Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 75

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 75

Ketika Suji Angkara tiba dan kemudian memperkenalkan Ginggi sebagai pekerja yang baru di purinya, Ki Bagus Seta mengangguk-angguk maklum.

"Kau bekerjalah di sini dengan baik agar aku senang melihatmu," kata Ki Bagus Seta sambil melirik tipis kepada Ginggi.

"Baik, Juragan," kata Ginggi hormat.

"Tugasmu tidak terlalu berat. Kau hanya bekerja menyediakan makan dan minum buatku. Atau bisa juga membereskan perabot rumah sehingga setiap hari terbebas dari debu dan kotoran lainnya," kata istri Ki Bagus Seta menimpali.

Untuk yang kesekian kalinya, Ginggi mengangguk hormat.

"Nah, sekarang kau pergi ke ruangan belakang dan temui para pengurus rumah tangga puri ini," kata Ki Bagus Seta.

Ginggi menyembah takzim dan mundur dari beranda. Dia berjalan memutar ke sisi bangunan karena hendak menuju ke ruangan belakang. Namun, sebelum jauh, pemuda itu sempat mendengar obrolan mereka yang pada pokoknya memperbincangkan perihal dirinya. Suji meyakinkan bahwa Ginggi bisa dipercaya sebab berpenampilan lugu dan bodoh, namun terampil dalam bekerja.

"Mudah-mudahan penilaianmu tidak keliru, sehingga aku pun tak meragukannya," kata Ki Bagus Seta.

Berdebar Ginggi mendengarnya. Suara Ki Bagus Seta ini nadanya biasa saja, namun bagi Ginggi, ucapan tersebut seperti memiliki makna lain. Curigakah Ki Bagus Seta terhadapnya? Ginggi kembali melanjutkan langkahnya manakala obrolan di beranda berhenti.

Sudah hampir sebulan Ginggi bekerja di puri Ki Bagus Seta ini. Namun, selama itu, belum ada laporan berarti yang disampaikannya kepada Suji Angkara. Bukan berarti Ginggi tak menemukan hasil yang dianggap penting, tetapi Ginggi memang tak menganggap Suji Angkara sebagai atasan yang harus ia beri laporan penting, sebab semua hasil penemuannya di puri ini hanya diperlukan bagi dirinya sendiri.

Dalam sebulan ini, Ki Bagus Seta tengah dipusingkan oleh laporan-laporan yang datang dari para pembantunya. Beberapa orang pembantu melaporkan bahwa terjadi keresahan di beberapa wilayah barat tepi Kali Tangerang (Cisadane). Di sana ada wilayah kerajaan kecil yang hampir terletak di daerah muara. Pelapor mengabarkan bahwa wilayah itu sepertinya hendak memalingkan muka dari Pakuan dan akan berpaling ke Banten. Penyebabnya, wilayah kecil itu amat mudah dijangkau melalui laut, padahal laut utara sudah dikuasai Banten dan Cirebon. Kedua negara agama baru itu semakin hari semakin malang-melintang dan kian berpengaruh di wilayah utara.

"Kami mendapat laporan bahwa wilayah Tangerang kerap kali dipengaruhi Banten atau Cirebon. Mereka selalu membujuk bahwa apabila ingin lancar melakukan perdagangan di muara, sebaiknya bergabung dengan Cirebon atau Banten," kata pelapor.

"Sikap penguasa wilayah Cisadane itu bagaimana?" tanya Ki Bagus Seta.

"Rupanya mereka mulai terpengaruh juga. Buktinya seba (pajak) yang mereka serahkan ke Pakuan tahun ini jumlahnya semakin kurang dan cenderung mengabaikan kebijaksanaan kita," ujar pelapor itu.

"Kurang ajar! Harus kita siapkan pasukan untuk menggempurnya! Aku akan menghadap Sang Prabu agar segera menitahkan pasukan penyerbu!" kata Ki Bagus Seta kesal.

"Kita sudah didahului Bangsawan Yogascitra, Gusti," ujar pelapor.

"Maksudmu?"

"Bangsawan Yogascitra kami dengar sudah melapor kepada Raja tentang kekurangsetiaan wilayah barat ini. Namun, Pangeran itu sambil mengemukakan alasan mengapa wilayah barat bertindak begitu. Kata Bangsawan Yogascitra, jangan setiap wilayah yang menipis kesetiaannya lantas diserbu dan dihancurkan, tapi harus diteliti apa penyebabnya. Pangeran itu menjelaskan bahwa pajak yang semakin tinggi adalah penyebab menurunnya rasa setia negara-negara kecil terhadap Pakuan."

"Kurang ajar si Yogascitra. Dia mencari pengaruh di istana?" gumam Ki Bagus Seta.

"Dia adalah kerabat dekat Raja, Gusti," kata pembantunya.

"Seharusnya Raja tidak melihat kepada kekerabatan. Yang harus ia lihat adalah siapa yang berjuang mempertahankan keberadaan Pakuan!" kata Ki Bagus Seta bersuara keras.

Ini adalah perkembangan paling akhir yang disimak Ginggi. Sebelum Ginggi masuk ke puri ini, pengetahuan yang didapatnya adalah betapa pengaruh Ki Bagus Seta demikian hebat terhadap Raja. Hampir setiap gagasan yang dilontarkannya disetujui dengan baik oleh Raja. Kebijaksanaan Raja yang selalu berupaya mencari kekayaan negara melalui pajak-pajak tinggi lahir sesudah menerima gagasan-gagasan Ki Bagus Seta yang dibantu Bangsawan Soka. Namun, akibat dari kebijaksanaan ini, banyak wilayah merasa keberatan.

Wilayah kerajaan kecil seperti yang berada di sebelah timur dan merasa memiliki kekuatan karena dibantu oleh Cirebon dan Demak, secara terang-terangan menghentikan kewajibannya mengirim pajak. Belakangan, bukan saja wilayah timur yang begitu jauh letaknya, bahkan wilayah barat yang hanya memakan perjalanan tiga hari saja dari Pakuan, diketahui sudah berani memalingkan kesetiaannya.

Usaha-usaha Ki Bagus Seta yang dibantu Bangsawan Soka dalam memungut pajak ternyata jauh dari harapan semula. Dulu, kedua bangsawan ini mengusulkan agar Pakuan membuat aturan pajak tinggi karena negara butuh dana besar dalam mengembalikan kebesarannya seperti masa-masa silam. Namun belakangan, kebijaksanaan ini hanya membuat wilayah-wilayah Pajajaran yang tinggal sedikit itu semakin resah. Banyak negara kecil membangkang. Dan karena Raja berperangai keras, setiap wilayah yang membangkang selalu ditindak. Kerap kali terjadi penyerbuan pasukan Pakuan ke wilayah yang dianggapnya membangkang. Namun, kebijaksanaan melumpuhkan pembangkang tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Pembangkang yang kuat dan sulit dijatuhkan jelas akan semakin menjauh dari kungkungan Pakuan. Mereka tidak sudi lagi tunduk kepada peraturan-peraturan yang dibuat Pakuan, termasuk dalam memenuhi kewajiban pajak. Sebaliknya, negara kecil yang lemah tetapi berani membangkang, sesudah digempur pasukan Pakuan, akhirnya jadi semakin tak berarti bagi keuntungan Pakuan. Wilayah yang sudah digempur habis sulit untuk berdiri kembali dan akhirnya sama sekali tak menghasilkan apa-apa.

Ki Bagus Seta semakin gundah ketika pada suatu hari didatangi seorang tamu. Tamu tersebut tak lain adalah Bangsawan Soka, mitra kerjanya selama ini. Mereka berdua mengobrol penting di ruangan tengah, duduk bersila saling berhadapan di hamparan alketip tebal dan empuk buatan Negeri Parasi. Keduanya duduk dengan perasaan tegang. Ketika Ginggi menyodorkan minuman ke ruangan tengah, sejenak saja ia bisa menatap Bangsawan Soka. Ia bertubuh gemuk, bermata sipit dengan wajah bundar dan hidung sedikit pesek. Ada kumis tebal dan janggut, namun tampak kurang terpelihara sehingga membentuk cambang bauk tak beraturan. Hanya cara berpakaian saja yang menentukan bahwa dirinya seorang bangsawan.

Hanya sebentar Ginggi berada di sana sebab serta-merta Ki Bagus Seta segera mengusirnya. Ginggi sebetulnya ingin sekali mencuri dengar percakapan mereka, namun karena diusir, rasanya sudah tak mungkin melakukannya lagi. Ginggi berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mengintip obrolan mereka. Ruangan tengah begitu luas, tak tepat untuk bersembunyi. Satu-satunya cara adalah naik ke atas atap sirap. Namun, hari masih senja walaupun suasana sudah agak meremang. Bukan sebuah tindakan tepat bila harus naik ke atas atap karena risikonya terlalu tinggi untuk diketahui orang, apalagi di puri Ki Bagus Seta yang dikelilingi kuta (benteng) tinggi ini banyak dihuni puluhan jagabaya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

"Tapi aku harus bisa mencuri dengar percakapan mereka," kata Ginggi dalam hatinya.

Apa boleh buat, Ginggi harus berspekulasi naik ke atas atap sirap. Ia ingat, ada beberapa bagian atap yang dihiasi lengkungan-lengkungan kayu hias. Kalau ia sanggup mendekam di atas sirap, tentu tubuhnya akan terlindungi lengkungan kayu tersebut.

Berpikir sampai di sini, pemuda itu segera ke luar bangunan. Sejenak ia terpaku, kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba memeriksa kalau-kalau ada jagabaya lewat. Sudah yakin tidak ada siapa-siapa, Ginggi segera menotol tanah menggunakan inti tenaga di bagian ujung telapak kaki. Ginggi melayang naik seringan burung merpati. Namun begitu kakinya menginjak atap sirap, ada kelepak beberapa burung merpati yang sebelumnya sedang hinggap di sana. Burung-burung itu terbang sambil sedikit riuh rendah karena terkejut melihat tubuh besar melayang naik.

Begitu menjejak atap, Ginggi langsung menjatuhkan dirinya untuk segera mendekam. Gerakannya ini sedikit menimbulkan suara, kendati tidak keras, namun bisa didengar orang yang berada di dalam bangunan. Terdengar oleh Ginggi suara kaki-kaki melangkah ke luar halaman. Pemuda itu tak tahu siapa yang datang, sebab tubuhnya terus mendekam bahkan kian merapat di sudut lengkungan kayu hias. Sampai beberapa lama ia tak berani bergerak barang sedikit. Baru ketika terdengar langkah kaki untuk kedua kalinya, Ginggi agak mendongakkan kepala untuk mengusir sedikit rasa pegal di tengkuknya.

"Ada apa?" suara Bangsawan Soka terdengar mengajukan pertanyaan.

"Entahlah, mungkin merpati. Di puriku memang banyak burung merpati bersarang di atas atap," jawab Ki Bagus Seta.

Ginggi terus mendekam sebab nampaknya kedua bangsawan itu akan melanjutkan percakapan penting mereka.

"Aku kira kita sekarang ada dalam bahaya, Seta."

"Barangkali?"

"Kita harus segera bertindak. Jangan sampai Sang Prabu terlanjur mengangkat Pangeran Yogascitra menjadi penasihat Raja. Bila sampai begitu, kedudukan kita terancam. Kita harus saling menolong. Kalau Pangeran Yogascitra dibiarkan menjadi penasihat Raja, maka akan memukul kebijaksanaanmu dalam melakukan tugas sebagai muhara," kata Bangsawan Soka.

Sunyi sejenak sebab kedua orang itu rupanya tengah berpikir sesuatu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment