Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 74

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 74

Entah siapa yang mengatur, tapi begitulah jadinya, termasuk dalam urusan pakaian. Menggunakan pakaian ternyata tidak sebebas yang ia kira. Ada semacam ukuran kelayakan. Kendati Ginggi punya pakaian bagus, ia harus mengukur dulu apakah layak dipakai olehnya. Ternyata, petugas istal secara etika tidak diperkenankan memakai pakaian yang biasa dikenakan kaum bangsawan.

Kaum bangsawan juga terikat etika yang sebenarnya mereka pun serasa sesak menerimanya. Karena etika menentukan bahwa kaum bangsawan harus santun dalam segala hal, termasuk urusan cinta, hal itu menjadi siksaan bagi Suji Angkara. Dengan terpaksa, ia ketat menjaga kebangsawanannya di muka umum, sehingga desakan birahi yang ingin ia salurkan sebebas mungkin, terpaksa ia lakukan secara gelap.

Jadi menurut Suji Angkara, kehormatan hanya diperjuangkan atau dipertontonkan di muka umum saja. Sedangkan di belakang, saat umum tak mengetahui, dirinya tak terlalu terikat peradatan. Persis seperti Ginggi dalam menggunakan pakaiannya. Hanya ketika di depan orang banyak ia memakai baju orang kebanyakan, sedangkan saat pergi tidur, pakaian bagus yang pantas dikenakan kaum santana itu ia pakai. Barangkali di saat tidur sendirian di bangunan samping istal, etika tak berlaku lagi.

Suatu senja, Ginggi dipanggil menghadap. Sudah beberapa kali ia dipanggil bila Suji Angkara memang punya keperluan khusus terhadapnya. Namun, pemanggilan kali ini menimbulkan perhatian besar ke dalam hatinya.

"Tiba saatnya kau bertugas di puri ayahku, Ginggi," kata Suji Angkara sambil duduk bersila dengan tubuh tegak berwibawa.

Di hadapannya tergelar penganan yang cocok disantap senja hari, yaitu ulen ketan bakar dan minuman kopi panas di cangkir logam berukir indah yang asapnya mengepul ke udara dan menimbulkan aroma sedap. Ginggi hanya duduk bersila saja di lantai bawah dengan kepala tertunduk.

"Sudah kukatakan sejak dua bulan lalu bahwa kau akan bekerja di puri Bangsawan Bagus Seta. Tapi selama ini kau kuuji dulu di sini agar aku tahu sejauh mana kesetiaanmu padaku," kata pemuda itu.

Ginggi masih tetap mendengarkan sambil menunduk tanpa komentar.

"Namun sebelum kau kukirim ke sana, perlu aku jelaskan sesuatu," lanjutnya lagi menatap Ginggi. "Sekalipun kau sehari-hari bekerja di sana, sebenarnya kau adalah orangku. Dengan perkataan lain, kendati kau tinggal di sana, kau sebetulnya bekerja untukku!"

Ginggi mengangkat wajah dan menatap Suji Angkara. "Saya belum mengerti maksudmu, Raden?"

Ginggi berkata seperti itu memang bukan sekadar basa-basi, melainkan benar-benar belum paham maksud pemuda itu.

"Engkau bekerja untukku dalam memata-matai kegiatan yang ada di puri Bagus Seta!" kata Suji Angkara sungguh-sungguh.

"Memata-matai?" Ginggi bergumam mengulangi.

"Ya, kau bekerja di sana sebagai mata-mata untuk kepentinganku," kata Suji Angkara lagi.

"Mengapa saya harus memata-matai ayahandamu sendiri, Raden?" tanya Ginggi heran.

Suji Angkara tepekur sejenak. Ia mendekap sebelah dada bagian kanan dengan tangan kirinya, sedangkan yang kanan memegangi dagunya.

"Ki Bagus Seta hanyalah ayah tiriku semata, sebab aku sebenarnya anak seorang kuwu," gumam Suji Angkara seperti melamun.

"Pasti engkau putra Kuwu Suntara di Desa Cae, Raden," kata Ginggi.

Suji Angkara menganggukkan kepalanya sehingga ornamen warna emas yang dikenakan di bagian muka bendo bergoyang-goyang indah.

"Dulu ibuku adalah istri ayahku, Kuwu Suntara. Pada suatu saat, Ki Bagus Seta mengadakan perjalanan hingga tiba di Desa Cae. Entah apa yang terjadi selanjutnya, belakangan ayahku menceraikan ibuku. Tak berapa lama kemudian, ibuku diboyong ke Pakuan karena dinikahi bangsawan itu," kata Suji Angkara sambil matanya menerawang jauh ke luar jendela. "Aku tak tahu mengapa dulu ayahku menceraikan ibu tanpa sebab. Belakangan hanya bisa diduga bahwa Bangsawan Pakuan itu tertarik pada ibu dan memintanya untuk dinikahi. Rupanya ayah taat akan keinginan bangsawan itu dan menyerahkan ibu padanya."

Suji Angkara kembali menerawang ke luar jendela. Kuda warna pekat tunggangan pemuda itu tampak berkeliaran di lapangan rumput samping puri.

"Engkau sakit hati kepada Bangsawan Bagus Seta, Raden?" tanya Ginggi.

Namun, Suji Angkara menggelengkan kepala. "Aku tak marah sebab imbalannya besar. Ayahku diberi kekayaan melimpah dan aku boleh keluar-masuk purinya sekehendak hatiku. Belakangan aku pun diangkat Bangsawan Bagus Seta untuk melakukan satu tugas penting, yaitu secara diam-diam mengawasi kelancaran penarikan seba di wilayah timur. Kau memata-matai ayah tiriku bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk negara, untuk Pakuan Pajajaran!" lanjut pemuda itu sungguh-sungguh. "Engkau mau bekerja untuk kepentingan Pakuan?"

"Saya siap bekerja untuk kepentingan negara!" sahut Ginggi dengan mengganti "Pakuan" menjadi "negara". Ginggi perlu mengubahnya karena takut janjinya disalahgunakan untuk membela kepentingan orang-orang Pakuan saja.

"Bagus!" seru Suji Angkara gembira tanpa menyadari apa yang diucapkan Ginggi. Sebab, barangkali perubahan ucapan ini bila tak disimak secara teliti, sepertinya tidak menimbulkan perubahan arti yang khusus.

"Tapi saya juga musti tahu, mengapa Raden percaya saya dan apa yang harus saya mata-matai di sana?" tanya Ginggi kembali menatap tajam pemuda itu yang duduk tegak di atas tilam sulaman beludru.

"Engkau pemuda lugu dan terkesan bodoh. Tak akan ada orang percaya bahwa engkau dibebani satu misi yang penting," ujar Suji Angkara membuat kagum hati Ginggi.

Ya, benar. Suatu waktu orang bodoh bisa melaksanakan tugas rahasia sebab bakal diremehkan banyak orang dan akibatnya bakal jauh dari kecurigaan orang.

"Dan tugas saya kelak apa saja?"

"Engkau akan ditempatkan di bagian rumah tangga puri, melayani berbagai kebutuhan sehari-hari ayah tiriku. Dengan demikian, setiap saat engkau bisa mencuri dengar percakapan ayah tiriku. Bila ada percakapan tentang apa saja antara ayah tiriku dengan tamu-tamu puri, kau catat dan kau laporkan padaku. Paham?"

"Paham, Raden."

"Bagus! Tapi percayakah ayahandamu pada saya, Raden?"

"Aku sudah atur sedemikian rupa. Lagi pula ayah tiriku tak pernah berpikiran lain padaku. Kalau aku kemukakan kau orang jujur, maka ayah tiriku pun akan berpendapat begitu," Suji Angkara begitu memastikan.

"Baik bila begitu," gumam Ginggi.

Ginggi dijanjikan esok paginya akan diantar ke puri Bagus Seta. Malam hari, Ginggi diperintahkan tidak terlalu banyak bekerja kecuali berkemas untuk persiapan pindah rumah esok paginya. Semalaman memang Ginggi hanya tiduran saja di balik kamarnya. Namun, sepanjang malam otaknya berputar keras menduga-duga sikap Suji Angkara. Ini sesuatu yang mengherankan bila Suji Angkara melakukan penyelidikan terhadap ayah tirinya.

Kesimpulan yang tiba ke hati Ginggi adalah Suji mencurigai sesuatu terhadap ayah tirinya. Tapi curiga tentang apa? Ini yang harus Ginggi selidiki. Menerima tugas seperti yang dibebankan Suji Angkara ini, bagi Ginggi tak ubahnya orang yang mau menyeberang dikasih jembatan. Padahal, tidak diberi perintah pun Ginggi akan tetap melakukan penyelidikan seperti itu. Sekarang malah ia serasa dibantu dan dipandu oleh Suji Angkara.

Untuk memasuki puri Bangsawan Bagus Seta tanpa alasan jelas, merupakan sebuah pekerjaan sulit, kendati jarak antara puri Suji Angkara dan puri Bangsawan Bagus Seta hanya dekat saja dan boleh dibilang terletak di satu kompleks. Ginggi juga serasa dipandu. Kecurigaan Suji Angkara terhadap Ki Bagus Seta hanya memberi panduan padanya bahwa Ki Bagus Seta benar-benar perlu diselidiki. Apakah hasil penyelidikannya kelak akan disampaikan kepada Suji Angkara atau tidak, itu lain soal.

Ingin sekali hari cepat siang agar dirinya bisa segera masuk ke puri bangsawan yang sebetulnya masih erat kaitannya dengan dirinya itu. Namun, karena pada malam itu berbagai pikiran bergayut dalam benaknya, pemuda itu jadi susah memejamkan mata. Sampai malam menjelang subuh, Ginggi belum juga bisa tertidur. Ia baru menguap dan akan terlelap manakala suara kokok ayam pertama terdengar merdu sayup-sayup. Dan serasa sekejap ia tidur, sebab di pekarangan, para badega sudah ribut keluar rumah untuk memulai tugas baru di hari yang baru itu.

Sambil mata masih pedih karena kurang tidur, Ginggi pun cepat bangun untuk mandi dan berkemas. Ia kemudian memasuki sebuah pelataran luas mengikuti Suji Angkara yang melangkah di depannya. Pelataran itu benar-benar luas, dibelah oleh sebuah jalan setapak susunan batu hitam yang menuju ke sebuah beranda bangunan besar. Rumah itu indah, terbuat dari kayu pilihan. Atapnya berbentuk jure (silang) dan tiap sudutnya disangga sebuah tiang kayu besar berukir dan dipoles warna hitam mengkilap.

Sepagi itu, Ki Bagus Seta sudah duduk-duduk di beranda bersama dengan istrinya, yang Ginggi bisa menduga inilah istri Kuwu Suntara yang "diambil alih" oleh Ki Bagus Seta. Memang tak percuma murid Ki Darma ini nekad "merebut" istri orang. Wanita yang usianya sekitar empatpuluh tahunan itu tampak masih memiliki goresan-goresan kecantikan. Ginggi bisa membayangkan, sepuluh atau limabelas tahun silam, wanita itu pasti memiliki kecantikan laksana dewi dari kahyangan. Sekarang memang terdapat kerut-merut garis ketuaan, namun wanita itu tetap cantik. Sepasang pipinya masih bulat berisi, tubuhnya pun masih tampak sintal.

Suji pun tak percuma memiliki ibu seperti ini. Barangkali wajah tampan pemuda itu sebetulnya turunan dari sang ibu. Wanita ini pun amat cocok bersanding dengan Ki Bagus Seta. Murid Ki Darma yang amat bernasib baik menjadi pejabat ini sebetulnya berwajah gagah. Kulit wajahnya boleh dikata putih. Hidungnya juga sedikit mancung dan sorotan matanya tajam. Ki Bagus Seta yang memiliki kumis tipis ini sedikit memicingkan mata ketika melihat sepagi ini Suji Angkara datang diiringi seorang pemuda yang dianggapnya kurang dikenal.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment