Chapter 68
Tinggallah Nyimas Banyak Inten ditemani dua orang pengasuhnya. Tampak mereka semua tengah termangu-mangu, membuat Ginggi merasa tak enak hati.
"Engkau ke sini menyabit rumput, ya?"
"Nama saya Ginggi, Tuan Putri."
"Jangan sebut aku begitu. Panggil saja Nyimas," potong Nyimas Banyak Inten.
"Tuan Putri adalah kerabat Raja juga?" gumam Ginggi.
"Ya, tapi kerabat jauh. Kau baru boleh memanggil seperti itu kepada turunan langsung Raja saja," kata Nyimas Banyak Inten lagi.
Ginggi tersenyum. Macam-macam kehendak keluarga bangsawan ini. Nyimas Banyak Inten seperti tak suka disebut tuan putri, sedangkan Nyimas Layang Kingkin seperti kebalikannya. Mata Nyimas Layang Kingkin tampak berbinar ketika dipanggil tuan putri oleh Ginggi tadi.
"Baiklah, Nyimas," kata Ginggi akhirnya.
Nyimas Banyak Inten puas dengan kesanggupan Ginggi ini. "Engkau datang ke sini karena menyabit rumput, ya?" Ginggi merenung tapi kemudian mengangguk.
"Terima kasih kalau engkau datang ke sini hanya menyabit rumput," gumam Nyimas Banyak Inten seperti bicara pada diri sendiri, membuat Ginggi merasa heran. Kini pemuda itu mengangkat wajah dan memandang muka yang bak bidadari turun dari kahyangan ini. Nyimas Banyak Inten balik menatap, rupanya tahu akan keheranan Ginggi.
"Entahlah, Ginggi. Aku belum memikirkan hal yang bukan-bukan," kata Nyimas Banyak Inten masih setengah bergumam.
Ginggi menatap tajam wajah rembulan yang kini tampak murung itu. Dia tak menyadari bahwa tindakan ini tidak layak bila dilakukan oleh kebanyakan orang sepertinya. Namun, kesadaran pemuda itu tertutup oleh gejolak rasa yang menggebu di hatinya. Rembulan itu begitu murung, begitu kelabu bagaikan ada awan tipis memoles wajahnya. Ingin sekali Ginggi jadi penguasa angin dan segera meniup jauh awan kelabu yang menutup sang rembulan. Tapi awan kelabu yang manakah yang membuat si jelita begitu murung?
"Kau katakan pada Raden Suji, aku belum memikirkan urusan seperti itu, Ginggi," kata Nyimas Banyak Inten menghela napas panjang.
Siapa mencintai Nyimas Banyak Inten? Ginggi ingin berkata sesuatu, namun lidahnya seperti terpotong di tengah jalan. Tidak, tidak akan kukatakan perihal surat yang kubawa ini, kata Ginggi dalam hatinya. Surat itu tak pantas dibaca oleh gadis sehalus Nyimas Banyak Inten. Bayangkan, surat itu mengajak putri berperangai halus itu untuk melakukan kencan-kencan rahasia. Suji Angkara terlalu merendahkan harga diri gadis itu. Kalau surat itu diberikan kepada Nyimas Banyak Inten, Ginggi tak sanggup melihat hancurnya rasa hati gadis itu. Bayangkanlah, wanita anggun sehalus Nyimas Banyak Inten diperlakukan Suji Angkara seolah-olah gadis itu wanita murahan dan bisa diajak apa saja.
Ginggi serasa punya alasan untuk menjegal surat itu ketika Nyimas Banyak Inten bicara seperti tadi, "Aku belum memikirkan urusan seperti itu." Tentu yang dimaksudnya urusan cinta. Bukankah tempo hari Suji Angkara pernah mengutusnya mengirim surat yang isinya permohonan agar gadis ini suka menjadi kekasih pemuda itu? Nyimas Banyak Inten telah menolaknya, berarti surat yang isinya sembrono ini tak perlu diberikan Ginggi kepada gadis itu.
"Saya mohon diri, Nyimas," gumam Ginggi menyembah takzim. Nyimas Banyak Inten mengangguk lesu. Ginggi segera akan berjingkat tapi gadis itu menahannya sebentar.
"Ada apa, Nyimas?" kata Ginggi menatap wajah gadis itu.
"Bagaimana kau katakan agar Raden Suji tak tersinggung perasaannya, Ginggi?" tanya putri berdagu tipis berbibir merekah merah itu.
Ditanya seperti ini, Ginggi tercenung sejenak. Ya, Ginggi pun tak tahu, omongan apa yang harus dia sampaikan kepada pemuda tampan itu.
"Saya akan coba bicara benar dan wajar sehingga Raden Suji pun akan menanggapinya dengan wajar, Nyimas," kata Ginggi. Namun gadis itu sepertinya menyangsikan kemampuan Ginggi dalam menyampaikan maksudnya.
"Bagi laki-laki, biasanya cinta itu seperti pertandingan, Nyimas. Ada menang ada kalah. Jadi, kedua hal ini seharusnya sudah diperkirakan oleh Raden Suji," kata Ginggi lagi.
Nyimas Banyak Inten seperti tak puas dengan ucapan Ginggi ini. Dia tampak hanya menunduk sambil memilin-milin kain yang oleh pengasuhnya tadi tengah disulam benang emas.
"Bagaimana kalau Nyimas sendiri saja yang sampaikan?" giliran pengasuhnya yang memberikan saran.
"Aku tak biasa berkunjung ke kediaman laki-laki, Bibi," gumam gadis itu menunduk.
"Tulislah surat di daun nipah, biar saya yang menyampaikannya," kata Ginggi.
Tapi Nyimas Banyak Inten menggelengkan kepala. "Surat suka dijadikan kenangan oleh seseorang. Kalau itu surat baik, akan dijadikan kenangan bahagia. Tapi kalau surat itu isinya buruk, hanya akan dijadikan kenangan menyedihkan. Dan aku akan merasa berdosa bila harus memaksa Raden Suji setiap saat merangkul kenangan pahit," tutur Nyimas Banyak Inten sendu.
Gadis yang memiliki rambut ikal dan harum ini terlalu berperasaan dan akibatnya jalan pikiran menyiksa dirinya, pikir Ginggi.
"Kalau segalanya menjadi tidak tepat, jadi harus bagaimana, Nyimas?" tanya Ginggi bingung. Gadis itu masih termangu-mangu seperti tak sanggup mengambil keputusan.
"Ginggi, begitu ruwetkah urusan cinta?" tanya gadis itu tiba-tiba.
Ginggi menatap wajah Nyimas Banyak Inten, tapi kemudian menundukkan kepala lagi bila ingat etika di Pakuan tak membenarkan orang kebanyakan saling pandang dengan kaum bangsawan, apalagi dengan para wanitanya. Namun, biarpun hanya sejenak, Ginggi sanggup menerobos ke dasar lubuk hati gadis itu. Ya, melalui sorot matanya yang bening dan polos, betapa gadis itu berkata bahwa lembaran hidupnya yang putih bersih belum tergores oleh tulisan hitam tentang cinta. Gadis itu belum mengenal relung pahit-getirnya cinta.
Bagaimana harus Ginggi jawab atas pertanyaannya ini? Apakah cinta itu bagaikan mega berarak-arak di langit biru, atau berupa aliran air di sungai berjeram? Pemuda itu pernah merasakannya tapi segalanya serba tak berketentuan. Dan cinta yang datang tanpa persiapan serta tanpa ancang-ancang yang tepat membuat segalanya berantakan.
"Yang membuat ruwet bukan cinta, tapi manusianya itu sendiri, Nyimas," jawab Ginggi pada akhirnya.
"Karena manusianya itu sendiri?"
"Betul, karena cinta itu urusan hati. Dia bisa datang tanpa diundang dan pergi tanpa diusir. Cinta juga tak bisa diundang dan tak bisa diusir," kata Ginggi.
"Tidak bisa diundang dan tidak bisa diusir?"
"Kalau hati tak punya perasaan cinta, diganggu oleh apa pun kita tak tergoda. Namun sebaliknya, bila di hati ada cinta, dipisahkan karena dunia terbelah pun perasaan itu tetap melekat," kata Ginggi lagi.
"Oh, bila begitu cinta hanya derita saja?" sergah gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seolah yang namanya cinta terbentang di hadapannya, membendung dan menghalangi pandangan matanya.
"Engkau hanya membuat Nyimas lebih bingung saja menghadapinya, anak muda. Ah, apa sih pengalamanmu bercinta, sehingga berani melontarkan petuah-petuah seperti itu?" wanita pengasuh Nyimas Banyak Inten menyela dan tak senang atas kata-kata Ginggi yang dianggapnya lancang dan terlalu sembrono memberikan berbagai petuah.
"Barangkali ucapannya ada benarnya, Bibi," potong gadis itu seperti membela Ginggi.
"Tapi membikin Nyimas tambah ruwet saja. Nyimas berdiri di antara dua tantangan yang amat berat," kata wanita pengasuhnya dengan ucapan serius.
"Dua tantangan berat?" Ginggi mengernyitkan dahi.
"Nyimas juga tengah dilanda kebingungan karena dicinta oleh Sang Susuhunan Pakuan!"
"Bibi!" teriak Nyimas Banyak Inten setengah menjerit dan membelalakkan matanya.
Si wanita pengasuh pun tampak terkejut dan baru menyadarinya, mengapa dia mengucapkan perkataan seperti itu.
"Ah, dasar engkau bocah tolol! Mengapa kau datang ke sini dan kasak-kusuk bicara soal cinta? Kau yang salah, bocah gendeng!" pengasuh menyumpah-nyumpah kepada Ginggi.
Ginggi sendiri tak begitu memperhatikan sumpah serapah perempuan setengah baya itu, sebab ucapan awal dari pengasuh gadis itu sudah berdebum menimpa hatinya. Serasa menggeletar seluruh urat tubuhnya mendengar penjelasan singkat ini. Nyimas Banyak Inten juga dicintai Raja? Terpukul rasa hati pemuda itu dan serentak semangatnya jatuh seperti sebatang pohon keropos yang dilanda angin kencang.
"Maafkan saya, Tuan Putri," kata Ginggi tak terasa menyebut gadis itu dengan julukan yang sebetulnya tak disukai gadis itu. Tapi pemuda itu tak tahu, permohonan maafnya itu untuk apa. Apakah karena dia sudah berlaku sembrono memberikan petuah-petuah yang belum tentu kebenarannya, ataukah minta maaf karena... karena apa? Ginggi mencoba mengorek-orek sesuatu yang ada di lubuk hatinya. Perasaan apa yang ada di sana mengenai putri bangsawan Yogascitra itu?
Bah! Sialan benar! Dasar lelaki tak tahu diri! Apa yang kau rasakan terhadap gadis yang derajatnya ada di langit ketujuh itu? Engkau seperti siput yang hendak mendaki ke puncak bukit, atau bagaikan anak itik yang akan menyeberangi lautan. Mana mungkin ada burung gagak minta disejajarkan dengan burung merak? Dia pun mencintai Nyimas Banyak Inten? Bah! Berkaca dululah, hei lelaki dungu! Teriak Ginggi di dalam hatinya.
"Saya mohon diri. Saya mohon diri. Maafkan saya, Tuan Putri," berkali-kali Ginggi bicara terbata-bata atau setengah bergumam. Hatinya marah, menyesal, juga sedih. Tanpa mendapatkan jawaban dari gadis itu, Ginggi cepat-cepat menjinjing keranjang bambu dan alat sabitnya, lalu berlalu dari tempat itu.
Tiba di kediaman Suji Angkara, ternyata sudah didapatkan Nyimas Layang Kingkin bercakap-cakap dengan Suji Angkara. Kedua orang kakak-beradik itu terlibat percakapan yang tampaknya amat penting sekali. Ginggi akan segera berjingkat dari tempat itu kalau saja Suji Angkara tak memanggilnya. Maka Ginggi menghampirinya. Sesudah berada di atas beranda berlantai papan jati mengilap, Ginggi menghadap sambil beringsut, kemudian menyembah takzim.
"Bagaimana, apa kau sampaikan suratku padanya?" tanya Suji Angkara. Terbayang wajah cemas ketika Ginggi memandangnya.