Chapter 69
"Ampun Raden, saya tak berani menyampaikannya, di taman banyak orang," kata Ginggi sambil melirik ke arah Nyimas Layang Kingkin.
"Bagus! Aku malah khawatir bila surat itu kau sampaikan," Suji Angkara bernapas lega.
"Tapi seharusnya kau sampaikan surat itu, Ginggi. Biar Nyimas Banyak Inten tahu bahwa kakakku menyimpan harapan padanya," kata Nyimas Layang Kingkin menyela.
"Hus, engkau ceroboh, Nyimas! Bagaimana mungkin aku berani mati mencintai gadis yang sedang digandrungi Sang Susuhunan?" Suji Angkara menegur adiknya.
"Tapi Kanda, di Pakuan ini bertebaran putri cantik. Sang Susuhunan bisa leluasa memilih yang mana saja kalau beliau tahu Nyimas Banyak Inten telah ada yang punya," sanggah Nyimas Layang Kingkin menatap tajam kakaknya.
Namun, yang ditatap hanya menghela napas. Ada kerut-merut di dahinya. Mungkin pemuda tampan itu sedang bingung atau mungkin juga tengah memikirkan sesuatu. Hanya yang jelas, ada semacam kebimbangan yang mendera hatinya. Barangkali pemuda itu sedang tergoda untuk memikirkan apa yang diucapkan adiknya.
"Entahlah, aku bingung memikirkannya, Dinda," gumam Suji Angkara terpekur.
"Tidak cintakah Kanda pada Nyimas Banyak Inten?" tanya Nyimas Layang Kingkin mendesak.
Ditanya begitu, Suji Angkara menghela napas. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Sesampainya di tepi jendela, pemuda itu termangu-mangu sambil menatap taman belakang rumahnya. Di sana terhampar lapangan rumput. Tidak begitu luas, tapi di sana-sini diberi hiasan tanaman bunga beraneka warna. Ada beberapa ekor angsa berjalan-jalan di tepi kolam dan sesekali menjulurkan patuknya ke permukaan air.
"Cintaku selalu kelabu, Dinda," gumam Suji Angkara hampir seperti berbisik dan menyerupai sebuah ucapan untuk dirinya sendiri.
"Perjuangkanlah cintamu itu. Kalau Kanda benar-benar mengharapkan kehadiran Nyimas Banyak Inten dalam kebahagiaan hidupmu, jangan melakukannya dengan setengah hati. Raihlah sampai apa yang Kanda cita-citakan berhasil kau dapatkan!" kata Nyimas Layang Kingkin lagi.
"Sudah sejak lama aku mendambakan cintanya. Tapi semakin aku mengharapkannya, semakin besar tantangannya. Untuk mendapatkan gadis itu, aku harus bersaing dengan Raja," gumam pemuda itu mengeluh.
"Tapi Dinda akan selalu berdoa di kuil agar cintamu terlaksana dengan sempurna, Kanda," ujar Nyimas Layang Kingkin sungguh-sungguh.
"Kau amat baik padaku, Adikku. Aku pun akan berdoa setiap waktu agar cintamu tak kurang suatu apa," kata Suji Angkara menatap wajah Nyimas Layang Kingkin.
Namun, gadis itu tampak menunduk lesu kendati pada akhirnya dia tersenyum tipis. Ginggi yang menyimak percakapan kedua orang itu tidak bisa menduga apa pula yang ada di hati gadis berwajah bulat telur ini. Namun, Ginggi merasa punya naluri bahwa gadis itu pun memiliki sesuatu yang tengah dirahasiakannya.
Percakapan kedua kakak-beradik itu terhenti ketika mereka melirik ke arah Ginggi. Rupanya mereka baru sadar bahwa ada orang ketiga di ruangan itu. Suji Angkara tampak mengerutkan dahi, sepertinya tak senang dengan kehadiran Ginggi di sana.
"Mengapa kau berada di sini, hei duruwiksa?" tanya Suji Angkara dengan suara sedikit ketus.
"Bukankah saya tadi dipanggil olehmu, Raden?" jawab Ginggi.
Suji Angkara tersenyum, sepertinya dia baru ingat bahwa memang tadi dia menahan Ginggi untuk tidak meninggalkan tempat itu.
"Cepat kembalikan daun nipah itu padaku," kata Suji Angkara pada akhirnya.
Ginggi menyerahkan surat yang sedianya diserahkan pada Nyimas Banyak Inten. Lembaran daun nipah yang sudah diikat benang warna hitam itu serta-merta diremas-remasnya sehingga hancur. Pemuda itu rupanya belum puas. Dia segera mengambil paneker dan bulu lunglum, kemudian segera membuat api. Surat daun nipah segera dibakarnya habis. Semua perbuatan Suji hanya disaksikan saja oleh adiknya.
"Aku amat mencintainya. Adakah cara terbaik agar aku bisa memiliki gadis itu?" gumam Suji pelan, tapi nadanya mengandung rasa penasaran yang amat sangat.
"Ya, Kanda harus memilikinya. Carilah akal yang paling baik. Kita harus berani mengalahkan Sang Prabu tanpa menyakitinya, Kanda," kata Nyimas Layang Kingkin mendesak dan penuh harap.
Malam hari Ginggi tidur sendirian di sebuah ruangan berlantai tanah, berdempetan dengan istal kuda. Malam demikian dingin sebab langit tampak jernih tak terhalang mega sedikit pun. Kalau Ginggi mau menengok ke halaman, suasana sudah demikian sunyi. Hanya suara binatang malam saja yang terdengar di semak-semak.
Di malam yang dingin dan membuat tulang-tulang sumsum terasa ngilu, seharusnya tak membuat orang betah berkeliaran di luar rumah. Barangkali yang paling pantas adalah membungkus tubuh dengan selimut tebal, tidur meringkuk hingga badan melipat, atau bila mereka sepasang suami-istri, maka dinginnya malam mereka usir dengan cara tidur saling peluk. Namun tentu saja, tak semua orang telah beruntung menjadi sepasang suami-istri. Seta dan Madi misalnya, entah kapan mereka akan menjadi seorang suami yang mendapatkan kebahagiaan dari istri tercinta di malam dingin seperti ini.
Ginggi sendiri tidak pernah mencita-citakan suasana seperti itu. Baginya, punya istri dan membangun rumah tangga adalah sebuah pekerjaan besar yang amat memerlukan pengorbanan. Menyinta saja tanpa dicinta wanita adalah sebuah siksaan. Tapi, dicinta wanita tanpa bisa membalas cintanya juga sebuah derita.
Terbayang di mata Ginggi wajah gadis pemilik kedai di Tanjungpura. Gadis itu hanya dalam sehari-semalam saja telah berani menyatakan cintanya. Tidak melalui ucapan langsung, tapi sorotan matanya yang penuh harap, ucapan-ucapannya yang seperti mengikat, segalanya membeberkan perasaan hatinya. "Kalau engkau kembali lagi ke Tanjungpura, Ayah amat menantikanmu," kata gadis itu yang sengaja mencegatnya di tengah jalan saat Ginggi akan meninggalkan Tanjungpura.
Mulanya gadis itu mencurigainya sebagai pemuda ugal-ugalan yang senang mengganggu wanita. Namun setelah belakangan terbukti bahwa Ginggi seorang yang sopan terhadap wanita, maka gadis itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Ini derita buat Ginggi, sebab dirinya tak tega membayangkan bahwa gadis itu kini tengah hidup dalam penantian dan harapan kosong. Pemuda itu tak pernah menolak tapi juga tak pernah menjanjikan sesuatu.
Cinta itu sendiri bagi Ginggi hanyalah sebuah kegelapan. Dia tak pernah tahu apa sebenarnya cinta itu. Seperti kelelawar mencari makanan di malam hari, di saat tak ada cahaya apa pun yang memberi tahu. Kelelawar hanya makan makanan yang dirasa di mulut enak dan manis. Tapi makanan apa itu sebenarnya, dia sendiri pun tak tahu sebab semua yang dimakannya selalu di saat keadaan gelap gulita. Dan menurut Ginggi, cinta itu sendiri pun gulita. Dia tak tahu apakah cinta yang dirasakannya benar-benar murni atau palsu belaka.
Ginggi teringat kembali peristiwa aib di hutan kecil di Desa Cae setahun lalu. Bersama Nyi Santimi dia terperosok ke jurang cinta yang hanya mementingkan nafsu lahiriah belaka. Ketika gejolak birahi meninggi dan bergelombang, serasa itulah cinta. Tapi ketika segalanya sudah berlalu, berlalu pulalah perasaan cintanya. Ginggi tak percaya bila yang namanya cinta hanya sebatas kenikmatan lahiriah saja. Itulah sebabnya, ketika gejolak darah sudah tak menggelegak lagi, pemuda itu segera sadar dari kekeliruannya.
Ginggi menyesal. Dan celakanya, rasa sesalnya hanya ditampilkannya lewat perbuatan pengecut. Ginggi lari menghindar dari kungkungan cinta yang dianggapnya palsu, kendati sampai kini dia sebetulnya tak bisa lepas dari kuntitan dosa. Sekarang perasaan-perasaan yang sebetulnya dibencinya telah mulai lagi merobek-robek hatinya. Tak kepalang tanggung, perasaannya kini tergoda wajah anggun Nyimas Banyak Inten, putri bangsawan yang banyak diperebutkan setiap ksatria Pakuan. Tak kepalang tanggung, yang memendam rasa dan cita-cita untuk memetik kembang Taman Mila Kancana itu adalah juga Sang Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan.
Kalau Ginggi tetap bertahan dengan perasaannya yang sebetulnya dianggap menyebalkan ini, berarti dia harus bersaing dengan Raja, dengan banyak ksatria Pakuan, termasuk juga bersaing dengan Suji Angkara.
"Suji Angkara?" Ginggi serentak bangun dari tidurnya. Dia duduk di atas dipannya. Benarkah Suji Angkara juga menyinta Nyimas Banyak Inten secara sungguh-sungguh? Ginggi memicingkan sepasang matanya karena berpikir keras.
Suji Angkara sejak awal dicurigainya sebagai pemuda misterius. Bukan saja peranannya di Pakuan sebagai apa, tapi juga tindak-tanduknya yang erat kaitannya dengan urusan wanita. Sejak mulai dari Desa Cae setahun yang lalu, Ginggi sudah mendapatkan suatu keganjilan, yaitu di mana ada Suji Angkara, di situ terjadi peristiwa yang menyangkut wanita. Di Desa Cae, di Tanjungpura, dan baru-baru ini di puri milik Bangsawan Yogascitra, kendati tidak sempat menjadi peristiwa yang menggegerkan karena baru terpegok Ki Banen. Dan Ki Banen, walaupun tidak bisa meyakinkan secara pasti, tetap menaruh curiga bahwa Suji Angkara secara gelap memasuki puri Yogascitra. Ki Banen curiga, Suji Angkara akan mengganggu Nyimas Banyak Inten.
Ginggi menjadi bimbang. Mungkin saja dia curiga bahwa Suji Angkara gemar berbuat tak senonoh terhadap wanita. Tapi, bukankah pemuda itu mengaku bahwa cintanya tulus terhadap Nyimas Banyak Inten? Tapi amat mustahil seorang yang memiliki cinta tulus nekat melakukan hal yang tak senonoh. Bila mengingat hal-hal seperti ini, Ginggi menjadi semakin tak percaya bila Suji Angkara gemar melampiaskan birahi secara jahat. Pemuda itu kaya dan tampan. Sehari-harinya senang berpakaian bagus, anak pejabat lagi. Mustahil tak ada seorang wanita pun yang menyintainya secara benar. Mustahil tak ada wanita yang mau melayani cintanya secara wajar sehingga memaksa pemuda itu melakukan tindakan tak senonoh. Ya, bisa saja seorang lelaki melakukan tindakan berahi secara tak terpuji bila dia sudah merasa bahwa dirinya rendah, takut tak dihargai, bahkan takut dibenci wanita.