Chapter 71
Darahnya naik ke ubun-ubun. Di sebuah ranjang kayu berukir terbaring seorang gadis yang sepertinya sedang tidur pulas. Di sisinya, duduk seorang pemuda yang berusaha menanggalkan pakaian gadis itu.
"Hhh, Nyimas, Nyimas! Kau jangan siksa aku! Jangan biarkan aku hidup penuh derita. Mengapa kau tolak aku? Mengapa kau pilih Sang Prabu?" Pemuda itu sudah berhasil menanggalkan sebagian pakaian gadis yang nampaknya tetap tidur pulas tersebut.
Namun, sebelum niat jahatnya terlaksana, Ginggi sudah melontarkan sebuah kerikil ke arah pundak pemuda itu.
"Aduh!" pemuda itu berseru kaget.
Serentak dia berjingkat dan meloncat ke arah jendela. Namun, begitu dia keluar dari lubang jendela, dia serta-merta disambut oleh pukulan telapak tangan terbuka.
Plak!
Terdengar jerit kesakitan dan tubuh pemuda itu terlontar menubruk dinding kayu hingga menimbulkan suara keras. Rupanya suara ribut-ribut ini sudah mulai terdengar oleh peronda, bahkan oleh orang-orang yang sedang tidur. Ada banyak kaki berlari ke arah tempat itu. Namun sebelum mereka tiba, Ginggi sudah meloncat pergi ke arah kegelapan malam.
"Ada apa ini? Ada apa ini?" penjaga berteriak-teriak sambil meneliti tempat itu.
"Tolong! Ada penjahat! Ada penjahat mau mengganggu rumah ini! Dia lari ke sana! Oh?" Suara itu hanya sayup-sayup ditangkap telinga Ginggi sebab dia sendiri sudah melarikan diri menjauhi tempat itu.
Esok harinya, Ginggi mendengar kabar bahwa Suji Angkara telah "berhasil" menggagalkan penjahat yang akan memasuki puri Bangsawan Yogascitra.
"Tapi Raden terluka oleh serangan penjahat itu. Sekarang dia dirawat di puri Pangeran Yogascitra!" kata Madi yang mengabarkan berita ini kepada Seta.
Ginggi menatap wajah Seta yang sedikit heran kendati rasa terkejut dan khawatirnya tampak nyata.
"Mari kita lihat keadaan Raden," kata Madi sesudah termangu sejenak.
"Mari!" jawab Ginggi dengan semangat.
"Eh, aku tidak mengajakmu, tolol!" umpat Madi ketus. "Tugasmu memandikan kuda, mengapa ikut-ikutan ribut?"
"Kau sendiri pun hari ini punya tugas, mengapa ikut ribut ingin mengetahui keadaan Raden Suji?" jawab Ginggi, yang selalu ingin mempermainkan pemuda angkuh itu.
"Setan, Raden Suji adalah atasanku. Kalau ada apa-apa terhadapnya, aku ikut bertanggung jawab!" teriak Madi kesal.
"Aku juga anak buahnya. Apa yang kau rasakan kali ini, sama dengan yang aku rasakan!" kata Ginggi tak mau kalah.
"Sialan kau!" umpat Madi mendelik.
"Biarlah, tak apa dia ikut. Lagi pula untuk apa ribut-ribut dengan pemuda dungu ini?" kata Seta yang kendati masih menampilkan keangkuhannya namun mau juga berkata bijaksana.
Akhirnya, ketiga pemuda itu pergi ke puri Bangsawan Yogascitra. Seta dan Madi jalan berdampingan dan Ginggi ikut di belakang. Benar saja, Suji Angkara di rumah Pangeran Yogascitra tampak terbaring dengan jidat dibebat kain. Menurut keterangan para penjaga, Suji Angkara berjuang mati-matian menggagalkan penjahat yang akan mengganggu ketentraman puri Bangsawan Yogascitra. Namun, penjahat itu amat licik dan kejam. Kata penjaga, kalau Suji Angkara tidak memiliki kepandaian, barangkali nyawanya tidak akan tertolong.
"Penjahat itu memang kejam, sepertinya dia hendak membunuhku karena kesal niat jahatnya aku gagalkan," kata Suji Angkara sedikit terengah-engah, mungkin merasakan sesuatu yang sakit di tubuhnya.
*Kalau aku berniat membunuhmu, maka batok kepalamu akan berantakan, tidak sekadar benjut saja,* kata Ginggi dalam hatinya. Namun, perkataan yang keluar melalui mulutnya lain lagi. "Engkau sungguh mulia Raden, mau berpayah-payah menjadi tugur di puri Pangeran Yogascitra," kata Ginggi. "Penjahat itu mau mencuri apa sebetulnya?" sambungnya lagi seraya menatap Suji Angkara.
Sejenak mulut Suji Angkara seperti terpatri. Namun seterusnya hanya erangan-erangan kecil yang menghiasi mulutnya. Peristiwa apa yang sebenarnya terjadi, hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Berita yang tersebar dari mulut ke mulut hanya menyebutkan bahwa ada penjahat yang berusaha masuk ke puri Bangsawan Yogascitra untuk melakukan pencurian. Secuil pun tak ada yang mengabarkan peristiwa yang sebenarnya. Ginggi menduga, barangkali kejadian sebenarnya, yaitu percobaan perkosaan terhadap Nyimas Banyak Inten, telah diketahui, minimal oleh penghuni puri. Namun untuk menjaga aib, peristiwa itu tidak dikemukakan kepada orang luar.
Tiga hari kemudian, Madi, Seta, dan Ginggi mendapatkan perintah untuk menjemput Suji Angkara yang dikabarkan lukanya sudah agak membaik. Ketika Ginggi tiba di puri Bangsawan Yogascitra, ia mendapati Suji Angkara sudah membuka bebatnya. Namun luka itu belum benar-benar sembuh. Jidat Suji Angkara nampak bengkak dan ada benjolan sebesar telur ayam berwarna hijau.
Namun, Ginggi agak berdesir hatinya sebab Suji Angkara nampak dilayani makan oleh Nyimas Banyak Inten. Gadis itu begitu sopan dan hati-hati dalam melayani pemuda benjut itu. Ginggi merasa panas hatinya ketika Nyimas Banyak Inten menyuapi Suji Angkara dengan penuh perhatian. Gadis itu baru berhenti menyuapi ketika ada rombongan anak buah Suji Angkara datang menjemput. Dengan tersipu-sipu, gadis itu hendak berlalu dari ruangan tersebut.
"Tak usah pergi Nyimas, mereka hanyalah orang-orangku semata," kata Suji Angkara sopan tapi bernada penuh kemenangan. Nyimas Banyak Inten duduk bersimpuh di tepi pembaringan Suji Angkara.
Tak lama kemudian ke ruangan itu hadir pula beberapa orang. Mereka terdiri dari dua pemuda dan satu orang tua setengah baya. Yang seorang, Ginggi sudah kenal, yaitu Banyak Angga. Tapi pemuda satunya lagi, Ginggi tak tahu siapa dia. Sedangkan orang tua setengah baya itu, Ginggi hanya menduga-duga saja. Barangkali inilah Pangeran Yogascitra, seorang bangsawan Pakuan yang masih kerabat raja.
Bila Ginggi tak lupa, sebetulnya dia pernah melihat bangsawan ini di panggung kehormatan alun-alun benteng luar ketika terjadi uji keterampilan prajurit dalam rangka mencari calon perwira pengawal raja. Waktu itu Pangeran Yogascitra duduk di deretan kaum bangsawan. Ginggi belum memastikan bahwa lelaki setengah baya ini adalah Pangeran Yogascitra. Tapi melihat penampilannya yang gagah menggunakan baju beludru senting bedahan lima dan kepala dibungkus bendo kain batik hihinggulan berornamen perak, memberi tanda bahwa dia bangsawan tinggi.
Ginggi pun semakin yakin bahwa orang tua ini benar-benar orang yang dihormati di puri ini. Terbukti Suji Angkara pun serentak bangun dan berupaya menyembah takzim. Semua orang sudah menyembah lebih dahulu, tak terkecuali Ginggi.
"Sudahlah Raden, kau tak perlu susah payah untuk berbasa-basi seperti itu," kata orang tua berkumis tipis agak memutih ini.
"Saya orang muda, sudah seharusnya memberi penghormatan ini," kata Suji Angkara halus dan sopan.
Orang tua itu hanya mengangguk-angguk biasa. Selanjutnya dia memeriksa kesehatan pemuda itu dengan bertanya ini dan itu.
"Saya sudah sehat berkat doa seluruh penghuni puri ini," ujar Suji Angkara.
"Bagus kalau begitu. Tapi entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu, Raden. Sebab menurut para tugur, bila tak ada engkau, sudah bagaimana nasib... maksudku keselamatan harta benda dan kekayaan yang ada di puri ini. Engkau tahu bukan, di puri ini kita simpan benda-benda peninggalan para leluhur raja-raja Sunda sejak ratusan tahun silam?"
"Hm, mungkinkah penjahat itu hendak menjarah barang-barang pusaka?" kata Suji Angkara tak kalah menyusun banyolan.
"Tapi benar atau tidak alasan penjahat itu masuk ke puri karena benda pusaka, kita harus selidiki dengan seksama, Ayahanda," kata Banyak Angga. "Penjahat itu amat merendahkan penghuni puri ini. Sehingga bila kelak dia tertangkap, hanya hukuman mati bagiannya," sambungnya.
"Hanya orang-orang yang sudah tahu situasi di sini yang sekiranya bisa mudah menyelundup ke puri, Gusti," kata Ginggi tiba-tiba.
Semua orang memandang kepadanya. Seta dan Madi malah melotot marah sebab dianggapnya Ginggi lancang mengemukakan pendapat. Padahal yang tengah berbicara itu siapa? Ginggi yang dianggapnya golongan cacah (orang kebanyakan) tak pantas berlaku demikian. Namun yang nampak tak senang akan ulah Ginggi hanya Suji Angkara dan anak buahnya, sedangkan orang tua gagah itu beserta Banyak Angga nampak mengerutkan dahi seperti memikirkan apa yang dikemukakan Ginggi.
"Benar perkiraanmu, anak muda," gumam orang tua bercelana beludru komprang itu. "Hanya orang yang sudah hafal keadaan di sini yang leluasa menyelundup ke sini... dan apalagi langsung memburu kamar yang dimaksud," sambungnya sedikit tersendat.
*Ya, siapa yang tahu persis di mana kamar Nyimas Banyak Inten bila bukan orang yang biasa masuk ke puri ini,* kata Ginggi dalam hatinya.
"Kita periksa orang dalam, kalau-kalau benar perkiraan ini," kata Banyak Angga sungguh-sungguh.
"Betul, sebab bukankah di puri ini terdapat orang luar tapi yang kini sudah menjadi orang dalam, Ramanda?" Suji Angkara lebih meyakinkan, namun gilanya dia berkata sambil memandang ke arah pemuda yang berdiri di samping Banyak Angga.
Yang ditatap mendadak pucat pasi. Kemudian secara tiba-tiba wajah pucat itu berubah menjadi merah padam. Ginggi bisa menduga pemuda itu tengah menahan kemarahannya. Ya, siapa tidak akan marah difitnah serampangan seperti itu? Tapi pemuda itu pandai menahan kemarahan. Barangkali karena di sana ada orang tua yang...
"Seyogianya Ramanda tidak terlalu mempercayai orang luar tinggal di puri yang damai ini," kata Suji Angkara seperti terus memanas-manasi pemuda itu.
"Aku akan bertindak hati-hati terhadap orang-orang yang biasa hilir-mudik di puri ini, termasuk yang sudah tinggal di puri ini," kata orang tua berkain batik jenis pupunjungan ini. Hanya bedanya, orang tua ini bicara dengan wajar dan tidak khusus tertuju kepada seseorang seperti layaknya Suji Angkara.
"Itu sebuah tindakan yang bijaksana, Ramanda. Saya pun pasti ikut membantu membuka tabir kejahatan ini," kata Suji Angkara, kembali melirik ke arah pemuda di samping Banyak Angga.
"Nah, Raden, hari ini sudah ada yang menjemputmu. Kau sudah nampak agak mendingan."