua orang tua saya. Yang saya tahu, saya sudah hidup seperti ini. Jadi, kalau ada yang bertanya dari mana asal saya, saya tak bisa menjawab. Tugas saya sehari-hari hanya memikirkan bagaimana hari ini bisa makan. Selain itu, saya tidak memikirkannya, termasuk mempelajari hal-hal seperti membaca, menulis, apalagi belajar ilmu kedigjayaan seperti yang dilakukan Seta," tutur Ginggi panjang lebar agar Suji Angkara kehabisan pertanyaan.

Mendengar penjelasan Ginggi, pemuda itu hanya manggut-manggut. "Sebetulnya wajahmu lumayan juga. Kalau kau tak bodoh dan lugu, barangkali akan banyak wanita memperhatikanmu," kata pemuda itu sungguh-sungguh.

Ginggi hanya menatap sejenak. Perempuan pembantu yang tengah memijat pun ikut memandangi wajah Ginggi.

"Apa tidak merepotkan bila seorang lelaki banyak diperhatikan para gadis, Raden?" tanya Ginggi dengan senyum tertahan.

Suji membalas tersenyum tanpa memberi jawaban.

"Barangkali merepotkan. Tapi tidak dicintai wanita pun sama merepotkannya. Rasa sepi di hati kupikir merepotkan. Ditolak cinta pun kupikir merepotkan sebab hati bisa gundah-gulana," kata Suji Angkara. Ia mengucapkannya sambil mata terpejam. "Sekarang pun aku tengah menderita kerepotan," gumamnya kemudian.

"Terlalu banyak dicinta wanita, Raden?" tanya Ginggi.

"Terlalu banyak dicinta bagi seorang bangsawan malah lumrah. Yang tak lumrah adalah bila menerima semua cinta itu. Orang kebanyakan akan mencibir bila melihat kaum bangsawan semena-mena dalam urusan cinta. Sesama bangsawan pun akan marah sebab merasa martabatnya dijatuhkan. Dan ini merepotkan," kata Suji Angkara.

"Mungkin akan aman bila memilih salah satu saja," gumam Ginggi menyela. Suji Angkara hanya mendengus kesal.

"Raden sedang dilanda nestapa karena urusan cinta?" tanya Ginggi. Suji Angkara perlahan menganggukkan kepala.

"Aku tengah menggandrungi Nyimas Banyak Inten, putri Bangsawan Yogascitra. Bagaimana caranya agar cintaku tak bertepuk sebelah tangan?" gumam Suji Angkara sambil mengatupkan mata.

Jantung Ginggi berdegup mendengar itu. Saat pertemuan pertama di Pakuan, ia memang melihat Suji Angkara begitu penuh perhatian terhadap gadis tersebut. Ginggi menduga mereka sedang menjalin hubungan, namun ternyata belum ada ikatan resmi.

"Betul-betulkah engkau tak bisa baca-tulis, Duruwiksa?" tanya Suji Angkara. Ginggi mengangguk.

"Kalau begitu, kau harus menolongku. Sampaikan suratku pada Nyimas Banyak Inten," kata Suji Angkara.

"Mengapa saya yang harus mengantarkannya?"

"Aku tak senang rahasia hidupku diketahui orang lain. Kau tak bisa membaca. Jadi, jika aku mengirim surat cinta melalui kau, rahasia cintaku takkan terbongkar," terang Suji Angkara.

"Biasanya surat diantar di dalam kotak jati. Mengapa takut isi surat itu dibaca orang?"

"Aku tidak mau mengirim surat secara resmi. Aku lebih senang melayangkannya secara diam-diam. Surat daun nipah akan tersusun begitu saja. Akan lebih aman bila dibawa oleh orang yang tidak bisa membaca seperti dirimu," jelas Suji.

"Kalau saya dipercaya, tidak apa-apa," kata Ginggi. Suji Angkara tersenyum tipis.

Akhirnya, Ginggi memang diberi tugas untuk mengirim surat daun nipah. Suji Angkara menyuruhnya menyelipkan surat itu di pinggang. "Awas, jangan kau perlihatkan pada siapa pun. Serahkan daun nipah ini kepada Nyimas Banyak Inten saat ia sendirian," pesan Suji.

Tengah hari, Ginggi pergi menuju Taman Milakancana dengan alasan merumput kuda. Taman itu adalah taman istana tempat para putri raja bercengkerama. Kaum lelaki dilarang masuk tanpa izin, namun para penjaga sudah mengenal Ginggi sebagai pekerja Suji Angkara yang lugu, sehingga ia tidak dipersulit.

Ini adalah kali kedua Ginggi memasuki kompleks taman tersebut. Ia tidak pernah tahu etika surat-menyurat kaum bangsawan, namun saat mencuri baca isi surat itu, ia mendapati isinya sangat lugas. Surat pertama menggambarkan kerinduan yang mendalam; Suji menyatakan bahwa hanya kematian yang akan menyambutnya jika Nyimas Banyak Inten tidak membalas cintanya.

Isi surat itu terasa menyebalkan bagi Ginggi. Namun, di sisi lain, Ginggi teringat saat rambut hitam Nyimas Banyak Inten tersibak angin di tepi Sungai Cihaliwung, serta sorot matanya yang tajam saat beradu pandang. Ada kemesraan yang tak disengaja saat gadis itu ikut membantu membakar ikan, dan denyut jantung Ginggi bergetar hebat saat kulit tangan halus gadis itu bersinggungan dengan tangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment