Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 73

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 73

Menurut Ki Bagus Seta, wajar bila pajak yang dibebankan kepada negara-negara kecil semakin meningkat. Selain kebutuhan negara kini hanya bisa dipenuhi dari sektor pajak, jumlah wilayah yang dimiliki Pajajaran pun semakin sempit. Bila pajak tak dinaikkan, penghasilan negara akan semakin kecil.

"Padahal kita tengah berjuang ingin mengembalikan kejayaan Pajajaran seperti masa silam," kata Ki Bagus Seta lagi.

Menurut beberapa pengamat, kedua pejabat ini benar-benar berambisi ingin mengembalikan kebesaran seperti masa leluhur Sunda. Untuk kepentingan itu, mereka selalu memengaruhi Raja agar menurunkan berbagai kebijakan yang menurut perhitungan mereka bisa menghasilkan keuntungan. Rupanya Raja pun amat cocok dengan gagasan-gagasan kedua pejabat tersebut. Buktinya, tidak ada gagasan mereka yang tidak disetujui Raja.

Bahkan, Raja semakin percaya kepada kedua pejabat ini setelah keduanya melontarkan gagasan untuk membentuk petugas terampil guna memperjuangkan pemasukan seba dari wilayah-wilayah timur yang cenderung lebih mendekatkan diri kepada kekuasaan Cirebon. Dikabarkan pula bahwa memang benar ada petugas penting yang menangani seba di wilayah timur. Ginggi cepat menduga, itulah mungkin Ki Banaspati.

Namun, yang hingga kini belum sanggup diduga Ginggi adalah hubungan antara Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta. Kedua orang ini jelas bekerja dalam satu urusan, tetapi mengapa satu sama lain seperti menyembunyikan sesuatu. Salah satu contohnya adalah hubungan mereka dengan Suji Angkara. Menurut pengakuan Suji Angkara, Ki Bagus Seta adalah ayahandanya, tetapi mengapa Ki Banaspati seperti tidak mengenal pemuda ini sebagai orang yang erat hubungannya dengan Ki Bagus Seta?

"Bunuhlah pemuda itu, sebab kukira dia akan membahayakan gerakan kita," kata-kata ini dikeluarkan Ki Banaspati kepada Ginggi di Sagaraherang.

Ki Banaspati memerintahkannya untuk membunuh pemuda pesolek itu karena pertama, Suji Angkara dianggap sudah tahu rahasia gerakan Ki Banaspati, dan kedua, Ki Banaspati menduga Suji Angkara punya hubungan erat dengan Pakuan, padahal sepengetahuannya pemuda itu hanyalah anak kepala desa.

Ada sebuah rahasia di sini. Paling tidak, Ki Bagus Seta pernah mencoba menyembunyikan identitas Suji Angkara terhadap Ki Banaspati. Ginggi ingin tahu bagaimana pendapat dan kesan Ki Banaspati bila sudah mengetahui siapa Suji Angkara sebenarnya.

Ginggi juga kini sudah mengenal siapa Bangsawan Yogascitra. Bangsawan ini masih kerabat Raja dan di Pakuan menjadi pejabat puhawang. Puhawang adalah seorang ahli dalam mendalami ilmu teluk dan lautan. Dulu, ketika zamannya Pajajaran memiliki kekuatan di lautan, bagian ini punya peranan amat penting. Tiga pelabuhan samudra dan tiga pelabuhan muara yang dimiliki Pajajaran secara strategis adalah hasil pekerjaan puhawang, dan Bangsawan Yogascitra sejak muda adalah seorang puhawang yang benar-benar ahli. Dia adalah pekerja yang ulet dan jujur, serta pengabdiannya terhadap Pakuan demikian tinggi dan tanpa batas. Seluruh adipati yang menguasai enam pelabuhan besar milik Pajajaran sangat segan terhadap Pangeran Yogascitra.

Sekarang, di saat menjelang tua, Bangsawan Yogascitra masih tetap didudukkan sebagai pejabat dalam urusan puhawang, suatu jabatan yang sebetulnya sudah tidak terasa lagi fungsinya. Jabatan itu tetap dipertahankan karena Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta menginginkannya.

"Kita harus tetap memiliki puhawang yang tangguh, sebab dengan demikian kita tetap memiliki peluang untuk menguasai teluk, muara, dan lautan. Sudah aku katakan kepada Raja bahwa Pajajaran harus dikembalikan ke masa silam. Ini hanya punya arti bahwa seluruh wilayah yang dulu pernah dikuasai Pajajaran harus kembali menjadi milik kita!" ujar Ki Bagus Seta dengan penuh semangat.

Begitu tingginya cita-cita Ki Bagus Seta sehingga gagasan-gagasannya amat memukau Raja. Sang Prabu Ratu Sakti begitu terkesan. Siapa orang Pajajaran yang tidak mau kembali ke masa kejayaannya? Kejayaan janganlah dianggap sebagai kenangan atau mimpi semata, tapi harus dihidupkan kembali. Bangkitnya kejayaan Pajajaran hanya bisa dilakukan melalui perjuangan nyata. Namun, menurut Ki Bagus Seta dan Bangsawan Soka, perjuangan ini merupakan perjuangan berat dan amat memerlukan bantuan dana yang sangat besar. Itulah sebabnya mereka berdua meminta persetujuan Raja untuk selalu meningkatkan pemasukan negara melalui seba. Bila penelitian Ginggi ini benar, maka terbukti bahwa pajak berat yang melanda rakyat Pajajaran adalah akibat gagasan-gagasan kedua pejabat ini.

Kini Ginggi berpikir, dirinya disuruh turun gunung oleh Ki Darma untuk ikut menyelamatkan rakyat dari tekanan Raja. Barangkali benar seperti kata Ki Darma bahwa Sang Prabu Ratu Sakti sejak pertama kali menggantikan tampuk pemerintahan ayahandanya, Sang Prabu Ratu Dewata tujuh tahun lalu (1543 Masehi), selalu bertindak keras. Dia tidak segan-segan untuk menghukum siapa saja yang dianggapnya bersalah. Namun, tahukah Ki Darma bahwa kebijakan Sang Raja dalam menarik pajak tinggi kepada rakyat di antaranya merupakan lontaran gagasan Ki Bagus Seta, muridnya sendiri?

Ginggi menghitung waktu; Ki Darma mengundurkan diri dari urusan kenegaraan tiga tahun sebelum Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan naik takhta. Kalau Ki Bagus Seta mulai mengabdi pada Pakuan sejak lima tahun lalu, maka ada beda waktu tujuh tahun antara kepergian Ki Darma dari Pakuan dengan kedatangan Ki Bagus Seta ke tempat yang sama untuk mengabdi. Mudah diduga kalau Ki Darma tidak mengetahui kegiatan murid-muridnya sebab selama itu Ki Darma menyembunyikan diri di tempat sunyi dan jauh dari kehidupan yang ramai.

Hanya yang patut Ginggi puji adalah kepandaian Ki Bagus Seta ataupun Ki Banaspati dalam menyembunyikan identitas diri masing-masing. Waktu mereka muncul di Pakuan, adalah masa-masa di mana Ki Darma dicari dan diburu sebab dianggap memberontak. Raja pun pernah mengeluarkan titah bahwa setiap orang yang punya hubungan dengan Ki Darma kedudukannya disamakan dengan Ki Darma, yaitu dicap sebagai pemberontak. Sekarang kedua murid Ki Darma ini malah malang melintang sebagai pejabat penting di Pakuan. Ini menandakan bahwa Raja dan kalangan istana bisa dikelabui oleh murid Ki Darma ini.

Namun, kepandaian mereka menyembunyikan jati diri barangkali juga karena jasa Ki Darma sendiri. Seperti terhadap Ginggi, barangkali kepada semua muridnya pun Ki Darma selalu memberikan pesan agar jangan membuka identitas. Setiap yang mendapat pelajaran dari Ki Darma diperintahkan untuk tidak sembarangan mengaku punya hubungan dengan orang tua itu. Ternyata belakangan terbukti bahwa perintah Ki Darma untuk menyembunyikan jati diri telah amat menguntungkan peranan setiap muridnya.

Memang menguntungkan, kendati tetap menjadikan kebingungan bagi diri pemuda itu. Ginggi diperintah Ki Darma untuk membantu rakyat membebaskan diri dari tekanan Raja, sedangkan di lain pihak, Ki Bagus Seta seolah-olah membantu situasi sehingga rakyat semakin tertekan hidupnya. Dalam situasi ini Ginggi bingung menempatkan posisinya; mau berada di mana sebenarnya dia?

"Kalau saudara seperguruanmu masih berjalan di atas apa yang aku amanatkan, kau ikutilah mereka," kata Ki Darma ketika melepas dirinya pergi.

Kepala Ginggi terasa berat karena memikirkan misteri-misteri ini. Sebelum menentukan sikap, ia akan melihat perkembangannya saja. Yang tidak kalah menimbulkan bahan pikiran adalah Suji Angkara. Kini Ginggi mengaitkan urusan pemuda ini dengan Nyimas Banyak Inten. Dengan berbagai akal dan tipu dayanya, sepertinya pemuda itu telah berhasil menundukkan gadis tersebut. Gadis putri Bangsawan Yogascitra itu tampaknya terlalu jujur, terlalu memercayai omongan orang, dan mudah merasa kasihan.

Ketika Ginggi hendak menyerahkan surat Suji Angkara untuk kedua kalinya, gadis itu seperti hendak menolak kehadiran cinta pemuda itu. Namun, setelah ada peristiwa penjahat memasuki purinya dan berhasil "digagalkan" Suji Angkara, sikap gadis itu mulai lunak. Terus terang, Ginggi amat khawatir mengingatnya. Ginggi takut Nyimas Banyak Inten terperangkap dalam permainan cinta pemuda pembohong itu. Kalau dibiarkan, Ginggi membayangkan gadis itu ibarat seekor anak menjangan yang dipermainkan harimau, atau ikan kecil yang jadi santapan burung bangau. Bila permainan pemuda itu semakin sengit, Ginggi harus mencoba dan berupaya untuk menggagalkannya.

"Hati-hati, kau," gumam Ginggi sendirian sambil bekerja menyeka kuda-kuda puri.

Hampir dua bulan ini Ginggi memang bekerja sebagai perawat kuda, setingkat di atas badega tapi setingkat di bawah Seta dan Madi yang lebih berfungsi sebagai orang-orang kepercayaan Suji Angkara. Selama bekerja di puri ini, memang tidak ada perlakuan yang jelek terhadapnya. Dalam sehari dia mendapat jatah makan dua kali. Bila Raja mengajak para bangsawan menghirup udara segar di Tajur Agung (kebun istana), Ginggi pun suka diajak serta. Dan bila semua bangsawan berpesta pora makan buah durian yang banyak ditanam di sana, Ginggi pun terlibat pesta pora itu kendati di tempat terpisah.

Tidak ada tekanan dari sang "majikan", kecuali satu saja, Ginggi tidak diperkenankan lagi menggunakan pakaian yang pernah dipergunakan sebelumnya. Sebelum datang ke Pakuan, Ginggi memang memiliki tiga stel pakaian pemberian Kuwu Wado. Ketiga stel pakaian itu termasuk jenis mahal sebab terbuat dari kain halus buatan negeri seberang. Hanya kaum bangsawan atau paling rendah golongan santana yang biasa menggunakannya. Ketika Suji Angkara menggantinya dengan jenis pakaian katun kasar warna hitam dengan celana sontog dan baju lengan pendek tanpa kancing, Ginggi tidak banyak komentar dan menerima aturan itu. Pemuda itu tersenyum sendiri; semakin kenal etika orang kota, semakin ruwet menyimaknya. Kendati semua manusia dilahirkan sama, tetapi akhirnya membawa tingkatan hidup berbeda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment