Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 72

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 72

"Jika engkau mau pulang sekarang, aku akan meminjamkan jampana agar bisa diangkut ke sana dengan tenang," kata orang tua itu.

Suji Angkara tampak turun semangatnya ketika mendengar ucapan orang tua itu. Keinginannya barangkali ingin terus-menerus tinggal di puri ini agar terus mendapat pelayanan Nyimas Banyak Inten. Begitu perkiraan Ginggi. Namun, Suji Angkara tampaknya bisa menahan keinginan tersebut. Dia memang pandai membuat citra bahwa dirinya benar-benar seorang bangsawan yang memiliki etika tinggi.

"Betul, saya harus pulang sekarang sebab di sini hanya merepotkan saja. Lagi pula, tak baik bagi seorang pemuda tinggal di puri yang dihuni oleh seorang gadis rupawan macam Nyimas Banyak Inten. Oh, ya! Terima kasih atas perawatanmu, Nyimas. Aku tak akan melupakan jasa baikmu sampai tiba saatnya nyawaku dicabut," kata Suji Angkara lemah lembut sambil sekilas melirik ke arah Nyimas Banyak Inten yang masih duduk bersimpuh di tepi pembaringan.

"Tidak usah menggunakan jampana, saya akan berjalan kaki saja," kata Suji Angkara seraya turun dari pembaringan dan segera disambut oleh Seta dan Madi.

Ginggi pun ingin ikut memegangi tubuh Suji Angkara, tetapi oleh Madi disuruh minggir saja.

"Lebih baik kau ikut aku, anak muda. Aku pinjami seekor kuda agar Raden Suji bisa naik kuda saja," kata Banyak Angga kepada Ginggi. "Mari kau ikut ke istal," ajak Banyak Angga seraya membawa Ginggi keluar dari ruangan itu.

Namun, setibanya di luar, Banyak Angga malah memohon kepada Ginggi agar sudi menyerahkan surat kepada Nyimas Layang Kingkin. "Bila kau berhasil menyerahkan kotak surat ini, aku tambah lagi hadiahnya," kata pemuda itu sembari menyerahkan kotak kecil berukir dan sekantung kecil entah apa isinya.

"Hanya sekadar menyerahkan surat saja, mengapa mesti memberi hadiah kepada saya, Raden?" tanya Ginggi yang berupaya menolak pemberian itu.

"Kau terimalah. Tidak besar, tapi kau pasti perlu," kata pemuda itu. "Yang penting, kau sampaikan surat itu, ya?"

"Tentu," kata Ginggi.

Pemuda di samping Banyak Angga hanya menunduk saja. "Purbajaya, engkau tak perlu risau dengan ucapan Raden Suji. Terlalu gegabah bila kami mencurigai engkau seperti itu," kata Banyak Angga.

Tersentak hati Ginggi mendengar nama pemuda itu disebut. Raden Purbajaya, itulah nama pemuda yang masuk dalam rencana penyelidikannya. Purbajaya ini tengah dikejar Suji Angkara karena dianggap sebagai "penyebab" bunuh dirinya putri Juragan Ilun Rosa di wilayah Kandagalante, Tanjungpura. Namun, melihat tindak-tanduk dan perbuatan Suji Angkara, Ginggi tidak percaya akan semua berita yang disampaikan mengenai Purbajaya. Jika nanti kejadian sebenarnya dari Purbajaya sudah ia teliti, maka akan semakin terbuka kebohongan-kebohongan Suji Angkara!

Ginggi menerima kuda pinjaman dari Banyak Angga yang akan digunakan Suji Angkara. Sebelum pergi menuntun kuda, sempat ia menatap Purbajaya yang tampak masih murung. Namun, perasaan Ginggi lega karena sampai saat ini pemuda itu masih dalam keadaan bugar. Menurut ancaman yang disampaikan kepada badega Juragan Ilun Rosa, Suji Angkara mengatakan akan melenyapkan pemuda itu sebagai tindakan "balas dendam" atas kelakuannya yang membuat gadis cantik penghuni Tanjungpura itu mati bunuh diri karena dikhianati cintanya. Jahat sekali Suji Angkara, pikir Ginggi.

Di tengah perjalanan, saat Ginggi menuntun kuda, ketika Suji Angkara menclok di atas kuda, semakin jelas pula siapa pemuda itu sebenarnya.

"Sialan! Aku harus menyelidiki siapa penjahat itu. Aku rasa, penjahat itu telah menyerangku beberapa waktu lalu, dan ini serangan yang kedua kalinya?" gumam Suji Angkara seorang diri.

Ginggi menoleh sebentar ke atas kuda. Tampak Suji Angkara mengusap-usap jidatnya yang benjol sebesar telur. Sambil tersenyum tipis, Ginggi kembali menghadap ke depan. Rasakan kau, katanya dalam hati. Tidak jelas benar apa yang dimaksud serangan yang kedua kali sebagaimana yang diucapkan pemuda itu. Namun, bila Ginggi mau menduga, yang dimaksud pemuda itu tentu serangan di sebuah perbukitan Desa Cae. Bukankah dulu Ginggi pernah memukul jidat seorang pemerkosa dengan cara yang sama? Jadi, benarkah yang ia pukul sampai tubuhnya terjengkang menubruk dinding gua adalah Suji Angkara? Ingin sekali Ginggi bertanya langsung kepada pemuda yang kini menclok di atas kuda dengan kepala benjol itu. Namun, tentu ini suatu hal yang mustahil jika tidak ingin penyelidikannya terbongkar.

Sambil berjalan menuntun kuda, Ginggi terus berpikir. Kini semakin dirasakan bahwa Suji Angkara benar-benar orang yang berbahaya. Dia pandai menyembunyikan nafsu iblisnya dalam penampilan sopan dan anggun. Bila tidak hati-hati menyimak perangainya, semua orang akan tertipu dan menganggap pemuda itu benar-benar seorang bangsawan terhormat yang santun dan jujur. Kini baru Ginggi seorang yang sanggup membuktikan bahwa pemuda yang kini dituntunnya di atas pelana kuda itu seorang durjana licin.

Betapa tidak, orang ini sanggup menciptakan sebuah reka perdaya seketika saat dirinya terdesak. Ketika tiga hari yang lalu Ginggi memukulnya dengan telak sehingga pemuda itu terjajar dan tak sanggup bangun lagi, Ginggi berharap Suji Angkara ditangkap orang-orang puri Yogascitra. Namun, dengan kepandaiannya mengukir kata, pemuda itu malah dianggap pahlawan dalam upaya mengusir "penjahat" yang hendak menyerang puri. Agar semua orang memperlebar rasa curiga, Suji Angkara menganjurkan penghuni puri berhati-hati terhadap orang dalam. Sambil bicara demikian, Suji Angkara melirik penuh arti kepada Purbajaya. Ini hanya menandakan bahwa pemuda licin itu berusaha menyebar fitnah agar peranan dirinya dalam peristiwa itu makin tertimbun.

Namun, yang paling mengkhawatirkan dari tipu muslihat ini adalah ketika Ginggi melihat apa yang dilakukan Nyimas Banyak Inten. Saat Ginggi tiba di puri untuk menjemput Suji Angkara, gadis itu tampak penuh perhatian merawat pemuda jahat itu. Ginggi khawatir sekaligus panas hatinya manakala melihat gadis itu tengah menyuapi Suji Angkara. Ini hanya menandakan bahwa Nyimas Banyak Inten pun terkecoh oleh akal bulus pemuda sinting itu. Ginggi khawatir Nyimas Banyak Inten tidak sekadar terkecoh oleh tipu daya Suji Angkara, tapi lebih jauh dari itu, amat berterima kasih terhadap "kepahlawanan" pemuda bejat itu. Apa tanda terima kasih gadis itu terhadap Suji Angkara? Ginggi takut membayangkannya bila melihat kelakuan Nyimas Banyak Inten yang begitu telaten merawat pemuda penipu itu.

"Hei! Mau kau bawa ke mana aku? Belok!" teriak Suji Angkara manakala merasakan Ginggi menuntun kuda lurus mengikuti jalan pedati berbalay.

Madi menggetok belakang kepala Ginggi sebagai tanda teguran atas kesalahan pemuda itu.

"Maaf, Raden," gumam Ginggi sembari membelokkan kuda dan berjalan menyusuri lorong yang diapit dua benteng.

Satu bulan sudah berlalu pula. Selama itu, Ginggi masih "bekerja" di puri Suji Angkara. Selama pemuda itu tinggal di sana, sudah banyak pengetahuan didapat mengenai situasi Pakuan. Ki Bagus Seta, murid kedua Ki Darma, sebenarnya hampir lima tahun bekerja sebagai muhara, yaitu pejabat yang bertugas mengurusi seba (pajak) negara. Hampir sepuluh tahun lamanya dia mengabdi di Pakuan dan kariernya meningkat pesat. Ki Bagus Seta bisa bernasib demikian baik karena di samping berkepandaian tinggi, juga pandai memengaruhi seorang bangsawan kerabat dekat raja, yaitu Bangsawan Soka.

Menurut pengamatan Ginggi yang didapat dari percakapan orang lain dan kemudian masuk ke telinganya, antara Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta terbentuk persahabatan yang sangat erat. Keduanya dikenal sebagai sepasang pejabat yang amat kuat pengaruhnya di Pakuan. Menurut kabar, berbagai kebijakan raja yang ada hubungannya dengan ketatanegaraan boleh dikata lahir dari sepasang pejabat itulah. Gagasan sepasang pejabat ini menurut pengamatan beberapa pejabat lainnya terkadang dinilai terlalu berani sehingga mengakibatkan berbagai ketidakpuasan di sementara pejabat istana.

Contoh paling jelas adalah kebijakan dalam memungut seba. Seba yang ditarik ke Pakuan dinilai oleh beberapa penguasa daerah (kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran) terlalu membebani mereka sehingga banyak rakyat menderita karena pajak yang tinggi. Mengenai seba atau pajak yang demikian tinggi sempat menjadi bahan perdebatan di balai penghadapan raja. Sebagian pejabat mengkhawatirkan bahwa dengan adanya kebijakan pajak yang demikian tinggi akan mengurangi kecintaan raja-raja kecil ke Pakuan. Apalagi akhir-akhir ini tengah terjadi perebutan pengaruh dengan penguasa-penguasa yang memiliki agama baru. Bila kerajaan-kerajaan kecil merasa terus-terusan ditekan agar kekayaan daerah lebih banyak ditarik ke pusat, mereka lambat laun akan melepaskan diri dan bergabung dengan agama baru itu.

Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta menolak kekhawatiran ini. Menurut kedua pejabat tersebut, memang benar ada beberapa kerajaan kecil yang sudah berpaling dari Pajajaran dan memilih bergabung dengan penguasa agama baru. Tapi, menurut kedua pejabat itu, yang melepaskan diri dari Pajajaran adalah negara-negara kecil yang letaknya jauh dari jangkauan Pakuan dan kedudukannya lebih dekat ke pusat kekuasaan agama baru.

"Mengapa mereka melepaskan diri dari kita? Ini karena kekuatan Pakuan sudah tidak seutuh dahulu. Sebelum hadir kekuatan baru, Pajajaran kuat di mana-mana, ke barat hingga ke Ujung Kulon dan ke timur sampai ke Muara Cimanuk (Indramayu). Kita menguasai lautan dan pelabuhan-pelabuhan seperti Bantam (Banten), Pontang, Cigude, Cimanuk, Tangerang, dan Kalapa. Sanggup menghasilkan perdagangan antarnegeri sehingga kekayaan negara bisa diambil dari perdagangan seluas-luasnya. Tapi sesudah semua wilayah pantai direbut oleh penguasa baru dari Cirebon dan Banten, maka Pajajaran kehilangan penghasilan, padahal tetap butuh pemasukan untuk membangun negeri. Maka dari mana lagi Pakuan bisa mendapatkan penghasilan bila bukan datang dari pemasukan seba?" kata Ki Bagus Seta berbicara di balai penghadapan raja, di hadapan para pejabat istana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment