Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 70

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 70

Mungkinkah pemuda itu mempunyai perasaan rendah diri seperti yang Ginggi pikirkan? Ginggi mengingat-ingat obrolannya beberapa waktu lalu dengan pemuda itu. Tidak, Suji Angkara sebenarnya tidak punya sikap rendah diri. Dia adalah lelaki yang selalu ceria tapi sedikit angkuh. Bila di hadapan umum, dia selalu menampilkan dirinya sebagai kaum bangsawan yang terhormat, pandai menjaga diri, dan taat kepada etika kebangsawanannya. Di hadapan umum, dia benar-benar seorang bangsawan yang pandai membawa diri, hormat terhadap sesama, juga terhadap wanita.

Sampai di sini, Ginggi tersentak kaget. Suji Angkara benar-benar pandai menjaga kehormatan di hadapan umum. Ya, di muka umum. Kalau di belakang, bagaimana? Ginggi jadi teringat ucapan Nyi Santimi di Desa Cae dulu yang mengatakan takut terhadap perangai Suji Angkara.

"Raden Suji bila di muka orang banyak nampak sopan terhadap wanita, tapi bila kebetulan sedang berduaan, matanya tajam sedikit jalang. Sepertinya sorot matanya sanggup menembus pakaian dan menjilati seluruh tubuh yang dilihatnya. Mulutnya menyeringai dan napasnya sedikit memburu, membuat bulu kuduk merinding," kata Nyi Santimi ketika itu.

Ginggi juga ingat perkataan Suji Angkara bahwa menjadi bangsawan itu berat. Perilaku harus dijaga sebab sedikit melanggar saja, sesama bangsawan akan tersinggung. Kata-kata Suji Angkara terdengar seperti kekecewaan bahwa dia dilahirkan sebagai bangsawan, atau sekurang-kurangnya kecewa sebab dia berada di lingkungan kaum bangsawan yang ketat dengan berbagai aturan. Sepertinya pemuda itu merasa terkungkung dengan kebangsawanannya. Dan bila menyimak "keluhan" pemuda itu, seolah-olah membuktikan bahwa di muka umum dia ketat memegang etika sebagai bangsawan karena keterikatan saja, karena terpaksa saja.

Sedangkan hatinya berontak, dirinya ingin bebas melakukan apa saja, termasuk melakukan percintaan dengan bebas seperti kuda binal. Ginggi dengar, di wilayah Kandagalante Sagaraherang pada malam hari ada pesta makan dan minum, bahkan pesta berahi sebab di sana tersedia wanita-wanita penghibur. Dari sekian orang pengawal barang seba, hanya dua orang yang tidak bermain cinta. Pertama, Seta karena dia setia terhadap Nyi Santimi, calon istrinya, dan kedua, Suji Angkara.

Karena apa? Ya, karena dia harus menjaga etika kebangsawanannya. Kalau dia ketika itu menerima tawaran tuan rumah yang sengaja menjamunya dengan wanita penghibur, maka akan rusaklah mutu kebangsawanannya. Tidak, Suji Angkara tak mau bermain wanita di muka umum. Bila di belakang, bagaimana? Ginggi teringat lagi kesaksian badega Juragan Ilun Rosa yang putrinya mati bunuh diri. Dua malam sebelum peristiwa, Suji Angkara dipergoki tengah mencumbu dan merayu anak gadis Juragan Ilun untuk melakukan hubungan suami-istri. Gadis itu walaupun tersinggung, tapi menolak dengan sopan dan mengatakan dirinya sudah bertunangan dengan pemuda bernama Purbajaya.

Sesudah terjadi penolakan, maka musibah datang. Gadis itu esok malamnya bunuh diri dan di samping mayatnya ada surat daun nipah yang isinya menerangkan bahwa Purbajaya pamitan kepada kekasihnya akan melakukan pernikahan dengan gadis bangsawan Pakuan. Seolah-olah surat itulah pembawa bencana bunuh dirinya gadis itu. Betulkah bunuh diri karena putus asa ditinggal kekasih, atau mati bunuh diri karena diperkosa? Atau dibunuh setelah diperkosa terlebih dahulu?

Ada titik-titik terang yang memandu Ginggi. Bila pemuda itu akan tetap mencurigai Suji Angkara sebagai penjahat berahi, maka alasan-alasannya cukup jelas mengapa pemuda itu melakukan perbuatan cabul. Ya, dia sebetulnya laki-laki biasa yang lemah terhadap godaan kecantikan wanita. Tapi karena dia seorang bangsawan, harus menjaga etika kebangsawanannya. Namun, sebetulnya dia tak bisa menjaganya. Apalagi di lain pihak bila harus menyintai wanita secara berterang, pemuda itu beberapa kali tersandung batu. Seperti pernah diungkapkannya kepada Ginggi, bahwa Suji Angkara beberapa kali merasa sakit hati karena ditolak cintanya. Bermain cinta secara wajar dia tidak bisa, tapi mencari wanita penghibur secara terang-terangan dia takut kebangsawanannya ternoda. Maka, satu-satunya jalan dalam mencurahkan hasrat berahinya adalah dengan melakukan tindakan-tindakan gelap.

Ya, mungkin begitu, termasuk kepada Nyimas Banyak Inten yang menolak cintanya. Hah? Terhadap Nyimas Banyak Inten? Ginggi kembali tersentak. Suji Angkara amat menyintai Nyimas Banyak Inten, tapi dia menghadapi hambatan berat. Selain gadis itu menolak cintanya, juga ada halangan amat besar, dia harus bersaing dengan Raja.

"Aku amat mencintainya. Adakah cara terbaik agar bisa memiliki gadis itu?" tanya Suji Angkara ketika itu.

Dan Ginggi masih ingat saran-saran Nyimas Layang Kingkin kepada kakaknya. "Ya, Kanda harus memilikinya. Carilah akal yang paling baik. Kita harus berani mengalahkan Sang Prabu tanpa menyakitinya," begitu tutur Nyimas Layang Kingkin ketika itu.

Nyimas Layang Kingkin begitu mendesak-desak agar kakaknya tak putus asa dalam mendapatkan cintanya. Adakah ucapan ini punya makna? Atau, akankah ucapan ini dijadikan makna oleh Suji Angkara untuk melakukan sesuatu agar cintanya terlaksana? Ginggi tertegun dengan jalan pikirannya ini. Kalau benar dugaannya, ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan Suji Angkara. Pertama, dia akan meminta dengan halus terhadap Sang Prabu, atau menggantikannya dengan gadis lain yang sekiranya Sang Prabu sama menghargainya. Atau kedua, Suji Angkara akan berlaku nekad, memperlakukan Nyimas Banyak Inten secara diam-diam; yang penting hasrat cintanya tersalurkan.

Ginggi serentak bangun. Dengan perasaan tak keruan dia keluar rumah. Di halaman, keadaan cukup gelap sebab beberapa penerangan sudah kehilangan minyak bakar. Ada cahaya dari ribuan bintang-gemintang tapi tidak akan sanggup menerangi bumi. Dengan dada berdebar kencang, Ginggi berlari. Yang dituju adalah puri Bangsawan Yogascitra. Ya, Ginggi harus ke sana agar kekhawatirannya tidak terbukti. Ginggi takut sekali perkiraannya benar, sebab kalau semua dihubung-hubungkan, ada kecenderungan Suji Angkara melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan Nyimas Banyak Inten. Pemuda itu diduga akan mendahului "mengambil" Nyimas Banyak Inten secara gelap bila secara terang-terangan dia tak akan bisa mendapatkannya.

Ginggi teringat kecurigaan Ki Banen bahwa Suji Angkara pernah menyelundup masuk ke puri Bangsawan Yogascitra. Kalau ini benar, bukan tidak mungkin dia akan kembali mengulangi tindakannya. Ginggi meloncat-loncat di atas kuta (benteng) untuk memotong perjalanan, dan segera meloncat ke atas dahan pohon bila berpapasan dengan rombongan tugur (ronda). Ginggi tidak memastikan bahwa malam ini Suji Angkara akan menyelundup masuk ke puri Bangsawan Yogascitra, tapi Ginggi perlu menjaganya agar kejahatan pemuda itu tidak berlangsung. Kalau tak terjadi malam ini, mungkin besok, atau lusa, atau mungkin kapan saja. Tapi kapan pun itu terjadi, Ginggi harus berusaha menjaga dan menggagalkannya. Dan untuk itu, terpaksa dia harus memata-matainya. Kalau mungkin, setiap malam dia akan mengawasi puri Bangsawan Yogascitra.

Sekarang Ginggi sudah tiba di belakang puri. Dia tak pernah keluyuran memasuki wilayah puri ini. Namun, melihat beberapa bangunan yang terdapat di sana, Ginggi bisa mengira-ngira mana kediaman pemilik puri dan mana bangunan-bangunan yang biasanya hanya dihuni para badega atau pelayan. Bangunan-bangunan di sana amat kokoh, terbuat dari jati pilihan. Atapnya dibuat dari sirap hitam dan suasana demikian sunyi sebab rupanya semua orang sudah terlelap dalam mimpi.

Tapi Ginggi telah memiliki ilmu yang Ki Darma namai sebagai Hiliwir Sumping ketika di Puncak Cakrabuana. Ginggi kerap kali diajarkan ini. Dia belajar menulikan telinga di saat banyak terdengar suara keras, atau sebaliknya, harus sanggup mendengar sesuatu di saat sunyi. Dari kepandaian seperti ini, Ginggi bisa memilah-milah suara seputarnya. Maka dari sekian jenis suara, mulai dari suara jangkrik bernyanyi sampai bunyi dengkur, pemuda itu bisa melakukannya. Ketika dia pergunakan ilmu tersebut, dia sempat mendengar bunyi aneh. Ginggi memiring-miringkan kepalanya, menggerak-gerakkan daun telinganya. Ada suara desah dan bisikan parau. Sebentar kemudian suara itu berganti menjadi kekeh halus seperti tertahan-tahan.

Ginggi meloncat seperti kucing, mendekati arah suara itu. Datangnya di sebuah kamar di sudut bangunan besar. Di bagian sudutnya ada jendela. Ginggi memeriksa dengan hati-hati. Jendela itu tidak terkunci. Ditelitinya sudut-sudut daun jendela. Terkesiap pemuda itu sebab jendela jelas dibuka dari luar. Ginggi mencoba membuka jendela sedikit-sedikit dan amat pelan. Di dalam ruangan amat remang-remang sebab cahaya pelita sungguh kecil. Tapi biar begitu remang, Ginggi bisa menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment