Chapter 67
Hari itu terasa sangat membahagiakan. Sepertinya gadis bangsawan itu bukan sekadar teman baik Suji Angkara, melainkan sahabat karibnya. Sekarang, gadis yang berpenampilan halus namun mudah akrab itu "dilamar" orang, siapa yang tidak merasa kesal? Surat kedua yang akan diberikan Ginggi kepada gadis itu bahkan memiliki isi yang lebih menyebalkan.
Surat itu secara terang-terangan mengajak Nyimas Banyak Inten untuk melakukan pertemuan rahasia. Gila!
Sempat muncul keragu-raguan dalam diri Ginggi; apakah surat itu harus diberikan atau justru dibuang ke parit istana? Bila surat tak diserahkan, Ginggi takut rencananya dalam melakukan penyelidikan terhadap Suji Angkara akan gagal total. Bila surat tak disampaikan dan diketahui oleh Suji Angkara, dia pasti akan menerima kemarahan pemuda bengal itu. Kalau tidak dihukum, pastilah ia akan diusir. Hal itu hanya akan merugikan rencananya, padahal posisinya kini sudah sangat menguntungkan karena telah dipercaya oleh pemuda tersebut.
Mengingat hal itu, dengan berat hati akhirnya dia membawa lembaran daun nipah ke Taman Mila Kancana untuk diserahkan kepada Nyimas Banyak Inten. Taman Mila Kancana itu cukup luas. Di sana banyak pohon rindang, rumput yang menghijau, serta semerbak berbagai macam bunga yang terhampar di sana-sini. Kolam-kolam berair jernih dengan aneka ikan menghiasinya.
Ginggi datang ke tempat itu dengan berbekal keranjang bambu dan alat penyabit rumput, seperti yang diperintahkan Suji Angkara. Namun, kendati penyamarannya sudah sempurna, pemuda itu tidak bisa segera memberikan surat daun nipah kepada Nyimas Banyak Inten. Di sebuah dangau kecil beratap injuk di bawah pohon kecil, Ginggi melihat dua orang gadis tengah mengobrol santai.
Kedua gadis itu dikelilingi oleh para pengasuhnya yang terdiri dari sekumpulan wanita setengah baya. Tingkah mereka beragam; ada yang tengah merajut kain, ada juga yang memilin benang. Beberapa pengasuh malah duduk-duduk di bawah pohon sambil berbincang ke sana kemari. Posisi Ginggi tidak terlalu jauh, namun ia jongkok menyabit rumput di tempat yang agak tersembunyi.
Kedua gadis yang berpakaian mewah itu adalah Nyimas Banyak Inten dan Nyimas Layang Kingkin. Kepada Ginggi, gadis ini diperkenalkan sebagai adik Suji Angkara. Perbedaannya, Nyimas Layang Kingkin tinggal di puri Ki Bagus Seta, ayahandanya. Ginggi tak begitu bisa menangkap apa yang dibicarakan kedua gadis belia itu karena suara para pengasuh terdengar lebih keras lantaran posisi mereka lebih dekat ke arahnya.
Selagi banyak orang, tidak mungkin bagi Ginggi untuk memberikan surat kepada Nyimas Banyak Inten. Oleh sebab itu, Ginggi hanya menggerakkan penyabit rumput dengan asal-asalan, menunggu Nyimas Banyak Inten tinggal sendirian. Namun, harapannya tak membuahkan hasil. Sebelum Nyimas Layang Kingkin pergi, dari jauh ada satu rombongan lain menuju ke tempat itu.
Rombongan itu berjumlah hampir sepuluh orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka berpakaian sangat bagus. Satu orang yang berjalan tenang paling depan bahkan berpakaian amat mewah. Ia tidak memakai pakaian tertutup di bagian atasnya, namun tubuhnya yang bidang dihiasi selendang sutra warna-warni. Sebagian membungkus dadanya, sebagian lagi berkibar di tangannya. Kepala orang itu diikat hiasan beludru hitam. Pria berkulit putih halus dengan kumis tipis dan sorot mata menyala ini, siapa lagi kalau bukan Susuhunan Pakuan, Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan?
Ginggi tak salah menduga, sebab kedua gadis beserta pengasuhnya serempak bersimpuh di hamparan rumput hijau serta menyembah takzim kepada rombongan yang baru datang itu. Ginggi semakin menyembunyikan diri, takut kalau-kalau Sang Susuhunan tersinggung oleh kelakuannya. Pemuda ini menjadi serba salah. Bersembunyi di sana akan amat berbahaya bila tiba-tiba ia ketahuan oleh jagabaya, tetapi keluar dari tempat itu pun sama tidak enaknya. Akhirnya, dia memilih tetap tinggal di tempat yang tertutup oleh rimbunan pepohonan, dengan harapan kehadirannya tidak diketahui.
Namun, rasa penasaran tetap menggelitik hatinya. Sambil bersembunyi, ia berusaha menjulurkan kepala dan menatap ke sana. Ia ingin tahu apa saja yang dilakukan Sang Susuhunan di taman dengan para putri bangsawan itu. Dilihatnya Sang Raja tengah berbincang-bincang dengan kedua putri tersebut. Suaranya halus dan lemah lembut sehingga Ginggi tak sanggup mendengar ucapan raja tampan berkumis tipis itu.
Yang ia saksikan hanyalah senyum dan kerling mata tajam dari Sang Prabu Ratu Sakti. Secara bergiliran, sepasang mata tajam berbinar itu melirik ke arah Nyimas Banyak Inten dengan sorot penuh kagum, kemudian beralih kepada Nyimas Layang Kingkin. Sedang yang diberi kerlingan mata, keduanya hanya menunduk dengan rona merah di pipi dan sesekali menyembah takzim.
Para pengawal seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Sang Prabu. Mereka hanya berdiri tegap ke segala penjuru dengan senjata tombak siap di tangan. Sementara itu, para wanita cantik dengan pakaian yang indah hanya menunduk dengan senyum simpul yang manis. Sang Prabu tidak terlalu lama mengajak para gadis bangsawan itu mengobrol.
Ketika raja berkulit putih dan berhidung mancung itu akan berlalu, semua orang menunduk dan menyembah takzim, tidak berani menatap muka sebelum rombongan itu benar-benar pergi. Rombongan raja berjalan ke jalan berbalay (dibuat dari susunan batu sungai) yang kebetulan melewati tempat Ginggi bersembunyi. Untuk menghindari pandangan Raja dan pengawalnya, pemuda itu menggeser badannya mengikuti gerakan rombongan.
Namun, ketika rombongan sudah berjalan jauh, terdengar suara seperti gerakan benda yang dilemparkan dari arah belakang tubuhnya. Sejenak Ginggi merasa terkejut, khawatir itu adalah serangan rahasia. Namun, mendengar gerakannya, timpukan itu tidak dilakukan dengan pengerahan tenaga khusus.
Tuk!
Benda itu mengenai tepat di tengkuknya. Ginggi pura-pura terkejut dan berpaling ke belakang. Terdengar cekikikan kaum wanita, dan Ginggi akhirnya tertawa sendiri. Bagaimana tidak tertawa, sebab yang dikiranya masih bersembunyi, nyatanya tubuhnya sudah berada di tempat terbuka dan terlihat jelas oleh sekumpulan wanita itu.
"Hei, laki-laki ceriwis, engkau tukang intip. Berani-beraninya, ya?" teriak wanita-wanita pengasuh dengan tingkah polah yang berusaha menakut-nakuti Ginggi.
Pemuda itu merunduk-rundukkan badan dengan wajah penuh khawatir, membuat mereka yang melihat tertawa. Kedua putri bangsawan itu pun ikut tersenyum.
"Ke sini kau! Namamu Ginggi, bukan? Badega (pelayan) Raden Suji, bukan? Kerjamu mengintip orang, bukan?" salah seorang pengasuh berusia tiga puluhan nyerocos memeriksa pemuda itu.
Ginggi hanya mengangguk-angguk sembarangan.
"Jadi engkau mengakui main intip orang, ya?"
"Tidak, tidak mengintip. Saya sembunyi, Bibi!" jawab Ginggi sambil menggelengkan kepala.
"Kalau tidak sedang main intip, mengapa kau di sini?"
"Lihatlah keranjang bambu yang ada di tangan kiriku, dan lihat pula alat penyabit rumput di tangan kananku. Dengan demikian sudah jelas, apa yang tengah aku kerjakan, Bibi," kata Ginggi memperlihatkan kedua benda itu.
"Tapi aku tadi melihat kamu berindap-indap."
"Saya malu diketahui Sang Susuhunan. Kalau beliau tahu saya ada di sini, wah, berabe," kata Ginggi pula.
"Tapi kamu tidak takut oleh kami, ya?"
"Wah, kalian kan baik-baik dan ramah-ramah kepada semua orang."
"Menjilat, ya?"
"Betul, Bibi! Kalian semua ramah dan pemaaf. Bijaksana lagi!"
"Huh, cari muka, ya!"
"Saya sudah punya muka, Bibi!"
"Cerewet! Mukamu jelek!" teriak wanita pengasuh itu.
Ginggi hanya menggaruk-garuk kepala.
"Sudahlah Bibi, jangan terus dimarahi. Dia memang tak salah," kata Nyimas Banyak Inten halus.
Ginggi tersenyum mendengarnya, membuat si Bibi pengasuh kembali mengomel.
"Kau ke sinilah badega," Nyimas Layang Kingkin memanggilnya.
Ginggi merunduk-runduk mendekat. Ia tak berani memandang putri bangsawan ini. Namun, walau sekilas, Ginggi pandai menilai. Gadis yang hampir empat tahun di atas usianya itu terlihat amat jelita, sehingga Ginggi susah membedakan mana yang paling elok: wajah Nyimas Banyak Inten atau Nyimas Layang Kingkin. Dua-duanya memiliki sepasang mata berbinar, berhidung kecil mancung dengan cuping hidung kembang-kempis, serta lesung pipit di pipi bila keduanya tersenyum.
Yang membedakan keduanya, Nyimas Banyak Inten usianya lebih belia, mungkin sekitar 15 tahun atau setahun di bawah usia Ginggi. Sedangkan Nyimas Layang Kingkin tampak lebih dewasa, baik raut wajahnya maupun potongan tubuhnya yang lebih berisi dan membentuk.
"Ada apakah Tuan Putri?" tanya Ginggi bersila dan menyembah takzim tanda hormat.
"Seharusnya aku yang tanya padamu, ada apakah engkau datang ke sini?" putri elok Nyimas Layang Kingkin balas bertanya.
Pemuda itu kian menunduk. Beberapa lama ia tak sanggup memberikan jawaban.
"Mengambil rumput untuk makanan kuda, ya? Kok ambil rumputnya ke sini saja?" tanya Nyimas Layang Kingkin sambil mengerling ke arah Nyimas Banyak Inten.
Ginggi juga ikut mengerling, dan rona merah di pipi Nyimas Banyak Inten tampak kentara. Ginggi menunduk dan jantungnya berdegup. Rupanya hubungan Suji Angkara dan Nyimas Banyak Inten sudah diketahui orang lain, paling tidak oleh Nyimas Layang Kingkin, adik Suji Angkara.
"Tapi tak apalah ambil rumput di Taman Mila Kancana ini. Yang penting, kau jangan ganggu adikku, Nyimas Banyak Inten," kata Nyimas Layang Kingkin penuh arti.
Kembali rona merah di wajah Nyimas Banyak Inten membayang.
"Hari sudah semakin siang, mari Bibi kita kembali ke puri. Ada burung pipit tengah menanti. Siapakah yang datang dan siapakah yang akan dipilih. Burung pipit mesti menimbang-nimbang, Bibi," kata Nyimas Layang Kingkin kembali mengerling ke arah Nyimas Banyak Inten sambil tersenyum penuh arti.
Yang dikerling hanya menunduk malu, membuat Ginggi tak mengerti apa yang sebenarnya mereka maksudkan.